
“Apakah kalian berdua tidak apa-apa?” Tanya Ling Feng seraya menyejajarkan tingginya dengan kedua anak kecil tersebut. Kedua anak kecil itu menganggukkan kepalanya dan berkata dengan semangat, “Kami berdua tidak apa-apa kakak tampan. Terima kasih telah membantu kami.” Ucap salah satu anak kecil tersebut yang diangguki oleh teman di sisinya.
Ling Feng tersenyum simpul lalu mengacak-ngacak puncak kepala kedua anak kecil tersebut. Ia lalu melirik ke arah Ren Hu dan berkata, “Antarkan mereka sampai kepada kedua orang tuanya.” Ucap Ling Feng yang diangguki oleh Ren Hu. Setelah itu kedua anak kecil itu pun melambai-lambaikan tangannya kepada Ling Feng yang di balas oleh Ling Feng dengan lambaian tangan juga dan senyuman.
“Sekarang kita akan kemana tuan muda?” Ucap Pang Lang yang melangkah ke sisinya. “Seperti rencana, kita akan meninggalkan kota hari ini, namun waktu keberangkatan nya perlu di undur sebentar sepertinya.” Ucap Ling Feng menjelaskan. Pang Lang yang paham mengajukan dirinya untuk melakukan hal yang Ling Feng ingin lakukan, namun Ling Feng menggelengkan kepalanya menolak hal itu.
“Tunggu saja paman, aku tidak akan lama kok.” Ucap Ling Feng seraya tersenyum.
Mendengar Ling Feng yang bersikeras, Pang Lang pun tidak berniat untuk menggantikan dirinya dan menuruti perintah Ling Feng untuk menunggu saja di gerbang keluar kota, tempat titik berkumpul mereka.
Orang-orang yang melihat kejadian tepat di hadapan mata mereka masing-masing, membuat siapapun pasti akan takut melihatnya, walaupun mereka tidak mengalami langsung, namun rasa linu dapat mereka rasakan hanya dengan melihat para penjaga bangsawan keluarga Chu yang terkapar mengenaskan.
Ling Feng sendiri tidak peduli akan hal itu dan dirinya pun pergi dengan Pang Lang meninggalkan tempat kejadian. Para warga pun memberikan jalan, alih-alih merasa takut terhadap keduanya, dan mereka pun hilang dalam kerumunan orang-orang.
Selang beberapa menit setelah kepergian Ling Feng dan Pang Lang, tiba-tiba seluruh warga yang masih berkumpul di tempat kejadian mendengar suara bising langkah kuda. Sontak hal itu menarik perhatian para orang-orang, namun ketika mereka melihat siapa yang datang, orang-orang yang awalnya melihat kejadian tersebut langsung lari tunggang langgung. Alasan mereka semua lari adalah sosok yang datang tersebut adalah sebuah pasukan berkuda lengkap dengan pakaian yang mempunyai warna yang sama dengan para penjaga Chu Xin.
Sebuah pasukan yang datang mendekat itu tidak salah lagi adalah pasukan dari Keluarga Bangsawan Chu. Tepat pasukan tersebut sampai di hadapan Chu Xin dan para penjaganya yang terkapar tidak sadarkan diri, Pemimpin dari sebuah pasukan pun merasa aneh dengan pemandangan di hadapannya. Lebih tepatnya, ia tidak menyangka bahwa ada yang berani melakukan hal ini kepada tuan muda dari keluarga Chu.
Pemimpin pasukan itu pun turun dari kudanya. Langsung mengecek keadaan tuan mudanya. Ketika ia mengecek melalui nadi Chu Xin, kedua matanya terbelalak terkejut. “Tulang punggungnya benar-benar hancur. Jika di tekan sedikit lagi, mungkin tuan muda benar-benar akan mati.” Batin pemimpin pasukan tersebut yang terkejut ketika mengetahui kondisi Chu Xin.
Pada saat itu terdengar suara langkah kaki yang mendekatinya. Pemimpin pasukan itu sontak menoleh ke arah sumber suara tersebut dan mendapati bawahannya serta merta membawa satu orang warga yang tertunduk mendekat.
