
Walaupun cukup berat hanya dengan berlari saja, Ling Feng tidak mengeluh. Alasan dirinya tidak mengeluh, karena memang itu yang terbaik bagi dirinya.
"Langkah mu terlalu lambat lebih cepat lagi…Jangan manjakan tubuh mu." Kata Tua Tao. Dirinya di atas pohon dari satu pohon ke pohon memantau Ling Feng. "Ughhkkk orang tua itu benar-benar ingin ku pukul wajah menjengkelkan nya itu." Batin Ling Feng mengeratkan giginya.
Baru saja membatin tersebut sebuah batu kecil meluncur mulus tepat mengenai dahinya.
Takkkkkkk
Booooommmm
"Jangan mengutuk guru mu sendiri…Aku melakukan ini untuk kebaikan mu tau." Kata Tua Tao membersihkan telinga nya menggunakan jari-jari tangannya. Ling Feng langsung terjatuh ketika terkena batu kecil yang dilemparkan oleh Tua Tao.
Ling Feng tidak berkomentar mendengar hal itu, ia menghembuskan nafas pelan lalu mulai berlari lagi menuju sumber air yang tidak jauh lagi. Ling Feng berlari pelan sembari melesat cepat menghindari semak-semak belukar disana.
Tidak lama kemudian Indra pendengaran nya pun menangkap suara daripada sumber air, Ling Feng pun mulai mempercepat langkahnya dan pada akhirnya ia sampai dan langsung membaringkan tubuhnya di dekat Sumber air.
Lalu pada saat ia sedang berbaring disana, sebuah ember kayu pun jatuh di atas kepala nya.
Banggggg
Pada saat ia ingin mengeluh, kedua matanya melihat ada satu ember lagi yang masih Tua Tao pegang di salah satu tangannya. Ia lalu melirik tatapan Tua Tao dan menelan salivanya. Tanpa banyak bicara ia mengambil ember yang Tua Tao lempar ke arahnya lalu menimba air ke dalam ember nya.
"Bagus sekarang langsung kembali." Kata Tua Tao. Ling Feng yang mendengar itu pun berkata, "Tidak bisakah kita istirahat sebentar saja dulu guru." Kata Ling Feng yang masih lelah. Tua Tao pun melirik dengan wajah dinginnya dan berkata. "Seperti nya beban yang berada di gelang mu kurang berat ya sampai-sampai kau mengeluh." Kata Tua Tao dengan dingin.
"Hiiiikkk…Aku hanya bercanda guru tidak serius mengatakan hal itu." Kata Ling Feng langsung melesat cepat berlari lagi melalui rute jalan yang sama. Tua Tao hanya memperhatikan saja tidak berniat mengejarnya. Ia lantas bersandar di salah satu pohon dekat dengan sumber air disana.
"Bocah tengil itu memang benar-benar." Gumam Tua Tao menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu berbaring di atas pohon tersebut memilih untuk mengawasi Ling Feng dari sana.
Satu kali putaran saja hampir memakan waktu empat jam lamanya. "Ayolah lebih cepat lagi…Bahkan siput pun lebih cepat dari mu. Sepertinya sepuluh putaran kurang itu tidak ada apa-apanya, sampai kau harus berlari selambat itu." Teriak Tua Tao sembari bersantai melihat Ling Feng yang baru saja datang lagi.
"Sabar Ling Feng…Sabar…Kau pasti bisa menahannya. Semua ini untuk kebaikan mu. Oleh karena itu, jangan terpancing oleh nada bicara menjengkelkan nya." Batin Ling Feng kepada dirinya berusaha mengendalikan emosi yang sudah bergejolak di dalam.
Ling Feng sudah mencapai empat kali putaran. Perlahan pun ia sudah mulai terbiasa dan pergerakan nya mulai mengalami perkembangan. Bukan hanya itu saja ia pun semakin berhati-hati dan cakap ketika sedang dalam perjalanan menuju sumber air sehingga waktu satu kali putaran pun menjadi lebih efektif dibandingkan pertama kali.
Bahkan dari hari ke hari pergerakan Ling Feng semakin efektif dan cepat. Ia mulai menunjukkan tanda-tanda perubahan yang cukup pesat saat itu, Tua Tao yang melihat perkembangan itu juga menambah porsi latihan nya menyesuaikan dengan kecepatan yang ia capat saat ini.
