
Ling Feng menghabiskan waktu kiranya setengah hari, untuk mengumpulkan tanaman spiritual tersebut. Dirinya sontak memutuskan untuk beristirahat dulu, sembari menunggu ketiganya selesai memurnikan buah jiwa.
>>>>>>______
Sementara Itu di Sisi Lainnya
“Haihhh... Apakah masih jauh kak? Tempat yang di tunjukan oleh paman?” Tanya Han Ying seraya menoleh malas kepada pemuda di sebelahnya yang tidak lain adalah kakaknya, Han Shen.
Han Shen yang sedang memegang peta di tangannya hanya terus-terusan membolak balik petanya, terkadang bahkan memutar-mutar peta tersebut. Terlihat beberapa kali dahinya selalu mengkerut ketika membaca peta tersebut. Saking fokusnya membaca peta tersebut, ia bahkan mengabaikan Han Ying yang terus-terusan memanggil namanya.
“Kakak bodoh dengarkan aku!” Teriak Han Ying yang sudah kesal lalu menendang keras bokong kakaknya itu, sampai-sampai membuat sang empu mengaduh kesakitan. Ia pun sontak melirik ke arah Han Ying berkata dengan nada tidak senang, “Aduhhh Ying’er, itu sakit tahu. Kau ini kenapa sih, menendang-nendang kakak?” Kata Han Shen dengan nada kesal tentunya seraya mengelus-elus bagian bokongnya yang di tendang oleh Han Ying.
“Hmmmpphhh rasakan itu... Siapa suruh ketika aku memanggil-manggil nama kakak, kakak malah mengabaikannya. Aku sudah berkali-kali memanggil kakak, tapi kakak malah terus mengabaikan perkataanku.” Ujar Han Ying tidak mau kalah, tangannya bersedekap di atas dadanya seraya membuang wajahnya ke samping, kesal.
“Bukankah kamu melihat kakak sedang sibuk membaca peta dari paman sekarang? Asal kamu tahu ya, peta ini bahkan lebih rumit dari buku seni bela diri yang kubaca. Jujur saja aku sampai menyerah untuk memahami gambar-gambar dan pola yang di tulis di peta ini tahu.” Kata Han Shen seraya menunjuk-nunjukkan petanya ke hadapan Han Ying dengan wajah kesal.
Han Ying yang meliriknya sekilas lalu kembali membuang wajahnya ke samping nampak tidak peduli dengan alasannya, membuat Han Shen mau tidak mau harus mengelus dadanya, “Sabar Han Shen, sabar, orang sabar keberuntungannya besar.” Batin Han Shen seraya menarik nafas lalu menghembuskannya dengan tenang.
“Hei kak, apakah menurutmu saudari Jiao baik-baik saja sekarang? Sampai sekarang kita masih belum bertemu dengannya sesaat masuk ke tanah rahasia ini.” Ujar Han Ying tiba-tiba. Han Shen melirik sekilas lalu berkata, “Kamu tidak perlu khawatir, bukankah kamu tahu sendiri sekuat apa Saudara Feng. Aku yakin keduanya baik-baik saja sekarang.” Ujar Han Shen dengan tenang lalu mengalihkan pandangan nya kembali melihat ke arah peta.
“Daripada memikirkan orang lain, mending sekarang pikirkan nasib kita saat ini yang masih belum jelas. Ayo bantu kakak untuk mengartikan simbol-simbol yang berada di peta ini.” Kata Han Shen lagi seraya memberikan ruang, supaya Han Ying bisa melihat isi peta tersebut.
Han Ying hanya kembali membuang mukanya seraya berkata, “Aku tidak tertarik. Kakak saja yang mengartikan simbol-simbol aneh itu.” Ujarnya tanpa melihat kembali apa yang ada didalam peta tersebut.
“Kalau begitu, jangan ganggu aku lagi, karena seperti yang kau ketahui gambar-gambar buatan paman ini benar-benar membutuhkan tenaga ekstra untuk memahaminya.” Ujar Han Shen seraya mendelik ke arah Han Ying, yang di balas lambaian tangan oleh adiknya itu.
Peta tersebut adalah petunjuk untuk mencapai suatu makan ahli kuat yang di buat oleh Tetua Han, namun gambar-gambar dan simbol yang dibuat sangat sulit di pahami, karena tulisannya yang jelek. Oleh karena itu, mau tidak mau Han Shen pun harus bisa memahaminya supaya bisa sampai di tempat tersebut.
Keduanya melangkah dengan tenang, sampai pada suatu tempat, Han Shen yang sedang fokus membaca peta, tiba-tiba pundaknya di pegang oleh Han Ying sampai-sampai langkahnya terhenti. “Ada apa lagi Ying’er?” Kata Han Shen dengan nada kesal yang tertahankan. Ia menoleh menatap wajah adiknya yang terlihat sangat serius.
