
Bing Jiao yang mendengar itu, seluruh emosinya menjadi satu, dan tanpa bisa mengungkapkan nya dengan kata-kata ia langsung memeluk sosok pemuda tersebut dan membalas perkataannya, “Aku kembali kakak Feng.” Kata Bing Jiao dengan senyum bahagianya, dan air mata yang sudah mulai lolos dari kedua matanya.
>>>>>>______
“Aku tidak apa-apa kak, palingan hanya aku kehabisan... Eh. Bagaimana bisa?! Bukankah aku kehabisan Qi?!” Bing Jiao yang terkejut ketika ia memeriksa tubuhnya dan merasakan Qi nya, yang padahal ia sangat yakin bahwa ia telah kehabisan Qi pada saat tubuhnya di rasuki oleh Jing. Sampai kemudian suara Jing berdengung di kepalanya.
“Tuan muda mengalirkan Qi miliknya kepada mu pada saat kau tidak sadarkan diri.” Ujar Jing mengirimkan transmisi suara kepada Bing Jiao. “Ah jadi begitu, kah... Tapi kenapa kau memanggil kakak dengan panggilan tuan muda?” Timpal Bing Jiao seraya mengajukan pertanyaan kepada Jing. “Karena ia adalah orang yang telah mengalahkan ku. Aku tidak bisa memanggilnya master, karena ia terlalu muda, jadi aku memanggilnya dengan panggilan tuan muda.” Jelas Jing. Bing Jiao yang mendengarkan itu hanya ber oh ria saja.
Ia lantas melirik ke arah Ling Feng tersenyum kepadanya seraya berkata, “Terima kasih kakak telah membantu pemulihan ku.” Ucap Bing Jiao kepada Ling Feng.
Melihat senyuman tersebut, Ling Feng pun menanggapi nya dengan anggukan kepalanya seraya tersenyum tipis, “Sama-sama.” Kata Ling Feng. Bing Jiao yang melihat senyuman Ling Feng sontak terpesona, karena Ling Feng yang ia kenal adalah sosok yang acuh tak acuh dan dingin, namun saat ini dirinya baru sadar bahwa ada yang berubah dari sosok pemuda yang sudah bertahun-tahun tidak pernah bertemu. Bahkan Bing Jiao sampai salah tingkah sendiri dengan kedua pipinya terlihat sangat jelas berubah semerah tomat.
“Kakak, kau berubah ya...” Ucap Bing Jiao memaksakan terkekeh, walaupun saat ini detak jantungnya meningkat dua kali lipat daripada biasanya.
“Begitu, kah... Menurutmu? Atau kau tidak nyaman dengan sikap ku yang seperti ini?” Ucap Ling Feng dan dengan cepat langsuung mendapatkan gelengan kepala dari Bing Jiao.
“B-bukan begitu maksudku kak. Hanya saja dirimu yang saat ini benar-benar sangat keren dan sangat hangat. A-aku tidak bermaksud untuk membandingkan mu ya, t-tapi dirimu yang saat ini memang begitu adanya.” Ucap Bing Jiao dengan cepat beserta gugup. Ling Feng yang menyadari Bing Jiao dari nada bicaranya, ia pun terkekeh kecil, “Iya, iya, aku mengerti.” Ucap Ling Feng seraya menepuk-nepuk pelan puncak kepala Bing Jiao. Bing Jiao yang di perlakuan seperti itu pun, sontak wajahnya mendadak berubah menjadi merah, semerah kepiting rebus disertai asap putih yang samar-samar keluar dari puncak kepalanya.
“Jiao’er? Apakah kau baik-baik saja? Wajahmu sangat merah loh... Apakah kau kedinginan?” Tanya Ling Feng ketika melihat wajah Bing Jiao yang berubah menjadi kepiting rebus.
“A-aku tidak apa-apa kak. Aku tidak apa-apa.” Ucap Bing Jiao sedikit menjauh dari Ling Feng, karena wajahnya terlalu dekat dengan dirinya. Ia bahkan merasa khawatir Ling Feng bisa mendengar detak jantungnya yang kembali meningkat menjadi tiga kali lipat lebih cepat, namun suara Jing yang tiba-tiba muncul di kepalanya, menyadarkan Bing Jiao.
“Kau ini ya.... Tuan muda padahal hanya menepuk-nepuk pelan puncak kepalamu, kenapa ku begitu malu? Aneh sekali.” Kata Jing dengan nada bicara heran. “Berisik... Anak kecil seperti mu tahu apa memangnya.” Timpal Bing Jiao mendengus.
“K-kau memanggil ku anak kecil lagi?! Aku ini lebih tua dari mu tahu. Aku bukan anak kecil.” Kata Jing tidak terima. Bing Jiao sendiri hanya menunjukkan ekspresi mendengus ketika mendengar hal itu, dan Ling Feng yang memperhatikan perubahan raut wajah dari Bing Jiao hanya bisa menatapnya dengan pandangan yang heran. Sebenarnya apa yang sedang terjadi dengannya?
“Ah sudahlah terserah kau saja... Sekarang kembali fokus. Lakukan ritual kontrak darahnya sekarang.” Ujar Jing berdengung di kepala Bing Jiao. “Tanpa kau beritahu pun, aku akan melakukannya.” Balas Bing Jiao. Walaupun samar-samar, Bing Jiao mendengar Jing sedang mencibirnya.
