
Ling Feng yang mendengar itu pun refleks tersentak kaget menyadari perubahan suasana yang mendadak menjadi kelam. Walaupun begitu, Ling Feng tetap bersikap biasa saja, dan terus menyimak dengan seksama pria yang bernama Chen Heng itu.
>>>>>>______
“Akan tetapi semua itu berubah dalam sekejap satu tahun kedepannya, dimana semua mendadak berubah menjadi sebuah malapetaka baginya. Kehidupan damai yang ia jalani selama ratusan tahun, berubah drastis ketika orang kepercayaan sekaligus sahabatnya berkhianat kepadanya.” Ujar Chen Heng seraya tersenyum. Senyuman yang ia tunjukan berbeda dengan senyuman hangat yang sebelumnya.
Senyuman yang di tunjukan pria tersebut adalah senyuman yang mengandung arti kesedihan yang sangat berkepanjangan serta penyesalan yang sangat mendalam. Ling Feng yang melihatnya senyuman tidak tahu harus merespon seperti apa selain bersimpati kepadanya. Bagaimana tidak, teman dan sahabat mempunyai arti yang sama, namun makna yang berbeda.
Jika sosok teman hanya sebatas saling mengenal dan berinteraksi ketika sedang bertemu, maka sosok sahabat adalah lebih daripada itu. Tidak hanya saling mengenal dan berinteraksi saja, sahabat adalah orang yang sangat kita percayai, mengenal kita dengan baik, senantiasa bersama kita baik itu suka maupun duka.
Dikhianati oleh sahabatnya sendiri, memangnya siapa yang tidak merasakan sedih jika terjadi seperti itu. Bahkan jika itu seorang kaisar sekalipun, ia akan merasa sangat frutasi jika mengetahui menteri kepercayaannya telah berkhianat kepadanya. Ling Feng tentunya tidak bodoh ketika mendengar cerita dari Chen Heng. Walaupun pria tersebut menyamarkannya, Ia sangat menyadari, cerita yang ia sampaikan kepadanya saat ini tidak lain adalah cerita dari pria itu sendiri.
“Sahabatnya yang berkhianat itu pun mulai melakukan sebuah pemberontak kepada pria tersebut. Ia dan beberapa pengikut yang ia ayomi mulai melakukan pemberontakkan kepada sang penguasa tempat tersebut yang tidak lain adalah sahabatnya sendiri. Alhasil, akibat dari pemberontakan yang ia lakukan dua tempat yang di kuasi oleh pria tersebut berubah drastis menjadi medan perang antara kubu sang penguasa dan sang pemberontak.” Ucap Chen Heng seraya menatap ke tengah-tengah danau dengan pandangan sayu.
“Pertempuran besar pun terjadi yang membuat banyak korban dikedua kubu. Peperangan itu terus berlanjut sampai puluhan tahun lamanya. Sampai pada tahun berikutnya, pertempuran itu pun mencapai puncaknya. Menyisakan dua sosok pria yang tengah saling pandang, kondisi kedua pria itu bahkan tidak bisa dibilang baik-baik saja.” Ucap Chen Heng.
“Walaupun begitu, kobaran tekad dari kedua mata pria tersebut masih belum padam. Pertarungan antara keduanya pun kembali berlangsung sengit, penuh akan jual beli serangan dan pertahanan. Tempat yang digunakan oleh kedua pria tersebut sudah hancur porak poranda, tanah sekali lagi berguncang dan sekali lagi pertarungan yang dahsyat pun berlangsung antara kedua pria tersebut sampai beberapa tahun lamanya.”
“Pria penguasa itu melihat sahabatnya yang kini berkhianat dengan tatapan sedih. Tentu saja ia menyadari bahwa pertarungan tersebut tidak akan menghasilkan apapun selain kematian dan kehancuran. Akan tetapi, ia juga tidak bisa menghentikan sahabatnya itu yang telah gelap mata. Sampai pada suatu momen ia pun terpaksa mengambil keputusan yang berat.” Ucap Chen Heng dengan wajah serius membuat Ling Feng yang mendengar cerita pun juga merasakan perasaan menegakan.
“Tepat disaat-saat puncak pertarungan, pria penguasa itu membuat sebuah trik tipuan untuk memancing sahabatnya itu dan benar saja sahabatnya pun langsung terpancing, ia mengira pria penguasa tersebut sudah sampai pada batasnya. Namun, dirinya tidak sadar akan hal itu dan pada saat itulah, dengan gerakan yang tidak terduga. Pria penguasa itu bergerak sangat cepat menyerang sahabatnya yang terpancing akan triknya.” Ucap Chen Heng seraya menghela nafas pendek.
