Pendekar Yin - Yang

Pendekar Yin - Yang
V2 Berjumpa Dengan Ketua Sekte dan Para Tetua


“Jujur saja aku pun merasa iri ketika melihat wajah mu tau.” Tambah Yang Sun. Mendengar hal itu meresponnya dengan wajah yang jelek, “Itulah mengapa aku tidak nyaman jika berkeliaran tanpa topeng. Seperti yang kau katakan, aku mungkin sudah mati berkali-kali, karena tatapan tajam para kaum laki-laki yang ditujukan kepada ku.” Ucap Ling Feng mengeluh.


“Orang tampan pun mempunyai kesulitannya sendiri ya.” Ucap Yang Sun terkekeh melihat wajah Ling Feng yang tertekan. Ling Feng sendiri langsung mendengus kesal, ketika mendengar Yang Sun yang malah mertawakan dirinya.


“Kau datang Feng’er. Apakah ada masalah tadi?” Tanya Ling San kepada Ling Feng seraya keluar dari rumahnya. Ling Feng langsung melirik ke arah pria sepuh itu, dan Yang Sun langsung memberikan salam hormat kepada Ling San. “Ya tadi ada masalah sedikit, jadi aku terlambat sampai sininya.” Ucap Ling Feng yang tidak menjelaskannya lebih jauh lagi. Ling San yang mengerti akan hal itu pun tidak membahasnya juga dan hanya meresponya dengan anggukan kepala.


“Kalau begitu, kita berangkat sekarang. Pertemuannya akan mulai sebentar lagi.” Ucap Ling San yang berjalan mendahului diikuti oleh Ling Feng yang menganggukan kepalanya lalu mengekor di belakang Ling San, pergi menuju ke tempat pertemuan para tetua sekte di adakan.


>>>>>_____


Setelah turun dari gunung dengan Ling San di sisinya, Ling Feng pun mengekor di belakang Ling San untuk ikut menghadiri pertemuan para tetua Sekte Naga Langit, yang bertempat di salah satu puncak gunung terbesar yang berada di sekte Naga Langit. Saat ini disinilah ia berada di depan pintu masuk tempat dimana pertemuan di adakan.


Di depan pintu masuk tersebut berdiri beberapa murid sekte Naga Langit menyambut kedatangan Ling San, tidak hanya menyambut kedatangan Ling San saja, mereka bahkan secara terang-terangan melayangkan tatapan penasaran kepada Ling Feng yang berada di belakang Ling San.


Bukan hanya sekali dua kali saja Ling Feng mendapatkan tatapan seperti itu, pada saat perjalanan menuju pertemuan para tetua, Ling Feng sudah mendapatkan berbagai macam tatapan penasaran yang di layangkan kepadanya, seperti saat ini. Dirinya bahkan mulai terbiasa menjadi pusat perhatian saat ini.


“Salam Tetua Ling.” Ucap serempak kedua mruid yang berjaga di depan gerbang. Ling San menganggukkan kepalanya dan berkata, “Iya terima kasih atas kerja sama kalian berdua, lanjutkan pekerjaan kalian. Feng’er ayo masuk ke dalam.” Ucap Ling San seraya masuk ke dalam ruangan pertemuan dan menyeru Ling Feng juga untuk mengikutinya masuk ke dalam.


Ling Feng menganggukan kepalanya tanpa berkata apa-apa dan mengekori di belakang Ling San, para murid yang berjaga itu menatap penasaran kepada Ling Feng, namun mereka tidak berani menegur Ling San, karena rasa segannya kepada sang tetua, dan pada akhirnya hanya diam saja tidak berkata apapun.


Pada saat pintu di buka, terlihatlah sekumpulan orang yang merupakan para tetua dari Sekte Naga Langit. Sekte Naga Langit mempunyai delapan tetua yang diantaranya terbagi menjadi tiga orang tetua perempuan dan lima orang tetua laki-laki. Sampai kemudian terdengar suara yang menarik perhatian Ling Feng dan Ling San bersamaan. “Tetua Ling. Selamat datang di pertemuan tetua. Tidak biasanya Anda datang telat ke pertemuan.” Ucap Sosok pria sepuh yang berada di hadapan Ling Feng. “Salam ketua sekte. Mohon maaf atas keterlambatan ku.” Ucap Ling San seraya menyatukan tinjunya, memberikan salam ala kultivator dan sedikit menundukan kepalanya, Sosok pria sepuh yang tidak lain adalah ketua sekte Naga Langit, menganggukkan kepalanya seraya tersenyum ramah kepadanya,


“Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Lebih daripada itu, aku lebih tertarik dengan pemuda di belakang mu itu, kalau boleh tau siapa pemuda tersebut sampai-sampai kau membawanya ke pertemuan para tetua?’ Ucap Ketua sekte yang langsung bertanya mengenai Ling Feng, bukan hanya Ketua sekte saja yang penasaran, bahkan para tetua yang hadir di pertemuan itu, sama penasarannya.


