Pendekar Yin - Yang

Pendekar Yin - Yang
V2 Roh dari Pedang Es Abadi


Ling Feng yang melihat itu tersenyum dan berkata, “Terima kasih sudah mau mendengarkan permintaan egoisku ini.” Ucap Ling Feng.


>>>>>>>_____


Alam Bawah Sadar Bing Jiao


“Ugkhhh... Kepalaku... Sakit sekali.” Gumam Bing Jiao yang perlahan mulai membuka kedua matanya, karena merasa terganggung dengan sinar cahaya yang begitu terang. Dirinya perlahan bangkit dari posisi berbaringnya seraya menyapu pandangannya, dimana ia hanya melihat langit biru dan tubuhnya terapung di atas danau yang jernih. Bing Jiao tidak tahu dimana ia berada saat ini sampai sebuah suara tiba-tiba terdengar, membuatnya refleks menoleh ke sumber suara.


“Kau sudah bangun.” Ucap suara yang tiba-tiba muncul, membuat Bing Jiao reflleks melirik ke sumber suara. Bing Jiao mendapati sosok anak kecil dengan rambut biru langit sedang terapung-apung di udara menatap dirinya seraya tersenyum tipis. Bing Jiao awalnya tidak mengenal anak kecil di depannya itu, sampai aura familiar yang terpancar dirinya, membuatnya mengetahui siapa identitas dari anak kecil di hadapannya itu.


“Kau... Kesadarann roh yang mendiami pedang biru, kan?” Tanya Bing Jiao memastikan. Anak kecil itu masih dengan senyum tipisnya, namun mengubah posisi terapungnya. “Panggil aku Jing. Itu namaku. Aku adalah Roh dari Pedang Es Abadi.” Kata sosok anak kecil itu memperkenalkan dirinya dengan bangga.


Tidak mendapatkan reaksi apapun, Jing sontak merasa sedikit kesal lalu hendak berkata sesuatu, akan tetapi, secara tiba-tiba Bing Jiao memotong ucapan yang hendak keluar dari mulutnya. “Ohhhh... Jadi ini wujud sesungguhnya dari dirimu ya. Tidak kusangka Roh pedang biru itu hanyalah seorang anak kecil.” Kata Bing Jiao manggut-manggut memperhatikan Jing. Mendengar hal itu tentunya Jing tidak terima dan berkata, “Aku bukan anak kecil! Umurku itu sudah lebih dari dua ratus tahun lebih tahu dan lebih tua dari mu!” Kata Jing tidak terima di panggil anak kecil oleh Bing Jiao.


Akan tetapi, alih-alih mendengarkan Bing Jiao malah kembali berkata, “Ehhh... Jika memang begitu, maka kau berarti memang masihlah anak-anak, aku melihat di catatan kuno, Roh dapat dikatakan sudah dewasa ketika ia sudah berumur lima ratus tahun lebih. Jika kurang dari itu, maka dapat di ambil kesimpulan bahwa roh tersebut masihlah belum dewasa.” Ucap Bing Jiao yang seketika membuat Jing diam tidak bisa membalasnya, karena memang apa yang di katakan oleh Bing Jiao adalah kebenarannya.


“T-tapi, kan tetap saja. Umurku itu lebih tua darimu.” Kata Jing yang masih tidak mau mengalah. “Umur hanyalah angka tahu. Tetap saja kesadaran mu yang sekarang itu tidak lebih dari anak-anak.” Kata Bing Jiao lalu mengusap-usap puncak kepala Jing. Jing awalnya menghindarinya, namun setelah merasakannya langsung, entah karena apa, tiba-tiba ia merasa sangat nyaman dengan elusan kepala Bing Jiao. Bing Jiao yang melihat Jing begitu mudah di bujuk, hanya bisa terkekeh kecil.


“Eh b-bukan seperti ini maksud kedatanganku kemari.” Ucap Jing yang kembali sadar dengan niatnya membawa Bing Jiao ke alam bawah sadarnya, lalu menghempaskan tangan Bing Jiao yang terus-terusan mengusap puncak kepalanya. “Aku datang kemari hanya untuk menyapa mu saja, serta meminta maaf, karena sudah menggunakan tubuh mu seenaknya. Padahal kau sudah membantuku untuk melihat dunia luar, akan tetapi aku malah serakah dan termakan oleh nafsu ku sendiri.” Kata Jing seraya menundukkan kepalanya merasa sangat bersalah. Bing Jiao yang mendengar itu tersenyum tipis lalu berkata, “Begitu, kah... Ya jika Jing sudah paham akan kesalahannya, maka aku juga tidak akan mengatakan apapun lagi.” Ucap Bing Jiao.


Jing langsung mengangkat kepalanya terkejut, karena Bing Jiao begitu mudah memaafkannya. Bahkan alih-alih ia merasa marah, wanita di hadapannya tersenyum lembut kepadanya. Ia pun refleks mengeluarkan satu kata yang di ajukan kepada Bing Jiao.


