
“Jika paman berkata seperti itu, maka baiklah.” Ucap Zhi Yan setuju dengan saran Zhi Fu. Zhi Fu dan para penjaga pun menganggukkan kepalanya, lalu Zhi Yan pun kembali ke tendanya, dan suasana pun kembali seperti sebelumnya.
>>>>>>______
Keesokan Harinya
“Fyuhh... Akhir nya pulih juga.” Gumam Ling Feng seraya membuka kedua matanya. Tepat Ling Feng selesai bermeditasi, matahari sudah menggantikan tugas bulan. Ling Feng menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan, menikmati udara pagi yang sangat segar.
Ling Feng pun bangkit dari posisi lotusnya. Ia lantas mengeluarkan Pedang Hitam dan Putihnya. Ling Feng terdiam sejenak seraya memejamkan keduanya matanya, beberapa menit kemudian ia pun kembali membuka kedua matanya seraya menghembuskan nafasnya dan langsung bergerak gesit berlatih teknik pedangnya.
Walaupun gerakannya terlihat sangat cepat, di satu sisi juga sangat indah untuk di lihat. Hal itu membuat siapa saja pastinya akan langsung terpesona dengan gerakan-gerakannya yang gesit nan indah.
Gerakan kaki yang begitu cepat, namun sangat kokoh. Tebasan yang terlihat sangat indah, namun mengeluarkan aura pedang. Sorot mata yang tajam, namun tidak mengancam. Ling Feng saat ini benar-benar terlihat seperti seorang pendekar pedang yang sudah menyatu dengan alam, dan siapapun yang melihatnya tidak akan bisa mengalihkan pandangannya, saking kagumnya dengan gerakan-gerakan yang pemuda itu tunjukkan.
Seperti saat ini, terlihat Zhi Yan yang terdiam mematung ketika melihat Ling Feng berlatih pedang. Saking terpesona nya wanita itu, dirinya sampai-sampai melupakan niatnya mendatangi Ling Feng. Selain memiliki mimik wajah yang tampan dan sorot mata yang tegas, namun tidak menakutkan. Zhi Yan sudah benar-benar terpesona dengan apa yang dilakukan oleh Ling Feng sekarang.
Niat awal Zhi Yan adalah untuk mengucapkan terima kasih kepada Hao Xiang, pasca ia mendengar suara pedang. Dirinya berpikir, bahwa Hao Xiang sudah bangun dan sedang berlatih saat ini, ia pun bergegas untuk mendatanginya. Namun, ketika ia sampai di sana. Zhi Yan langsung melupakan niat awalnya, terpesona ketika melihat Ling Feng yang sedqang berlatih pedang.
Beberapa saat kemudian, Ling Feng pun selesai berlatih pedangnya, ia kembali menyarungkan Pedang Hitam dan Putihnya. Ling Feng lantas menoleh ke arah sosok wanita yang masih terdiam, padahal dirinya sudah selesai berlatih pedang.
“Uhuk... Nona Zhi Ada perlu apa menemui ku?” Tanya Ling Feng, membuat Zhi Yan pun sedikit tersentak dan langsung salah tingkah, merasa sangat malu.
“A-ah itu... S-sebenarnya saya ingin mengucapkan terima kasih kepada murid Anda Tuan Feng. Berkat murid Anda, malam tadi kelompok kami terhindar dari situasi yang buruk. Aku mendatangi nya saat ini, ingin berterima kasih kepadanya.” Ucap Zhi Yan tetap menyampaikan niatnya mendatangi Ling Feng, walaupun sudah tertangkap basah melihat Ling Feng yang sedang berlatih pedang. Terlihat jelas rona merah di wajahnya terlihat, menandakan ia merasa gugup sekaligus malu.
“Ah begitu, kah... Baiklah Nona Zhi aku akan menyampaikan apa yang kamu katakan kepadanya nanti ketika ia sudah bangun.” Kata Ling Feng seraya tersenyum tipis.
Ling Feng berpikir, bahwa Zhi Yan akan langsung pergi, namun setelah beberapa saat kemudian, ia masih tidak kunjung pergi membuat dirinya mengangkat sebelah alisnya bingung dengan tingkah wanita itu. Ling Feng pun memutuskan untuk memanggil nama nya sekali lagi.
“Ah Nona Zhi, apakah masih ada sesuatu lagi yang kamu butuhkan kepada ku atau murid ku?” Tanya Ling Feng lagi, membuat Zhi Yan pun tersentak sekali lagi dan tersadarkan kembali. Kali ini rona merah wajah terlihat sangat jelas di wajahnya, bahkan asap putih samar-samar keluar dari puncak kepala Zhi Yan.
