Pendekar Yin - Yang

Pendekar Yin - Yang
V2 Perasaan Janggal


“Pergilah dan selesaikan dengan rapih!” Ucap Ling Feng dengan nada serius yang dianggukki oleh klonnya tersebut lalu api pun muncul dari bawah pijakannnya membakar seluruh tubuhnya lalu menghilang dari sana.


>>>>>>______


Sementara Itu di Sisi Lainnya


“Bagaimana Mei’er?” Ujar Zhang Ling kepada Yin Mei yang tengah memeriksa sesuatu seraya memegang sebuah benda yang terlihat seperti kompas di tangan kanannya. Mereka berempat saat ini sedang berada di Luar kota Tanjung. Awalnya mereka menyelidiki di dalam kota, namun semua informasi yang mereka peroleh semuanya mengantar kan mereka untuk pergi dari kota Tanjung.


Saat ini Zhang Ling dan yang lainnya sedang berada di hutan yang cukup jauh dari Kota Tanjung. Benda yang berada di tangan Yin Mei adalah sebuah artefak yang berfungsi untuk melacak jejak-jejak yang berusaha untuk di hilangkan. Jejak-jejak aura yang ia temukan di hutan tersebut sama persis dengan jejak-jejak yang ia temukan di rumah orang-orang yang menghilang.


Terlihat Yin Mei tengah mengalirkan Qi nya ke dalam artefak pelacak tersebut, sampai beberapa saat kemudian Jejak-jejak aura yang awalnya sudah berusaha untuk dihilangkan kembali terlihat walaupun samar.


“Arahnya ke sana tetua.” Jawab Yin Mei seraya menunjuk ke arah bagian lebih dalam hutan tersebut. Mendengar petunjuk yang diarahkan oleh muridnya, Zhang Ling pun menganggukkan kepalanya seraya berkata, “Ayo kita periksa ke dalam.” Ucap Zhang Ling memimpin untuk masuk ke dalam hutan tersebut di ikuti oleh Yin Mei dan kedua saudarinya.


Selama dalam perjalanan hanya Cai Lan yang terlihat seperti sedang memikirkan suatu hal. Bahkan kali ini kerutan di dahinya benar-benar terlihat jelas, bahwa dirinya tengah memikirkan sesuatu hal yang serius. Bahkan ketika dirinya di ajak bicara oleh Yin Mei dan Hu Yan, ia benar-benar mengacuhkan keduanya dan hanya tenggelam dalam pikiran nya saja.


“Saudari Lan... Apakah terjadi sesuatu? Kamu terlihat sangat serius memikirkan suatu hal.” Ujar Hu Yan seraya menepuk pundak Cai Lan membuat gadis tersebut tersadarkan dari lamunannya, kerutan di wajahnya pun hilang dan raut wajahnya pun kembali seperti semula. Yin Mei juga menoleh ke arahnya, karena dirinya juga merasa penasaran mengapa saudarinya terlihat seperti sedang memikirkan suatu yang sangat rumit.


Bukan hanya keduanya saja, Zhang Ling pun juga memperhatikan Cai Lan yang terlihat lebih pendiam. Ia juga sempat melihat kerutan di dahi gadis tersebut. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu yang sangat rumit sampai-sampai terlihat kerutan samar-samar di dahinya.


“Apakah ada sesuatu yang mengganjal pikiran mu?” Ujar Zhang Ling yang hanya mengirimkan transmisi suara kepada Cai Lan. Gadis tersebut sekilas melebarkan kedua matanya sejenak, namun seperkian detik kemudian raut wajahnya kembali tenang, lalu membalas transmisi suara kepada Zhang Ling.


“Sebenarnya ada sesuatu yang mengganjal di dalam benak pikiran ketika mendengar cerita dari Pemimpin Kota Tanjung Tetua.” Cai Lan yang membalasnya menggunakan transmisi suara juga. Mendengar hal itu, Zhang Ling pun refleks mengerutkan keningnya juga lalu kembali bertanya kembali, “Jelaskan secara singkat rasa janggalmu itu Lan’er.” Ucap Zhang Ling.


“Cerita yang di bawakan oleh Pemimpin kota terdengar terlalu dibuat-buat. Waktu yang dikatakan olehnya juga bertepatan dengan musnahnya kelompok bandit laut. Aku merasa ada satu benang yang terhubung antara dua kejadian ini. Lalu kecurigaan ku semakin di perkuat dengan kita yang dengan mudahnya mendapatkan sebuah petunjuk, sedangkan beliau berkata sudah hampir beberapa pekan terakhir tapi masih belum menemukan petunjuk dari pelaku sebenarnya.


Jelas-jelas tidak sampai dua jam kita baru sampai di pulau ini, tapi bukankah terlalu aneh jika petunjuk yang kita temukan rasanya terlalu banyak dan terbilang sangat mudah untuk dilakukan, padahal orang-orang pemimpin kota sangat jelas kesulitan mencari sebuah petunjuk selama beberapa minggu terakhir.” Jelas Cai Lan panjang lebar.


Zhang Ling yang mendengar itu cukup terkejut ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Cai Lan. Apa yang dikatakan oleh gadis tersebut memang masuk akal. Ia juga merasakan hal yang sama seperti yang dikatakan oleh Cai Lan di kalimat terakhirnya. Namun ia tidak menyangka bahwa Cai Lan akan menghubungkan ini semua dengan rumor bandit laut yang tersebar. Dirinya pun akhirnya mengerti mengapa ia selalu diam semenjak pergi dari mansion pemimpin kota.


