Pendekar Yin - Yang

Pendekar Yin - Yang
V2 Permintaan Bing Jiao


“Tidak perlu berterima kasih kakek patriak. Aku juga penduduk benua biru, mana mungkin akan diam saja melihat tanah kelahirannya sendiri di jajah.” Ujar Ling Feng dengan segala hormat dan sopan, menanggapi perkataan Chang Jin.


>>>>>>______


“Hahahaha kau memang benar nak. Kalau begitu, kami akan melakukannya sesuai dengan apa yang kamu katakan.” Ujar Chang Jin yang dianggukki oleh Ling Feng, setelah itu pertemuan berjalan dengan semestinya membahas rencana mereka ke depan untuk bersiap-siap menghadapi kemungkinan terburuk yang akan datang. Pertemuan itu baru berakhir setelah waktu menunjukkan hampir menjelang malam.


Walaupun sudah berakhir, tapi para tetua masih pada menetap di sana dan saling berbincang-bincang, Ling Feng yang melihat itu pun memutuskan untuk pamit dari aula pertemuan, karena sudah tidak ada hal lain lagi yang harus di urus. Ling Feng juga tidak sendiri, karena beberapa orang pemuda dan pemudi yang hadir pada pertemuan itu, juga ikut memutuskan untuk pamit dari pertemuan tersebut. Sebelum pergi, Ling Feng memberikan sebuah cincin kepada Chang Jin, ia juga mengirimkan transmisi suara kepada Chang Jin yang membuat Chang Jin menunjukkan ekspresi terkejut ketika mendengarnya.


Setelah kepergian para pemuda itu, pria sepuh yang duduk di kursi patriak pun menatap penuh makna ke arah Ling Feng, dan Chang Jin yang berada di sebelahnya pun berkata, “Bagaimana Leluhur pendapat Anda tentang Feng’er?” Tanya Chang Jin.


“Selain mempunyai kekuatan yang besar, ia juga memiliki sifat yang bagus dan kepribadian yang baik, terlebih lagi sangat tenang dalam menganalisis situasi terkini dan bisa mengambi keputusan akurat dalam waktu yang singkat. Benar-benar pemuda yang sangat sempurna.” Ujar leluhur sekte menyampaikan pendapat nya tentang Ling Feng merasa puas dengan kepribadian Ling Feng.


“Hehehehe... Aku sudah menduga nya, bahwa ayah pasti akan mengatakan itu.” Kata Chang Jin seraya terkekeh pelan, mendengar itu leluhur sekte pun bangkit dari tempatnya duduknya lalu pergi dari sana untuk melanjutkan kultivasinya. Lalu Chang Jin dan para tetua yang lainnya pun lanjut berbincang-bincang tentang melaksanakan rencana yang sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Ling Feng sebelumnya.


“Waktu memang cepat berlalu ya.” Ujar Tetua kedua secara tiba-tiba, mendengar apa yang dikatakan oleh tetua kedua, para tetua yang lainnya pun terkekeh pelan, mengerti maksud dari perkataan tetua kedua.


“Benar sekali. Aku tidak menyangka, kita bahkan harus mengandalkan dirinya untuk membantu kita saat ini, tapi bukan berarti kita hanya diam saja. Kita juga harus mendukung daun muda supaya mereka bisa tumbuh lebih baik lagi.” Timpal tetua ketiga seraya tersenyum tipis menanggapinya dianggukki tegas oleh para tetua yang lainnya.


“Laksanakan apa yang dikatakan oleh Feng’er tadi.” Ucap Chang Jin dengan tegas dan para tetua pun langsung bangkit seraya menyatukan tinju mereka dan berkata, “Dimengerti Patriak sekte.” Jawab serempak para tetua yang ada disana.


Setelah keluar dari aula pertemuan, Ling Feng tentunya berniat untuk langsung kembali ke kediaman kakeknya. Ia tidak sendiri, karena Bing Jiao ikut menemaninya. Untuk Qing Xian sendiri awalnya memang ingin ikut, namun ia tidak bisa karena dirinya harus kembali ke kediaman gurunya. Han Ying sendiri juga langsung kembali ke kediaman Tetua Han untuk mulai berkultivasi kembali, mengingat dirinya sudah di ambang untuk naik tingkat.


