Pendekar Yin - Yang

Pendekar Yin - Yang
V2 Turnamen Hari Kedua


“Kalau begitu, aku akan memulainya sekarang.” Ucap Ling Feng sesaat setelah menguraikan pelukannya dengan Qing Xian.


“Iya. Aku mengerti.” Jawab Qing Xian menganggukkan kepalanya.


>>>>>>______


Sementara Itu di Sisi Lain


“Aduhh... Sebenarnya kemana perginya kakak Xian...? Ini sudah hampir malam loh kenapa masih belum kembali juga sih. Terlebih lagi, kemana perginya Paman Mu sekarang? Di saat-saat seperti ini malah menghilang entah kemana.” Gumam Lin Kecil yang terlihat sangat cemas, karena Qing Xian masih juga belum kembali ke penginapan nya.


Baru saja Lin Kecil berkata seperti itu, To Mu secara tiba-tiba muncul dalam pandangan mata Lin kecil. Secepat kilat, Lin kecil langsung melesat ke arahnya, membuat To Mu terkejut, karena Lin kecil yang muncul secara tiba-tiba dan berteriak kepadanya. “Paman Mu gawat! Paman Mu gawat!” Teriak Lin kecil tepat di hadapan To Mu yang langsung tersentak mendengar teriakan Lin kecil yang tiba-tiba.


“Aduh... Ada apa lagi Lin kecil? Paman baru datang kemari, kau sudah teriak-teriak saja. Ada apa heummm sampai membuatmu terlihat cemas seperti itu?” Kata To Mu.


“Kakak Xian paman, kakak xian, kakak xian masih belum kembali sampai sekarang. Pasti telah terjadi sesuatu kepada kakak xian paman. Kita harus segera mencarinya sekarang paman sebelum sesuatu terjadi kepada kakak xian.” Kata Lin kecil dengan nada yang cemas. To Mu yang mendengar hal itu memutar bola matanya seraya berkata, “Tenang saja. Qing Xian baik-baik saja sekarang. Lin kecil tidak perlu khawatir, dan tunggu saja. Jika sudah waktunya juga akan kembali.” Kata To Mu kembali melangkahkan kakinya melewati Lin kecil begitu saja.


“Ehhh yang benar paman? Paman tidak berbohong pada Lin’er, kan? Apakah benar kakak xian baik-baik saja? Jangan bohong paman? Paman bisa tahu dari mana kalau kakak xian baik-baik saja?” Kata Lin kecil yang malah semakin gencar mengajukan pertanyaan kepada To Mu, yang seketika membuat dirinya menghela nafas panjang, saking panasnya mendengar berbagai macam pertanyaan Lin kecil. Bahkan saat dirinya ingin menjelaskan, perkataannya keburu di potong oleh Lin kecil, membuatnya lagi-lagi menghela nafas panjang.


To Mu yang tidak tahan pun langsung menutup mulut Lin kecil, sehingga ia langsung terdiam dan hening dalam sekejap. “Qing Xian saat ini sedang bersama dengan Feng’er. Jadi, Lin kecil tidak perlu khawatir. Tadi, dirinya mengabari paman, atas permintaan Qing Xian memberitahu hal ini kepada kamu. Mengerti sekarang?” Kata To Mu yang menjelaskan panjang lebar dengan detail. Ia juga menarik kembali lengannya, yang tadinya berada di mulut Lin kecil.


“Ohhh jadi begitu, kenapa paman tidak bilang dari tadi, jika tahu begini jadinya, aku, kan tidak akan sekhawatir ini.” Kata Lin kecil lalu berbalik melangkahkan kakinya menuju pasar malam yang berada di tengah kota saat ini. To Mu yang melihat sikap dari gadis kecil tersebut hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya memaklumi tingkahnya itu.


>>>>>>______


Keesokan Harinya


Waktu pun berlalu begitu saja, pihak kekaisaran Han saat ini di buat bingung oleh tingkah Ling Feng. Secara tiba-tiba ia mengirimkan sebuah transmisi suara kepada Tetua Han, dirinya mengatakan akan menyerah di pertandingan berikutnya. Mendengar hal itu, Tetua Han terkejut bukan main dengan permintaan tidak masuk akal Ling Feng. Jelas-jelas ia hendak menolak permintaan itu, namun secara tiba-tiba pesan dari Patriak sekte datang dan memberikan arahan untuk membiarkan tindakan Ling Feng sesukanya saja.


Mendengar hal itu, tentunya Tetua Han merasa sangat heran dengan apa yang dikatakan oleh Patriak sekte, ketika ia hendak menanyakan alasannya, Patriak sekte malah berkata kepadanya untuk menunggu sampai hari terbukanya tanah rahasia. Tetua Han pada akhrinya hanya bisa mengiyakan saja.


Terlihat turnamen hari kedua penontonnya lebih ramai ketimbang turnamen hari pertama. Semua bangku di setiap sudut, sepenuh nya terisi tanpa terkecuali satu pun. Tempat VIP pun sudah sepenuh nya terisi.


Wasit kali ini pun masih sama dengan yang kemarin, ia melangkah ke tengah arena pertandingan dan pada saat ia sampai di tengah-tengah arena pertandingan lonceng raksasa pun di pukul, membuat semua pasang mata terfokus ke arena pertandingan.


“Baiklah tanpa berbasa-basi lagi, turnamen empat benua hari kedua di mulai sekarang!” Teriak wasit tersebut bersamaan dengan lonceng raksasa yang kembali di pukul. Tepuk tangan dan riuh sorak sorai para penonton memenuhi setiap sudut arena pertandingan.


