Pendekar Yin - Yang

Pendekar Yin - Yang
V2 Kedatangan Jendral Wali Kota


Para warga menunjukkan berbagai macam ekspresi. Mulai dari yang tatapan merasa kasihan kepada Ling Feng dan Ren Hu, dan tatapan rasa berterima kasih, karena telah membalaskan dendam mereka secara tidak langsung. Keduanya tentu menyadari, namun memilih untuk mengabaikan seluruh pasang mata yang menilai mereka. Sampai kemudian terdengar suara langkah kaki kuda yang di susul dengan suara gerumuh. Ling Feng dan Ren Hu menoleh ke sumber suara, bukan hanya mereka berdua saja, warga-warga yang di sana pun juga ikut melirik ke sumber suara.


Terlihat seorang pria yang mengendarai kuda seraya membawa beberapa prajurit di belakang nya datang ke arah dirinya. Sosok pria itu sontak berseru lantang, “Aku dengar di sini sedang terjadi keributan. Apakah ada yang bisa menjelaskan apa yang telah terjadi di sini?” Seru lantang pria tersebut seraya menyapu pandangan nya ke arah para warga. Pria tersebut belum menyadari, diantara setumpukkan orang-orang yang tidak sadarkan diri itu, seorang bangsawan tergeletak tidak berdaya di sana.


Hening tidak ada yang berniat untuk menjelaskan tentang kejadian yang telah terjadi tadi. Sampai ada satu warga yang mengangkat tangannya seraya maju kedepan sosok pria yang menunggangi kuda. “Salam jendral wali kota. Hamba akan jelaskan kejadian yang terjadi beberapa saat yang lalu.” Ucap warga tersebut memberi salam kepada pria yang menunggangi kuda dengan panggilan jendral.


“Jelaskan secara singkat tanpa ada yang di tutupi.” Ucap jendral tersebut dengan nada tegas tanpa bisa di bantah sama sekali. Warga yang menjadi sukarelawan itu menganggukan kepalanya kembali dan mulai menjelaskan apa yang telah terjadi, mulai dari datangnya sekelompok orang yang memblokir jalanan, sampai terjadinya pertarungan singkat antara Ling Feng dan Ren Hu, dengan Anak sulung keluarga bangsawan Dang. Penjelasan itu tidak memakan banyak watu, jika diceritakan secara singkat.


“Begitulah yang terjadi jendral wali kota. Harap Anda bertingkah adil setelah mengetahui fakta yang hamba katakan tersebut.” Warga yang menjadi sukarelawan itu mengakhiri penjelasan singkatnya. Jendral wali kota itu pun mendongakkan kepalanya, menatap satu persatu warga yang ada, lebih tepatnya menatap mata warga yang lainnya. Terlihat jelas, bahwa para warga yang berada di sini tidak menunjukkan gerak gerik yang tidak setuju.


“Baiklah aku telah mengerti apa yang terjadi. Terima kasih atas penjelasan jujur mu itu.” Ucap jendral wali kota memuji warga yang menjadi sukarelawan itu. “Suatu kehormatan mendapatkan pujian langsung dari Anda jendral. Kalau begitu, hamba mohon pamit.” Ucap warga tersebut seraya mundur ke belakang, sesaat pandangan mata warga tersebut beradu dengan Ling Feng. Warga itu menunjukkan senyum kecil di wajahnya, lalu mundur ke belakang sepenuhnya. Melihat senyuman itu, Ling Feng juga membalasnya dengan senyuman kecil. Ren Hu yang di sisinya pun bertanya berbisik kepada Ling Feng.


“Tuan muda, tuan muda. Kenapa orang itu mau repot-repot membantu kita ya? Padahalkan jika aku pikir-pikir lagi, ia pasti akan mendapatkan kesulitan ketika memberikan kesaksian seperti itu. Secara tidak langsung, ia telah menyinggung keluarga bangsawan itu. Akan tetapi, ia malah tetap memilih untuk membantu kita saat ini. Apakah warga itu kenalan Anda yang lain tuan muda?” Bisik Ren Hu bertanya.