“Lapor pemimpin. Orang ini berada di sekitar sini dan sepertinya melihat kejadian yang menimpa tuan muda.” Ucap bawahan dari pemimpin pasukan seraya menyerahkan seorang warga kepadanya. Orang tersebut masih dalam menundukkan kepalanya, terlihat sangat jelas bahwa ia dipaksa kemari oleh prajurit tersebut.
Pemimpin pasukan pun bangkit dan menatap orang tersebut dengan tatapan yang mengintimidasi, membuat refleks orang tersebut langsung meringkuk ketakutan melihat tatapan tersebut. “Jadi, bisakah kau jelaskan tentang apa yang dialami oleh tuan muda dan para penjaganya kepada ku sekarang?” Tanya Pemimpin pasukan itu seraya melayangkan senyuman, namun sangat jelas hal itu mengintimidasi orang tersebut.
“A-akan kukatakan, akan kukatakan, oleh karena itu jangan bunuh aku.” Jawab cepat orang tersebut bergetar, karena tatapan mengintimidasi dari pemimpin pasukan.
>>>>>>_____
Seperti halnya rumah para bangsawan yang pastinya begitu mewah, tentunya hal tersebut juga berlaku bagi Bangsawan Keluarga Chu. Kediaman mewah yang berdiri di salah satu penjuru Kota Awan Emas.
“Jadi di sini tempat tinggalnya ya...” Gumam sosok Ling Feng yang tiba-tiba muncul di dekat gang menuju ke arah kediaman Keluarga Chu. Ling Feng menatapnya seraya tersenyum lalu menggunakan tudung kepalanya lagi menutupi hampir seluruh wajahnya.
Salah Satu Ruangan Di Kediaman Chu
Aura wibawa penguasa terpancar dari tubuhnya, dirinya begitu tenang memeriksa satu persatu dokumen yang berada di atas meja sampai-sampai ia tidak menyadari bahwa ada sosok berjubah hitam yang secara tiba-tiba sudah berada di dalam ruangannya. Pria tersebut masih belum menyadari kehadiran sosok berjubah hitam itu sampai kemudian, sosok tersebut pun berkata, “Apakah Anda adalah kepala Keluarga Chu?” Ucap sosok berjubah hitam itu mengejutkan pria yang sedang menandatangi dokumen.
Degggghhh... Degggghhh...
“S-sejak kapan ia berada di sana?! Aku benar-benar tidak bisa merasakan hawa keberadaannya.” Batin pria tersebut yang terkejut ketika mendengar sebuah suara di belakangnya. Bahkan pena yang ia pegang langsung jatuh, saking terkejutnya pria tersebut.
Sosok berjubah hitam itu terkekeh pelan ketika mengetahui reaksi dari pria dihadapannya yang cukup di luar dugaannya. “Siapa kau? Ada perlu apa dengan ku?” Pria tersebut memberanikan dirinya tanpa menoleh ke belakang.
“Tenang saja, juga tidak perlu setegang itu. Aku kemari tidak bermaksud membunuh mu atau pun membantai keluarga mu.” Ucap Ling Feng terkekeh pelan. Diam-diam pria yang tidak lain adalah kepala keluarga Chu itu menghela nafas lega, namun ketika mendengar apa yang dikatakan sosok di belakangnya, tubuh kepala Keluarga Chu kembali menegang.
“Ya awalnya aku tidak berniat untuk membantai keluarga mu, namun baru saja aku datang ke kota ini, ada seorang pemuda angkuh yang hendak melecehkan pengikut ku. Kepala keluarga Chu bagaimana menurutmu? Apa yang harus kulakukan terhadap pemuda itu ya?” Ucapnya sekaligus bertanya kepada sosok berjubah hitam tidak bukan adalah Ling Feng dengan tanpa beban.