“Kenapa?” Kata yang keluar tiba-tiba dari mulut Jing. Bing Jiao awalnya sedikit tidak mengerti, namun ia pun paham setelah beberapa detik, “Tidak ada maksud apa-apa. Bukankah sudah sewajarnya jika untuk saling memaafkan. Aku tahu kau pasti mempunyai alasan lain untuk melakukan hal itu. Oleh karena itu, aku tidak akan bertanya detailnya lebih lanjut dan katakan jika memang sudah siap kau katakan.” Kata Bing Jiao.


Mendengar hal itu, Jing kembali tertegun dengan apa yang dikatakan oleh Bing Jiao. Ia menatap lekat-lekat kedua mata Bing Jiao dan terlihat jelas sorot mata itu adalah sorot mata yang tidak mungkin mengatakan kebohongan. Ia sudah bertemu berbagai macam manusia, dan tentunya sudah mengetahui berbagai macam sifat manusia yang beragam, namun baru kali ini ada yang mengatakan hal seperti itu kepada dirinya yang jelas-jelasnya hanyalah sekedar kesadaran Roh dari sebuah objek saja.


“Manusia yang aneh.” Ucap Jing lalu terkekeh pelan, Bing Jiao yang mendengar itu mengangkat sebelah alisnya dan berkata, “Hei apa maksud mu itu Jing? Bagian mananya aku ini aneh?” Kata Bing Jiao yang tidak terima.


“Mari kita lakukan kontrak darah.” Kata Jing membuat Bing Jiao mengangkat sebelah alisnya tidak mengerti.


“Kontrak darah? Kontrak darah untuk apa?” Tanya Bing Jiao.


“Untuk bisa mengeluarkan kekuatan sesungguhnya dari Pedang Es Abadi. Pertama-tama harus melakukan kontrak darah terlebih dahulu. Selama ini kau hanya menggunakan Pedang Es Abadi sebagai media untuk mengeluarkan Qi di dalam tubuh mu, akan tetapi akan berbeda hasilnya, jika kau sudah membuat Pedang Es Abadi menjadi milikmu. Jika kontrak darah sudah di lakukan, maka kekuatan yang terpendam dari Pedan Es Abadi bisa kau gunakan dan membuat mu menjadi lebih kuat.” Kata Jing menjelaskan dengan singkat dan padat.


Mendengar penjelasan itu, Bing Jiao tanpa berkata apa-apa langsung menganggukkan kepalanya tanpa ragu sedikit pun. Jing yang melihat Bing Jiao tidak ragu menganggukan kepalanya pun mengangkat sebelah alisnya dan berkata, “Kau tidak ragu sama sekali ya... Apakah kau tidak takut bahwa aku akan mengambil alih tubuh mu lagi.” Kata Jing seraya terkekeh.


“Untuk apa merasa ragu, karena aku yakin kau tidak akan melakukan hal seperti itu. Toh kalaupun kau memang berniat untuk melakukannya, Kakak Feng pasti akan menghentikan mu.” Kata Bing Jiao tanpa beban. Mendengar hal itu Jing hanya bisa tersenyum masam mengingat Ling Feng yang begitu mudah menahan tebasan pedang dengan kekuatan penuhnya.


“Baiklah, baiklah, kalau begitu kita lakukan.” Ucap Jing yang diangguki oleh Bing Jiao. Seketika semuanya pun menjadi gelap dan Bing Jiao yang berada di alam bawah sadarnya pun mulai sadarkan dirinya kembali.


Bing Jiao mengerjap-ngerjap kan kedua matanya seraya sedikit pening, karena cahaya matahari begitu menyilaukan kedua matanya. Sampai suara lembut nan familiar pun terdengar jelas di telinganya.


“Bagaimana perasaanmu? Apakah ada yang terasa tidak nyaman?” Ucap sosok pemuda begitu lembut bertanya kepada Bing Jiao seraya tersenyum hangat kepadanya. Bing Jiao yang melihat sosok pemuda itu ikut tertular oleh senyumnya dan tanpa sadar menganggukkan kepalanya, serta merta diikuti dengan kedua matanya yang berkaca-kaca. Bing Jiao tidak bisa menahan itu, karena sosok pemuda yang di depannya itu adalah sosok pemuda yang telah bertahun-tahun pergi, dan belum pernah berjumpa lagi sampai saat ini.


Pemuda tersebut pun langsung membantu dirinya untuk bangkit dari posisi berbaringnya dan menyandarkannya di dahan pohon. Sosok pemuda itu kembali tersenyum dan berkata, “Begitu, kah... Syukurlah jika memang tidak ada yang terjadi. Ah iya, selamat datang kembali Jiao’er.” Ucap sosok pemuda tersebut kepada Bing Jiao seraya menyeka air mata yang sudah lolos dari salah satu sudut matanya.


Bing Jiao yang mendengar itu, seluruh emosinya menjadi satu, dan tanpa bisa mengungkapkan nya dengan kata-kata ia langsung memeluk sosok pemuda tersebut dan membalas perkataannya, “Aku kembali kakak Feng.” Kata Bing Jiao dengan senyum bahagianya, dan air mata yang sudah mulai lolos dari kedua matanya.


>>>>>> Bersambung


~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.