
“K-kakak Xian. T-teknik itu, kuda-kuda itu, gaya berpedang itu, kan. T-tidak salah lagi mirip dengan Kakak Feng.” Ucap Lin kecil terkejut ketika melihat serangan tersebut. Bahkan saking terkejutnya, ia sampai menjatuhkan cemilan yang sedang ia pegang saat ini.
>>>>>>______
Ling Feng pun turun dari arena pertandingan melangkah ke sisi Kekaisaran Han. Tetua Han terlihat begitu bahagia. Terlihat jelas di wajahnya yang tidak berhenti-henti untuk tersenyum saat ini. Han Shen sendiri langsung memberikan ucapan selamat kepada Ling Feng. Ling Feng dan Bing Jiao berbincang-bincang sebentar sampai kemudian, ia pun memutuskan untuk kembali ke penginapan terlebih dahulu.
Sebenarnya masih ada acara formal setelah pertandingan hari pertama. Raja dari Kekaisaran Shu telah menyiapkan sebuah pesta khusus yang diperuntukkan para peserta dan tamu kekaisaran, namun Ling Feng memilih untuk tidak mengikutinya, menurutnya hal merepotkan pasti akan terjadi, jikalau ia datang pada acara pesta itu.
Bing Jiao awalnya tidak ingin ikut pesta itu juga, namun Ling Feng melarangnya. Jika dirinya tidak ikut juga, sama saja dengan tidak menghargai Raja Kekaisaran Shu. Mendengar apa yang dikatakan oleh Ling Feng itu, Bing Jiao pun hanya bisa mengiyakannya saja, walaupun dengan rasa enggan dan terpaksa untuk mengikuti acara pesta tersebut.
Ling Feng terkekeh pelan, lalu membujuknya dengan cara mengelus-elus puncak kepala Bing Jiao. Raut wajah Bing Jiao yang awalnya cemberut, perlahan-lahan mulai santai dan kembali seperti semula tenang, namun juga merasa senang saat ini. Setelah kembali normal, Ling Feng pun menarik tangannya dari puncak kepala Bing Jiao.
“Kalau begitu aku pamit duluan semuanya.” Ucap Ling Feng berbalik menuju pintu keluar.
>>>>>>______
Ling Feng dengan cepat meninggalkan arena pertandingan, namun ia tiba-tiba merasakan suatu kehadiran yang mengikuti nya dari belakang. Ling Feng pun menghentikan langkahnya dan berkata, membuat suaranya bergema di lorong tersebut. “Keluarlah tidak perlu bersembunyi lagi.” Kata Ling Feng tanpa menoleh ke belakang. Ling Feng tidak mengetahui identitas dari orang yang mengikutinya, biasanya ia bisa mengetahuinya dengan mudah, namun orang yang mengikutinya itu menggunakan suatu artefak, membuat kesadaran nya di tahan oleh artefak tersebut.
Ling Feng masih tenang, namun ketika sosok yang mengikuti nya itu buka suara, tubuh Ling Feng refleks menegang, karena suara orang tersebut terdengar sangat familiar di telinganya. Apalagi ketika mendengar perkataan yang dilontarkan oleh orang tersebut.
“Ternyata memang benar itu kamu.” Ucap orang tersebut dengan nada yang terdengar bergetar, membuat tubuh Ling Feng sontak menegang dan refleks menoleh ke belakang. Terlihatlah seorang wanita mengenakan zirah yang terlihat selaras, cocok di tubuhnya. Wanita tersebut memasang ekspresi yang sulit diungkapkan. Belum sempat Ling Feng berkata apa-apa, wanita itu langsung berlari dan memeluk Ling Feng dengan sangat erat. Alasan lain wanita tersebut langsung menyadari identitas Ling Feng, karena dirinya tidak mengubah suaranya juga.
Ling Feng yang tidak siap pun mundur beberapa langkah, karena tindakan tiba-tiba dari wanita tersebut. Wanita tersebut tidak berbicara apa-apa, namun Ling Feng dapat melihat sangat jelas bahwa tubuhnya saat ini benar-benar bergetar.
“Apakah kau tahu seberapa rindunya aku kepadamu?” Ucap wanita tersebut dengan nada bergetar, menenggelamkan wajahnya tepat di dada Ling Feng. Mendengar hal itu Ling Feng tidak bisa berkata apa-apa lagi kecuali, dua kata saja, “Maafkan aku. Sebenarnya aku...” Kata Ling Feng yang langsung di sela oleh wanita tersebut. “Katakan itu nanti. Sekarang cukup diam saja.” Ucap wanita tersebut memotong perkataan Ling Feng.
Mendengar hal itu, Ling Feng pun mengiyakan perkataan dari wanita tersebut, lalu membalas pelukannya, sontak hal itu membuat wanita tersebut semakin erat memeluk dirinya, jika itu orang biasa, mungkin tulang-tulangnya sudah remuk jika di peluk seperti itu, namun hal tersebut tidak berlaku bagi Ling Feng tentunya. Walaupun tidak terasa apa-apa baginya, namun ia sangat menyadari perasaan wanita tersebut, bahwa wanita yang berada dalam pelukannya saat ini sedang melampiaskan kekesalan kepada dirinya tentu saja.
