
“Istirahatlah terlebih dahulu. Kerja bagus saudara-saudaraku.” Ucap Ling Xiao tersenyum tipis.
>>>>>>______
Kembali Kepada Ling Feng
“Hehhhhh... Jadi begitu ya. Aku tidak menyangka orang tua itu sudah menjadi pendongeng handal.” Ucap Long Tian di atas kepala Ling Feng. Setelah memberi penghormatan terakhir di peti mati Chen Heng, Ling Feng dan yang lainnya pun langsung pergi dari tempat tersebut menuju Pulau Ujung Benua.
“Benarkan. Aku juga mengatakan kepada senior, bahwa dirinya cocok menjadi seorang novelist. “Benarkan. Aku pun beranggapan cerita nya juga sangat bagus, jika dijadikan sebuah novel pastinya akan banyak yang membacanya.” Ucap Ling Feng. Dirinya menceritakan semua yang ia bicarakan dengan Chen Heng saat kesadarannya di tarik.
Long Tian pun juga terkejut ketika melihat Pedang Yin dan Yang kini sudah menjadi kesatuan. Ia awalnya berniat untuk melakukan itu jika Ling Feng sudah berada di ranah Saint Puncak, namun tidak di sangka bahwa pemilik sebelumnya akan membantunya. “Ya ini sebuah keberuntungan tidak terduga. Ya walaupun masih belum bisa di gunakan, aku yakin waktunya tidak akan lama lagi.” Ucap Long Tian yang dianggukki oleh Ling Feng.
“Ya begitulah, walaupun tidak bisa menggunakannya dalam jangka dekat. Setidaknya aku punya Pedang Pelangi Delapan Elemen sebagai gantinya.” Ucap Ling Feng. Ia pun kembali memikirkan perkataan Chen Heng sebelumnya yaitu, tentang dua permintaan nya. Ia punya tidak jalan lain lagi, selain menjadi lebih kuat untuk bisa menepati kedua permintaan Chen Heng.
“Aku akan menjadi lebih kuat. Lebih kuat daripada dirimu senior. Lihatlah dari alam sana, bahwa junior mu ini akan melebihi ekspektasi mu.” Batin Ling Feng dengan raut wajah serius dan sorot mata tajam di balik topengnya. Long Tian sendiri hanya tersenyum tipis, seraya memejamkan kedua matanya.
Saat ini Ling Feng tengah terbang meninggalkan Pulau Tanjung. Pulau yang ia tuju ini berada cukup jauh dari Pulau Tanjung, dimana jaraknya adalah hampir seribu kilometer lebih untuk mencapai nya. Butuh waktu sekitar satu minggu lamanya untuk sampai di sana dengan kecepatan terbangnya.
Waktu pun berlalu begitu saja dan tidak terasa sudah satu minggu berlalu. Ling Feng yang tengah terbang di atas langit samar-samar melihat sebuah daratan kecil, daratan kecil yang berada di tengah-tengah luasnya lautan sejauh mata memandang.
Daratan kecil itulah yang menjadi tujuan Ling Feng dan tanpa pikir panjang, dirinya pun turun dan mendarat dengan mulus di pesisir daratan kecil tersebut. Jika di lihat lebih dekat tidak ada yang istimewa dari daratan kecil tersebut, namun itu berbeda dengan sudut pandang Ling Feng.
“Nak batu itu memancarkan aura yang unik.” Ujar Long Tian seraya membuka sebelah matanya menatap ke arah batu cukup besar yang ada di tengah-tengah daratan kecil tersebut. Ling Feng yang mendengar itu menganggukkan kepalanya lalu berkata, “Itu sebuah formasi kuno paman. Formasi kuno yang dibuat oleh Senior Chen sekaligus sebagai pintu untuk sampai di Pulau Ujung Benua.” Ucap Ling Feng seraya menatap batu yang berada di tengah-tengah daratan kecil tersebut.
Ling Feng mendekati batu tersebut dan meraba-rabanya seraya mengalirkan Kekuatan Jiwanya ke dalam formasi kuno tersebut guna mengeceknya. Setelah mengeceknya beberapa menit, Ling Feng tersenyum puas lalu mengambil sikap lotus di depan batu tersebut seraya merentangkan dua tangannya ke depan.
Kekuatan Jiwa yang sangat berlimpah keluar dari tubuh Ling Feng. Ling Feng membentuk segel tangan, dan beberapa saat kemudian tiba-tiba muncul tanda di dahi Ling Feng, tanda yang sama dengan Chen Heng ketika melakukan pemurnian terhadap Pedang Yin dan Yang. Ling Feng lantas mengalirkan kekuatan jiwanya itu ke dalam formasi kuno tersebut.
Tepat setelah Ling Feng mengalirkan kekuatan jiwanya, formasi kuno tersebut mendadak mengeluarkan cahaya yang begitu terang. Perlahan tapi pasti, retakan demi retakan terlihat dari formasi kuno tersebut. Sampai di detik-detik Kekuatan Jiwa Ling Feng hampir habis, formasi kuno itu pun juga hancur.
