
“Mereka pasti khawatir dengan diriku... Ya lagipula aku sudah berada di tempat aneh ini selama satu tahun kurang. Maafkan aku Tetua Zhang, Saudari Mei, Saudari Yan.” Batin wanita tersebut sedetik kemudian kesadaran nya pun hilang.
>>>>>>______
Byurrrrrr...!!
“Ughhhkkkk... Sakit sekali.” Gumam pelan wanita tersebut yang telah bersusah payah untuk mencapai tepi sungai. Ingatan demi ingatan pun mulai kembali sebelum dirinya kehilangan kesadaran. Mulai dari melawan serigala besar dan berakhir terluka parah lalu setelahnya ia dikejar oleh harimau yang jauh lebih besar dari sang serigala, dan pada akhirnya ia tetap tidak bisa lolos dan jatuh ke dalam aliran sungai yang deras dimana dirinya sudah beranggapan bahwa riwayatnya telah tamat.
Wanita tersebut kembali sadar, setelah berhasil melewati arus sungai yang deras dan berakhir mengambang-ngambang di aliran sungai yang tenang. Pada saat itulah kesadaran nya mulai kembali sedikit demi sedikit.
Beruntung tubuhnya sudah terhanyut ke tepian sungai. Membuat sosok wanita cantik yang tidak lain adalah Cai Lan berhasil naik ke daratan walaupun harus bersusah payah. Seluruh pakaiannya basah kuyup, nafasnya pun sudah sangat kacau. Penampilannya benar-benar sangat berantakan sekarang.
Walaupun begitu, dirinya tetap berusaha untuk bangkit meskipun saat ini sedang tersiksa dengan luka-luka yang ia alami. Pelan namun pasti, ia melangkah menuju sebuah gua yang kebetulan berada di sekitar sungai tersebut. Ia masuk ke dalam gua tersebut dan langsung menyandarkan tubuhnya ke sisi dinding gua.
“Untuk sekarang aku harus mengobati luka-luka ini sebelum membusuk.” Gumam Cai Lan seraya mengeluarkan berbagai macam tanaman spiritual dari cincin ruangnya. Setelah meracik tanaman spiritual tersebut mengubahnya menjadi sebuah obat, ia pun langsung membalut luka-lukanya dengan obat tersebut. Terutama bagian lengan serta kakinya yang terluka parah akibat pertarungan sebelumnya.
Seraya menggigit bagian bawah bibirnya menahan rasa sakit serta perih yang sangat menyakitkan, Cai Lan tetap membalut bagian yang terluka sampai tertutup sepenuh nya. Setelah luka-lukanya selesai di balut, Cai Lan pun memilih untuk beristirahat terlebih dahulu, karena saat ini dirinya benar-benar sangat lelah.
Tubuhnya yang sudah tidak kuat pun langsung tergeletak di tanah begitu saja sesaat setelah mengobati luka-luka luarnya. “Entah bagaimana kali ini aku berhasil selamat dari kematian.” Gumam Cai Lan seraya memandang langit-langit gua. Ingatan demi ingatan selama hampir satu tahun kurang semenjak kedatangan nya di pulau tersebut terlintas.
Ingatan pertama kali yang membuat dirinya bingung, karena sesaat yang lalu dirinya masih berada di sebuah pulau kecil dan hendak kembali ke Pulau Tanjung bersama dengan Zhang Ling, namun detik kemudiannya ia tiba-tiba sudah berada di pulau yang dirinya pun tidak tahu nama dari pulau tersebut.
Cai Lan yang tidak tahu tentang apa yang terjadi kepadanya, hanya bisa memilih untuk terus bertahan hidup seraya bersembunyi dan berburu dari beast-beast di pulau tersebut. Bahkan pada saat dirinya baru beberapa minggu di pulau tersebut, tidak jarang ia senantiasa jatuh ke dalam situasi hidup dan mati di pulau tersebut.
Walaupun begitu, ia juga mendapatkan hasil yang luar biasa, dimana kultivasi serta pengalaman bertarungnya meningkatkan sangat pesat semenjak ia datang ke pulau tersebut. Dirinya benar-benar di buat senantiasa melewati batas tubuhnya sendiri.
Ranah kultivasi Cai Lan yang awalnya hanya berada di ranah langit awal saja dan membutuhkan waktu sampai berbulan-bulan untuk naik ke tingkat selanjutnya, kini ia hanya perlu waktu kurang satu tahun unuk mencapai Ranah Langit puncak. Lalu berkat pengalaman bertarung hidup dan matinya, wanita tersebut bisa bertahan ketika menghadapi beast tingkat langit yang mempunyai kekuatan setara seorang saint dan mempunyai kemenangan melawan nya walaupun hanya menang tipis saja.
