Pendekar Yin - Yang

Pendekar Yin - Yang
Simulasi


"A-apa ini?! Apa-apaan ini?!" Batin Qing Xian masih menyembunyikan kepalanya tidak berani menoleh sampai beberapa detik kemudian ia sedikit mendongakkan kepalanya memberanikan diri untuk sedikit melirik dan benar saja bahwa Ling Feng sedang memeluknya dari belakang.


Rahang tegas dan wajah yang putih bersih. Bulu mata yang lentik dan hidungnya yang mancung. Wajah Ling Feng benar-benar bisa membuat siapapun yang melihatnya langsung jatuh pada pandangan pertama. "Nikmat mana lagi yang kau dustakan." Gumam Qing Xian sembari melirik wajah Ling Feng. Ling Feng yang tidak terlalu mendengar gumaman Qing Xian lantas bertanya.


"Apa yang kau katakan Xian'er? aku tidak mendengarnya tadi." Kata Ling Feng menoleh kepada Qing Xian. Pada saat menoleh itu, kedua mata mereka saling bertemu. Detak Jantung keduanya benar-benar dipacu kala itu sampai Qing Xian lebih dulu memutuskan kontak mata tersebut menundukkan kepalanya kebawah sembari memainkan kedua jarinya.


Ling Feng masih dalam posisi memeluk Qing Xian dari belakang.


1 menit


5 menit


Padahal baru beberapa menit berlalu, namun yang dirasakan oleh keduanya benar-benar seperti sudah berlalu berjam-jam. Ling Feng pun memutuskan untuk mengatakannya. " Ah…Xian'er apakah ini sudah cukup?" Tanya Ling Feng gugup. Qing Xian yang mendengar pertanyaan itu tidak menjawabnya, namun ia sedikit menganggukkan kepalanya karena masih tidak berani berucap.


Melihat reaksi tersebut Ling Feng pun mulai melepaskan pelukannya. Keduanya menjadi benar-benar canggung kala itu. Sangat canggung. "B-bagaimana kalau kita kembali dulu ke kota. Ayah mu pasti sangat mencemaskan mu saat ini." Kata Ling Feng berusaha mengalihkan kecanggungan tersebut.


"Ah…Jika suruh memilih untuk bertarung sampai titik darah penghabisan atau mencairkan suasana seperti ini, aku lebih memilih opsi pertama sungguh." Batin Ling Feng. Jantungnya masih berdetak kencang padahal adegan tersebut sudah berlalu saat ini.


Qing Xian tidak berucap apapun dan hanya menganggukkan kepalanya saja. Dirinya benar-benar sangat berucap. Pada saat keduanya ingin melangkah Qing Xian tiba-tiba berhenti. Sontak Ling Feng yang ingin melangkah pun ikut berhenti juga.


"Ada apa Xian'er?" Tanya Ling Feng. Qing Xian hanya diam karena saat ini Lin kecil sedang menggeliat tidak nyaman terlihat dari raut wajah yang ia tampilkan. Lin kecil pun merancau kembali. "Ibu…Ibu dimana? Ayah…Ayah jangan tinggalkan Lin'er." Rancauan Lin kecil. Ling Feng yang melihat itu sedikit terkejut ketika Lin kecil berkata seperti itu. "Sedalam itukah trauma yang ia alami?" Batin Ling Feng iba ketika melihat raut wajah Lin kecil yang ketakutan.


Lalu tiba-tiba Ling Feng mengalihkan pandangannya menatap Qing Xian, karena Qing Xian berkata sesuatu. "Cup…Cup…Cup…Ibu disini sayang ibu tidak kemana-mana. Tenang saja ibu akan selalu di sampingmu." Kata Qing Xian sangat lembut sembari mengusap keringat yang muncul di dahi Lin kecil dengan lembut. Ling Feng yang melihat itu merasakan perasaan aneh ketika Qing Xian melakukan hal tersebut.


"Wajah tenang disertai senyuman tulus. Hawa lembut nan nyaman yang ia keluarkan. Perwujudan dari malaikat yang jatuh dari langit." Batin Ling Feng terpesona dengan Qing Xian. Qing Xian tidak sadar wajahnya terus-menerus diperhatikan oleh Ling Feng. Ia benar-benar fokus menenangkan Lin kecil. Sampai beberapa detik kemudian Lin kecil merancau lagi. Qing Xian yang mendengar rancauan itu pun bingung dan langsung menolehkan wajahnya ke Ling Feng.


"Feng bagaiman…" Perkataannya terhenti karena tepat ia menoleh kepada Ling Feng. Ling Feng sedang menatapnya sembari tersenyum. Seketika jantungnya kembali berdetak sangat cepat. Bahkan kali ini lebih cepat dari pasca ketika ia dipeluk.


