
“Baiklah, baiklah, tuan muda boleh mengambil batu hitam itu dengan harga lima koin perak.” Ucap pedagang tersebut masih sempat-sempatnya untuk menaikkan harganya. Ling Feng tanpa bimbang mengangkat empat jarinya dan berkata, “Lebih dari ini aku sudah tidak bisa lagi.” Ucap Ling Feng.
Pedagang itu pun akhirnya menyerah dengan memberikan batu hitam itu kepada Ling Feng dengan harga empat koin perak. “Terima kasih... Senang berbisnis dengan mu.” Ucap Ling Feng dengan wajah penuh senyuman meninggalkan pedagang dengan wajah yang masam. Ren Hu yang melihat dari kejauhan cara Ling Feng membeli barang, benar-benar tidak ia duga sama sekali. Awalnya ia mengira bahwa Ling Feng akan dengan mudah memberikan tiga koin emas, namun secara tidak terduga Ling Feng malah menawarnya, terlebih lagi menawar dengan harga yang tidak tanggung sama sekali.
Ren Hu benar-benar di buat terdiam oleh Ling Feng, sampai ia baru sadar ketika namamnya di panggil. "Ren Hu kenapa kau hanya diam saja di sana? Apakah ada yang ingin kau beli di sini?” Tanya Ling Feng menyadarkan Ren Hu. “Ah tidak ada tuan muda.” Jawab refleks Ren Hu.
“Begitu, kah? Ya kalau memang ada tinggal bilang saja.” Ucap Ling Feng kembali melangkahkan kakinya. Ren Hu menganggukkan kepala nya dan mereka pun kembali melanjutkan perjalanannya.
>>>>>>______
Hari sudah menunjukkan tengah hari Ling Feng pun kembali membuka gerbang menuju dunia jiwanya. "Keluarlah Hitam.” Ucap Ling Feng seraya memanggil Serigala Petir Gelap yang berada di dalam dunia jiwanya.
Awwwuuuu
Serigala Petir Gelap pun langsung keluar dari dunia jiwa ketika Ling Feng memanggil namanya. Seperti biasa Serigala itu pun langsung menjilat-jilati Ling Feng dan sesekali mendengkur ketika Ling Feng mengelus-ngelus serigala tersebut tanda ia merasa sangat nyaman ketika di elus oleh Ling Feng.
Ling Feng terkekeh melihat tingkah dari serigala hitam itu. Ia pun menuruti permintaannya dan sedikit lebih lama mengelus-elus dagunya. Setelah beberapa menit Ling Feng pun menyudahi aksinya dan berkata kepada serigala hitam tujuan perjalanan selanjutnya. Serigala hitam meresponnya dengan lolongan panjang lalu sedikit membungkukkan tubuhnya.
“Ren Hu ayo naik... Kita pergi sekarang.” Ucap Ling Feng melirik ke arah Ren Hu yang berada di belakangnya. Ren Hu menganggukkan kepalanya dan ia pun naik ke atas tubuh Serigala hitam itu diikuti oleh Ling Feng setelah naik semua, dalam seperkian detik serigala hitam pun langsung berlari sangat cepat melesat lurus ke arah selatan di mana Kekaisran Shu berada.
“Tuan muda berapa lama perjalanannya menuju Kekaisaran Shu?” Tanya Ren Hu kepada Ling Feng.
“Ya tidak akan terlalu lama jika dengan si hitam. Paling cepat lima hari, dan lama dalam waktu satu minggu.” Jawab Ling Feng setelah menghitung kecepatan berlari Si Hitam. Mendengar hal itu, Ren Hu hanya ber oh ria tidak bertanya lagi, perjalanan menuju Kekaisaran Shu pun di mulai.
>>>>>>______
Sementara Itu di Sisi Kekaisaran Shu
“Nyam, nyam, nyam... Wah jajanannya enak sekali.” Gumam sosok gadis muda dengan rambut yang diikat dengan poni kuda ke belakang. Terlihat gadis muda tersebut begitu senang dengan berbagai jenis makanan di tangan kanan dan kirinya.
“Kakak Xian. Ini cobalah... Makanan pinggir jalan di ibu kota kekaisaran Shu ini juga enak loh.” Ujar sosok gadis tersebut bersemangat menyodorkan makanan di tangan kanannnya kepada sosok perempuan di sebelahnya yang menggunakan cadar di wajahnya. Akan tetapi, gadis muda itu menyadari bahwa perempuan di sebelahnya itu terlihat sedang memikirkan sesuatu yang rumit, ia pun bertanya kepadanya dengan nada khawatir.
“Kakak Xian. Kakak Xian tidak apa-apa? Kakak selalu melamun seharian ini? Apakah ada masalah?” Tanya Gadis muda itu dengan nada khawatir, sontak mendengar nada khawatir keluat dari mulut gadis muda tersebut membuat perempuan tersebut tersadar dari lamunannya. Melirik gadis muda yang menatapnya dengan pandangan khawatir.
“Ahhh kakak tidak apa-apa kok. Maafkan kakak ya, karena telah membuat Lin’er khawatir. Tenang saja, tidak ada masalah apapun yang terjadi kok.” Ucap perempuan tersebut dengan lembut seraya mengulurkan tangannya mengelus-elus puncak kepala gadis muda tersebut menenangkan rasa khawatirnya.
“Benarkah itu? Kalau memang ada yang bisa di bantu oleh Lin’er, katakan saja kak. Lin’er pasti berusaha untuk melakukan yang terbaik, membantu kakak.” Ucap gadis muda dengan sangat percaya diri. Melihat itu perempuan bercadar itu sontak terkekeh kecil, karena tingkah gadis yang tiba-tiba mengatakan itu, dimana kedua tangannya penuh akan berbagai jenis makanan ringan, dan itu terlihat sangat lucu dalam pandangan mata perempuan bercadar itu.