Pada saat itu juga tulang-tulang nya pun mulai mendapatkan perkembangan. Tulang-tulangnya yang tadi berada di Tulang Serigala Awal, kini meningkatkan menjadi Tulang Harimau Awal. Bukan hanya itu saja, Manual tubuh dewa surgawi juga mulai mendapatkan perkembangan walaupun tidak sepesat Perkembangan tubuh fisiknya.
Lalu dua Minggu kemudian, "Guru…Aku sudah selesai melakukan lima puluh kali putaran nya." Kata Ling Feng menghampiri Tua Tao yang sedang berbaring nyaman dengan sebuah arak di sisinya. Mendengar hal itu Tua Tao bangkit dan berkata, "Kalau begitu kita akan melakukan latih tanding jika kau sudah menyelesaikan porsi latihan mu." Kata Tua Tao.
Ling Feng cukup tidak menduga bahwa Tua Tao akan melakukan seperti itu. "Sepertinya kau sudah tidak terlihat terkejut lagi murid tengil." Kata Tua Tao. "Aku sudah bosan terkejut bahkan saking muaknya, aku bingung bagaimana menunjukkan ekspresi terkejut ku lagi." Kata Ling Feng memasang kuda-kuda.
"Hehhhhh begitukah…Ya apapun aku tidak akan menahan diri loh." Kata Tua Tao menghilang dari pandangan Ling Feng. Ling Feng memfokuskan seluruh tubuh atau lebih tepatnya seluruh panca indera nya.
Banggggg
"Cihhhhh sedikit lagi, padahal aku sudah dapat melihat arah serangan nya tapi masih telat beberapa detik." Batin Ling Feng meludah kesamping.
"Hohhhhh kau bisa menebak arah serangan ku sekarang…Bolehlah, bolehlah." Kata Tua Tao terkekeh kecil. "Kalau begitu bagaimana dengan yang ini." Kata Tua Tao kembali menghilang lagi, akan tetapi kali ini lebih cepat lagi dari yang tadi.
Ling Feng sendiri berdecak kesal, karena melihat kecepatan Tua Tao yang bahkan sulit merasakan nya melalui panca indera nya. Tua Tao muncul didepan wajah Ling Feng dengan sebuah tinju sudah hampir mengenai wajahnya.
Ling Feng langsung menaikkan kedua tangannya memasang posisi bertahan.
Banggggg
"Ohhhoooo." Kata yang keluar dari Tua Tao lalu kemudian ia tersenyum melancarkan tinjunya nya lagi berkali-kali.
Banggggg
Banggggg
Banggggg
Bughhkkkkkk
…
Walaupun sudah berusaha menahan, tentunya Tua Tao tidaklah bodoh hanya mengincar daerah yang di tahan saja. "Oii nak kau hanya bisa bertahan saja kah tanpa bisa menyerang." Kata Tua Tao mengarahkan tinjunya ke pipi kiri Ling Feng dan Ling Feng langsung refleks melindungi pipi kirinya, akan tetapi…
Bughhkkkkkk
"Ughhkkk Orang Tua ini…." Batin Ling Feng yang dirinya terkena pukulan telak dibagian Dagunya oleh Tua Tao. Ling Feng langsung tumbang setelah terkena pukulan dagu itu.
"Ya walaupun tidak bisa melancarkan serangannya, kau cukup cakap juga untuk bertahan." Kata Tua Tao mendekati Ling Feng lalu mengulurkan tangannya ke tubuh Ling Feng. Seketika gelang-gelang yang melingkari anggota tubuh Ling Feng merespon lalu mengerat.
"Bebannya ku tingkatkan lagi seperti sebelumnya. Berlatihlah lebih giat lagi dan guru akan mengetesnya lagi." Kata Tua Tao lalu menghilang dari sana. "Jalan ku masih panjang ternyata." Gumam Ling Feng menghela nafas lalu berusaha bangkit. "Pertama kali aku sama sekali tidak bisa berbuat apapun." Katanya lagi.
"Namun saat ini, Perlahan tapi pasti. Tubuh ku Mulai mendapatkan perkembangan yang pesat. Tulangku naik ke tingkat Harimau. Manual tubuh dewa surgawi juga sebentar lagi menembus tingkat dua. Aku harus lebih giat lagi dan ini masih belum cukup." Tekad nya bangkit lalu mulai berlari-lari kembali membiasakan beban yang baru di tingkatkan.
"Bagus jangan pernah lupakan hasrat itu. Hasrat yang selalu merasa kurang apapun, dengan hasrat itu baru kau bisa menembus batasan dirimu." Kata Tua Tao yang sebenarnya tidak pergi dan memperhatikan dari tempat yang tersembunyi.
>>>>>>> Bersambung