
“Terlambat.” Ucap Ling Feng seraya melemparkan bola petir itu ke arah sekelompok serigala dan seketika langsung meledak, membunuh mereka semua tanpa terkecuali satu pun.
>>>>>>_______
“Fyuhhh... Aku berhasil memulihkan Qi ku sampai tujuh puluh lima persen... Heummm? Bau enak apa ini? Tiba-tiba aku jadi sangat lapar sekarang.” Gumam Hao Xiang. Ia telah membuka kembali dua matanya, menandakan sudah selesai berkultivasi. Lalu ia pun menoleh ke kanan dan kirinya dan pada saat itulah ia mendapati gurunya dan seekor kucing kecil yang sedang makan dengan lahap di sekitar api.
“Cihhh bocah maniak, kenapa pula kamu malah bangun. Seharusnya kamu berkultivasi saja sana.” Ucap Ling Laohu dengan nada kesal.
“Hahhh... Mana mungkin aku membiarkanmu menikmati daging bakar buatan guru sendiri saja. Selama aku masih ada di sini, jangan harap kau bisa mengambil jatahku kucing jadi-jadian.” Timpal Hao Xiang dengan nada tidak kalah sengit.
“Sudahlah kalian berdua, hentikan itu. Bagaimana Xiang’er dengan kondisimu? Apakah sudah pulih sepenuhnya?” Ujar Ling Feng kepada Hao Xiang yang langsung mengambil daging bakar yang telah matang dan memakannya dengan lahap. Tanpa menunggu untuk menelannya terlebih dahulu, Hao Xiang pun menjawab pertanyaan Ling Feng dengan mulut yang penuh akan daging.
“Akwu sudwah hampwir puwlih gurwu. Berkwultivwasi sedwikwit lagi, akwu bakwal pulwih kok.” Jawab Hao Xiang lalu kembali melahap daging bakar ke dalam mulutnya, walaupun saat itu mulutnya masih penuh akan daging dan belum di telah sepenuhnya.
Ling Feng yang melihat itu menggeleng-gelengkan kepalanya lalu menyentil dahinya cukup kuat, sampai-sampai dahi dari pemuda itu langsung memerah dan ia pun refleks menghentikan aktivitas mulutnya. “Makanlah dengan perlahan lalu telanlah terlebih dahulu, baru kemudian setelah itu berbicara. Dagingnya tidak akan habis jadi tenang saja.” Ucap Ling Feng menegur pemuda itu.
“Hehehe... Iya guru. Aku minta maaf, karena terlalu bersemangat.” Ucap Hao Xiang seraya menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya. Ling Laohu yang mendengar itu hanya memasang raut wajah meremehkan, membuat Hao Xiang yang melihat wajah dari kucing putih kecil itu mendadak jengkel kembali. Jika saja Ling Feng tidak memperingati Hao Xiang dan Ling Laohu, mungkin saat ini keduanya sudah saling berdebat kembali, karena hal-hal yang jelas sepele.
Sesi makan malam pun hening kembali dan tidak membutuhkan waktu lama, semua daging bakar yang ada di sana habis tanpa tersisa. Setelah makan, Hao Xiang izin kepada Ling Feng untuk berkultivasi kembali, Ling Laohu sendiri ia memilih berbaring di atas dada Ling Feng, yang saat ini dirinya sendiri sedang merebahkan tubuhnya menatap langit malam yang kebetulan dihiasi dengan pemandangan bulan dan bintang yang indah.
Entah, karena apa. Dua hari terakhir ini Ling Feng merasa gelisah walaupun saat ini ia sedang mengenakan sebuah topeng untuk menutupi raut wajahnya, Ling Laohu dapat menyadari gelagat Ling Feng yang tidak biasanya.
“Ada apa tuan muda? Kamu nampak terlihat sangat gelisah beberapa hari terakhir ini?” Tanya Ling Laohu. Ling Feng yang mendengar itu pun tidak terkejut, karena memang pasti nya Laohu pasti bakal menyadari nya, bahkan murid nya pun saat ini pasti menyadari gelagat gelisah nya.
“Entahlah Laohu. Aku pun merasa aneh dengan perasaan tidak nyaman yang muncul akhir-akhir ini, jujur saja aku tidak tahu apa yang membuat ku gelisah saat ini.” Ucap Ling Feng. Ling Laohu yang mendengar itu, juga tidak bisa membantu lebih jauh, karena Ling Feng yang dirinya sendirinya saja masih tidak mengetahuinya, apalagi dirinya yang tidak tahu perasaan gelisah apa yang Ling Feng rasakan saat ini.
