
“Kamu benar Saudaraku.” Kata Yang Sun ikut tersenyum juga. Keduanya pun tertawa, lalu mulai berbincang-bincang renyah, sampai beberapa saat kemudian Yang Sun di perintahkan oleh Ling San untuk turun gunung.
>>>>>>______
Ling Feng telah selesai membersihkan dirinya dan tengah bersiap-siap untuk pergi ke aula utama untuk menghadiri pertemuan yang di sebutkan oleh Chang Jin sebelumnya. Saat ini ia mengenakan pakaian murid sekte naga langit, lebih tepatnya pakaian yang telah di siapkan oleh Bing Jiao sebelumnya. Rambut hitam lurusnya ia ikat menjadi kuncir kuda, tentu saja ia telah melepas topengnya saat ini.
Setelah semua telah siap, Ling Feng pun keluar dari kamarnya, dimana Ling San telah menunggunya, “Heummm tidak buruk, pakaian itu terlihat cocok untukmu. Kalau begitu kita langsung pergi saja ke aula pertemuan.” Ujar Ling San melangkah keluar dari kediaman diikuti oleh Ling Feng dari belakang. Ling Feng sendiri sudah menduganya bahwa ia akan menarik perhatian, tapi tetap saja ia masih tidak terbiasa dengan tatapan penasaran yang ditujukan kepadanya. Walaupun begitu, perasaan tidak terbiasa itu hanya sesaat, dan dirinya kembali tenang dan acuh tak acuh dengan sekitarnya.
Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai di aula pertemuan, terlihat di pintu gerbang menuju gedung aula pertemuan, banyak murid-murid yang di tempatkan untuk berjaga di sana. Murid-murid yang sedang berjaga itu langsung memberi salam kepada Ling San, ketika melihat kedatangan nya dan langsung bergegas membukakan pintu untuk keduanya.
Pada saat pintu gerbang di buka, terlihatlah setiap kursi para tetua sudah di isi tanpa terkecuali. Ling Feng sendiri lebih tertarik dengan pria sepuh yang kini duduk di tengah-tengah, karena pria sepuh itu adalah pria yang telah membantunya kemarin di gunung Lu. Ling Feng juga melihat beberapa wajah yang tidak asing telah hadir di sana, diantaranya adalah Han Ying, Bing Jiao, dan Qing Xian juga hadir dalam pertemuan tersebut serta juga ada dua orang pria dan seorang wanita yang umurnya lebih tua dari Ling Feng juga hadir di sana.
Sebagai sebuah informasi, setelah turnamen di Kekaisaran Shu, Qing Xian beserta keluarganya memutuskan untuk mengikuti saran Ling Feng, yaitu pindah kota Kekaisaran Han. Tentu saja, dengan pindahnya Keluarga Qing ke Kaisaran Han, pasukan bayangan yang berada di kota Anyi pun ikut pindah juga. Saat ini Keluarga Qing diberikan wewenang untuk mengelola kota yang berada di bawah sekte naga langit, kota itu sendiri berada di bagian utara sekte naga langit.
“Salam Leluhur sekte, salam patriak sekte, dan juga salam para tetua. Maaf, aku dan cucu ku datang terlambat.” Kata Ling San yang membuat Ling Feng terkejut bukan main, ketika Ling San menyebutkan kata ‘leluhur’ yang tentunya merujuk kepada pria sepuh yang tengah duduk di kursi patriak sekte kali ini.
“Tidak masalah Tetua Ling. Lagipula pertemuannya di mulai masih beberapa menit lagi, tapi karena semua orang sudah hadir di sini, aku rasa kita mulai saja pertemuannya kali ini.” Ujar Chang Jin yang berdiri di sebelah leluhur yang duduk di kursi patriak yang dianggukki setuju oleh semua tetua yang telah hadir.
Chang Jin pun langsung meminta kepada Ling Feng untuk menjelaskan kondisi benua akhir-akhir ini. Mendengar permintaan itu, Ling Feng pun tidak keberatan untuk melakukan hal tersebut.
