
"Turnamen Alkemis yang sangat menarik. Aku tidak menyangka bahwa orang yang terlihat biasa-biasa saja akan menjadi pemenang utama turnamen alkemis ini."
"Benar sekali padahal pemuda bertudung itu yang akan menang tadinya. Tapi, aku tidak menyangka bahwa masih ada kuda hitam lainnya. Tidak kusangka bakal ada dua kuda hitam dalam satu pertandingan."
Begitulah pendapat para penonton, disertai tepuk tangan yang riuh menandakan bahwa turnamen alkemis telah selesai.
Sisi Lain Arena
"Tidak kusangka orang yang terlihat tidak berniat untuk menang akan menjadi pemenang sesungguhnya, dan lagi pil yang ia buat tidaklah tanggung-tanggung." Ucap Kepala Keluarga Qing ikut bertepuk tangan merasa terhibur melihat pertandingan alkemis itu.
Walikota yang mendengar itu pun menganggukkan kepalanya membenarkan. "Benar sekali, aku tidak menyangka bahwa ada seorang alkemis seperti itu di kekaisaran Han ini. Padahal awalnya aku mengira pemuda bertudung itu yang akan menang." Kata Walikota.
"Penampilan awal dan pembawaan yang menarik tidaklah penting, semua itu akan tidak berguna jika hasil akhirnya bahwa kau tetap akan kalah." Ucap ketua paviliun obat sembari masih fokus melihat pil putih bersih itu lalu tersenyum kembali dan memasukkan pil tersebut kedalam botol khusus pil.
"Pemuda itu mungkin berniat untuk menang tipis awalnya, namun ketika melihat sikap dari orang bertudung itu, entah kenapa aura disekitarnya langsung berubah. Bukan hanya itu saja, pasca auranya tiba-tiba berubah, aura yang mengelilingi tungku pil pun ikut berubah. Mungkin pada saat itu ia mulai serius atau juga tidak." Ucap Qing Xian mengatakan pendapatnya. Putri Liu yang mendengar itu langsung menimpalinya.
"Melihat dari cara bicara kakak, seperti orang yang telah saling mengenal saja." Kata Putri Liu niat menggoda. Sembari tersenyum, Qing Xian berkata, "Kebetulan aku bisa mendengar percakapan kedua pemuda tersebut tadi." Ucap Qing Xian tanpa beban. Putri Liu langsung mengembungkan pipinya.
"Jadi, bagaimana kita bahas dengan taruhannya sekarang." Ucap ketua paviliun obat tiba-tiba sembari mengelus-elus janggutnya dan senyuman ciri khasnya. Bagaikan disambar petir di siang bolong, Kepala Keluarga Qing dan Walikota Anyi tidak menyangka bahwa ia masih mengingat tentang taruhannya.
"Hohoho, tenang saja walaupun aku sudah berumur, ingatanku masih kuat jika hanya mengingat hal sepele seperti ini." Ucap ketua paviliun obat. Walikota Anyi dan kepala keluarga Qing membatin dalam hati mereka.
"Kau bohong tua Bangka, mimik wajahmu mengatakan seperti itu. Kau akan ingat apapun itu jika berkaitan dengan taruhan." Batin kepala keluarga Qing dan Walikota Anyi jengkel.
Merasa ditatap aneh, ketua paviliun obat mengerutkan keningnya dan bertanya, "Kenapa kalian melihat ku seperti itu? apa ada yang salah dengan wajahku" Ucapnya sembari memiringkan kepalanya. Melihat sikap orang tua didepan mereka, kepala keluarga Qing dan Walikota Anyi ingin sekali berkata kasar ketika melihat sikapnya yang pura-pura polos.
Qing Xian dan putri Liu hanya tertawa kecil melihat tingkah laku orang tua tersebut yang terlihat seperti anak kecil di mata mereka.
Arena Pertandingan
"Aku yang agung ini kalah dari orang yang asal usulnya saja tidak jelas." Gumamnya menatap tanah tidak percaya bahwa dirinya saat ini kalah di keahlian bidang yang ia tekuni.