Ketika Ling Feng dan Bing Jiao berjalan beriringan, banyak pasang mata yang menatap penasaran kepada Ling Feng. Bagaimana tidak, saat ini dirinya sedang berjalan bersama dengan sosok yang dipuji-puji sebagai salah satu dewi dari sekte naga langit. Membuat mereka bertanya-tanya identitas pemuda yang bersama dengan Bing Jiao itu. Terlebih lagi waktu saat itu sedang ramai-ramainya murid yang berlalu lalang, karena pada waktu tersebut adalah berakhirnya kegiatan rutin sekte naga langit.


Benar-benar pasangan yang sempurna, seorang dewi dan dewa berjalan bersama di bawah sinar matahari tenggelam, itulah julukan yang diberikan kepada Ling Feng dan Bing Jiao kala itu, dan gosip itu pun menyebar dengan luas ke seluruh penjuru sekte naga langit tanpa terkecuali tentunya.


Ling Feng dan Bing Jiao sendiri tidak peduli dengan sekitarnya, dan mereka hanya terus melangkah santai seraya menikmati pemandangan matahari terbenam, yang kala itu terlihat sangat indah. Setelah beberapa saat, mereka pun sampai di puncak kediaman Ling San. Ling Feng pun mengajak Bing Jiao untuk ke halaman belakang, dimana pemandangan matahari terbenam terlihat lebih indah dari sana. Ling Feng dan Bing Jiao pun bersandar di pohon yang kebetulan mengarah ke arah matahari terbenam.


“Pemandangan nya benar-benar sangat indah ya kak.” Ujar Bing Jiao yang saat ini sudah merangkul erat lengan Ling Feng seraya menatap takjub ke arah matahari terbenam.


“Ya kamu benar. Pemandangan nya benar-benar sangat menakjubkan.” Timpal Ling Feng seraya mengelus-elus puncak kepalanya, membuat degup jantung Bing Jiao berdetak lebih cepat dua kali lipat. Lalu membenamkan wajahnya di lengan Ling Feng untuk menyembunyikan rona merah di pipinya.


Ling Feng terkekeh pelan melihat sikap khas dari Bing Jiao. Sampai kemudian Ling Feng pun merasakan kultivasi Bing Jiao kembali meningkat saat ini. “Heummmm... Tidak kusangka kamu bisa meningkat secepat ini. Padahal beberapa bulan yang lalu ranah Jiao’er berada di ranah langit bintang satu, tapi sekarang sudah meningkat pesat dan berada di bintang enam.” Ujar Ling Feng.


“Ya begitulah, tapi semua ini juga berkat roh pedang yang menuntun Jiao’er, sehingga kecepatan kultivasi Jiao’er meningkat dan berhasil naik bintang dalam beberapa bulan ini. Juga berkat bimbingan kakak dan aku berhasil membuat fondasi yang kokoh.” Ujar Bing Jiao. Semenjak pertemuan terakhir dengan Ling Feng di Kekaisaran Shu. Bing Jiao benar-benar bekerja keras dalam kultivasinya, ia bahkan rajin dalam belajar teknik pedang yang di berikan oleh Ling Feng dan tekun dalam berkultivasi, di bawah bimbingan roh pedangnya. Hasilnya ia pun telah berhasil menguasai teknik pedang yang di ajarkan oleh Ling Feng, dan mempunyai fondasi yang kokoh dalam kultivasi.


“Kakak aku punya permintaan kepadamu.” Ujar Bing Jiao mendongakkan kepalanya menatap serius kepada Ling Feng.


“Tidak biasanya Jiao’er ku meminta sesuatu kepada kakak. Katakan saja, kakak akan berusaha melakukan yang terbaik untuk memenuhi permintaan mu.” Ujar Ling Feng tersenyum hangat menanggapi perkataan Bing Jiao. Bing Jiao sempat memerah kembali pipinya ketika mendengar kata ‘Jiao’er ku’ keluar dari mulut Ling Feng, namun ia menggeleng-gelengkan kepalanya menutup kedua matanya seraya menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya sekaligus.


“Aku ingin latih tanding dengan kakak.” Ucap Bing Jiao mengutarakan permintaan nya dengan sorot mata yang tajam menatap lurus ke arah mata Ling Feng, menandakan bahwa dirinya bersungguh-sungguh mengatakan itu.


>>>>>> Bersambung


~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya dengan saran dan ulasannya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.