Pendekar Yin - Yang

Pendekar Yin - Yang
V2 Terima Kasih Nak


Leluhur wanita itu pun tersenyum manis dan berkata, “Itu adalah tulisan yang telah aku rangkum dan simpulkan tentang tempat yang bernama ‘Ujung Benua’. Cobalah lihat terlebih dahulu.” Ucap Chang Yu yang dianggukki oleh Ling Feng.


>>>>>>______


Ling Feng pun mulai membaca gulungan tersebut dengan cepat. Dalam gulungan yang di buat oleh Chang Yu isinya sama persis dengan buku yang Ling Feng dapatkan dari Kepala Keluarga Qing. Selesai membacanya Ling Feng pun tersenyum tipis lalu berkata kepada Leluhur Chang Yu.


“Bagaimana nak? Apakah itu membantu mu? Ya itu hanyalah spekulasi ku saja, akan tetapi aku sangat yakin dengan spekulasi itu.” Ucap Chang Yu.


“Terima kasih leluhur. Informasi ini benar-benar sangat membantuku.” Ucap Ling Feng seraya menundukkan kepalanya kepada Leluhur Chang Yu.


Mendengar hal itu, Chang Yu pun tersenyum kembali lalu berkata, “Tidak masalah. Walaupun kita baru beberapa kali bertemu. Aku mengetahui bahwa kamu pastinya tetap teguh pendirian untuk pergi ke sana. Terlebih lagi kamu akan pergi ke tempat berbahaya seperti itu, jadi setidaknya kami ingin membantu mu walaupun hanya dengan informasi saja.” Ucap Chang Yu.


“Tidak seperti itu leluhur. Sebaliknya aku benar-benar berterima kasih karena leluhur sampai repot-repot membuat seperti ini hanya untuk diriku saja.” Ucap Ling Feng mengubah senyumnya menjadi senyum tidak nyaman, karena ia merasa telah merepotkan leluhur-leluhurnya.


“Hahahaha... Santai saja nak. Tidak perlu berpikiran seperti itu, apa yang kami lakukan ini adalah keinginan kami sendiri. Jadi, tidak perlu merasa terbebani.” Ucap Chang Tao yang dianggukki oleh Chang Yu dan Chang Xin.


“Kami akan selalu mendukung apapun keputusan mu nak. Juga jika kamu merasa kesulitan di sana, jangan sungkan untuk mengabari sekte. Kami akan segera menyusulmu ke sana.” Ucap Chang Xin seraya menepuk pelan pundak Ling Feng seraya tersenyum hangat kepadanya. Mendengar para leluhurnya berkata seperti itu, Ling Feng benar-benar merasa terharu ia sekali lagi menundukkan kepalanya dengan lebih hormat seraya berkata, “Aku benar-benar sangat berterima kasih kepada leluhur.” Ucap Ling Feng dengan tubuhnya yang sudah bergetar.


“Sudahlah, tidak perlu merasa seperti itu nak kepada kami.” Ucap Chang Tao memegang kedua pundak Ling Feng lalu menegakkan kembali tubuh pemuda tersebut.


“Iya leluhur. Aku mengerti.” Timpal Ling Feng dengan senyuman tipis tercetak di wajahnya. Melihat Ling Feng kembali tersenyum, ketiga leluhur itu pun membalasnya dengan senyuman juga. Mereka berempat lanjut berbincang-bincang sembari menikmati teh. Ling Feng benar-benar menikmati pembicaraan nya dengan sang leluhur, ia benar-benar merasakan kedamaian saat ini.


“Kamu akan pergi ke Ujung Benua kapan nak?” Tanya Chang Xin membuat pemuda itu pun menoleh ke arahnya.


“Aku akan pergi setelah urusan ku semuanya selesai Leluhur.” Jawab Ling Feng yang dianggukki oleh Chang Xin. Setelah itu mereka pun kembali berbincang-bincang. Kebanyakan pembicaraan nya adalah tentang Ling Feng dan kedua orang tuanya. Pemuda itu nampak menyimak antusias ketika mendengar cerita orang tuanya dari ketiga leluhur sekte naga langit.