Ling San menanggapinya di senyum tipis lalu memberi jalan kepada Ling Feng, “Feng’er majulah. Perkenalkan dirimu.” Ucap Ling San seraya memberikan jalan kepada Ling Feng. Ling Feng menganggukan kepalanya lalu maju selangkah ke depan dan mulai memperkenalkan dirinya. “Salam Hormat Ketua Sekte Naga Langit beserta para tetuanya, perkenalkan, namaku adalah Ling Feng.” Ucap Ling Feng memperkenalkan namanya.


Seketika para tetua di aula pertemuan pun langsung tersentak kaget bukan main, pemuda di hadapan mereka ini memperkenalkan dirinya menggunakan marga Ling, marga yang sama dengan Ling San. Refleks para tetua termasuk ketua sekte melirik ke arah Ling San. Melihat tatapan yang tertuju kepadanya, Ling San tersenyum tipis dan berkata, “Ya begitulah, pemuda adalah cucuku.” Ucap Ling San berterus terang tanpa menutup-nutupinya.


“Tunggu Tetua Ling, jika memang pemuda ini adalah cucumu, maka ia berarti anak dari dirinya?!” Ucap Ketua sekte yang langsung di timpali oleh Ling Feng, “Benar Ketua sekte. Nama ayahku adalah Ling Cao dan Ibuku bernama Ling Yan.” Jawab Ling Feng. Sontak jawaban Ling Feng, sekali lagi membuktikan kebenaran bahwa Ling Feng benar-benar cucu dari Ling San dan anak dari Ling Cao.


“Begitu, kah... Pantas saja ketika aku pertama kali melihat mu, samar-samar aku menjadi teringat akan seseorang. Wajah mu benar-benar sangat mirip dengan Ling Cao ya hahaha.” Ucap Ketua sekte yang di setujui oleh para tetua yang lainnya. Wajah Ling Feng saat ini memang terlihat sangat mirip dengan Ling Cao, wajar saja jika mereka pangling ketika melihatnya.


Ling Feng yang mendengar pertanyaan itu tidak berniat untuk menutup-nutupinya dan mulai berkata, “Ayah dan Ibu sudah tidak ada di dunia ini. Beliau berdua telah meninggal sejak aku mulai beranjak remaja.” Ucap Ling Feng menyampaikan faktanya. Sekali lagi suasana aula pertemuan itu menjadi lebih hening, lebih tepat disebutkan jika suasana nya menjadi lebih berat.


Tetua yang mengajukan pertanyaan itu pun berkata dengan nada merasa tidak enak, “Maafkan aku anak, aku tidak bermaksud seperti itu.” Ucap tetua tersebut merasa sangat bersalah, karena telah menanyakan hal yang menurutnya sangat sensitif. Ling Feng melirik ke arah tetua yang mengajukan pertanyaan tadi dan tersenyum simpul, “Tidak perlu meminta maaf tetua, aku mengerti Anda tidak bermaksud seperti itu, jadi tidak perlu merasa bersalah.” Ucap Ling Feng tersenyum meyakinkan tetua tersebut.


“Katakan nak. Siapa orang yang telah membunuh kedua orang tua mu. Apakah kau mengetahuinya?” Tanya ketua sekte dengan nada sangat serius, walaupun samar-samar Ling Feng merasakan niat membunuh yang berasal dari ketua sekte. Bukan hanya ketua sekte saja, bahkan para tetua yang lainnya pun menunjukkan respon yang sama dengan ketua sekte. Ling Feng yang melihat itu pun merasakan kehangatan di dalam dirinya.


