Pendekar Yin - Yang

Pendekar Yin - Yang
V2 Iblis Yang Menyamar


“Ternyata masih ada bangsa iblis yang menggunakan otaknya ya.” Ucap jendral kota terkekeh kecil lalu kembali menyerang.


Ctangggg


“Kalau begitu mari tentukan siapa yang mempunyai mata lebih jeli diantara kita.” Jendral kota melanjutksn perkataannya menyeringai lebar bersamaan dengan aura yang sangat kuat lepas dari dalam tubuhnya. Lu Sii menggertakan giginya, kali ini ia benar-benar tidak ada pilihan lain lagi selain melawan jendral kota dengan serius.


Sementara Itu Jauh Di Kota Cheng Du


“Kughhkkk. Orang itu... Jika sudah menemukan lawan yang kuat saja, semangat bertarungnya sangat kelihatan sekali dari aura yang terpancar keluar dari tubuhnya.” Ucap seorang yang mempunyai wajah serupa dengan jendral kota. Bahkan saat ini, penampilannya sangat mirip dengan jendral kota, ketika menggunakan zirah perang.


“Ya sepertinya di bagian sana baik-baik saja untuk saat ini. Untuk sekarang, aku harus membasmi petinggi iblis lainnya yang menyusup ke kota Cheng Du.” Gumam orang tersebut yang tidak lain adalah ajudan yang merupakan tangan kanan wali kota Bing. Ia tidak sendiri, dirinya membawa beberapa prajurit elit kota untuk menyelsaikan tugasnya.


“Kalau tidak salah, di sinilah tempat yang ditunjukan oleh pengikut tuan muda itu.” Gumam ajudan wali kota sekali lagi mengkonfirmasi tempat yang telah di beritahu oleh Pang Lang. Ia menyapu pandangan nya terhadap tempat tersebut. Perasaan tidak nyaman yang ia rasakan memperkuat dugaannya bahwa tempat dihadapannya saat ini adalah tempat yang Pang Lang katakan.


“Perasaan ku benar-benar sangat tidak nyaman dengan tempat ini.” Gumam ajudan tersebut merasakan perasaan muak dari aura yang terpancar dari tempat tersebut. Ia lalu melirik ke arah prajut elit kota yang bersamanya. “Mulai bergerak dan bunuh siapa saja yang terlihat. Bahkan jika yang terlihat itu adalah seorang anak kecil.” Ucap sang ajudan dengan tegas.


Perintah yang diberikan sang ajudan tentu membuat para prajurit kota terkejut dan saling pandang. Walaupun begitu, mereka tidak berani bertanya, karena raut wajah ajudan menunjukkan tanda-tanda bisa di bantah.


“Aku tahu kalian ragu dengan perintah ku, tapi yakinlah kalian akan mengerti setelah melakukannya.” Ucap sang ajudan. Para prajurit elit hanya diam saja, tidak ada yang berniat untuk membantah ataupun menambahkan perkataan sang ajudannya. Melihat reaksi prajurit yang hanya diam saja, tidak terlalu dipedulikan oleh sang ajudan.


“Kalau begitu mulai berpencar sekarang!” Ucapnya dengan tegas memberikan perintah memberikan aba-aba untuk bergerak secara sendiri-sendiri. Dalam sekejap, sepuluh prajuti elit langsung berpencar entah kemana meninggalkan sang ajudan sendirian di sana.


Ia menghela nafas sejenak lalu mendongakan kepalanya ke salah satu bangunan tua yang terbesar di sana. “Baiklah... Aroma paling menjijikan berasal dari bangunan tua itu. Sepertinya aku memang harus ke sana.” Ucap sang ajudan memandang serius ke arah satu bagunan tua dan langsung melesat ke arah bangunan tersebut.


Tanpa di sadari oleh sang ajudan dan prajurit elit kota, Orang yang memberikan intruksi kepada mereka untuk datang ketempat tersebut, sedang mengawasi mereka dari langit-langit atap bangunan di sana, dan detik kemudian langsung menghilang bersamaan dengan awan gelap yang muncul dan menghilang setelah beberapa menit.


“Mulai bergerak dan bunuh siapa saja yang terlihat. Bahkan jika yang terlihat itu adalah seorang anak kecil.” Perkataan sang ajudan terngiang-ngiang di kepala salah satu prajurit elit.


“Membunuh manusia bahkan jika itu seorang anak kecil? Apakah memang harus sampai seperti itu? Bukankah terlalu berlebihan jika itu membunuh anak-anak.” Batinnya prajurit kota tersebut yang mana, ia langsung berhenti bergerak dengan pikiran yang berkecamuk dalam kepalanya. Perkataan yang di ucapkan oleh sang ajudan benar-benar sangat bertentangan dengan prinsip prajurit tersebut.