“Pria penguasa yang berhasil mendaratkan serangan telak kepada sahabatnya itu, ia pun memutuskan untuk mengambil langkah terakhir. Ia mengeluarkan kekuatan terakhir yang ia punya untuk menyegel sahabatnya itu di sebuah dunia yang hanya ada kegelapan tanpa batas, dan benar-benar hampa. Selesai menyegel sahabatnya itu, kesadaran pria penguasa itu juga mulai pudar, ia bertekuk lutut di sebuah reruntuhan di depan dunia yang ia segel.” Ucap Chen Heng.
Cerita tersebut masih belum berakhir. Ia pun kembali bercerita, dimana pria penguasa tersebut yang telah berhasil menyegel sahabatnya mulai membantu pengikut-pengikutnya melawan para pemberontak. Akan tetapi, situasi pun tidak jauh berbeda semenjak kedatangan pria penguasa itu, pasalnya ia benar-benar terluka parah alhasil pasukan pemberontak pun berhasil mundur dan bersembunyi di tempat yang kini mereka kuasai.
“Ia yang tengah terluka parah menggunakan kekuatan kehidupannya sebagai ganti untuk melakukan ritual tersebut. Yaitu semacam hukuman, dimana Qi yang di gunakan sisa-sisa pasukan pemberontak berbebda dengan Qi yang pada umumnya di gunakan. Qi tersebut berwarna hitam pekat serta mengeluarkan aura yang tidak nyaman lagi menjijikan. Tidak hanya itu saja, pria tersebut juga mengusir seluruh sisa-sisa pasukan pemberontak ke dunia lain dan menyegel mereka di sana serta menyegel kedua tempat kekuasaan nya, dengan ganti nyawanya lah yang akan hilang.” Ucap Chen Heng mengakhiri ceritanya seraya memejamkan kedua matanya dan mendongakkan kepalanya ke atas langit.
“Sepertinya kamu benar-benar sangat pandai bercerita senior. Kenapa kamu tidak membuat novel saja. Aku yakin cerita itu akan sangat laku.” Ucap Ling Feng membuat Chen Heng terkaget, lebih tepatnya ia tidak menduga dengan reaksi Ling Feng yang berbeda jauh dari yang ia bayangkan. Pasalnya ia berpikir, bahwa Ling Feng akan terkejut ketika mendengar ceritanya.
“Senior tidak salah kok, aku memang benar-benar terkejut ketika mendengar cerita tersebut. Lebih tepatnya aku tidak menyangka pertarungannya sudah terjadi ratusan tahun, tidak, mungkin ratusan ribu tahun lamanya, kan.” Ucap Ling Feng seraya mendongakkan kepala nya.
“Apakah aku boleh bertanya mengenai cerita mu itu senior?” Tanya Ling Feng masih mendongakkan kepalanya, namun sebelah matanya sudah melirik ke arah Chen Heng. Mendengar itu Chen Heng tersenyum tipis lalu berkata, “Tanyakan saja. Aku akan menjawabnya.” Ucap Chen Heng.
“Mendengar dari ceritamu tadi, aku sangat yakin bahwa kamu bisa saja membunuh sahabatmu itu. Akan tetapi, alih-alih membunuhnya, senior malah menyegelnya. Kalau boleh tahu mengapa senior tidak melakukan itu?” Ucap Ling Feng dengan nada serius.
“Nak cerita ini...” Ucapan Chen Heng langsung di potong kembali oleh Ling Feng.
“Sebelumnya mohon maaf senior, aku tidak sebodoh itu untuk tidak menyadarinya, bahwa cerita itu adalah cerita dari dirimu sendiri.” Ucap Ling Feng dengan santai nya. Membuat Chen Heng terdiam mengurungkan niat nya yang hendak berkata sesuatu.
“Jadi senior, mengapa kamu tidak membunuhnya?” Ujar Ling Feng mengulangi pertanyaan nya lagi.
“Haihhhh... Dasar kau ini ya. Baiklah anak kujawab. Tepat seperti yang kamu katakan tadi, aku bisa saja membunuh sahabatku itu, akan tetapi nyatanya aku tidak bisa melakukan itu.” Jawab Chen Heng seraya tersenyum gentir membuat raut wajah Ling Feng semakin serius.
>>>>>> Bersambung
~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya dengan saran dan ulasan nya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.