Pendekar Yin - Yang

Pendekar Yin - Yang
Kamar Puncak di Barat


Kamar Puncak


Terlihat seorang sosok wanita yang sedang menatap terbenamnya matahari. Wanita itu mempunyai wajah yang cantik dengan tatapan mata yang dingin nan menawan. Siapa saja uang yang bertatapan langsung dengan wanita itu maka ia akan langsung jatuh hati melihat kecantikan dari wanita tersebut.


"Jiao'er sedang apa disana?" Tanya seorang pria sepuh lalu mendekati wanita yang dipanggil Jiao'er. Ya. wanita itu bernama Bing Jiao yang saat ini sedang berada di Sekte Naga Langit, salah satu sekte Aliran Putih dan juga dikenal sebagai Sekte nomor satu.


Nama-nama sekte yang terkenal di benua biru




Sekte Naga Langit dari Barat




Sekte Lembah Neraka dari Timur




Sekte Tombak Bumi dari Selatan




Sekte Gadis Suci dari Utara




"Aku hanya sedang ingin melihat matahari terbenam saja guru." Jawab Bing Jiao tidak mengalihkan pandangannya dan hanya fokus menatap matahari terbenam saja. Pria sepuh tersebut adalah Tetua Han yang kini telah menjadi guru bagi Bing Jiao.


Perkembangan Bing Jiao sangat pesan beberapa pekan setelah berpisah dengan Ling Feng, ia benar-benar bertekad untuk menjadi kuat sesuai dengan tekad yang ia katakan pasca itu. Tetua Han yang melihat itu awalnya sedikit cemas, karena Bing Jiao terlihat berlebih-lebihan bahkan ia sempat menegurnya beberapa kali, tapi Bing Jiao kadang mengabaikan peringatannya dan tetap berlatih.


Bing Jiao juga bukan anak yang manja, ia melakukan semua hal mandiri, jika itu masih dalam lingkup kemampuannya. Bahkan untuk sumber daya ia mendapatkan itu dari hasil jerih payah dirinya sendiri, dan ia tidak pernah meminta sumber daya sekalipun jika memang bukan hak miliknya yang identitasnya sebagai seorang murid sekte. Selain itu, ia juga sering mengambil misi-misi untuk menambah poin kontribusi untuk dibelikan sumber daya atau kebutuhan lainnya.


Awalnya Tetua Han khawatir tentang peningkatan Bing Jiao, tetapi beberapa bulan kemudian tidak diduga peningkatannya berkembang sangat pesat dan bahkan hampir setara dengan murid inti lainnya yang sudah bertahun-tahun lamanya belajar di sekte naga langit. Bukan hanya itu, Bing Jiao juga sudah memahami Dao pedang tingkat pertama yaitu, Niat Pedang.


Perkembangan Bing Jiao benar-benar sangat pesat, banyak menarik perhatian baik itu murid sekte naga langit maupun tetua-tetuanya. Ia sering ditantang oleh para murid yang ingin mengetes kemampuannya, namun semuanya berakhir dengan kekalahan setelah bertarung dengan Bing Jiao.


Bing Jiao yang awalnya hanya berada diranah Guru langsung melesat ke ranah Mahaguru Bintang Lima hanya dalam beberapa bulan saja. Tentu Tetua Han sedikit terkejut dengan pencapaian Bing Jiao yang sangat pesat seperti itu, bahkan ia pernah ditanya oleh Han Ying cucu dari tetua Han tentang alasan mengapa bisa secepat itu.


Bing Jiao hanya menjawab "Aku hanya berlatih lebih keras dari yang lainnya, dan beruntung mendapatkan pencerahan disaat-saat kritis." Qin Mei dan Han Ying yang mendengar itu awalnya tidak puas, namun jika dipikir-pikir kembali memang seperti itu faktanya.


Tetua Han mendekati Bing Jiao lalu bertanya. "Kau selalu seperti ini disaat senja matahari datang. Apa yang sedang kau pikirkan ketika melihat itu?" Tanya Tetua Han ikut melihat ke arah senja tersebut. Bing Jiao menggeleng-gelengkan kepalanya menjawab, "Aku tidak memikirkan apapun guru, hanya ketika melihat matahari terbenam itu semua terasa menjadi menenangkan." Jawab Bing Jiao. Tetua Han melirik sebentar melihat raut wajahnya Bing Jiao, yang terlihat sedih walaupun sudah berusaha ia tutup-tutupi.


"Sepertinya murid guru ini sedang rindu akan sesuatu, apakah kau ingin pulang terlebih dahulu bertemu dengan ayahmu." Tawar Tetua Han. Bing Jiao yang mendengar itu tersenyum simpul menggelengkan kepalanya, "Aku tidak ingin pulang dulu, aku masih ingin disini mendapatkan bimbingan dari Guru. Lagipula baru lima bulan aku berada disini, aku tidak ingin pulang dulu sebelum mencapai ranah Kaisar." Tekad Bing Jiao menatap Sang guru.


