
Seraya menatap kesal Cai Lan, Ling Feng berkata, “Kau yang memaksa ku, maka aku tidak akan sungkan lagi. Akan kuberitahu arti dari menjadi seorang pemimpin di sini.” Ucap Ling Feng yang merasa kesal lalu tidak mau kalah mendaratkan ciuman panas di bibir Cai Lan dan langsung di respon ganas oleh wanita tersebut. Pada waktu itu, merupakan waktu yang panjang bagi mereka berdua.
>>>>>>______
Keesokan Harinya
“Ugkhhhh kepalaku.” Gumam Ling Feng seraya bangkit dari posisi berbaringnya dan sesekali menggeleng-gelengkan kepalanya dan memijatnya pelan-pelan merasa sangat pusing. Ingatan demi ingatan tentang kejadian beberapa waktu yang lalu dengan wanita di sebelahnya pun mulai terlintas di pikiran nya membuat Ling Feng merasa gelisah di dalam benak hatinya.
Ling Feng bangkit dan mengambil jubahnya yang tergeletak tidak jauh dari sana. Ia lantas mulai mengelilingi Pemandian air panas dan benar saja menemukan pakaian Cai Lan yang berada di sisi lain pemandian air panas. Ia pun mengambilnya lalu kembali ke tempat sebelumnya.
Melihat Cai Lan yang masih tertidur nyenyak, Ling Feng hanya menghela nafas pendek lalu menghampirinya dan menyelimuti tubuh Cai Lan dengan jubahnya sendiri. Ling Feng juga meletakkan pakaian wanita itu tepat di sisinya. Sejak ia menyentuhnya Cai Lan beberapa waktu yang lalu, Jauh di dalam lubuk hatinya Ling Feng sudah bertekad untuk bertanggung jawab, namun tetap saja ia tidak bisa memutuskannya begitu saja dan tetap harus mendengar pendapat dari yang bersangkutan juga.
Tiba-tiba bayangan Long Tian muncul dalam pikirannya membuat Ling Feng seketika langsung merasa kesal sekaligus marah disaat yang bersamaan. “Selamat menikmati matamu! Naga Tua Sia*an itu! Awas saja jika nanti bertemu, aku pasti akan menendang pantatnya.” Ucap Ling Feng seraya memasang seringai lebar dan tatapan mengerikan.
“Haihhhhh... Mari bahas itu setelah dirinya bangun nanti.” Putus Ling Feng lalu beranjak dari sisi Cai Lan lalu pergi ke sisi lain pemandian air panas. Dirinya memutuskan untuk memeriksa kondisi tubuhnya terlebih dahulu, karena sampai saat ini Qi serta Kekuatan jiwa di dalam tubuhnya masihlah kacau. Sampai dirinya di buat sadar, bahwa penyebab ia tidak bisa mengendalikan Qi dan Kekuatan jiwanya adalah energi kekaucauan yang terkandung dalam asap air panas pemandian.
Ling Feng awalnya tidak sadar, namun setelah menghirup asap putih tersebut, barulah Ling Feng sadar ada sesuatu yang tidak beres terkandung di dalamnya dan menyimpulkan bahwa itu adalah energi kekacauan yang tidak lain adalah energi ciri khas dari Pulau Ujung Benua. Menyadari itu, dirinya pun mulai memejamkan matanya kembali mulai mengontrol energi kekacauan agar tidak mengganggu aliran Qi serta Kekuatan Jiwa di dalam tubuhnya.
>>>>>>______
Disisi Lain Pemandian Air Panas
Wanita yang tertidur nyenyak itu pun mulai menunjukkan tanda-tanda bangun. Cai Lan mulai membuka kedua matanya secara perlahan dan beberapa kali mengerjapkan mata nya. Setelah sepenuhnya sadar, Cai Lan pun mulai mendapatkan ingatannya kembali, dimana sebelumnya ia bertarung dengan beast berwujud kadal raksasa dan berhasil mengalahkan nya, namun ia tidak sepenuh nya terluka, karena ia terkena serangan racun dari kadal tersebut.
Cai Lan berpikir bahwa itu hanyalah racun biasa dan dirinya pun langsung berendam di air panas, karena setiap dirinya terluka atau terkena racun. Pastinya akan langsung sembuh jika ia berendam sembari berkultivasi di sana. Akan tetapi, ketika dirinya berendam di sana, alih-alih merasa lebih baik, tubuhnya secara tiba-tiba menjadi sangat panas.