"Ayah…Jangan tinggalkan Lin'er ayah…Jangan tinggalkan Lin'er…Lin'er takut." Rancau Lin kecil tubuhnya pun mulai bergetar. Qing Xian yang melihat itu mengabaikan semua pikiran anehnya lalu berkata kepada Ling Feng. "Feng cepat lakukan sesuatu. Buat Lin'er menjadi tenang." Kata Qing Xian.


"Apa yang harus kulakukan memangnya?" Tanya Ling Feng tidak mengetahui. Qing Xian menepuk dahinya pasrah lalu memberitahu. "B-bukankah kau sudah memperhatikan ku sejak lama. Lakukanlah seperti yang kulakukan tadi." Kata Qing Xian gugup, namun tetap mengatakannya.


"Berpura-pura menjadi ibu Lin'er juga sama seperti mu? Itu maksudnya." Kata Ling Feng dengan polos. Qing Xian yang mendengar itu benar-benar pasrah kala itu. "Aku tidak menyangka bahwa akan ada orang yang se polos ini." Gumam Qing Xian pasrah. Ling Feng yang melihat wajah tertekan Qing Xian terkekeh melihatnya.


"Iya, iya, akan kulakukan. Tidak perlu memasang wajah pasrah seperti itu." Kata Ling Feng terkekeh. Qing Xian yang mendengar itu hanya membuang muka saja tidak berniat berkata apapun. Ling Feng lalu berkata kembali. "Jadi apa yang harus kukatakan kepada Lin'er?" Tanya Ling Feng benar-benar sangat polos.


Qing Xian yang mendengar itu tidak percaya akan kepolosan Ling Feng, namun raut wajah yang ia tampilkan tidaklah seperti tadi yang di buat-buat. Kali ini benar-benar sangat polos mengatakannya.


"K-katakan saja seperti yang kukatakan sebelumnya." Jawab Qing Xian. Ling Feng yang mendengar itu pun menganggukkan kepalanya. Lalu mendekati wajah Lin kecil. "Lin'er sayang…Ayah tidak akan pergi kemana-mana. Ayah akan selalu di sini bersama dengan Lin'er. Tenang saja nak, ayah tidak akan pergi kemanapun." Kata Ling Feng tersenyum simpul sembari mengelus-elus lembut kepala Lin kecil.


Qing Xian yang melihat itu benar-benar terpesona apalagi ia kini sangat dekat dengan Ling Feng. Bahkan hembusan nafas nya yang tenang dapat ia dengar seperti kala pelukan tadi. "Sangat tampan." Gumam Qing Xian tanpa sadar.


Ling Feng yang mendengar gumaman itu terkekeh lalu mendongakan kepalanya menatap mata Qing Xian yang menatapnya dan berkata. "Aku tau. Tanpa kau beritahu, fakta aku tampan memang tidak bisa disangkal." Kata Ling Feng terkekeh. Qing Xian yang mendengar itu mengutuk mulutnya sejadi-jadinya. Wajahnya bahkan sudah berubah menjadi merah seperti kepiting rebus.


Ia malu sangat malu. Ia ingin menyembunyikan wajahnya tapi ia tidak bisa karena Ling Feng masih dapat melihat wajahnya alhasil ia hanya pasrah saja. Tiba-tiba sebuah pikiran terlintas di kepala Qing Xian. "Jika dipikir-pikir kami seperti pasutri baru." Batin Qing Xian wajahnya semakin memerah ketika berpikir seperti itu. bahkan dari puncak kepalanya sudah muncul asap disana.


"Xian'er wajah mu merah loh…Apa kau sakit?" Kata Ling Feng sembari menempelkan tangannya di dahi Qing Xian. "A-aku tidak apa-apa lebih baik kau tenangkan dulu Lin'er." Kata Qing Xian berusaha mengalihkan perhatian Ling Feng.


"Tapi Lin'er sudah tenang kok." Kata Ling Feng. Qing Xian lantas menoleh dan benar saja Lin kecil sudah tertidur pulas kembali. "Jadi Xian'er apakah kau baik-baik saja? wajah mu sangat merah loh." Kata Ling Feng. Qing Xian yang mendengar itu menggelengkan cepat kepalanya.


"Aku baik-baik saja. Daripada berlama-lama disini lebih baik kita kembali ke kota sekarang supaya Lin'er bisa istirahat lebih nyaman jika disana." Kata Qing Xian mengalihkan perhatian Ling Feng Ia berjalan lebih dulu meninggalkan Ling Feng dibelakang. Ling Feng yang mendengar itu bingung. "Ah…Baiklah jika memang baik-baik saja." Kata Ling Feng mengejar Qing Xian.


>>>>>> Bersambung