Pendekar Yin - Yang

Pendekar Yin - Yang
V2 Ju Yao dan Pemuda Berpakaian Hitam


Lalu dalam beberapa jam saja, berita tentang para pemberontak dan ras iblis yang menyerang pun dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru dunia biru. Hal itu tentunya mendapatkan apresiasi masyarakat yang seketika langsung mendidih darahnya. Bahkan pihak kekaisaran Shu tidak segan untuk meringkus sisa-sisa para pemberontak.


>>>>>>______


Suatu Tempat di Sekitar Ibukota Kekaisaran Shu


Bughhhkkk... Baammmm...!


“Uhukkk... Siapa kalian berdua?! Kenapa tiba-tiba menyerang diriku?!” Kata sosok pemuda seraya menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya, melirik ke arah dua sosok pemuda berpakaian serba hitam yang tiba-tiba muncul lalu membawanya ke gang yang sepi, lalu tanpa berkata apa-apa langsung memukul pemuda itu cukup kuat.


Pemuda itu adalah Ju Yao yang sedang berjalan-jalan sendirian tidak jelas di tengah-tengah keramaian Ibukota Kekaisaran Shu. Pikiran pemuda itu sedang dalam posisi tidak karuan, mengingat kembali perang antara ras iblis dan kultivator manusia beberapa hari yang lalu membuat dirinya benar-benar dirinya berpikir lebih dalam. Terlebih lagi ketika dirinya melihat sosok pemuda yang begitu gigihnya melawan sosok iblis sekelas jendral, yang mana pada saat itu dirinya saja tidak dapat menahan aura penekanan yang di pancarkan oleh jendral iblis tersebut.


Pada saat ia sedang tenggelam dalam pikirannya itu, instingnya merasakan ada sesuatu yang mendekat, dirinya menyadari itu, namun tubuhnya terlambat untuk merespon. Dirinya pun di bawa oleh kedua sosok berpakaian hitam ke dalam gang kecil yang sepi di ibukota itu.


Ju Yao awalnya tidak sadar, namun pada saat salah satu pemuda berpakaian hitam itu mengeluarkan kedua buah belati kecil dari saku lengannya, dirinya pun menyadari identitas dari kedua orang berpakaian hitam itu.


“A-apa yang ingin kalian berdua inginkan dariku?” Kata Ju Yao yang nada bicaranya mendadak lebih gugup, mengingat dua orang yang berada di depannya saat ini adalah dua sosok yang dengan sangat beraninya menembus ke pusat pasukan iblis dan mengacaukan fokusnya, dimana keduanya bisa mati kapan saja, mengingat di kelilingi oleh musuh.


“Ya sebenarnya kami berdua tidak punya urusan dengan mu, namun mulut kotor mu cukup berani untuk menghina adik kecil kami.” Kata pemuda yang di punggungnya terdapat sabit kembar.


“Apa maksud mu? Aku saja tidak mengetahuinya adik kalian berdua itu yang mana, bagaimana bisa kalian berdua berkata seperti itu tentang diriku.” Kata Ju Yao yang membela dirinya.


“Tidak, kau pernah menghina adik kecil mu. Terlebih lagi kami berdua mendengarnya dengan sangat jelas apa yang kau gumamkan, menjelek-jelek kan adik kecil kami.” Jelasnnya lagi.


“Aku tidak mengerti dari perkataan mu itu? Aku bergumam menghina adik kecil mu itu? Memang nya kap...” Ucapan Ju Yao terhenti, karena secara tiba-tiba ia terpikirkan satu sosok gadis kecil yang senantiasa bersama dengan wanita yang ia incar. Refleks dirinya pun menoleh ke arah pemuda berpakaian hitam yang berkata kepadanya, dimana pemuda itu juga menatap nya seraya menyeringai di balik penutup wajah nya.


“Kenapa berhenti menyangkal? Apakah kau sudah menyadari siapa yang aku maksud?” Kata pemuda berpakaian hitam itu. Ju Yao terdiam seribu bahasa tidak bisa berkata apa-apa lagi. Pemuda berpakaian hitam yang menyadari perubahan wajah Ju Yao pun terkekeh lalu berkata, “Baguslah kalau sudah mengingat siapa yang aku maksud. Alhasil ini menjadi lebih cepat.” Kata sosok pemuda berpakaian hitam itu bangkit berdiri seraya melemaskan jari-jari tangan nya yang sudah kaku.


Ju Yao yang melihat gerak-gerik pemuda berpakaian hitam itu, mempunyai firasat bahwa sesuatu yang buruk akan menimpa dirinya saat ini. “T-tunggu biar aku jelaskan... S-sebenarnya aku tidak bermaksu-“ Ucapan Ju Yao berhenti begitu saja, karena pemuda berpakaian hitam itu langsung melayangkan pukulan yang cukup kuat tepat di bagian pipi kirinya, sampai-sampai membuat Ju Yao terhempas cepat ke tanah cukup kuat.


Bughhhkkk... Baaammmm...


“Jangan lemah seperti itu? Kau itu adalah jenius dari Sekte Lembah Neraka. Masa terhempas begitu saja terkena pukulan ku.” Kata pemuda berpakaian hitam itu memutar kedua bola matanya malas, menatap tidak minat ke arah Ju Yao.


Sementara temannya yang berada di belakang itu, menatap sekilas bolak balik diantara keduanya itu baru kemudian ia pun memutuskan untuk pergi dari gang kecil tersebut dan memilih untuk berjaga di luar gang.