Kesadarannya pun mulai hilang, karena dirinya tidak bisa menahan panas tubuhnya yang semakin tinggi seiring berjalannya waktu. Cai Lan yang hendak bangkit, tiba-tiba merasakan nyeri di bagian bawah perutnya. “Ughhhkkk... Sakit.” Gumam Cai Lan merasakan sakit di bagian tertentunya. Tidak hanya itu saja, ia juga merasa sangat lemah dan lemas.
“Jangan bergerak terlebih dahulu. Kekuatan mu masih belum pulih.” Suara yang tiba-tiba terdengar membuat Cai Lan pun menoleh ke arah sumber suara, dimana dirinya pun langsung membelalakkan kedua matanya dengan seluruh wajahnya sudah berubah menjadi merah padam.
“A..” Satu kata yang keluar dari mulut Cai Lan membuat Ling Feng mengangkat sebelah alisnya dan refleks mengikuti apa yang ia ucapkan.
“Aahhhhhhhhhhhh.........!!!” Cai Lan menjerit sangat kencang membuat Ling Feng yang mendengar jeritan kencang Cai Lan pun tersentak kaget. Ling Feng yang mendengar jeritan kencang itu mendekati Cai Lan secara perlahan hendak menenangkan nya, namun suatu hal yang tidak terduga pun terjadi, karena Ling Feng secara tidak sengaja terpeleset dan terhuyung ke depan ke arah Cai Lan.
Ling Feng yang terhuyung pun secara tidak sengaja memegang jubah yang menutupi tubuh Cai Lan dan menariknya membuat tubuh polos Cai Lan tanpa sehelai benang pun terpampang jelas tepat di kedua mata Ling Feng. Ling Feng terdiam beberapa saat, sampai dirinya sepasang matanya pun menatap mata Cai Lan dimana wajah gadis tersebut sudah berubah sangat merah, semerah kepiting rebus.
“T-tunggu dulu... Aku benar-benar tidak sen-“ Ucapan Ling Feng yang hendak menjelaskan langsung di potong begitu saja oleh Cai Lan yang jeritan wanita tersebut, bahkan jeritannya kali ini jauh lebih kencang ketimbang beberapa saat yang lalu.
“Kyaaaaaaa...! Dasar mesum!” Teriak Cai Lan seraya menggerakkan satu kakinya dan mengambil ancang-ancang menendang wajah Ling Feng sangat keras sampai-sampai membuat pria tersebut melesat ke belakang karena tidak siap bahwa dirinya akan di tendang seperti itu.
Baaaammm...!
“Kughhhkkk...?!” Suara yang keluar dari mulut Ling Feng seraya memegangi wajahnya yang sedikit terasa nyeri, karena tidak menyangka wajahnya akan di tendang seperti itu.
Melihat Ling Feng yang terpental, Cai Lan berniat pergi dari sana, sembari mengambil jubah serta pakaiannya, Cai Lan pun hendak pergi dari sana. Akan tetapi, ketika dirinya hendak berlari, secara tiba-tiba tubuhnya kembali merasa sangat lemah dan tidak bertenaga sama sekali.
“Ugkhhhh itu tadi sedikit nyeri, dengarkan du...” Ucapan Ling Feng terhenti dan langsung bergerak cepat menahan tubuh Cai Lan yang hendak jatuh ke tanah. Wanita itu bahkan terkejut ketika Ling Feng tiba-tiba menahan tubuh nya. Tepat wanita tersebut hendak mengatakan sesuatu, Ling Feng dengan cepat memotongnya.
“Menj-“ Ucapan Cai Lan langsung di potong cepat oleh Ling Feng.
“Sudah kubilang jangan bergerak dahulu! Tubuhmu masih lemah sekarang.” Ujar Ling Feng dengan nada cukup tinggi memotong perkataan Cai Lan. Mendengar suara yang sangat jelas keluar dari mulut Ling Feng, membuat tubuh wanita tersebut kembali menegang dimana Ling Feng pun bisa merasakan nya.
Ling Feng pun menatap wajah Cai Lan, dimana wanita itu sudah memadang balik wajah Ling Feng dengan pandangan yang kosong dan kedua pupil mata nya sudah bergetar. Melihat hal itu, tentunya Ling Feng mengangkat sebelah alisnya karena tidak mengerti arti tatapan tersebut. Sampai detik kemudian, Cai Lan pun berkata membuat Ling Feng yang mendengar itu pun tersentak kaget.
“S-suara itu. J-jadi semua itu bukan mimpi.” Ucap Cai Lan dengan pandangan kosong menatap Ling Feng yang membuat dirinya terdiam membisu, karena entah mengapa ia paham dengan maksud dari ucapan tersebut.
>>>>>> Bersambung
~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya dengan saran dan ulasan nya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku