
Qing Lao benar-benar berantakan sekarang. seluruh tubuhnya di penuhi oleh bercak darah yang sudah kering saat ini. Qing Lao tidak berniat untuk membersihkan darah-darah tersebut. Qing Xian menatap tajam Qing Lao saat ini bahkan saking tajamnya membuat wajah tenang Qing Lao seketika berubah menjadi sedikit panik mendapatkan tatapan tajam dari sang saudari.
"Qing Lao menyapa kepala keluarga dan para tetua." Kata Qing Lao memberi hormat kepada Qing Fei. Para tetua masih menatap terkejut Qing Lao saat ini. Mereka semua bingung dengan apa yang terjadi disini kecuali, Qing Shuang yang memasang wajah serius melihat orang yang di seret oleh Qing Lao kedalam pertemuan.
"Baiklah sebelumnya aku minta maaf membuat para tetua menjadi bingung. Aku akan langsung pada intinya. Orang yang dibawa Lao'er saat ini adalah seorang mata-mata yang sedang mengawasi anggota keluarga Qing dari bayang-bayang." Kata Qing Fei yang membuat para tetua memasang raut wajah serius mendengarkan.
"Jadi kesimpulannya ada pengkhianat yang membiarkan orang ini masuk kedalam keluarga Qing dan memata-matai seluruh anggota keluarga Qing. Begitu kepala keluarga." Kata tetua sepuh yang tadi berbicara menjadi perwakilan. "Benar sekali. Sepertinya yang diduga dari tetua agung. Kecerdasan mu dalam segala hal selalu membuat ku takjub." Kata Qing Fei memuji tetua sepuh tersebut yang tidak lain adalah tetua agung.
"Lalu mengapa anda mengumpulkan kami semua disini?" Tanya tetua lainnya kepada Kepala Keluarga Qing. "Karena orang yang dimaksud dari tetua agung ada disini sekarang." Bukan Qing Fei yang menjawabnya melainkan Qing Xian yang duduk dibelakang Qing Fei. Sontak para tetua sekali terkejut akan fakta tersebut.
Tetua yang tadi bertanya pun lalu bangkit dan berkata. "Bagaimana anda bisa berkata seperti itu Nona Xian. Hal itu tidak mungkin terjadi." Kata tetua tersebut menyangkalnya. "Jika tidak mungkin, lalu masalah-masalah yang telah dialami oleh anda dan tetua yang lainnya apakah hanya kebetulan saja?" Kata Qing Xian bertanya balik kepada tetua tersebut.
Mendengar hal itu tetua tersebut pun terdiam. Ia kemudian berpikir bahwa apa yang telah dikatakan oleh Qing Xian sangatlah masuk akal. Masalah-masalah yang dialami saat ini benar-benar tidak dibayangkan oleh semuanya. Lalu setelah Qing Xian berkata demikian akhirnya mereka berpikiran bahwa itu adalah ulah dari sang pengkhianat, akan tetapi yang menjadi pertanyaannya adalah siapa, pertanyaan tersebut terselip di benak hati masing-masing saat ini.
"Ya kita akan mengetahuinya sebentar lagi jika orang tersebut masihlah menghembuskan nafas." Kata Qing Xian menjawab pertanyaan dibenak hari para tetua lalu mengalihkan pandangannya menatap tajam Qing Lao, karena mengabaikan perkataannya untuk tidak berlebihan.
Sang empu yang ditatap hanya menundukkan kepalanya tidak berani mengangkat kepalanya, karena jika ia mengangkat kepalanya pada saat itu juga ia akan mati oleh tatapan tajam Qing Xian.
"Baiklah sudahi pembicaraannya, untuk lebih jelasnya kita akan langsung bertanya kepada orang ini." Kata Qing Fei menyudahinya. Ia lantas berkata kembali, "Lao'er" Panggil Qing Fei. Mendengar panggilan dari sang ayah Qing Lao paham dan berkata, "Baik ayah."
Qing Lao lantas mengalirkan sedikit Qi untuk membuatnya sadar. Tidak lama kemudian orang tersebut itu menunjukkan tanda-tanda akan sadar lalu ia pun sadar dan ia menyapu pandangannya yang mana ia sekarang berada ditempat sepenuhnya berbeda. Sampai telinganya mendengar suara tidak asing.