“Yang membunuh ayah dan ibu, tidaklah sendiri melainkan berkelompok. Kelompok dari Sekte Bayangan.” Ucap Ling Feng dan seketika ledakan aura memancar keluar dari tubuh Ketua Sekte, ketika mendengar pelaku dari pembunuhan kedua orang tua Ling Feng. “Sekte Bayangan. Sekte hitam biadab itu lagi.” Ucap Ketua sekte penuh penekanan di setiap katanya dan aura membunuh yang sangat kuat. Ia jelas-jelas sangat marah ketika mendengar nama sekte tersebut, bukan hanya ketua sekte saja, bahkan para tetua pun menunjukkan ekspresi tidak senang ketika mendengar nama sekte hitam yang berasal dari Kekaisaran Sebelah itu.


“Ahh ketua sekte dan para tetua yang lainnya tidak perlu sampai marah seperti itu, aku sudah baik-baik saja kok sekarang.” Ucap Ling Feng yang berusaha untuk mencairkan suasana yang berat tersebut. Ketua sekte pun langsung mendongakan kepalanya menatap Ling Feng dengan tatapan prihatin dan berkata, “Tapi nak, hal ini tidak bisa di biarkan begitu saja, sekte biadab itu sudah membunuh kedua orang tua mu.” Ucap Ketua sekte masih tidak terima ketika mendengar fakta tersebut. Para tetua pun menganggukkan kepalanya setuju dengan apa yang dikatakan oleh Ketua Sekte.


“Aku mengerti perasaan ketua sekte dan para tetua, akan tetapi aku yang sekarang sudah baik-baik saja. Jadi, ketua sekte dan para tetua tidak perlu khawatir. Ayah dan Ibu juga berkata kepada ku untuk tidak berlarut-larut dalam perasaan balas dendam.” Ucap Ling Feng tersenyum meyakinkan. Membuat ketua sekte dan para tetua pun seketika merasa nostalgia ketika melihat senyuman Ling Feng yang benar-benar sangat mirip dengan sang ayah.


“Haihh... Jika kau berkata seperti itu ya mau bagaimana lagi, lalu di ingat-ingat lagi, sekte kepa*at itu sudah di luluh lantak kan ya. Kalaupun ingin membalas dendam juga tidak bisa, karena sudah beda alam.” Ucap Ketua sekte yang sudah tenang kembali, menarik kembali amarah yang meledak-ledak tadi.


“Ya Anda benar ketua sekte. Sekte hitam itu sudah berubah menjadi tanah gersang saat ini.”


“Dari informasi yang beredar sih, tidak ada yang tau pasti kapan sekte hitam itu di hancurkan, namun ada rumor beredar mengatakan, bahwa yang melakukan itu adalah seorang pemuda.”


Ling Feng yang mendengar salah satu tetua berkata seperti itu, wajah Ling Feng refleks berkedut. Sementara itu Ling San yang di belakangnya terkekeh ketika mendengar hal itu. Hal itu pun di sadari oleh ketua sekte.


“Tetua Ling apa yang membuat mu tertawa?” Tanya Ketua sekte yang heran, karena menurutnya tidak ada yang lucu saat ini. Hal itu pun menarik perhatian para tetua yang lainnya juga. Tetua Ling masih terkekeh, namun ia berkata, “Ya wajar saja saya tertawa, pemuda-pemuda yang kalian perbincangkan saat ini, tepat berada didepan kalian.” Ucap Tetua Ling.


Sekali lagi aula pertemuan pun menjadi hening. Ketua sekte pun langsung memecah keheningan dengan bertanya kepada Tetua Ling, “Ehhh... Tunggu Tetua Ling. Aku masih tidak mengerti maksud dari ucapan mu itu?” Tanya Ketua Sekte yang jelas-jelas merasa bingung. Tetua Ling tidak mengatakan apapun hanya melirik ke arah Ling Feng, sontak perhatian pun terarah kepada Ling Feng, yang terlihat memasang wajah tidak nyaman.


“S-sebenarnya... Pemuda itu adalah diriku.” Ucap Ling Feng seraya menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. Satu kalimat yang keluar dari mulut Ling Feng, seketika membuat ketua sekte dan para tetua, sekali lagi dikejutkan dengan fakta yang benar-benar tidak terduga. Ling San Tertawa puas, ketika melihat reaksi para tetua yang sama persis dengan dirinya ketika mengetahui kebenaran itu.


>>>>> Bersambung


~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.