Mendengar hal itu, kepala keluarga Chu tentunya sudah sedikit menebak kedatangan sosok di belakangnya ini. Walaupun ia tidak bisa merasakannya, namun melihat dari sosok tersebut yang begitu mudah menyelinap, sudah pasti bukan orang biasa-biasa saja. Kepala keluarga Chu bungkam seribu bahasa. Ia tidak berani mengatakan apapun, karena bisa saja apa yang ia katakan saat ini, akan menimbulkan akibat yang sangat fatal.
Ling Feng yang melihat bahwa kepala Keluarga Chu hanya diam saja tidak merespon ucapannya, dirinya tidak masalah akan hal tersebut. Ia bahkan menepuk-nepuk pelan pundak kepala Keluarga Chu, membuat sang empu terkejut bukan main ketika Ling Feng tepuk pundaknya. “Santai saja... Kali ini aku maafkan pemuda itu, dan sebagai akibat telah berniat melakukan hal yang buruk kepada pengikut ku, aku buat pemuda itu tidak akan bisa bangkit dari tempat tidurnya selama satu bulan atau mungkin lebih dari itu. Jadi kepala keluarga Chu, bagaimana pendapat mu?” Ucap Ling Feng seraya mengakhirnya perkataannya, dengan pertanyaan.
“T-tidak ada yang lebih bijaksana ketimbang anda tuan.” Ucap kepala Keluarga Chu memuji Ling Feng gugup bukan main. Ling Feng sekali lagi terkekeh dan berkata, “Begitu, kah... Ya kalau begitu aku pergi dulu. Jangan lupa apa yang aku katakan ya.” Ucap Ling Feng terkekeh lagi, seraya menepuk-nepuk bahu kepala keluarga Chu lalu pergi dari sana.
Merasa tidak ada suara lagi, Kepala Keluarga Chu memberanikan dirinya menoleh ke belakang dan tidak mendapati siapapun di sana. Pada saat itu juga, kedua bahunya yang menegang langsung merosot ke bawah seraya menghela nafas panjang merasa sangat lega. Ia lalu merasa sangat marah, mengingat bahwa hal ini terjadi, gara-gara pemuda yang di maksud pemuda itu adalah anaknya.
“Anak sampah itu...” Umpat kepala Keluarga Chu megepalkan tangannya erat-erat. Baru saja dibicarakan, tiba-tiba pintu masuk ke ruangan kepala keluarga Chu dibuka dengan tiba-tiba. Sontak kepala keluarga Chu langsung menoleh ke arah satu sosok pemuda yang di pangku tubuhnya berjalan susah ke arahnya. Sosok pemuda yang jalan nya di bantu tersebut langsung menangis pilu seraya berkata, “Huaaa... Ayahhhhh... Ada yang membullyku... Huaaa!!!” Sosok pemuda itu menangis pilu dengan wajah yang lebam serta terpincang-pincang. Terlihat sudah ada beberapa perban yang membalut tubuhnya.
Kepala keluarga Chu yang melihat itu menggertakkan giginya, ia bangkit dari tempat duduknya melangkah cepat ke arah Chu Xin. Dalam hatinya Chu Xin sudah menyeringai lebar, melihat antusias dari ayahnya, namun hal yang tidak di duga adalah teriakan kemarahan dari ayahnya.
“Dasar anak bodoh! Bisa-bisanya kau menyinggung orang yang seharusnya tidak kau singgung!” Teriakan kemarahan dari kepala keluarga Chu membuat Chu Xin dan prajurit yang mengantarnya terkejut bukan main.
Belum puas, kepala keluarga Chu kembali berteriak, “Kau tahu! Akibat dari tindakan bodoh yang kau lakukan itu, keluarga kita hampir saja dibantai kau tahu hahhh! Anak bodoh! Tuan itu sengaja, ia hanya menghajar mu sampai seperti itu, jika sampai kau benar-benar meletakan tangan mu di tubuh pengikutnya, keluarga Chu kita benar-benar akan musnah tau!” Teriak kepala keluarga Chu meluapkan seluruh amarahnya kepada Chu Xin.
Chu Xin benar-benar terdiam, tidak bisa berkata apa-apa melihat ayahnya yang begitu marah kepadanya.
>>>>> Bersambung
~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.