"Kita kembali sekarang." Ucap pemuda bertudung itu tanpa gairah. Keempat orang itu menganggukkan kepalanya langsung memapah pemuda bertudung itu dan dalam sekejap menghilang juga dari semua pandangan mata.
Namun, mereka tidak sadar bahwa ada seorang pemuda yang mengawasi mereka dari kejauhan saat ini. Pemuda itu menatap acuh tak acuh, akan tetapi dalam hatinya sudah bergetar ingin melampiaskan kemarahannya selama beberapa tahun ini. Bahkan sampai sekarang pun ingin masih dengan teriakan-teriakan orang tersebut terngiang dikepalanya.
"Ayah, Ibu, tenang saja tidak lama lagi kalian bisa tenang di alam sana." Gumam pemuda tersebut yang tidak lain adalah Ling Feng. Ia sudah tidak peduli lagi dengan hadiahnya, baginya balas dendam adalah yang terpenting saat ini
Ling Feng langsung membuka portal menuju dunia jiwanya dan keluarlah Long Tian dari dalam portal tersebut. Ketika Long Tian keluar, ia sedikit terkejut melihat raut wajah Ling Feng.
"Raut wajah itu, berarti orang-orang sedang berada. disekitar sini." Batin Long Tian. Ling Feng masih menatap langit dengan acuh tak acuh, namun Long Tian mengetahui bahwa didalam diri Ling Feng sudah berkobar api dendamnya selama ini. Mengetahui petunjuk tentang sekte bayangan, tentu saja ia tidak akan melewatkan hal ini.
"Paman aku minta tolong ikuti keempat orang itu dan pria bertudung yang dipapah. Awasi mereka dan jangan biarkan mereka keluar dari kota ini, semisal mereka ingin keluar hadang mereka dan bawa pemuda yang bertudung itu hidup-hidup. Untuk jaga-jaga, paman langsung mencabut salah satu gigi yang didalamnya terdapat racun." Ucap Ling Feng. Long Tian yang mendengar itu menganggukkan kepalanya.
"Tenang saja Feng'er kau bisa mengandalkan ku." Ucap Long Tian dengan wajah percaya dirinya. Ling Feng yang melihat itu hanya menganggukkan kepalanya lalu berbalik jalan ke arah tempat penginapan. Ia ingin mempersiapkan diri untuk membalaskan dendam seluruh warga desa dan kedua orang tuanya.
Bagaimana pun ini adalah perang satu pihak, ia tidak ingin selalu mengandalkan Long Tian, ia ingin membalaskan dendam orang-orangnya dengan tangannya sendiri. Jika ia meminta Long Tian untuk balas dendam, mungkin telah selesai jauh-jauh hari.
"Kultivasi ku saat ini sudah mencapai ranah Kaisar bintang 4. Lalu dilihat dari cara berpakaian orang bertudung tadi, ia paling lama akan tinggal di sini selama seminggu. Melihat dari cara ia menutupi identitasnya, sepertinya ia ingin melakukan sesuatu dengan kota ini." Gumam Ling Feng memikirkan situasi kedepannya.
"Untuk memaksimalkannya aku akan berkultivasi di dunia jiwa untuk menghemat waktu. Bagaimana pun mempunyai dantian elemen lebih lama dibandingkan dengan dantian biasa." Katanya lagi lalu menatap langit dengan sendu.
"Ayah, Ibu kalian tenang saja aku tidak akan membiarkan lagi orang-orang mengalami hal yang sama seperti kalian. Aku memusnahkan sekte biadab itu tidak lama lagi." Ucapnya sendu menatap langit.
Setelah cukup lama menatap langit, ia langsung bergerak kembali menuju arah penginapan, Ling Feng dalam perjalanannya ia sempat mengirim pesan suara kepada seseorang. Setelah selesai ia langsung bergegas kembali ke penginapan dan memulai persiapannya.
>>>>> Bersambung