Oleh karena itu, Ling Feng tidak berniat mengatakan apapun dan memilih untuk diam saja, membiarkan wanita tersebut puas melampiaskan kekesalannya.
>>>>>>______
Qing Xian hanya diam saja, tidak mengatakan apapun. Ling Feng tersenyum menanggapi itu lalu mengelus-elus puncak kepala wanita di hadapan nya itu seraya berkata, “Maafkan aku. Bukannya aku tidak ingin langsung menemui mu, namun masih ada beberapa hal yang harus ku urus terlebih dahulu.” Ucap Ling Feng lalu mulai menjelaskannya dengan lembut.
Qing Xian kembali memeluk Ling Feng, namun pelukannya kali ini berbeda dengan yang sebelumnya. Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Ling Feng lalu berkata, “Aku tidak marah sedikit pun. Aku mengerti dan Aku tahu itu. Kamu pasti mempunyai alasan tertentu dalam setiap tindakan mu, dan salah satunya itu adalah Nona Bing Jiao, kan. Atau harus kupanggil saudari sekarang.” Kata Qing Xian seraya mendongakkan kepalanya menatap ke wajah Ling Feng yang kini telah melepas topengnya.
Wajah pemuda yang telah bertahun-tahun tidak pernah ia lihat, walaupun ada banyak perubahan dari wajahnya saat ini, namun Qing Xian yakin bahwa pemuda itu adalah Ling Feng. “Eh. B-bagaimana kau mengetahuinya?” Tanya Ling Feng yang tidak menduga bahwa Qing Xian akan mengetahuinya.
“Ya tidak perlu di tutup-tutupi lagi, aku sudah mendengarnya dari paman Mu, ya lebih tepatnya pada saat Paman Mu menceritakan tentang mu, dimana dirinya setengah sadar, karena mabuk. Kebetulan saat itu Paman Mu sedang bersama ku, jadi aku memintanya menceritakan lebih jauh tentang dirimu, dan salah satunya tentang dirimu yang pernah dekat dengan seorang wanita pada saat sebelum ke Kaisaran Wei.” Jawab Qing Xian. Mendengar hal itu, Ling Feng hanya bisa mengutuk To Mu di dalam hatinya, sumpah serampah.
Ling Feng tidak menyangka sama sekali, bahwa To Mu benar-benar akan lengah seperti itu juga, sama seperti Long Tian. Sungguh hal yang tidak ia duga sama sekali.
“Lalu bagaimana kau mengetahui bahwa wanita itu adalah Bing Jiao?” Tanya Ling Feng masih penasaran. Qing Xian yang mendengar itu tersenyum penuh arti lalu berkata, “Ya siapa yang tahu... Anggap saja insting dari seorang wanita.” Jawab Qing Xian yang membuat Ling Feng terdiam tidak bisa membantahnya.
“Oh kamu sudah berada di ranah langit. Peningkatan yang sangat drastis. Seperti yang diharapkan dari jenius dari Kekaisaran Wei. Kau sudah bekerja keras.” Kata Ling Feng seraya menepuk-nepuk pelan puncak kepala Qing Xian.
Mendengar hal itu, Qing Xian terkekeh pelan dan berkata, “Jangan bertingkah seakan-akan aku ini bodoh. Aku tahu pil yang diberikan paman kepadaku itu adalah pil buatan mu, aroma pil mu itu mempunyai aroma khas, yang mana aromanya tidak akan berpencar kemana-mana dan baru akan terasa apabila telah di konsumsi. Ya walaupun pada saat itu aku merasa kesal, karena bukan kamu sendiri yang memberikannya kepadaku.” Kata Qing Xian.
“Sepertinya aku memang tidak bisa menyembunyikannya apapun dari mu ya... Ya aku sudah menduganya sih, bahwa kau akan mengetahuinya pada saat menelan pil itu.” Ucap Ling Feng terkekeh, mengingat instingnya yang tajam, tidak mungkin rasanya jika ia tidak menyadarinya. Qing Xian yang mendengar itu terkekeh renyah seraya kembali menenggelamkan wajahnya di dada pemuda yang sangat ia rindukan setelah bertahun-tahun tidak bertemu.
"Aku sangat merindukanmu bodoh." Qing Xian sekali lagi mengucapkan kalimat tersebut. Ling Feng terkekeh lalu menanggapi nya.
"Iya, iya, aku yang bodoh ini juga merindukan mu kok." Timpal Ling Feng seraya terkekeh pelan. Qing Xian tidak menimpalinya. Perasaan hangat yang ia rindukan setelah bertahun-tahun lamanya, kini kembali ia rasakan membuat nya sangat senang sekaligus nyaman.
Pada akhirnya, Qing Xian pergi bersama Ling Feng, walaupun Ling Feng telah membujuknya, namun Qing Xian dengan keukeuh tidak ingin kembali dan ingin bersamanya, Ling Feng pun hanya bisa menghela nafas pendek tidak kuasa menolak nya.
>>>>>> Bersambung
~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.