“M-maafkan aku Tuan Feng. K-kalau begitu aku pamit dulu sekarang.” Ujar Zhi Yan lalu berbalik dengan sangat cepat ke arah tendanya, meninggalkan Ling Feng yang bertanya-tanya dengan sikap aneh wanita tersebut.
“Ada apa dengan dirinya? Benar-benar sangat aneh.” Gumam Ling Feng mengedikan kedua bahunya, tidak memikirkannya lebih jauh lagi. Mengingat masih pagi, Ling Feng pun memutuskan untuk menyiapkan sarapan, setelah bermeditasi hampir semalaman lamanya, di tambah dengan latihan pedang tadi, membuat Ling Feng ingin menyantap sesuatu saat ini.
Tanpa berlama-lama, Ling Feng pun mulai membersihkan satu persatu daging yang akan ia bakar. Sebagai jaga-jaga, ia akan membakar banyak daging saat ini, namun ketika ia memeriksa daging yang telah ia siapkan, hanya tersisa sedikit dan itu tidak cukup seperti yang ia bayangkan.
“Dagingnya kurang, sepertinya aku harus berburu sedikit di sekitar sini.” Ucap Ling Feng hendak pergi, namun sebuah suara tiba-tiba terdengar menghentikan gerakan Ling Feng, membuatnya menoleh ke arah sumber suara itu.
“Serahkan saja tugas itu kepadaku tuan muda.” Perkataan yang keluar dari mulut seekor kucing kecil. Ling Feng pun lantas berkata, “Oh Laohu. Rupanya kau sudah bangun. Kalau begitu, aku minta tolong kepadamu, aku akan mengurus sisanya.” Ucap Ling Feng membiarkan Ling Laohu untuk melakukannya.
Kucing kecil itu pun menganggukkan kepalanya lalu mulai melesat ke dalam hutan, untuk berburu beast.
“Baiklah, karena bagian daging sudah di urus oleh Laohu. Tinggal siapkan yang lainnya saja sembari menunggu.” Gumam Ling Feng lalu mulai menyiapkan hal-hal yang lainnya.
Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk Ling Laohu mencari daging. Bahkan daging yang di dapatkannya adalah daging yang berukuran besar dan mempunyai kualitas tinggi. Setelah selesai di bersihkan, seluruh dagingnya pun di lapisi oleh bumbu-bumbu yang telah di racik oleh Ling Feng. Kemudian ia pun langsung membakarnya di atas api yang telah ia siapkan sebelumnya.
Beberapa saat kemudian, bumbu yang telah melapisi daging pun mulai meresap ke dalam lalu mulai mengeluarkan aroma yang sangat enak, dan hal itu dibuktikan Hao Xiang yang awalnya memejamkan kedua matanya, langsung refleks bangkit hendak meraih daging yang masih belum matang, namun itu langsung di cegah oleh Ling Laohu.
Booommmm...
“Ckkk... Bocah ini, tidak membantu apapun, tapi seenaknya saja ingin mengambil yang pertama. Mana mungkin kubiarkan.” Ujar Ling Laohu mendelik tajam ke arah Hao Xiang, yang kini sudah tertanaman di tanah. Ling Feng yang melihat tingkah ajaib muridnya itu terkekeh pelan, tidak habis pikir dengannya.
“Ah sepertinya kamu sudah membuat yang lainnya menjadi waspada Laohu.” Ujar Ling Feng, karena merasakan beberapa orang sedang menuju ke arah mereka. “Maaf tuan muda. Aku sudah terbiasa dengan refleks ini.” Timpal Ling Laohu.
“Apa yang terjadi di sini?! Aku merasakan sebuah getaran tad...” Ucap sosok Zhi Yan yang pertama kali muncul di ikuti dengan Zhi Fu di belakangnya dengan beberapa penjaga.
“Ah aku minta maaf telah membuat panik kalian semua, sebenarnya tidak ada yang terjadi di sini. Ini bukan sesuatu yang besar. Oh ya, aku sudah menyiapkan sarapan. Bagaimana kalau kalian mencicipinya?” Kata Ling Feng seraya menawarkan daging yang telah selesai ia bakar.
“Ah tidak perlu repot-repot Tuan Feng. Aku tid...” Ucapan Zhi Yan terhenti, ketika indera penciuman nya menghirup aroma daging bakar yang di sodorkan oleh Ling Feng.
>>>>>> Bersambung
~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya dengan saran dan ulasannya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.