"Yoo kawan kita bertemu kembali." Sapa Qing Lao akrab. Sontak mata-mata itu pun terkejut ketika melihat Qing Lao berada didekatnya. "A-apa lagi yang kau inginkan. B-bukankah aku sudah mengatakan semuanya?! Mengapa kau tidak menepati perkataan mu?!" Kata mata-mata tersebut bergetar ketika melihat Qing Lao.
"Inginnya sih begitu, tapi seluruh orang-orang ini tidak percaya dengan apa yang aku katakan. Jadi ada baiknya membawa mu langsung dan memberitahukan segalanya langsung dari mulut mu itu." Kata Qing Lao langsung pada intinya.
"Katakan dengan lantang jika kau memang tidak ingin dibunuh dengan cara yang paling menyakitkan yang belum pernah kau bayangkan." Bisik Qing Lao. Sontak mata-mata itu pun teringat kembali dengan hal yang ia rasakan beberapa jam yang lalu.
Qing Lao pun sedikit menjauh. Sontak orang tersebut bisa melihat banyak pasang mata yang menatapnya tajam. "Silahkan ayah. Orang ini sudah bersedia menjawab pertanyaan mu." Kata Qing Lao. Qing Fei yang melihat tingkah putranya yang cukup brutal hanya bisa tersenyum pahit melihat itu.
"Siapa orang yang memerintahkan mu untuk melakukan hal ini?" Tanya Qing Fei kepada mata-mata tersebut. Qing Xian sesekali melirik gelagat dari Qing Shuang. Akan tetapi, reaksi yang ia tampilkan saat ini begitu tenang membuat Qing Xian merasakan bahwa ada yang tidak benar saat ini.
"Paman Shuang tenang sekali…Apa jangan-jangan dia sudah mengetahui hal ini dan mempunyai cara untuk menanggapinya." Batin Qing Xian heran melihat wajah Qing Shuang yang tenang.
Mata-mata tersebut terdiam sesaat, para tetua ikut merasa tegang ketika melihat mata-mata tersebut terdiam. Mata-mata itu pun menundukkan kepalanya, namun menggerakkan tangannya menunjuk seseorang yang membuat semua pandangan mata para tetua tertuju kepada orang yang di tunjuk oleh mata-mata tersebut.
Sontak para tetua terkejut melihat siapa yang ditunjuk oleh mata-mata tersebut. "D-dialah yang selama ini memerintahkan ku untuk melakukan hal tersebut." Kata mata-mata tersebut sembari menunjuk Qing Shuang yang sangat tenang saat ini.
Orang yang ditunjuk hanya bersikap tenang saja saat ini. Tetua agung pun berkata, "Tetua Shuang apa kau tidak menyangkal apa yang dikatakan oleh mata-mata tersebut?" Tanya Tetua agung dengan nada serius. Akan tetapi, seolah hanya angin lalu saja Qing Shuang tidak menanggapi perkataan tersebut dan hanya diam saja menikmati teh yang tersedia didepannya. Lalu ia berkata tanpa mengalihkan pandangannya.
"Ya jika sudah seperti ini mau bagaimana lagi." Katanya sembari menghela nafas. Qing Shuang mengangkat sebelah tangannya. Qing Xian yang melihat itu membelalakkan matanya lalu berteriak. "Pergi dari sini sekarang juga!" Teriak Qing Xian. Namun sayang, semua sudah terlambat.
Thiiiikkk
Ketika Qing Shuang menjentikkan jarinya saat itu juga sesuatu yang aneh terjadi di ruang pertemuan tersebut. Para tetua yang bangkit refleks ketika mendengar teriakkan Qing Xian, seketika terdiam dan jatuh ketika Qing Shuang menjentikkan jarinya.
"Awalnya aku ingin membuat kejutan untuk kalian semua, tapi siapa sangka hasil akhirnya seperti ini…Ya mau bagaimana sedikit perubahan rencana tidak berpengaruh apapun." Kata Qing Shuang menyesap teh lalu meletakkan kembali pada tempatnya.
>>>>>> Bersambung