>>>>>>______


Lima Belas Menit Kemudian


Waktu pun berlalu begitu saja, tidak terasa sudah lima belas menit terlewati.


“Kau lama sekali adik. Kenapa tidak langsung dibunuh saja. Mau bagaimana pun orang itu telah bertindak berlebihan dengan berniat buruk kepada Nona Xian. Jadi dibunuh kurasa hal yang pantas.” Timpal pemuda berpakaian hitam lainnya yang memilih untuk berjaga di depan masuk gang kecil. Kedua pemuda itu adalah Xiao dan Lie Huo.


“Inilah mengapa aku tidak ingin kakak yang langsung turun tangan. Jika kita melakukan itu, yang ada itu akan menjadi masalah bagi Nona Xian. Bukan hanya Nona Xian saja, keluarganya pun juga dapat terkena imbasnya nanti.” Timpalnya seraya memasang raut wajah yang masam. Awalnya Xiao yang ingin turun tangan mengurus Ju Yao yang telah menghina Lin’er, namun Lie Huo menyadari bahwa Xiao pasti akan melakukan sesuatu yang berlebihan. Oleh karena itu, Lie Huo pun mengajukan dirinya sendiri menggantikan Xiao, tentunya Xiao sempat menolak tawaran Lie Huo, namun setelah di bujuk beberapa kali. Xiao pun mau mengalah dengannya.


“Ya kakak tidak perlu khawatir. Walaupun aku tidak sampai membunuhnya, pemuda itu pastinya mempunyai trauma yang cukup berat dan kurasa itu cukup membuatnya merasa kapok.” Kata Lie Huo lagi. Mendengar penjelasan masuk akal dari Lie Huo, tidak banyak berkomentar dan tidak mempermasalahkan nya.


“Baiklah, karena sudah selesai, kita pergi sekarang saja sebelum dirinya datang menemukan kita.” Kata Lie Huo yang diangguki oleh Xiao, namun di saat kedua nya hendak melangkah pergi, seluruh tubuhnya kedua nya mendadak menegang.


Tepat di hadapan mereka berjarak dua meter lebih, keduanya melihat sosok gadis kecil yang familiar, dimana kedua tangannya bersedekap di bawah dadanya menatap tajam ke arah Lie Huo dan Xiao.


"B-bagaimana ia bisa ada di sini?!" Batin keduanya serempak ketika melihat sosok gadis yang sangat familiar dalam ingatan mereka.


“Halo kakak pertama, kakak kedua. Kalian ingin pergi begitu saja tanpa menemui Lin’er terlebih dahulu?” Ujar gadis itu dengan tenang membuat kedua pemuda itu merinding ketika mendengar nada bicara Lin’er. Keduanya bahkan sangat sulit untuk menelan salivanya masing-masing.


“Y-yo adik kecil... Lama tidak berjumpa. Bagaimana kabarmu selama ini? Kamu semakin cantik saja sekarang.” Kata Lie Huo dengan nada bicara yang kaku, mengalihkan pertanyaan Lin’er. Keduanya bahkan langsung membuka penutup wajahnya masing-masing menunjukkan ketulusannya, takut-takut gadis di hadapan mereka itu semakin marah.


Lin’er yang mendengar itu tersenyum manis di balik cadarnya, sampai-sampai sepasang matanya pun terpejam, membentuk bulan sabit yang terbalik ke bawah. “Aku baik-baik saja kakak kedua. Kakak kedua dan kakak pertama juga kelihatan nya sehat-sehat juga.” Kata Lin’er seraya tersenyum manis di balik cadarnya, namun membuat kedua pemuda itu tersentak ketika melihatnya.


“Jadi, Lin’er akan bertanya lagi. Apakah kalian berdua ingin pergi begitu saja tanpa menemui Lin’er terlebih dahulu?” Tanya Lin’er sekali lagi dengan nada yang sama.


“Tentu saja tidak. Kakak pertama dan aku baru saja ingin menemui Lin’er sekarang. Benar, kan kakak pertama?” Ujar Lie Huo seraya melirik ke arah Xiao meminta bantuan kepadanya.


“I-iya Lin’er. Aku dan Adik Huo rencananya akan menemui mu sekarang. Setelah menyelesaikan beberapa urusan.” Kata Xiao dengan nada yang cukup kaku mengatakannya. Sudah beberapa hari setelah peperangan di pintu tanah rahasia antara ras iblis dan kultivator manusia kala itu. Xiao dan Lie Huo awalnya tidak berniat untuk menemui Lin’er tentunya, dan berencana akan langsung pergi lagi setelah mengurus semuanya, namun keduanya tidak menyangka bahwa Lin’er dapat menemukan mereka, yang padahal mereka sudah jelas-jelas sangat rapih dalam menyembunyikan kekuatan jiwa mereka.


“Begitu, kah... Ya baguslah jika memang benar seperti itu. Berarti kalian berdua punya banyak waktu, kan sekarang, karena sudah selesai mengurus semuanya?” Ujar Lin’er masih dengan raut wajah yang sama.


“I-iya adik kami berdua punya waktu.” Jawab keduanya serempak.


>>>>>>______


Salah Satu Kamar di Istana Kekaisaran Shu


“Kamu bukannya istirahat, tapi malah terus-terusan menatap kedua pedang itu. Memangnya ada yang aneh dengan pedang-pedang itu?” Ujar seorang wanita kepada seorang pria yang sedari tadi terus-menerus memperhatikan dengan seksama kedua pedang yang ada di hadapannya.


>>>>>> Bersambung


~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.