
Terlebih lagi ketika mendengar pernyataan dari pelayan tersebut membuatnya semakin yakin bahwa ‘ujung benua’ dalam dongeng tersebut benar-benar ‘ujung benua’ yang ia cari-cari saat ini. Mendengar hal itu, sang pelayan pun dengan senang hati menyampaikan dongeng yang ia dengar dari neneknya beribu-ribu kali kepada Ling Feng dengan sejelas-jelasnya tanpa terlewat satu patah kata pun.
>>>>>>______
“Dari dongeng yang kudengar dari nenekku, Ujung Benua adalah nama dari sebuah pulau yang keberadaan nya misterius dan terletak di daerah terpencil. Tempat tersebut sangatlah berbahaya namun di satu sisi beliau berkata bahwa tempat tersebut sangat menakjubkan.” Ucap sang pelayan tersebut dalam pikiran Ling Feng.
“Untuk bisa sampai ke sana tuan muda harus pergi ke laut untuk mencarinya, karena nenek ku berkata untuk berada jauh dari daratan Dunia Biru.” Ujarnya lagi sang pelayan yang masih dapat di ingat jelas oleh Ling Feng.
“Sepertinya Pulau Ujung Benua benar-benar sangat jauh. Tidak aneh jika menyimpulkan bahwa pulau tersebut berada di tengah-tengah lautan.” Gumam Long Tian menyampaikan pendapatnya. Ling Feng yang mendengar itu pun setuju dengan pendapat Long Tian. Setelah mendapatkan titik terang tentang tujuan perjalanan nya, tanpa pikir panjang Ling Feng pun pergi ke pelabuhan dan disinilah dirinya.
Ia langsung membeli sebuah tiket kapal laut dengan tujuan pulau yang paling jauh. Ia juga di beritahukan bahwa kapal akan berangkat pada esok hari. Ling Feng yang mendengar itu menganggukkan kepalanya lalu memilih untuk mencari penginapan terlebih dahulu sembari menunggu hari esok.
Sebelum pergi ke penginapan ia juga sempat mampir ke pasar kota tersebut, karena dirinya merasakan ada aura yang menarik ketika sedang melewati tempat tersebut. Ia berhenti di sebuah lapak yang menjual berbagai macam barang Ling Feng menyapu pandangannya dan berhenti setelah melihat sebuah batu hitam yang ukurannya sekepal tangan dan samar-samar terlihat berbentuk kotak.
Melihat batu tersebut tanpa pikir panjang Ling Feng pun langsung menawarnya. “Berapa batu ini tuan?” Tanya Ling Feng dengan ramah yang seketika membuat sang pedagang itu sempat menatapnya aneh karena dirinya tengah mengenakan topeng saat ini ia juga menatap cara berpakaian Ling Feng. Walaupun begitu hanya beberapa saat saja, ampai dirinya pun menjawab pertanyaan Ling Feng dengan acuh.
“Sepuluh koin emas.” Jawab pedagang tersebut dengan sikap acuh walaupun di dalam hatinya ia berkata lain.
Ling Feng yang mendengar itu pun refleks mengangkat sebelah alisnya dan berkata, “Hanya untuk batu besar ini harganya sepuluh koin emas? Lagipula ini hanyalah batu biasa kan. Dua koin emas maka aku akan mengambilnya.” Ujar Ling Feng menawar kepada sang pedagang.
“Cihhhh, kalau kau tidak mau ya sudah pergi saja sana.” Ucap sang pedagang dengan nada kesal. Alasan ia berkata seperti itu, karena dirinya sangat yakin bahwa Ling Feng akan kembali lagi, pasalnya ia sempat melihat sedikit raut wajah Ling Feng yang mana dirinya menunjukkan ketertarikan dengan batu kotak tersebut.
“Memangnya kau pikir aku bodoh. Aku tahu kau sangat menginginkan batu itu. Terlebih lagi aku akan untung besar mengingat itu hanyalah batu biasa saja.” Batin sang pedagang tersebut seraya tersenyum licik di dalam dirinya. Ia berpikir bahwa Ling Feng pasti akan membeli barangnya, akan tetapi pemikiran nya itu salah besar.