Ketiga leluhur juga menanyakan tentang pengalaman Ling Feng selama mengarungi dunia kultivasi. Ling Feng dengan senang hati menceritakan semuanya tentang dirinya yang berlatih di tempat-tempat terlarang dan bertemu banyak orang yang menarik. Ketiga leluhur itu pun hanya diam seraya sesekali tersenyum tipis menyimak cerita Ling Feng.


“Kalau begitu aku pamit terlebih dahulu leluhur.” Ucap Ling Feng berpamitan mengingat sudah cukup lama mereka berempat berbincang-bincang.


“Pergilah nak, jangan lupa yang kami katakan kepadamu sebelum nya.” Ucap Chang Tao. Ling Feng mengangukkan kepalanya tanda mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Chang Tao.


“Benar-benar pemuda yang luar biasa. Aku berharap apa yang ia inginkan itu bisa tercapai.” Ucap Chang Xin seraya menghela nafas kasar.


“Jujur saja aku merasa sangat khawatir dengannya. Beban yang ia tanggung terlalu berat untuk pemuda seusianya.” Timpal Chang Yu seraya memasang wajah sedih.


“Kita tidak bisa berbuat apa-apa. Itu sudah menjadi keputusan nya. Kita hanya bisa mendukung nya dan memberitahukannya jika ada suatu tindakan yang salah. Selebihnya itu diluar kemampuan kita.” Ujar Chang Tao yang dianggukki oleh keduanya. Akan tetapi, tepat ketika mereka hendak melanjutkan kembali meditasi mereka, secara tiba-tiba sebuah cincin muncul di atas meja membuat ketiganya menatap penasaran ke cincin ruang itu.


Tepat ketika hendak di sentuh oleh Leluhur Chang Tao, cincin ruang tersebut secara tiba-tiba bersinar dan beberapa saat kemudian mengeluarkan berbagai jenis benda yang membuat ketiganya cukup terkejut.


“I-ini...” Ucap Chang Xin yang terkejut ketika melihat berbagai macam benda secara tiba-tiba keluar dari cincin ruang tersebut. Sampai Chang Yu terfokuskan pada secarik kertas kecil. Dirinya pun mengambil kertas kecil itu dan membacanya sekilas. Beberapa detik kemudian ia pun tersenyum manis ketika selesai membaca apa yang tertulis di kertas kecil tersebut.


“Apa yang kamu baca saudari?” Tanya Chang Xin penasaran, karena secara tiba-tiba wanita tersebut mendadak tersenyum. Chang Yu yang mendengar namanya di panggil pun memberikan kertas kecil itu kepada Chang Xin dan Chang Tao. Saat mereka membaca apa yang tertulis di kertas tersebut, keduanya pun tersenyum lalu tertawa kecil.


“Anak itu benar-benar ya. Saking takutnya kita aka menolak, ia sampai melakukan trik seperti ini.” Ucap Chang Xin seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Aku lebih penasaran bagaimana ia melakuan trik seperti ini, tanpa di sadari oleh kita bertiga.” Ucap Chang Tao yang membuat keduanya pun mendadak berpikir hal yang sama.


“Sepertinya memang sudah waktunya daun tua digantikan dengan daun muda.” Ucap Chang Yu seraya terkekeh pelan lalu dianggukki oleh Chang Xin dan Chang Tao. Mereka bertiga pun menoleh ke arah LIng Feng tadi menghilang seraya membatin hal yang sama, “Terima kasih nak, sudah repot-repot memikirkan tentang kami.” Ucap ketiganya di dalam hatinya masing-masing.


Sementara itu Ling Feng sendiri sudah sampai di puncak kediaman kakeknya. Terlihat rumah sang kakek sudah kembali berdiri di sana. Dalam hatinya ia memberikan pujian kepada orang-orang yang telah membangun rumah kakeknya hanya dalam kurun waktu yang begitu singkat.


Setelah berpikir seperti itu, Ling Feng terkekeh pelan lalu masuk kembali ke dalam kamarnya untuk memulihkan kondisi tubuhnya mengingat Qi dalam tubuhnya belum sepenuhnya pulih. Ling Feng berniat untuk bermeditasi semalaman dan selesai ketika waktu latihan khusus murid sekte di mulai.


Tanpa basa-basi dirinya pun mulai memejam kedua matanya dan mulai memulihkan Qi nya yang telah hilang.


>>>>>> Bersambung


~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya dengan saran dan ulasannya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.