Pendekar Yin - Yang

Pendekar Yin - Yang
Kepingan Demi Kepingan


"Untuk apa aku bercanda dengan kakak mengatakan hal ini." Kata Qing Xian tegas. Qing Lao melihat wajah Qing Xian yang benar-benar serius. "Kalau begitu Bagaimana kau bisa mengetahui bahwa ada seorang pengkhianat di keluarga kita?" Tanya Qing Lao. Qing Xian menggelengkan kepalanya lalu berkata, "Aku tidak bisa memberitahukan orang yang memberikan informasi ini." Kata Qing Xian menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu bagaimana bisa kau percaya bahwa apa yang dikatakan orang itu. Memangnya kau punya bukti untuk berkata seperti itu." Kata Qing Lao. Ia sebenarnya tidak ragu dengan apa yang dikatakan adiknya tersebut, karena ia mengetahui bahwa adiknya ini tidak pernah berbohong jika sudah berkata seperti itu.


"Bukankah kakak sudah tau situasi keluarga kita saat ini. Apa hal itu masih belum cukup untuk membuktikan perkataan ku." Kata Qing Xian membuat Qing Lao berpikir kembali. Situasi keluarga Qing kali ini memang sedang tidak dalam posisi yang dibilang baik.


"Serta tentang insiden penculikan ku beberapa hari yang lalu. Aku semakin yakin ada seorang pengkhianat diantara keluarga Qing yang membocorkan keadaan keluarga kita ke keluarga Guan." Kata Qing Xian yang akhirnya mencapai sebuah kesimpulan setelah merasa remang-remang memikirkan nya.


Mendengar hal itu Qing Lao mulai berpikir demikian. Ia juga awalnya sempat curiga akan adanya mata-mata dikeluarga, namun ia tidak bisa mengetahui siapa mata-mata yang ia cari saat ini. Qing Lao mulai merenung dan mulai menyambungkan kepingan-kepingan yang ia rasa janggal.


Qing Lao mulai membuat asumsi tentang siapa orang yang berkemungkinan besar untuk melakukan hal tersebut, namun dipikirkan entah bagaimana pun hasilnya tetap sama ia masih tidak bisa memikirkan dalang dari semua ini. Sampai Qing Xian berkata, "Oh ya kakak. Kenapa kakak tidak hadir di pertemuan darurat keluarga." Kata Qing Xian.


"Aku tidak bisa datang. Itu bukan pertemuan darurat biasa. Itu…" Qing Lao tidak melanjutkan perkataannya. Qing Lao menatap Qing Xian yang mana Qing Xian juga sedang menatap serius Qing Lao. Keduanya pun berpikiran hal yang sama.


Qing Lao menggelengkan kepalanya "Jangan bilang orang yang kau maksud adalah ia." Kata Qing Lao tidak percaya bahwa orang tersebut lah dalangnya. "Aku juga enggan berpikiran seperti itu kak. Tapi, setiap aku dekat dengan orang itu, aku sering merasakan hawa yang berbeda keluar dari tubuhnya yang membuat ku merasa tidak nyaman. Awalnya aku mengira itu hanyalah perasaan ku saja, tapi seringkali aku melihat raut wajah aneh yang ditampilkan orang itu." Kata Qing Xian.


"Lalu jika memang seperti itu, kenapa kau tidak pernah bilang kepada ku tentang hal itu." Kata Qing Lao. Mendengar hal itu Qing Xian memutar kedua matanya malas. "Waktu itu aku sudah pernah bilang kepada kakak, tapi kakak malah berkata bahwa orang itu tidak mungkin mempunyai aura tidak menyenangkan seperti itu. Itu mungkin hanya perasaan mu saja." Kata Qing Xian sembari meniru perkataan Qing Lao yang masih ia walaupun sudah bertahun-tahun lamanya.


"Baiklah, baiklah aku minta maaf tidak perlu mengejek ku sampai seperti itu. Jujur saja aku bahkan tidak percaya bahwa orang itu adalah dalangnya. Secara aku mengenalnya dan tentunya ia sangat baik kepada kita berdua hal itulah yang sulit untuk membuat ku berpikir bahwa dia adalah dalangnya, tapi jika melihat dari apa yang telah terjadi belakangan ini, maka aku juga tidak bisa membantahnya." Kata Qing Lao.