“Fyuhhhh...” Hembusan nafas yang keluar dari mulut Cai Lan setelah hampir setengah jam beristirahat. Ia pun langsung bangkit dari posisi berbaringnya lalu mengambil sikap lotus dan mulai memejamkan matanya. Dirinya berniat untuk melihat seberapa parah kondisi tubuhnya yang terkena luka dalam.
Ia terdiam sejenak selama beberapa menit, sampai seperkian detik berikutnya ia pun memutuskan untuk memurnikan inti kristal beast tersebut, sembari menunggu luka dalamnya pulih sepenuhnya. Entah itu sebuah pertanda baik atau buruk, Qi yang Cai Lan rasakan di pulau tersebut sedikit berbeda dengan Qi pada umumnya yang ia rasakan.
Walaupun awalnya memang kacau dan sangat sulit untuk di kontrol, namun setelah mahir mengontrol Qi tersebut, manfaat yang di peroleh tidak main-main. Berkat Qi tersebut juga, kecepatan berkultivasi Cai Lan meningkat pesat. Namun, sebelum itu ia hendak memastikan kondisi gua tersebut terlebih dahulu, agar dirinya bisa dengan tenang dan fokus berkultivasi. Ia menggunakan beberapa trik untuk mengelabui beast -beast yang berniat untuk datang ke gua tersebut supaya tidak datang ke sana
Ia juga menghilangkan beberapa jejak serta Qi miliknya. Baru kemudian masuk lebih dalam ke gua dan berkultvasi di bagian terdalamnya.
>>>>>>______
Tidak terasa sudah hampir satu tahun berlalu semenjak Ling Feng memulai perjalanannya ke Pulau Ujung Benua. Tepat satu bulan berlalu Ling Feng pun membuka matanya kembali. Ia sudah hampir sepenuhnya berhasil menyerap seluruh inti kristal beast yang di berikan oleh Long Tian dan To Mu.
“Akhirnya pulih juga.” Gumam Ling Feng seraya merenggangkan tubuhnya yang kaku. Senyum lebar tercetak di wajahnya. Luka-luka yang ia derita dari guntur sebelumnya telah sepenuhnya pulih. Tidak hanya itu saja, bahkan kekuatannya pun meningkat pesat dimana dirinya saat ini sudah mencapai ranah saint bintang sembilan.
Dirinya bisa saja mencapai Ranah kosmik setengah langkah, namun Ling Feng memilih menundanya untuk menembus ranah kosmik sepenuh nya. Ia hendak menstabilkan fondasinya terlebih dahulu, karena naik bintang sebanyak tiga kali berturut-turut. “Setelah melakukan pelatihan tertutup memang paling nikmat jika membakar daging.” Ucap Ling Feng seraya bangkit dari posisi lotusnya lalu keluar dari gua tersebut.
Saat di luar gua, tepat seperti yang di katakan oleh Long Tian sebelumnya. Sebuah Pulau yang dikelilingi oleh lautan sejauh mata memandang serta penuh akan Qi yang sangat kacau, Ling Feng benar-benar sampai di Pulau Ujung Benua. Ling Feng pun melihat sebuah kepulan asap yang berada tidak terlalu jauh dari gua tempat ia berada. Dirinya juga bisa merasakan aura familiar berasal dari sana, dan tanpa pikir panjang dirinya pun pergi ke kearah kepulan asap tersebut.
Saat dirinya sampai di sana, Ling Feng bisa melihat sebuah perapian yang telah padam dimana hanya menyisakan asapnya saja, serta beberapa tusuk kayu yang berserakan di tempat tersebut serta sebuah batang pohon besar dimana ada sosok naga kecil tengah berbaring malas seraya mendengkur cukup keras dan tanpa beban sama sekali.
Ling Feng mendekati batang pohon tersebut dimana Long Tian tengah tertidur pulas di atasnya. Ling Feng beberapa kali mengguncangkan tubuh naga kecil tersebut, namun hasilnya nihil karena Long Tian begitu lelap tidurnya. Sampai Ling Feng pun terpikir kan sebuah cara.
Ia mendekatkan mulutnya di bagian telinga Long Tian seraya berkata cukup kencang, “Paman ada pesta! Ada pesta!” Ucap Ling Feng yang seketika membuat naga kecil itu langsung membuka kedua matanya lebar dan refleks bangkit seraya menoleh ke kanan dan kirinya dengan cepat.
“Dimana pestanya?! Tunggu apa lagi mari ki-“ Ucapan Long Tian terhenti ketika mulutnya langsung tangkup oleh telapan tangan Ling Feng.
>>>>>> Bersambung
~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya dengan saran dan ulasan nya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.