“Tenang saja Tuan muda. Aku yakin itu hanya perasaan mu saja. Semua pasti akan baik-baik saja.” Ucap Ling Laohu yang memilih untuk mengatakan hal tersebut, karena tidak tahu lagi apa yang akan ia katakan kepada Ling Feng.
“Ya kamu benar. Semoga saja seperti itu.” Timpal Ling Feng lalu ia pun menghela nafas panjang, lalu mulai memejamkan matanya untuk beristirahat sejenak menenangkan pikirannya.
>>>>>>______
“Tuanku! Tuanku!” Ujar sosok iblis yang tiba-tiba masuk ke dalam gua tempat beristirahat Sa Dan, yang mana iblis itu masuk dengan sangat tergesa-gesa. Tentunya Sa Dan yang melihat bawahannya masuk secara tiba-tiba itu langsung merasa jengkel dan marah secara bersamaan.
“Pastikan informasi yang kau bawa itu benar-benar kabar baik, karena itu menentukan tentang hidup atau matinya dirimu saat ini!” Kata Sa Dan, yang tentunya sangat marah, karena diganggu pada saat dirinya sedang bersenang-senang memuaskan hasrat tubuhnya.
“M-maafkan tindakan tidak sopan hamba Tuan Jendral. Saya harap tuan jendral mau bermurah hati untuk mengampuni nyawa bawahan ini.” Ucap iblis itu seraya bersujud di hadapannya.
“Aku tidak butuh omong kosong mu itu. Cepat katakan ada kabar apa, sebelum kubunuh dirimu sekarang!” Ucap Sa Dan dengan acuhnya.
“Hamba membawa kabar baik tuan jendral, bahwa Formasi ilusi yang mengelilingi Gunung sudah berhasil di pecahkan, sekarang kita bisa masuk ke dalamnya menunggu perintah dari tuan jendral.” Jelas iblis itu masih dengan posisi yang sama.
“Kekekeke... Akhirnya! Penantian selama seminggu terakhir ini, tidak sia-sia! Hahahahaha.........!!!” Teriak Sa Dan menggelegar seraya tertawa kencang, membuat gua tersebut berguncang hebat membuat suhu derajat di sekitar gua tersebut mendadak panas begitu saja.
“Perintahku. Cepat siapkan pasukan, kita berangkat sekarang juga untuk mencari artefak sekarang!” Ucap Sa Dan memerintah iblis bawahan yang melapor kepadanya. Iblis yang sedang bersujud di depannya itu menganggukkan kepalanya dengan patuh lalu keluar dari gua tersebut untuk melaksanakan perintah Sa Dan.
Sa Dan pun kembali melirik ke arah jeruji besi di belakangnya, terlihat masih ada satu dua wanita yang masih hidup tanpa sehelai pakaian di balik jeruji besi, dibalik singgasanya itu. Dua wanita itu yang melihat tatapan tajam Sa Dan, tidak bisa berbuat apapun, dan hanya bisa merengkuh di pojokan jeruji besi.
“Kekekeke... Inilah mengapa aku suka dengan wanita dari ras manusia. Melihat wajah putus asa kalian itu benar-benar membuat semakin bersemangat untuk menyetubuhi kalian.” Ucap Sa Dan lalu menarik paksa kedua wanita itu, dan mulai memp*rkosa dua wanita tersebut sekaligus. Dirinya bahkan tidak tanggung-tanggung menyiksa dua wanita tersebut selagi menikmati tubuhnya. Setelah puas dengan kedua wanita itu, ia pun langsung membakar tubuh mereka secara perlahan-lahan sampai kemudian berubah menjadi sebuah abu. Apa yang dilakukan oleh dirinya saat ini,benar-benar mencerminkan sifat sejatinya dari seorang ras iblis.
Setelah puas bermain-main dengan dua wanita itu, Sa Dan pun langsung bersiap-siap dan keluar dari gua tersebut. Terlihat para iblis bawahannya sudah berkumpul di sana. Melihat para bawahannya yang telah siap, Sa Dan pun langsung memerintahkan mereka semua bergerak pergi ke Gunung Lu untuk mencari sebuah artefak untuk kebangkitan raja iblis tentunya.
>>>>>> Bersambung
~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya dengan saran dan ulasannya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.