“Entahlah... Anggap saja ia membantu kita, karena kita telah membalaskan dendamnya secara tidak langsung. Mungkin hal itu yang ia maksud.” Jawab Ling Feng. Mendengar hal itu, Ren Hu pun ber oh ria, seraya menepuk pelan telapak tangan satunya.


Jendral wali kota itu menyapu pandangan nya melihat sekelompok orang yang mana, seluruhnya telah kehilangan kesadaran diri masing-masing. Sampai kedua pasang matanya, sedikit akrab dengan pakaian seseorang yang juga ikut tergeletak tidak sadarkan diri di sana. Jendral itu pun turun dari kudanya, melangkah mendekati orang tersebut yang tidak lain adalah putra sulung dari keluarga Dang.


Keadaannya benar-benar sangat mengenaskan, Bercak darah di mulutnya yang mulai mengering, walaupun terlihat tidak ada yang cukup parah di tubuhnya, daerah sekitar mulutnya, masih samar-samar mengalirkan darah. Jendral wali kota lalu sedikit membungkuk tubuhnya mengecek keadaan putra sulung keluarga bangsawan Dang. Pada saat ia membuka mulut pemuda bangsawan itu, kedua matanya sontak melebar. “I-ini... L-lidahnya telah di potong? Tidak, tidak, ini lebih tepatnya tidak di potong, ini seperti di tarik paksa dan dihancurkan begitu saja.” Batin jendral wali kota itu terkejut bukan main ketika melihat ke dalam mulut pemuda bangsawan yang benar-benar sangat parah, namun hal aneh yang menjadi pikirannya adalah, pemuda ini tidak mati, walaupun samar-samar, ia masih dapat mendengar deru nafas yang lemah. Dapat diartikan, orang yang melakukan ini memang tidak berniat untuk membunuhnya.


“J-jendral... Semua orang yang tidak sadarkan diri... M-mereka semua...” Salah satu prajurit mendekat kepada jendral wali kota memasang raut wajah bermasalah. “Ada apa? Memangnya apa yang terjadi?” Tanya sang jendral kepada prajurit tersebut.


“M-mereka semua yang tidak sadarkan diri, tidak mempunyai aura sama sekali.” Ujar prajurit tersebut.


“Tidak mempunyai aura?! Bagaimana mungkin.” Kata sang jendral terkejut lalu melirik ke salah satu orang yang tergeletak tidak jauh dari dirinya, lalu memegang salah satu lengannya memeriksa keadaan tubuh orang tersebut. Setelah beberapa detik memeriksanya lagi-lagi sang jendral di buat terkejut.


“Hancur... Dantiannya telah hancur.” Gumam sang jendral yang dapat di dengar oleh prajurit di dekatnya. Bagi seorang yang menekuni jalan kultivasi, dantian adalah sesuatu yang sangat penting. Dapat dikatakan sebagai setengah alasan hidup bagi orang yang menekuni jalan kultivasi, dan jika dantian dari seseorang itu hancur, orang tersebut akan kehilangan alasan hidupnya. Hal itu tidak berbeda jauh dengan tubuh tanpa jiwa, layaknya mayat hidup.


Sang jendral juga melirik orang yang tidak lain adalah salah satu orang kuat dari keluarga Dang. Ia mengenalnya, karena kekuatakan mereka tidak terpaut jauh, namun melihat dirinya yang saat ini mengenaskan, tidak dapat di bayangkan orang yang melakukan hal ini sekuat apa.


Sang jendral sontak baru melirik ke arah Ling Feng dan Ren Hu. Ia refleks membatin, “Jubah hitam, serta menggunakan tudung kepala guna menutupi identitas nya. Tidak, tunggu dulu. Jubah hitam dan tudung kepala itu... Bukankah itu orang-orang yang di deskripsikan oleh kakak.” Batin nya teringat perkataan kakaknya. Ia baru saja menginformasi kan adanya tiga orang yang berpakaian tertutup datang ke kota Cheng Du.


Sang jendral pun buru-buru bangkit dan langsung melangkah ke arah Ling Feng dan Ren Hu. Ling Feng menatap seksama sang jendral yang sudah berdiri dihadapannya ini. “Maafkan-“ Perkataan sang jendral terhenti, ketika mendengar suara yang masuk ke dalam pikirannya.


>>>>>> Bersambung


~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.