Pada saat ia bagian di dalam dirinya saling berargumen keras, pada saat itulah ia merasakan kehadiran hawa seseorang. Sontak prajurit elit itu langsung memasang sikap waspada seraya mengeluarkan pedangnya.


Tentunya prajurit tersebut terkejut bukan main ketika melihat kehadiran anak laki-laki tersebut. Kewaspadaan nya pun langsung menurun ketika melihat anak laki-laki tersebut. Prajurit elit itu langsung melunak menyarungkan kembali senjatanya dan menyejajarkan tingginya dengan anak laki-laki tersebut.


Pada saat ingin di sentuhnya, anak laki-laki refleks melangkah mundur. Membuat tangan prajurit tersebut menjadi kaku. “Ahh tenang saja nak. Aku tidak berniat jahat kepada mu. Aku hanya ingin bertanya kepada mu, mengapa dirimu bisa ada di sini?” Tanya prajurit elit tersebut dengan nada lemah lembut.


Anak laki-laki itu pun menunjukkan reaksi terkejut disertai dengan tubuh yang bergetar. Terlihat anak kecil itu sedang memeluk sesuatu, namun tidak terlihat jelas apa yang ia peluk tersebut. Prajurit tersebut itu pun kembali berkata dengan nada menenangkan sekali lagi. “Apakah kau tersesat di sini? Kalau iya, mari ikut paman. Tempat ini sangat berbahaya, mari paman antarkan keluar dari sini.” Ucap prajurit tersebut membujuk dengan nada lemah lembut seraya mengulurkan tangannya.


Anak kecil itu pun perlahan mendekati sang prajurit. Melihat itu, dirinya pun berpikir bahwa perintah dari sang ajudan merupakan tindakan yang cukup keterlaluan. Pada akhirnya ia mengabaikan perintah dari sang ajudan. Anak kecil itu menerima uluran dari sang prajurit dan berkata dengan senyum cerah, “T-terima kasih paman prajurit.” Ucapnya dengan sorot mata yang terlihat jernih dan itu membuat prajurit itu semakin yakin bahwa perintah tuannya itu adalah sebuah kesalahan.


“Tidak mungkin sosok iblis yang menyamar dapat menunjukkan ekspresi polos dan tulus seperti itu.” Pikir dari sang prajurit. Dirinya pun langsung menuntun anak laki-laki tersebut untuk keluar dari kompleks mengerikan tersebut. Namun, pikirannya itu salah besar, pada saat ia benar-benar sudah menurunkan penjagaan nya, tanpa disadari prajurit tersebut, anak laki-laki itu langsung secara kasar menghempaskan tangan prajurit dan mengeluarkan pisau yang di sembunyikan tepat di lengan bajunya. Tentunya prajurit tersebut terlambat bereaksi dari hal itu, tepat ketika ia menoleh ke belakang, terlihat jelas bahwa anak laki-laki polos itu telah lenyap dalam sekejap, digantikan dengan anak laki-laki yang penuh dengan niat membunuh menerjang ke arahnya.


“Mati kau manusia!” Teriak keras anak laki-laki itu seraya memasang ekspresi yang sangat mengerikan. Akan tetapi, sesuatu yang tidak terduga terjadi,


Shringggg


Dalam seperkian detik itu, tiba-tiba muncul prajurit lainnya dengan kecepatan tinggi seraya menghunuskan pedangnya menebas cepat anak laki-kali tersebut membelahnya menjadi dua dalam sekali serang.


“Teknik Pedang Guntur Gerakan Kedua: Kilat Membelah Langit.”


Crasssshhhh


Tebasan secepat kilat yang memotong tubuh anak laki-laki itu menjadi dua dan di susul dengan darah hitam yang keluar deras dari tubuh anak laki-laki tersebut. Prajurit yang lengah tadi, membuka kedua matanya lebar-lebar lalu menatap punggung prajurit yang baru datang itu, tidak lain adalah temannya.


Temannya yang baru datang itu langsung menoleh menatap prajurit yang hampir di bunuh oleh anak laki-laki tadi dan berkata, “Kau telah gagal menjadi prajurit elit, semenjak kau meragukan keputusan yang di buat oleh pemimpin.” Ucap prajurit tersebut dengan nada acuh tak acuh dan langsung kembali menghilang dari sana.


"Renungilah tindakkan ceroboh mu itu, jika kau merasa sebagai prajurit elit kota." Ucapnya sebelum menghilang.


>>>>>> Bersambung


~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.