“Kalau begitu baiklah. Lagipula aku tidak rugi sedikit mengingat itu hanya sebuah batu.” Ujar Ling Feng dengan santainya lalu dirinya pun bangkit dan pergi dari sana tanpa menoleh sedikitpun. Sontak sang pedagang pun terkejut, karena dirinya telah salah sangka bahwa Ling Feng benar-benar pergi.
“T-tunggu tuan muda.” Ucap sang pedagang refleks memanggil Ling Feng yang hendak pergi. Dalam hatinya Ling Feng tersenyum puas dan langsung berbalik dengan wajah yang acuh tak acuh seraya berkata, “Ada apa memanggilku? Bukankah aku bilang aku tidak tertarik tadi. Aku bisa mencari ke tempat lain dan mungkin saja bisa menemukan batu yang lebih baik dari itu.” Ujar Ling Feng dengan santainya membuat sosok pedagang tersebut langsung terdiam membisu.
“T-tuan muda boleh memiliki batu ini dengan dua koin emas.” Jelas sang pedagang itu langsung mengubah sikapnya itu dan Ling Feng langsung tertawa puas di dalam hatinya.
“T-tunggu dulu tuan muda tunggu dulu. Sa-satu koin emas. Kamu boleh memiliki batu ini dengan satu koin emas saja.” Ucap sang pedagang berbicara dengan panik kepada Ling Feng. Mendengar hal itu, tanpa pikir panjang Ling Feng langsung meraih tangan satunya dari sang pedagang seraya berkata, “Kalau begitu aku terima.” Ucap Ling Feng tanpa pikir panjang.
Setelah selesai bertransaksi, Ling Feng pun pergi dari sana. Dalam hatinya ia sudah tertawa bahagia seraya membatin, “Masih terlalu cepat jika ingin menipuku dasar bodoh.” Batin Ling Feng dalam hatinya melangkah pergi dari lapak pedagang tersebut.
“Kau benar-benar tidak tanggung dalam menawar harga ya nak.” Ujar Long Tian di atas kepalanya.
“Awalnya aku tidak berniat untuk seperti itu, namun ketika dirinya hendak menipu ku ya mau bagaimana lagi. Jadi jangan salahkan aku, karena bertindak seperti itu. Aku melakukannya juga sebagai pelajaran untuknya, supaya berdagang dengan jujur dan tidak menipu lagi.” Timpal Ling Feng.
“Ya walaupun aku tidak yakin, bahwa dirinya akan sadar atau tidak. Nyatanya sifat manusia itu terlalu buruk dan susah untuk sadar akan kesalahan nya.” Ujar Ling Feng lagi seraya tersenyum masam beranjak dari pasar dan pergi ke tengah kota mencari penginapan.
“Ya aku tidak bisa membantah itu.” Ujar Long Tian lalu memejamkan matanya kembali di atas kepala Ling Feng. Ling Feng pun sampai di salah satu penginapan di tengah kota dan langsung menyewa kamar untuk satu malam. Hari kala itu masih cukup terang dan sembari menunggu esok hari tiba, dirinya pun memilih untuk menyuling pil sebagai persiapan perjalanannya nanti lalu berkultivasi.
>>>>>>______
Kediaman Wali Kota Binhai
“Menyamar sebagai penumpang?” Ujar pria sepuh tersebut yang dianggukki oleh sosok wanita cantik tersebut.
“Benar wali kota. Rencana itu yang terbaik, karena para bandit laut ini tidak akan menyadari identitas kami yang sebenarnya. Jika kita bergerak terlalu mencolok, pastinya akan membuat bandi-bandit laut ini menjadi waspada.” Jelas wanita tersebut membuat pria sepuh tersebut manggut-manggut ketika mendengar penjelasannya.
Tidak hanya mereka berdua saja di sana, ada tiga wanita muda lainnya dan tiga pria yang mengenakan pakaian layaknya prajurit berada di satu ruangan yang sama. Sosok pria sepuh itu tidak lain adalah Walikota Binhai dan prajurit-prajurit kepercayaan nya dan wanita yang berbicara dengan Walikota Binhai adalah Tetua dari Sekte Gadis Suci serta tiga murid yang datang dengannya.
>>>>>> Bersambung
~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya dengan saran dan ulasan nya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.