Bing Jiao lalu mengambil pedang Es Abadi di sisinya. Ia juga menggigit jarinya sampai mana jarinya sedikit terluka dan mengeluarkan darah di ujung jarinya. Pada saat Bing Jiao hendak menetaskan kepada Pedang Es Abadi, Ling Feng secara tiba-tiba memegang tangannya, Bing Jiao yang diperlakukan seperti itu, tentunya kembali gugup, karena Ling Feng lagi-lagi melakukan kontak fisiknya secara tiba-tiba.
“Apakah kau sudah yakin tentang ini? Jika memang belum bisa sekarang, jangan terlalu dipaksakan.” Ucap Ling Feng yang seketika mengerti mengapa Ling Feng memegang pergelangan tangannya. Bing Jiao dengan lembut berkata kepada Ling Feng, “Tenang saja kak. Kali ini berbeda, Jing sudah berteman dengan ku.” Ucap Bing Jiao.
“Kakak tidak perlu khawatir, aku pasti akan baik-baik saja.” Ucap Bing Jiao sekali lagi menatap Ling Feng dengan tegas, di tatap seperti itu, Ling Feng pun menganggukkan kepalanya lalu melepas tangannya membiarkan Bing Jiao untuk melakukan ritual kontrak darah dengan pedang Es Abadi. Bing Jiao mengambil sikap lotus, lalu meletakan Pedang Es Abadi didepannya. Ia mengambil nafas sejenak lalu menghembuskannya pelan.
Setelah itu, Bing Jiao pun meneteskan darahnya tepat di atas Pedang Es Abadi.
Ctakkkkk
Awalnya tidak ada respon sedikit pun, sampai kemudian Pedang Es Abadi tiba-tiba berdengung dan terbang melayang di hadapan Bing Jiao disertai dengan kemunculan pola lingkaran dengan tulisan rumit di tanah.
Shringggg
Pedang Es Abadi melayang-layang memutari Bing Jiao. Pada saat proses tersebut pun Bing Jiao memegang tangan kanannya dengan tangan kirinya sangat erat, karena pada saat proses ritual kontrak darah itu, pola lingkaran yang di bawah tanah, perlahan-lahan berpindah di pergelengan tangan Bing Jiao.
Nampak jelas keringat dingin bercucuran deras di dahinya Bing Jiao. Walaupun begitu, ia tidak menyerah terhadap rasa sakit itu dan terus mempertahankan posisinya seraya mengigit bagian bawah bibirnya, supaya tidak kehilangan kesadaran.
Sepuluh menit, dua puluh menit, setengah jam, satu jam, dan dua jam pun berlalu begitu saja. Pada saat itu hari sudah hampir menjelang malam, namun Bing Jiao masih belum menandakan tanda-tanda bahwa ritual kontrak darah telah selesai. Terlihat jelas bahwa wajah daripada Bing Jiao sudah mulai berubah pucat. Akan tetapi, ia masih bertekad untuk terus bertahan sampai akhir.
Sampai suara Jing pun terdengar di kepalanya, “Ritual kontrak darah telah selesai. Tidak kusangka kau mampu bertahan. Sepertinya apa yang dikatakan oleh tuan muda benar adanya.” Suara Jing terdengar di kepalanya menandakan selesainya ritual kontrak darah. Sinar cahaya yang mengelilingi Bing Jiao pun perlahan-lahan meredup dan hilang sepenuhnya.
“Jangan bodoh... Jika aku tidak kuat, maka lebih baik aku mati saja daripada menjadi beban kakak nantinya.” Gumam Bing Jiao dengan suara parau, perlahan-lahan kesadaran nya mulai hilang, karena rasa sakit di tangannya lebih daripada yang ia kira.
“Iya, iya, aku mengerti. Toh, Kalau kau tidak bisa bertahan, maka kau tidak layak untuk menjadi masterku.” Ucap Jing. Mendengar hal itu Bing Jiao hanya terkekeh pelan lalu tubuhnya pun mulai terhuyung kedepan, karena ia benar-benar sudah kehabisan tenaga dalam. Pada saat tubuhnya hendak jatuh ke tanah, sebuah lengan yang begitu kokoh menompang tubuhnya.
Bing Jiao yang melihat lengan itu berusaha keras untuk menoleh, menatap wajah pemilik dari lengan tersebut seraya tersenyum samar dan berkata, “Kakak... Aku... Berha...” Ucap Bing Jiao dengan suara parau sebelum kehilangan kesadaran lagi.
Ling Feng yang melihat wajah damai dari Bing Jiao dengan nafas yang terdengar teratur terdengar dari hidungnya, terkekeh pelan dan berkata pelan, “Iya Jiao’er. Kau sudah bekerja keras. Terima kasih sudah selalu memikirkanku.” Ucap Ling Feng lalu memangku tubuh Bing Jiao ala putri supaya Bing Jiao tidak terganggu, dan tanpa pikir panjang langsung pergi kembali ke Ibukota Kekaisaran.
>>>>>> Bersambung
~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.