"Kalau begitu aku akan datang ke pertemuan keluarga dahulu untuk membicarakan ini langsung." Kata Qing Lao bangkit ingin pergi, namun ditahan oleh Qing Xian. "Jangan sekarang. Waktu saat ini benar-benar tidak tepat kita tunggu saja setelah pertemuan selesai dan malam nanti kita berbincang dengan ayah tentang hal ini." Qing Xian memberikan saran. Mendengar hal itu Qing Lao juga berpikir bahwa itu masuk akal.


"Baiklah jika kau berkata seperti itu." Kata Qing Lao lalu duduk kembali. Qing Xian pun meminum teh yang telah disediakan di kamar kakaknya itu, sampai Qing Lao bertanya yang membuat dirinya terkejut. "Oh ya kau tidak pergi menemui tuan muda Feng?" Tanya Qing Lao iseng membuat Qing Xian yang sedang menikmati teh langsung tersedak ketika mendengar pertanyaan itu.


"Hehhhhh…Tadi kau ingin berkata Feng gege ya." Kata Qing Lao menaik-turunkan alisnya menggoda Qing Xian. Qing Xian seketika langsung memerah wajahnya. Qing Lao yang melihat itu langsung tertawa keras. "Hahahahaha orang yang terkenal dingin acuh tak acuh ternyata bisa membuat ekspresi malu seperti wanita pada umumnya juga ya hahahaha." Qing Lao tertawa terbahak-bahak melihat sang adik yang benar-benar berubah saat ini.


"Cihhhhh itu tidak lucu tau. Sudahlah aku malas sama kakak. Aku tidak peduli lagi humphhhhh." Kata Qing Xian langsung memasang raut wajah kesal, walaupun kedua pipinya masih semerah tomat.


"Ya habisnya…Kau ini benar-benar berubah ya sekarang. Tidak lebih tepatnya kau kembali. Sepertinya tuan muda Feng telah berhasil meluluhkan belenggu es saudariku ini. Sungguh pria yang luar biasa." Kata Qing Lao sembari terkekeh kecil. Qing Xian yang mendengar itu pun masih memasang wajah kesal, namun kedua pipinya masih tidak berganti warna malah semakin terlihat jelas disana.


"Memangnya kemana perginya tuan muda Feng? Biasanya kau sudah pergi pagi-pagi buta hanya untuk menemuinya kan." Kata Qing Lao dengan nada menggoda. "Cihhhhh tuan muda Feng sudah pergi dari kota Anyi." Jawab Qing Xian. "Ehhhhh sudah pergi padahal kukira ia akan tinggal lebih lama lagi. Ya jangan merah adik ku kau pasti bisa bertemu dengannya kembali." Kata Qing Lao memberikan semangat.


"Cihhhhh tuan muda Feng pasti kembali ia hanya ingin melakukan pelatihan tertutup saja saat ini." Kata Qing Xian. "Pergi? Pelatihan tertutup? Memangnya tuan muda Feng ingin melakukan pelatihan tertutup dimana sampai-sampai ia harus pergi?" Tanya Qing Lao penasaran.


"Jurang keabadian mungkin. Dirinya pernah bertanya kepada ku Mengenai tempat yang tidak pernah di jajah oleh para manusia." Jawab Qing Xian tanpa beban. "Begitu, kah…Ternyata Jurang keabadian." Ulang Qing Lao. Namun ia merasa janggal dengan apa yang dikatakannya. "Jurang…Keabadian…" Gumam Qing Lao mengulang-ulang perkataannya.


Sampai beberapa detik kemudian ia membelalakkan matanya dan berteriak kencang. "Apa kau bilang?! Dirinya melakukan pelatihan tertutup ditempat terlarang Jurang keabadian?! Apa tuan muda Feng sudah gila ya?!" Kata Qing Lao sembari berteriak tidak percaya.


Sisi Ling Feng


"Brrrr…Kenapa punggung ku jadi dingin seperti ini? Siapa yang sedang membicarakan ku?" Kata Ling Feng melirik kanan dan kirinya lalu melanjutkan kembali mencuci tangannya yang bersimbah darah.


>>>>> Bersambung