Pendekar Yin - Yang

Pendekar Yin - Yang
Rumah Makan Bulan Matahari


Disinilah Ling Feng saat ini sedang jalan-jalan ditemani oleh seorang anak kecil yang bernama Jia. Sesuai apa yang dikatakan Jia kecil, setelah Ling Feng menyelesaikan sarapannya ia bersedia menemani pemuda tersebut. Akan tetapi, "Nah kakak, ini adalah toko langganan kami ketika ingin membeli bahan makanan, lalu di toko sebelah sana ibu biasanya membeli sesuatu yang dibutuhkan untuk penginapan kami." Ucap Jia kecil menjelaskan secara panjang lebar toko yang pernah ia kunjungi.


Ya Jia kecil hanya mengantar Ling Feng berkeliling ke tempat yang pernah ia singgahi dengan ibunya saja. Ling Feng sendiri tidak bisa mengatakan hal tersebut dan hanya membiarkan saja Jia kecil melakukan hal apapun yang ia mau.


Setelah beberapa bicara panjang lebar tentang toko-toko yang sering ia singgahi, akhirnya Jia kecil mengeluh kepada Ling Feng.


"Kakak tampan aku lapar?" Keluh Jia kecil kepada Ling Feng. Ling Feng yang mendengar itu tersenyum lalu mengangguk mengajak Jia kecil ke tempat makan yang ia singgahi kemarin, ya tempat makan itu adalah tempat makan bulan matahari.


Jarak Ling Feng dengan tempat makan bulan matahari juga tidak terlalu jauh, alhasil ia memilih tempat makan tersebut, karena memang tempat makan itulah yang paling dekat.


Setelah membutuhkan beberapa menit berjalan, akhirnya Ling Ling dan Jia kecil sampai di tempat rumah makan. Ling Feng yang melihat rumah makan itu tersenyum lalu ingin masuk. Namun, ketika ingin masuk Jia kecil diam saja memandang takjub rumah makan itu.


"Jia kecil apa kau tidak ingin masuk?" Tanya Ling Feng kepada Jia kecil. Mendengar Ling Feng bertanya seperti itu, spontan Jia kecil menjawab dengan polosnya.


"Kata ibu, rumah makan ini biaya makannya sangat mahal. Jika ingin makan disini Jia harus punya banyak uang dulu baru bisa makan di sini." Ucap Jia kecil dengan polosnya. Ling Feng yang mendengar itu tidak habis pikir dengan pemikiran anak perempuan didepannya ini. Mungkin jika orang lain melihat Jia, mereka akan menyangka bahwa Jia hanyalah anak kecil yang polos yang ingin beranjak dewasa.


Namun Ling Feng mempunyai pendapat sendiri kali ini. Ia berpikir Jia kecil adalah anak yang jenius, namun kejeniusan itu tertutup dengan tingkah polosnya. Sejauh ini hanya itu yang tau.


"Tenang saja Jia'er, kakak punya banyak uang. Jika Jia'er ingin apapun itu bilang saja ke kakak." Ucap Ling Feng menarik Jia kecil dan kali ini ia tidak menolak.


Kring


"Tetua besar itu dia teman dari pemuda yang membuat tuan muda He Gongsun menjadi cacat sekarang!" Teriak seorang entah siapa itu. Ling Feng yang baru saja datang seketika melihat sekelilingnya sudah ramai dan ada satu pria yang sudah berumur, ditemani oleh dua orang pemuda di sampingnya.


Seseorang yang berteriak tadi, kini berteriak kembali sembari menunjuk-nunjuk Ling Feng yang sudah menatapnya sedari awal ia berteriak.


"Tidak salah lagi Tetua besar, ia adalah teman pemuda itu! Aku sangat yakin dengan itu." Teriak orang tersebut kepada Ling Feng sembari menunjuk-nunjuk Ling Feng.


Ling Feng sendiri menatap acuh tak kepada orang yang berteriak sembari menunjuk-nunjuk kepadanya. Lalu orang yang dipanggil tetua besar itu, berjalan mendekati Ling Feng yang hanya diam menatap acuh tak acuh orang tersebut. Namun, ketika ia sudah melangkah lebih dekat, Ling Feng langsung mengalihkan pandangannya menatap dirinya dengan tatapan yang sama.


"Anak muda apakah benar apa yang dikatakan oleh orang tersebut bahwa kau adalah teman dari orang yang membuat tuan muda He Gongsun menjadi cacat?" Tanya ulang Tetua besar kepada Ling Feng.


Jia kecil melihat seorang pria tua mendekat, ia langsung bersembunyi dibelakang Ling Feng yang awalnya berdiri disamping Ling Feng. Ling Feng yang menyadari itu, sekilas memandang Jia kecil tersenyum kepadanya sembari mengelus-elus puncak kepalanya. Lalu mengalihkan pandangannya kembali menatap pria tua yang dipanggil tetua besar itu sembari berkata.


"Jika iya mengapa, jika tidak mengapa." Kata Ling Feng acuh tak acuh menjawab pertanyaan orang yang dipanggil Tetua besar itu.


>>>>>> Bersambung


( Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya dengan like, favorit, vote, dan komennya. Author do'akan semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku )


( Blizzardauthor)