“Begitu, kah... Lin’er kecil kita sudah mulai menjadi wanita dewasa ya sekarang. Kakak Xian tidak menyangkanya hebat sekali.” Ucap perempuan bercadar itu memuji gadis muda di hadapan nya. “Hehehe tentu saja... Ya walaupun, Lin’er tidak sekuat dari saudara-saudari Lin’er yang lainnya.” Ucap gadis muda itu seraya tersenyum lebar di wajahnya dan kembali melahap makanan ringannya lagi.
Perempuan bercadar itu hanya tersenyum tipis di balik cadarnya ia lantas menandahkan kepalanya menatap langit-langit Ibukota Kekaisaran Shu yang terlihat sangat cerah dengan beberapa awan putih tebal, membuat tengah hari di Ibu kota Kekaisaran Shu tidak terlalu panas.
Jauh di dalam hatinya, ia sangat merindukan sosok pria yang telah beberapa tahun terakhir tidak ada kabarnya. Terakhir kali ia melihat wajah pria tersebut adalah pada saat kepergiannya untuk menjalani pelatihan tertutup di hutan terlarang. “Sudah beberapa tahun terlewat. Apakah ia sudah keluar dari pelatihan tertutupnya ya.” Batin perempuan bercadar tersebut. Tiba-tiba hatinya merasakan sesak ketika memikirkan pria tersebut. Walaupun begitu, ia merasakan sebuah firasat, instingnya mengatakan bahwa bakal ada sesuatu yang baik akan datang.
“Ayo Lin’er kita lanjutkan lagi jalan-jalannya.” Ucap perempuan bercadar itu kepada gadis muda di sisinya. Gadis muda itu tersenyum melihat raut wajah gelisah dari perempuan di sebelahnya itu sudah lenyap digantinkan dengan wajah berseri-seri sekarang.
“Kau ini ya... Banyak makan, tapi tubuh mu tidak besar. Kakak jadi penasaran dengan kemana perginya jajanan tersebut.” Timpal perempuan tersebut seraya menggeleng-geleng kan kepalanya.
“Semuanya berubah menjadi tenaga ku lah kak.” Jawab gadis muda itu tanpa beban dan membuat perempuan bercadar itu tertawa renyah ketika mendengarnya. Keduanya pun melanjutkan kegiatan mereka yang tertunda sejenak. Gadis muda dan perempuan bercadar itu tidak lain dan tidak bukan adalah Lin Kecil dan Qing Xian yang saat ini juga berada di Kekaisaran Shu, dimana Qing Xian adalah salah satu perwakilan dari Kekaisaran Wei.
“Aku tidak tahu kau berada di mana sekarang... Akan tetapi, kuharap kau baik-baik saja dimanapun kau berada Ling Feng.” Batin Qing Xian sekali seraya menatap langit-langit membayangkan sosok pria yang telah membuatnya selalu memikirkan nya sepanjang saat.
Kembali Kepada Ling Feng
Shrinngggg
Shrinngggg
“Hiekkkk... Ampuni aku, tolong ampuni aku, tolong ampuni nyawa dan maafkan aku tuan muda, karena telah berniat untuk merampok anda.”
“Ampuni kau bilang? Memangnya kau pernah mengampuni mereka yang meminta pengampunan nyawanya kepada mu? Kalau memang permasalahan nya semudah itu, tidak ada kata balas dendam di dunia ini tahu.”
“T-tidak, tidak, jangan lakukan itu, tolong ampuni nyawaku, aku sangat bermohon tolong jangan bunuh ak-“
Shrinngggg
“Minta saja pengampunan kepada orang yang kau bunuh di alam baka sana.” Ucap sosok pemuda mengibaskan pedangnya, menghilangkan noda darah yang menempel pada pedang hitamnya itu. Ia menatap dingin jasad tanpa kepala, yang merupakan ketua dari kelompok bandit yang hendak merampok dirinya dan Ren Hu, dikala mereka sedang istirahat di tengah-tengah hutan setelah melakukan dua hari perjalanan tanpa berhenti sama sekali.
Ling Feng langsung membakar jasad ketua bandit tersebut, supaya tidak menjadi wabah penyakit nantinya, karena berubah menjadi busuk jika dibiarkan begitu saja.
“Tuan muda. Aku sudah selesai membunuh mereka semua.” Ucap Ren Hu di belakang Ling Feng yang pakaian nya kini telah terkena noda darah. Ling Feng menoleh kepada Ren Hu dan berkata, “Terima kasih telah membantuku.” Ucap Ling Feng. Pemuda itu juga melirik ke arah serigala hitam yang kini sedang menggoyang-goyangkan ekornya dan tatapan berbinar terlihat jelas di wajahnya.
Ling Feng terkekeh dan berkata, “Baiklah, baiklah, kau sudah bekerja keras hitam... Terima kasih sudah membantuku.” Ucap Ling Feng mendekati Serigala Hitam itu lalu mengelus-elus dagunya. Seketika serigala hitam itu langsung merengkut keenakan dan sesekali mendengkur, serta melolong di akhirnya.
Grrrrrr
Awwwuuuu
"Dasar kau ini manja sekali ya... Pergilah cari beberapa daging untuk dijadikan makan siang hari ini." Ucap Ling Feng kepada Serigala hitam itu.
Awwwuuuu
Serigala hitam itu melolong lalu ia pun pergi dari sana melaksanakan permintaan Ling Feng.
>>>>>> Bersambung
~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.