“Baiklah, mungkin sudah ada para tetua yang mendengar ini, tapi aku akan mulai menjelaskan kembali tujuan para ras iblis ini secara singkat dan detail. Ras iblis ini mempunyai ambisi untuk menguasai Dunia biru ini. Untuk mewujudkan ambisi ini, para jendral iblis berniat untuk membangkitkan raja iblis yang saat ini masih di segel entah dimana. Namun untuk membangkitkan raja iblis, setidaknya ada beberapa syarat yang harus terpenuhi. Salah satu dari syarat itu adalah mengumpulkan tiga buah artefak yang bisa di sebut sebagai kunci untuk membangkitkan raja iblis, dan mereka sudah mendapatkan dua artefak sebelumnya. Lalu untuk artefak yang terakhir, aku gagal mendapatkannya, karena keadaan yang tidak terduga.” Jelas Ling Feng panjang lebar menarik nafas sejenak lalu mulai berkata kembali.
“Pada saat aku hendak berhasil mengambil artefak tersebut, secara tidak terduga empat jendral iblis tiba-tiba muncul dan menggagalkan ku. Aku berhasil menekan mereka dengan beberapa trik, namun pada akhirnya aku masih belum mampu menghadapi keempat tingkat saint sekaligus dan berakhir terkena luka dalam.” Ucap Ling Feng yang seketika membuat semua orang yang ada di sana tercekat nafasnya dan terkejut bukan main ketika mendengarnya.
Degggghhhh... Degggghhhh...
Ling Feng sendiri sudah menundukkan kepalanya, lebih tepatnya ia sudah siap akan hal yang terjadi kepadanya, mengingat hasilnya tetap tidak berubah, bahwa dirinya tetap gagal mendapatkan artefak itu.
Namun semua pikiran negatif itu hilang sepenuhnya, ketika sang kakek bertanya dengan nada yang terdengar jelas, bahwa ia benar-benar sangat khawatir kepadanya. “Nakkk... Kondisi tubuhmu kamu benar-benar tidak apa-apa sekarang?” Tanya Ling San yang langsung menangkup wajah cucunya itu, membuat Ling Feng sedikit termenung sesaat dan melihat lurus ke mata sang kakek, dimana ia melihat sangat jelas bahwa sang kakek benar-benar khawatir kepadanya.
Degggghhhh... Degggghhhh...
“Feng’er bagaimana dengan membiarkan tetua kelima untuk mengecek kondisi tubuhmu terlebih dahulu sekarang? Artefak yang kuberikan kepadamu hanya untuk mempercepat pemulihan Qi, bukan mempercepat pemulihan luka dalam.” Kata Chang Jin mengatakan dengan nada yang sama persis seperti Ling San, membuat Ling Feng menoleh ke arahnya dengan pandangan yang kosong.
“Aku juga punya beberapa pil ajaib tingkat tinggi yang bisa memulihkan luka. Ambilah pil ini dan seraplah.” Ujar Tetua kedua yang tidak lain adalah Han Ying, seraya mengeluarkan dua buah botol pil dari cincin ruangnya. Ling Feng menoleh ke arah Han Ying dan dirinya pun mengeluarkan tatapan yang sama persis dengan keduanya, ia juga menyapu pandangannya kepada para tetua yang lainnya dan semuanya menunjukkan raut wajah sama, raut wajah seorang yang sedang khawatir. Perasaan hangat pun menjalar ke dalam hatinya, Ling Feng pun kembali menundukkan wajahnya, lalu senyuman lebar tercetak di wajahnya.
Ia kembali mendongkakkan kepalanya dan berkata dengan senyuman hangat tercetak di wajahnya, “Aku sungguh tidak apa-apa Kakek, Kakek patriak, dan para tetua. Terima kasih sudah mengkhawatirkan keadaanku.” Ujar Ling Feng seraya menyatukan tinjunya tersenyum bahagia dari lubuk hatinya yang paling dalam.
Sementara pertemuan sedang di adakan di aula, terlihat dua sosok yang saat ini sedang terbang di langit-langit gedung pertemuan. Keduanya tidak lain adalah Long Tian dan Ling Laohu, dan keduanya pun tersenyum penuh arti.
“Ketahuilah Feng’er. Kamu kali ini tidak sendirian menghadapinya. Masih ada banyak orang yang peduli padamu dan mau membantumu. Jadi, jangan pernah berpikir untuk menanggungnya sendiriannya lagi.” Batin Long Tian lalu terbang dari sana pergi bersama Ling Laohu.
>>>>>> Bersambung
~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya dengan saran dan ulasannya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.