“Jadi maksudmu, jejak-jejak yang kita temukan saat ini merupakan sebuah penuntun untuk mendorong kita datang ke sebuah area tertentu begitu.” Simpul Zhang Ling seraya melirik ke Cai Lan, dan refleks di balas anggukkan kecil oleh gadis tersebut.


“Menurutku, jejak-jejak ini bukan dihilangkan, melainkan memang sengaja di tinggalkan. Hanya orang bodoh jika melakukan sesuatu yang buruk semacam penculikan, tapi meninggalkan jejaknya.” Ujar Cai Lan yang disetujui oleh Zhang Ling. Mendengar spekulasi dari Cai Lan, membuat Zhang Ling semakin yakin ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Wang Hei di belakang mereka.


Tidak ada yang berbicara sedikit pun, namun Zhang Ling sudah melihat ke arah tertentu dengan pandangan tajam. Melihat sikap dari tetua, ketiga gadis yang lainnya pun langsung mengeluarkan senjatanya masing-masing mengambil sikap waspada.


Suasana di hutan tersebut pun mendadak menjadi aneh, karena beberapa saat yang lalu mereka bisa mendengar suara burung. Akan tetapi saat ini, suasana nya benar-benar sangat hening dan hanya deru angin yang berusaha menembus melalui lebatnya dedaunan.


Tidak lama kemudian munculah banyak sosok berpakaian serba hitam. Zhang Ling dan menyapu pandangan nya menatap satu persatu dari sosok berpakaian hitam tersebut. Sosok berpakaian hitam tersebut tidak berkata apa-apa dan tanpa basa-basi langsung menyerang Zhang Ling dan yang lainnya.


Pertarungan pun tidak terelakkan. Kelompok berpakaian hitam setidaknya berjumlah hampir tiga puluh orang banyaknya. Terlihat kelompok tersebut sangat lihai dalam bergerak diantara pepohonan-pepohonan yang ada di hutan tersebut. Walaupun begitu, Zhang Ling dan yang lainnya nampak tidak panik melihat situasi yang jelas-jelas tidak menguntungkan mereka sekarang.


“Sepertinya dugaan Lan’er memang benar. Sepertinya Pemimpin Kota Tanjung hendak melakukan sesuatu kepada kita.” Ucap Zhang Ling membuat Hu Yan dan Yin Mei terkejut sekaligus bingung dengan maksud dari perkataan sang tetua. Keduanya pun menoleh ke arah Cai Lan dengan pandangan bertanya-tanya mengenai maksud dari perkataan sang tetua.


“Cukup panjang jika aku menjelaskan nya, akan tetapi seperti yang dikatan oleh Tetua Zhang. Pemimpin Kota menyembunyikan sesuatu dari kita dan lebih parahnya lagi, ia sepertinya hendak menjebak kita.” Jelas Cai Lan secara singkat membuat Hu Yan dan Yin Mei terkejut ketika mendengar hal tersebut.


Mereka berdua tentunya terkejut dengan pernyataan dari Cai Lan, sampai akhirnya keduanya pun paham mengapa Cai Lan hanya diam saja tanpa berkata sepatah kata pun setelah mendengar cerita dari pemimpin kota.


“Tidak perlu menahan diri lagi. Habisi mereka semua yang ada di sini. Sudah dapat dipastikan ini jebakan. Lalu jangan bunuh semuanya dan biarkan hidup satu orang.” Ucap Zhang Ling yang dianggukki oleh ketiga gadis tersebut. Mereka bertiga pun langsung melesat cepat ke arah kelompok berpakaian hitam itu dan mulai menyerang secara agresif.


Zhang Ling juga tidak tinggal diam, ia juga mulai bertarung dan menghabisi orang-orang berpakaian hitam itu tanpa ampun. Hanya dalam kurang dari lima belas menit tiga puluh orang berpakaian hitam di bantai habis oleh empat wanita.


Cai Lan membawa seorang berpakaian hitam yang telah ia buat terluka cukup parah. Ia juga menekan beberapa titik di tubuh orang tersebut membuatnya tidak bisa bergerak sekaligus tidak bisa berbicara. Terlihat orang yang di buat terluka parah itu hanya menatap tajam secara bergantian ke arah Zhang Ling dan yang lainnya.


Zhang Ling pun maju seraya membuka penutup wajah orang tersebut dimana ia pun melihat sosok yang familiar yaitu, seorang pria yang adalah penjaga gerbang mansion kediaman pemimpin kota.


“Buka titik suaranya Lan’er.” Pinta Zhang Ling ketika melihat gerak gerik dari mata yang ditunjukan prajurit penjaga itu. Cai Lan pun menekan beberapa titik tubuh di dekat mulut prajurit penjaga itu, ia terlihat menundukkan kepala nya sampai beberapa saat kemudian ia pun mendongakkan kepalanya seraya tersenyum lebar dan berkata, “Tamat sudah riwayat kalian semua.” Ujar prajurit penjaga seraya tersenyum lebar membuat keempat wanita tersebut tersentak kaget ketika mendengar nya.


Shringgggg...?!


>>>>>> Bersambung


~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya dengan saran dan ulasan nya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.