Tepat ketika formasi kuno itu hancur, beberapa saat kemudian langit mendadak gelap dan badai angin serta gelombang ombak lautan secara tiba-tiba menjadi ganas. Cuacanya yang awalnya terang benderang dalam sekejap langsung gelap gulita disertai badai yang dahsyat. Walaupun begitu Ling Feng masih tetap tenang dan tidak panik, ia menatap lurus ke arah batu tersebut yang kini tengah bersinar terang dan selang beberapa menit kemudian sebuah portal putih susu tiba-tiba terbentuk di batu besar tersebut.
“Paman ayo kita masuk ke dalam.” Ucap Ling Feng yang dianggukki oleh Long Tian. Ling Feng melangkah masuk ke dalam portal putih tersebut dan beberapa saat kemudian portal tersebut kembali tertutup dan diikuti dengan cuaca nya pun kembali normal seperti sebelumnya.
>>>>>>______
Shringggg...!! Shringggg...!! Shringggg...!!
Swosssshhhhh...?!
“Fyuhhhhh...” Hembusan nafas yang lembut keluar dari mulut Cai Lan. Tepat setelah insiden dengan pemimpin Kota Tanjung dan anaknya, ia dan yang lainnya masih belum kembali ke sektenya. Menurut dari apa yang dikatakan oleh Zhang Ling, mereka akan kembali keesokan harinya, karena jadwal kapal berikut nya yang akan datang tepat ke esokan harinya.
Sudah satu minggu kiranya ia berada di Pulau Tanjung. Sebagian besar waktunya ia habiskan untuk berlatih pedang di sebuah anak pulau yang tidak terlalu jauh dari pesisir Pulau Tanjung.
Ia menatap pedangnya dalam diam. Entah apa yang dipikirkan oleh gadis cantik tersebut, karena tatapan yang ia tunjukan benar-benar sangat sulit untuk diartikan. Sampai beberapa saat kemudian tatapan matanya berubah drastis, dan gerakan yang sangat cepat ia mengalirkan Qi nya ke dalam pedang dan melancarkan tebasan aura ke sebuah tempat.
Shringggg...?!
“Siapa di sana.” Ucap Cai Lan dengan sorot mata yang tajam seraya memasang kuda-kuda berpedangnya waspada. Tatapan tajam yang ia tunjukkan di awal langsung menghilang begitu saja ketika melihat sosok Zhang Ling yang tengah tersenyum lembut ke arahnya keluar dari tempat persembunyian nya.
“Tetua Zhang...?!” Ujar Cai Lan yang kaget dan refleks menyarungkan kembali pedangnya. Ia pun berlari kecil mendekati Zhang Ling lalu memberikan salam sekaligus meminta maaf, karena sudah menyerangnya.
Zhang Ling yang masih dengan senyuman hangatnya, menepuk pelan puncak kepala Cai Lan lalu berkata, “Tidak perlu meminta maaf. Sebaliknya aku cukup terkejut kamu bisa menyadari hawa keberadaan ku yang telah kusembunyikan. Sepertinya perkembangan mu benar-benar sangat pesat di perjalanan kali ini ya. Kamu sudah bekerja sangat keras.” Ujar Zhang Ling seraya tersenyum hangat.
Mendengar hal itu, Cai Lan tidak menjawab nya. Ia memang menyadari semua itu, namun ketika mendengar Zhang Ling berkata seperti itu, ada bagian lain dari dirinya yang menolak itu.
“Aku tidak melakukan apapun selain bekerja keras Tetua. Berkembangnya teknik berpedangku ini, karena bantuan dari Saudara Jie.” Ucap Cai Lan membuat Zhang Ling yang mendengar itu cukup terkejut dengan pengakuan Cai Lan.
“Jika saja waktu itu Saudara Jie tidak menyadarkan ku, mungkin saja aku tidak akan pernah mendapatkan pencerahan seperti ini.” Ucap lagi Cai Lan setelah mengatakan itu. Mendengar hal itu, Zhang Ling pun berkata, “Memang benar, bahwa berkembang nya kemampuan pedangmu, karena Tuan muda Jie. Akan tetapi, itu semua akan sia-sia jika kamu tidak tekun. Karena kamu tekun dan rajin, teknik berpedang mu itu meningkat pesat. Jadi kamu juga telah bekerja keras.” Ucp Zhang Ling.
Mendengar hal itu, Cai Lan terdiam sejenak, sampai beberapa saat kemudian senyuman tipis tercetak di wajah nya. Melihat senyuman samar-samar di balik cadarnya, Zhang Ling pun menganggukkan kepalanya seraya berkata, “Baiklah ayo kita kembali terlebih dahulu.” Ajak Zhang Ling lalu berbalik.
“Baik Tetua dan terima kasih atas nasihat nya.” Ucap Cai Lan memberi hormat kepada Zhang Ling. Lalu dirinya pun hendak menyusul sang Tetua, namun di saat dirinya baru melangkahkan kaki nya, secara tiba-tiba ia merasakan aura yang sangat kuat tiba-tiba muncul di sekitar nya.
Kloooopppp...?!
>>>>>> Bersambung
~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya dengan saran dan ulasan nya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.