
“Terima kasih ayah mertua.” Ucap Ling Feng sangat senang. Kepala Keluarga Qing tersenyum lalu menganggungkan kepalanya.
>>>>>>______
“Jadi, kamu akan pergi ke tempat seperti itu ya.” Ucap kepala Keluarga Qing yang dianggukki tegas oleh Ling Feng. “Kamu sudah tahu kan dari membaca buku itu, tempat itu adalah sebuah tempat yang sangat misterius dan kacau. Apa kamu yakin akan pergi ke tempat seperti itu?” Ujar kepala Keluarga Qing.
“Aku sangat yakin. Terlebih lagi aku memang harus ke sana, karena aku harus mencari benda itu di sana.” Timpal Ling Feng dengan sorot mata tajam tanda ia serius dengan apa yang ia katakan. Tempat yang di tuju Ling Feng adalah tempat berbahaya, karena selain misterius dan sangat kacau, tempat tersebut juga sangat berbahaya. Mengingat tidak ada yang pernah kembali hidup-hidup dari sana.
“Baiklah aku mengerti, aku tidak bisa mencegahmu. Aku harap kamu selalu berhati-hati dan kembali dengan selamat.” Ucap kepala Keluarga Qing seraya menepuk pelan pundak Ling Feng. Ling Feng menganggukkan kepalanya dan kembali berkata, “Aku akan selalu mengingat pesanmu ayah mertua. Lalu tidak perlu khawatir, karena aku adalah orang terkuat di benua ini.” Ucap Ling Feng seraya tersenyum meyakinkan.
“Hahahaha... Aku benar-benar tidak bisa membantah perkataanmu. Mengingat kamu adalah pahlawan Keluarga Qing, itu sudah membuktikan bahwa kamu adalah orang terkuat.” Ucap kepala Keluarga Qing seraya tertawa lepas. Tentu saja ia merasa bangga dengan Ling Feng, karena ia mempunyai calon menantu sekuat Ling Feng. Terlebih lagi latar belakangnya pun tidak biasa, siapa yang tidak senang dengan hal itu.
“Oh ya ayah mertua. Aku punya permintaan lainnya.” Ucap Ling Feng lagi lalu menyimpan buku tersebut ke dalam cincin ruangnya. Membuat kepala Keluarga Qing mengangkat sebelah alisnya.
“Katakan apa itu nak.” Ucap kepala Keluarga Qing kepada Ling Feng.
“Aku ingin apa yang kita bicarakan saat ini tolong rahasiakan dari Xian’er dan Jiao’er. Saudara Sun juga tolong jaga rahasia ini. Aku tidak ingin keduanya mengetahui tentang ini.” Ucap Ling Feng kepada kepala Keluarga Qing dan Yang Sun.
“Siapa saja yang mengetahui tentang pembicaraan ini?” Tanya kepala Keluarga Qing.
“Untuk sekarang. Para Leluhur sekte, patriak sekte, ayah mertua, dan Saudara Sun. Para tetua yang lainnya termasuk kakek pun belum mengetahui tentang hal ini.” Ucap Ling Feng.
“Baiklah aku mengerti. Aku tidak akan memberitahukannya kepada Xian’er dan Jiao’er.” Ucap kepala Keluarga Qing.
“Tenang saja saudara. Aku bersumpah dengan nama ku, aku tidak akan pernah memberitahukan siapapun tentang apa yang kita bicarakan saat ini.” Ucap Yang Sun dengan tegas. Ling Feng yang mendengar itu menganggukkan kepalanya lalu berterima kasih kepada keduanya.
Tentu kepala Keluarga Qing mengerti mengapa Ling Feng tidak ingin banyak yang tahu, terutama kedua wanitanya. Jika seandainya kedua wanitanya tahu tempat seperti apa yang di tuju oleh Ling Feng, pastinya keduanya akan mencegah Ling Feng. Tentunya tidak hanya kedua wanitanya saja yang khawatir, namun jika keduanya sampai mengetahuinya Ling Feng akan merasa sangat bersalah, karena telah membuat keduanya khawatir.
Dirinya mengetahui itu, karena mendengar cerita dari kakeknya. Ketika dirinya tidak sadarkan diri akibat pertarungan dengan jendral iblis di Gunung Lu, Bing Jiao dan Qing Xian senantiasa bergantian menjaga tubuhnya. Terlebih lagi keduanya tidak pernah tidur ketika menjaga Ling Feng. Kakeknya juga berkata sering mendengar isak tangis ketika malam hari tiba dari kamar Ling Feng.
Mendengar hal itu tentunya membuat Ling Feng menjadi merasa sangat bersalah, karena sudah membuat keduanya sangat khawatir. Oleh karena itu, ia tidak ingin sampai keduanya merasakan hal seperti itu lagi. Karena bisa jadi Ling Feng tidak akan jadi pergi nantinya.