Untuk pertandingan pertama ini adalah jenius yang berasal dari Kekaisaran Wu yaitu, Fang Yin, melawan Perwakilan dari kekaisaran Han, Han Shen. Pertandingan berlangsung cukup sengit. Terlihat walaupun perbedaan ranahnya terlihat sangat jelas, Han Shen tidak menyerah begitu saja, dan memberikan perlawanan yang terbilang sulit, karena beberapa kali membuat Fang Yin terpojok.


Walaupun pada akhir nya Han Shen tetaplah kalah, karena kehabisan Qi terlebih dahulu tidak bisa melanjutkan pertandingan nya. Tidak seperti perwakilan Kekaisaran Wu yang lainnya, Fang Yin tidak lah angkuh, sebaliknya ia menyerang Han Shen dengan sungguh, walaupun sikapnya yang cukup dingin.


“Bing Jiao salam kenal. Tidak perlu berbasa-basi, dan mulai saja.” Kata Bing Jiao menarik Pedang Es Abadi dari sarungnya. Aura dingin pun langsung menyebar luas di sekitar arena pertandingan.


Mendapatkan respon dingin dari Bing Jiao, Sheng Ye terkekeh pelan seraya berkata, “Dingin sekali ya.” Ucap Sheng Ye mengeluarkan artefak senjatanya yang berupa pedang. Wasit pun langsung memberikan aba-aba, baik Bing Jiao maupun Sheng Ye, keduanya langsung menerjang maju sesaat aba-aba wasit di mulai.


Jual beli serangan tidak terelakan, dentingan demi dentingan terdengar nyaring, ketika dua pedang mereka beradu.


Ctangggg


Ctangggg


“Teknik Pedang Angin Gerakan Ketiga: Angin Membelah Langit.” Kata Sheng Ye mengeluarkan teknik pedang nya yang berupa bilah angin yang melesat cepat ke arah Bing Jiao.


“Teknik Pedang Es Gerakan Kedua: Ombak Es.” Kata Bing Jiao mengayunkan pedangnya dengan tenang menahan bilah angin Sheng Ye.


Booommmm


Asap putih yang sangat tebal tercipta di sana. Semua pasang mata menatap penasaran, tidak bisa mengalihkan sedikit pun pandangannya dari arena pertandingan, walaupun asap putih masihlah sangat tebal, Bing Jiao dan Sheng Ye tidak berhenti di sana saja. Dalam asap putih itu, keduanya beradu pedang, hal itulah yang membuat para penonton menatap penasaran ke arena pertandingan.


Perlahan-lahan asap putih tebal pun mulai memudar, memperlihatkan dua sosok lawan jenis sedang beradu pedang dengan sangat intens. Baik itu Bing Jiao, atapun Sheng Ye. Keduanya sama-sama mengerahkan yang mereka punya. Walaupun Bing Jiao masih belum mengeluarkan kartu as nya, begitu juga dengan Sheng Ye.


Hampir satu jam berlalu, keduanya masih terlihat segar tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Setidaknya mereka masih sanggup untuk bertarung selama dua jam kedepannya, namun baik itu Bing Jiao atau pun Sheng Ye, keduanya memikirkan hal yang sama. Menyelesaikan semuanya dengan satu serangan.


Oleh karena itulah, Bing Jiao dan Sheng Ye sama-sama menjaga jaraknya. Sheng Ya langsung mengambil kuda-kuda berpedangnya, mengalirkan seluruh Qi yang ia punya ke dalam pedangnya. Begitu juga dengan Bing Jiao, ia mengangkat pedangnya dengan satu tangan ke atas, lalu mengayunkannya, dan terlihatlah banyak pedang es yang mengudara di sekitar Bing Jiao. Teknik tersebut sama seperti yang dikeluarkan oleh Han Ying, bedanya milik Bing Jiao adalah Es dan jumlahnya dua kali lipat lebih banyak daripada Han Ying.


“Teknik Pedang Angin Gerakan kelima: Badai Angin Menghempaskan Segalanya.” Teriak Sheng Ye mengayunkan pedangnya, tebasan angin yang sangat kuat melesat cepat ke arah Bing Jiao.


“Teknik Pedang Seribu: Seribu Pedang Es.” Kata Bing Jiao mengayunkan pedangnya mengarahkannya kepada tebasan pedang Sheng Ye.


Benturan teknik pedang Sheng Ye dan Bing Jiao pun tidak terelakkan. Arena pertandingan bahkan sampai bergetar hebat, sampai-sampai dua tetua dari tempat VIP turun tangan untuk membuat sebuah penghalang, supaya para penonton tidak terkena dampak dari tabrakan dari kedua teknik pedang tersebut.


Arena pertandingan bergetar selama beberapa menit kedepan baru kemudian perlahan tenang. Asap yang sangat tebal tercipta di tengah arena pertandingan, namun terlihat samar- samar bayangan satu sosok yang masih berdiri, sosok tersebut mengayunkan pedangnya menghempaskan asap putih yang tebal itu.


Arena pertandingan begitu kacau. Terlihat di sekitar arena banyak kawah kecil yang tercipta, dan ditengah kekacauan itu, sosok Bing Jiao masih berdiri dengan tegap sedangkan lawannya sudah terkapar tidak sadarkan diri di seberang nya. “Perwakilan Kekaisaran Shu tidak sadarkan diri. Pemenangnya perwakilan Kekaisaran Han!” Teriak sang wasit yang langsung di sambut riuh sorak sorai para penonton.


>>>>>> Bersambung


~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.