"Jiao'er apakah menurut mu, kau tidak terlalu berlebihan kepada tubuhmu? yang ditakutkan nanti kau malah terluka akibat dari pelatihan mu nanti." Kata Tetua Han.


Tetua Han melihat itu tidak bisa berbuat apapun, ia tidak bisa mencegah keinginan dari muridnya yang satu, di satu sisi ia merasa bersyukur dengan keberadaan Bing Jiao disini, namun disisi lain ia khawatir melihat Bing Jiao yang sangat keras pada dirinya sendiri.


"Tubuhku masih kuat guru. Jadi Jiao'er yakin, bahwa Jiao'er akan baik-baik saja. Selain itu, kakak pernah bilang kepada Jiao'er, bahwa setiap kerja keras tidak akan mengkhianati hasil." Ucap Bing Jiao sembari memandang kembali Matahari yang sepenuhnya hampir tenggelam. Tetua Han yang mendengar itu mengerti siapa yang dimaksud kakak oleh Bing Jiao. Tiba-tiba muncul Sosok dua wanita lainnya masuk kedalam. Kedua wanita itu adalah Han Ying dan Qin Mei.


"Tunggu, tunggu, sejak kapan kakak pernah berkata seperti itu kepada mu Jiao'er? Perasaan kakak tidak pernah berkata seperti kepada mu." Ucap Han Ying yang tiba-tiba masuk ke kamar. Diikuti oleh Qin Mei dibelakang yang dipaksa oleh Han Ying.


Bing Jiao menolehkan pandangannya ke Han Ying dan Qin Mei lalu bertanya. "Kakak Qin, Kakak seperguruan Ying ada perlu apa ke kamar Jiao'er?" Kata Bing Jiao. Han Ying langsung menjawab. "Ohh aku hanya ingin mengajak mu jalan-jalan. Kau pasti lelah setelah berlatih seharian…Ahhh tidak bukan seperti itu, kapan memangnya aku pernah berkata seperti itu kepada mu ya Jiao'er, perasaan aku tidak pernah berkata seperti itu kepada mu." Kata Han Ying.


"Perkataan yang mana kakak seperguruan, Jiao'er banyak berbicara dengan Guru Han beberapa saat yang lalu." Ucap Bing Jiao polos. Han Ying menepuk dahinya, Qin Mei dan Tetua Han menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Aduh…tentang perkataan mu yang terakhir itu." Jelas Han Ying. "Oh tentang kerja keras yang tidak mengkhianati hasil." Jawab Bing Jiao. Han Ying menjentikkan jarinya dan berkata, "Nah iya itu, memangnya aku pernah berkata seperti itu kepada mu ya." Ucap Han Ying. Bing Jiao menggeleng-gelengkan kepalanya, "Tidak, kakak seperguruan tidak pernah berkata seperti itu kepada Jiao'er." Jawab Bing Jiao.


"Lalu siapa kakak yang kau maksud Jiao'er?" Tanya Han Ying. Tetua Han dan Qin Mei sudah menebak siapa yang dimaksud dari Bing Jiao itu. Bing Jiao kembali menatap langit. Kini sudah mulai gelap, karena matahari sudah mulai terbenam. "Namanya Kakak Feng. Kakak Feng pernah berkata seperti itu kepada ku sebelum aku masuk ke sekte ini." Ucap Bing Jiao. Nada bicaranya sedikit berubah ketika membahas Ling Feng. Ia termenung kembali sembari menatap langit-langit yang mulai dipenuhi bintang.


Seketika suasana menjadi sedikit canggung. Tetua Han dan Qin Mei langsung menatap tajam Han Ying yang menyiratkan semua ini gara-gara perkataannya. Han Ying yang ditatap seperti itu menunjuk dirinya sendiri dengan wajah tidak mengerti.


"Baiklah kalau begitu, guru pamit dulu. Ingat jangan terlalu berlebihan dalam pelatihan sesekali beristirahat untuk menenangkan pikiran bukanlah hal yang buruk. Lalu kalian berdua keluar, jangan ganggu Jiao'er sekarang." Ucap Tetua Han melangkah pergi dari kamar Bing Jiao diikuti oleh Han Ying yang masih penasaran dan Qin Mei yang mengekor dibelakangnya.


Bing Jiao masih enggan berpaling Melihat langit-langit, karena menurutnya menatap langit-langit adalah hal yang membuat ia bisa merasakan tenang kembali.


"Kakak Feng" Gumam Bing Jiao


>>>>>> Bersambung