Tidak lama kemudian suara pintu ruangan pun di ketuk dan masuklah dua orang wanita cantik ke sana. Kedua wanita itu terlihat sangat cantik, terlebih lagi saat ini keduanya sedang tidak menggunakan cadar membuat pria manapun yang melihatnya pasti akan langsung jatuh hati.
“Kakak datang sejak kapan? Kenapa tidak langsung menyusul Jiao’er dan saudari?” Ujar wanita tersebut yang adalah Bing Jiao yang dianggukki oleh wanita di sebelahnya yang adalah Qing Xian.
“Aku menyapa ayahmu terlebih dahulu. Ini kami berniat untuk menyusul kalian ke halaman.” Ucap Ling Feng seraya tersenyum hangat pada keduanya. “Ya baguslah kalau begitu. Kita makan malam terlebih dahulu sebelum kembali ke sekte. Kakak dan yang lainnya sudah menunggu di ruang makan.” Ucap Qing Xian lagi lalu mereka bersama pun menunju ke ruang makan.
“Apa yang kamu bicarakan dengan ayah? Kenapa lama sekali untuk menyapa saja? Apakah kamu membicarakan sesuatu yang aneh?” Tanya Qing Xian penasaran. Bing Jiao juga menunggu jawaban Ling Feng, pasalnya ketika mereka menanyakan keberadaan Ling Feng pada Pelayan tua Sang, ia mengatakan Ling Feng sudah datang cukup lama dan berada di ruang kepala Keluarga Qing.
“Tidak ada, hanya beberapa masalah diantara pria. Kalian para wanita tidak akan pernah mengerti.” Ucap Ling Feng tanpa beban membuat kedua wanitanya mengangkat sebelah alisnya semakin penasaran, namun keduanya tidak bertanya lebih dan hanya menelan kembali rasa penasarannya masing-masing.
Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mereka sampai di ruang makan, terlihat di sana sudah ada beberapa kursi yang sudah terisi dan beberapanya di isi oleh Han Ying, kakak laki-laki Qing Xian, dan beberapa paman serta bibi dari Qing Xian.
“Ah adik ipar! Lama tidak berjumpa. Bagaimana kabarmu?” Ucap kakak laki-laki Qing Xian sedikit berteriak seraya melambai-lambaikan tangannya kepada Ling Feng terlihat sangat bersemangat.
“Lama tidak berjumpa juga Kakak Lao. Sepertinya yang Kakak Lao lihat, aku baik-baik saja.” Ucap Ling Feng kepada Qing Lao.
“Begitukah senang mendengarnya.” Ucap Qing Lao seraya tertawa lepas, mengabaikan Qing Xian yang sudah memerah wajahnya saat ini. Qing Lao pun melirik ke arah Yang Sun dan berkata, “Hohhhh... Siapa teman yang berada di sebelahmu adik ipar?” Tanya Qing Lao.
“Namaku adalah Yang Sun. Aku adalah saudara sumpah Saudara Feng.” Ucap Yang Sun berinisiatif memperkenalkan dirinya. “Hehhhh... Menarik. Bisa menjadi saudara sumpah adik iparku, pastinya kamu sangat kuat ya, sampai-sampai sudah di akui oleh adik ip-” Ucap Qing Lao seraya manggut-manggut melihat ke arah Yang Sun, tapi langsung terhenti karena tiba-tiba kepalanya di pukul cukup kuat oleh Qing Xian.
Baannngggg...?!
“Kenapa kamu memukul kepala ku? Itu sakit tahu.” Ucap kesal Qing Lao seraya mengelus-elus bagian kepalanya yang di pukul oleh Qing Xian.
“Aku tidak peduli dengan itu dasar kakak bodoh! Adik ipar, adik ipar, aku masih belum menikah tahu.” Umpat Qing Xian yang kesal lalu kembali melesatkan pukulan di kepala Qing Lao lagi dan kali ini lebih kuat dari yang sebelumnya.
Baaaaannnngggg......!!
Setelah memukul kepala Qing Lao, Qing Xian pun berbalik ke tempat duduknya dengan kedua pipinya yang sudah merah bak kepiting rebus.
“Cihhhh... Apa salahnya coba? Toh pada akhirnya kamu juga akan bersama dengan Adik ipa...” Ucap Qing Lao di buat tidak bisa menyelesaikan perkataannya, karena Qing Xian tiba-tiba melemparkan sebuah alat makan yang sudah di aliri Qi kepadanya. Melihat tingkah keduanya, semua orang yang ada di sana menggeleng-gelengkan kepala nya. Karena ketika keduanya bertemu selalu saja ada hal yang di ributkan seperti saat ini.
“Sudahlah kalian berdua hentikan itu, yang ada malah tidak jadi makan malam.” Ucap kepala Keluarga Qing melerai kedua anak nya menjadi penengah. Barulah saat itu makan malam berjalan semesti nya.
>>>>>> Bersambung
~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya dengan saran dan ulasannya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.