“Kakak perhatikan sekitar mu. Ada sesuatu yang aneh telah terjadi di sini.” Ujar Han Ying dengan nada yang serius. Han Shen yang mendengar itu sontak mengangkat sebelah alisnya lalu menyapu pandangannya, sontak dirinya pun mengangkat sebelah alisnya tepat seperti yang di katakan oleh Han Ying, ada yang aneh di tempat tersebut.
Han Shen mendekati salah satu mayat itu memeriksanya, dirinya pun merasa sangat aneh, karena melihat mayat tersebut benar-benar sangat kurus, mayatnya sangat pucat dengan mulutnya terbuka lebar. Baik itu darahnya maupun dagingnya, benar-benar tidak ada sama sekali hanya menyisakan tulang belulang yang dibalut kulit saja.
Han Shen lantas mengalihkan pandangannya lagi, dan melihat mayat yang lainnya pun semuanya bernasib sama, mati tanpa menyisakan darah maupun daging. Han Shen mengepalkan tangannya erat, karena melihat ada orang-orang yang berasal dari kekaisaran Han juga bernasib sama seperti itu.
“Apa yang telah terjadi di sini?” Batin Han Shen yang sangat marah ketika melihat pemandangan yang sangat mengenaskan itu. Han Ying muncul di sisinya memegangi tangan Han Shen yang terkepal seraya memanggil nama kakaknya dengan lembut. “Kakak Shen.” Panggil Han Ying membuat Han Shen yang sangat marah menoleh kepada sang adik, Han Ying pun menggeleng-geleng kan kepalanya, membuat Han Shen menghela nafasnya menenangkan amarahnya yang hendak meledak.
“Kekekeke... Apa ini, ternyata masih ada manusia yang datang kemari, terlebih lagi yang satunya adalah wanita yang cantik.” Ujar suara yang tiba-tiba muncul membuat kedua kakak beradik itu menoleh ke arah sumber suara, namun tidak mendapati siapapun di sana.
“Siapa kalian? Keluar pengecut! Jangan hanya bersembunyi saja!” Teriak Han Shen seraya menyapu pandangannya, Han Ying juga mengeluarkan pedangnya memasang sikap berpedangnya, waspada.
“Hahaha... Tidak perlu tahu siapa aku, kamu hanya perlu tahu, bahwa sebentar lagi akan menjadi persembahan bagi tuanku. Lalu untuk wanita di sebelah mu, dia akan bermain-main dengan kami terlebih dahulu, sebelum pada akhirnya menyusul untuk di jadikan persembahan.” Ujar suara tanpa wujud itu tertawa menggema.
Selang beberapa detik kemudian, dari seluruh penjuru arah mata angin tiba-tiba muncul sosok yang sangat mengerikan, mengepung Han Ying dan Han Shen. Sosok itu mempunyai dua tanduk di dahinya, melihat wujud dari sosok itu, Han Ying dan Han Shen pun langsung tersadar akan identitas nya.
“Ras iblis Sia*an! Berani-beraninya kalian menyamar masuk kemari!” Teriak Han Shen yang menyadari identitasnya berteriak marah, karena pelaku dari yang terjadi saat ini pastinya adalah ulah dari ras tersebut. Jumlahnya ada enam sosok, dan masing-masingnya mengeluarkan aura yang sangat menjijikan dan siapapun akan muak ketika merasakannya.
“Kekeke... Sayangnya kami tidak peduli, karena orang tua di luar sana juga tidak akan tahu apa yang akan terjadi di sini, dan kalau pun tahu mereka sudah terlambat untuk menyadarinya hahahaha....!” Teriak salah satu iblis, namun ketika ia melihat wajah Han Shen yang awalnya marah menjadi tenang kembali, sontak ia merasakan perasaan buruk yang datang darinya.
“Kalau begitu maaf saja, karena kami juga sudah mengantisipasi tentang kehadiran kalian yang menyusup kemari. Atau lebih tepatnya, kami sudah mengetahui bahwa kalian akan datang kemari.” Jelas Han Shen yang seketika membuat Ras iblis itu terkejut ketika mendengarnya.
“Kekeke percuma saja mengertak seperti itu, kami tidak akan termakan oleh umpan mu itu.” Kata salah satu iblis dengan nada mengejek lalu di sambut gelak tawa oleh yang lainnya. “Ya terserah saja, mau kalian percaya atau tidaknya itu bukan urusanku, akan tetapi kalian yang sudah berani bertindak seperti ini, jangan harap bisa lolos.” Ujar Han Shen mengeluarkan pedangnya juga memasang kuda-kuda berpedangnya.
“Jujur saja, mencari kalian adalah hal yang sangat merepotkan, tapi untung saja kalian dengan senang hati menyerahkan diri sendiri. Membuat tugas kami jadi lebih mudah.” Ucap Han Ying dengan seringai di balik cadarnya.
“Habisi kedua manusia itu!” Teriak salah satu iblis memberikan aba-aba pada kelompoknya. Han Ying dan Han Shen pun melakukan hal yang sama, langsung menerjang juga menghadapi ke enam ras iblis tersebut.
>>>>>> Bersambung
~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.