Pendekar Yin - Yang

Pendekar Yin - Yang
Sebuah Motivasi


Setelah mengatakan hal tersebut tetua tersebut sudah siap akan apa yang akan terjadi kepadanya. Ia bahkan menutup kedua matanya.


Lima detik


Sepuluh detik


Tidak terjadi apa-apa. Ia lantas membuka kedua matanya perlahan melihat reaksi dari kepala keluarga Guan. Tetua itu terkejut melihat kepala keluarga Guan hanya menampilkan wajah biasa saja. "Cihhhhh anak bodoh itu melakukan hal semudah itu, masih saja gagal." Umpat kepala keluarga Guan.


Tetua yang mendengar umpatan itu benar-benar terkejut. Dirinya tidak menyangka bahwa orang didepannya ini malah berkata seperti itu kepada anaknya sendiri. "Padahal sudah pergi dengan dua pengawal elit, dan itu masih saja tidak bisa melakukan perintah ku yang pinta? benar-benar membuang-buang orang terpilih ku saja." Umpat lagi kepala keluarga Guan.


"Sudahlah tetua abaikan saja tentang kematiannya, tapi…" Kata kepala keluarga Guan sembari menoleh kepada tetua tersebut. "Selidiki orang yang membunuh tuan muda kedua. Entah bagaimana kematian yang dialami anak bodoh itu, aku sama sekali tidak peduli. Hanya saja orang yang membunuhnya akan menjadi titik permasalahan ini. Oleh karena itu, selidiki dengan detail dan cermat." Kata kepala keluarga Guan pergi dari sana.


Tetua yang melaporkan hal tadi, menganggukan kepalanya memberi hormat lalu pergi dari sana untuk menyiapkan tim penyelidik. "Cihhhhh tugas mudah seperti itu saja masih gagal. Jika begini terus akan jadi masalah nantinya." Batin kesal kepala keluarga Guan.


Kembali ke Ling Feng


"Setelah ini apa yang akan kau lakukan Feng?" Tanya Qing Xian kepada Ling Feng. Ling Feng yang mendengar itu pun menjawabnya. "Ya awalnya rencana ku itu…Setelah menghadiri jamuan, aku akan melakukan pelatihan tertutup." Jawab Ling Feng.


Qing Xian yang mendengar itu terdiam mendengarnya. Lantas ia berkata. "Sudah sekuat ini kau masih ingin melakukan pelatihan tertutup? Sebenarnya kau sudah berada diranah apa?" Tanya Qing Xian yang penasaran. "Kultivasi ku sudah di ranah Bumi bintang 1." Jawab Ling Feng tanpa beban.


"R-ranah bumi bintang 1." Qing Xian yang mendengarnya terkejut bukan main. "Kau sudah sekuat itu dan sekarang masih ingin melakukan pelatihan tertutup?" Kata Qing Xian tidak menyangka. Ling Feng yang mendengar itu terkekeh. "Kuat, kah…Jadi menurut mu aku ini sudah kuat ya…" Kata Ling Feng lagi.


"Setelah melakukan penghancuran besar-besaran seperti itu kau masih menganggap bahwa kau bukan orang kuat?" Kata Qing Xian. Ling Feng yang mendengar itu menggelengkan kepalanya lalu berkata. "Aku pernah diberitahu oleh paman Tian. Jika seseorang puas hanya dengan sebuah pencapaian kecil, lebih baik baginya jangan pernah untuk menapaki jalan kultivasi." Kata Ling Feng lalu ia berkata kembali.


"Karena jalan kultivasi itu tidak terbatas dan penuh dengan kesulitan tiada tara. Di benua ini masih banyak orang yang lebih kuat dari ku. Jika aku puas hanya dengan pencapaian kecil seperti ini saja, yang ada kultivasi ku akan terhambat nantinya dan tidak ada kemajuan. Terlebih lagi…semakin kuat diriku, maka akan semakin aman orang yang kusayang." Kata Ling Feng lalu tersenyum.


Qing Xian yang mendengar itu takjub dengan alasan Ling Feng yang ingin menjadi kuat. Ia bahkan sedikit melirik Ling Feng ketika berkata seperti itu. Pada saat Ling Feng berkata seperti itu dirinya benar-benar terpesona kepadanya.


"Bagaimana dengan mu Xian'er." Tanya Ling Feng kali ini kepada Qing Xian. "Bagaimana apa nya." Tanya balik Qing Xian. "Apa motivasi mu menapaki jalan kultivasi?" Tanya Ling Feng. Mendengar hal itu Qing Xian lalu menatap kedepan lalu berkata. "Sejujurnya aku sendiri pun tidak tau kenapa aku menapaki jalan kultivasi. Apakah karena ingin menjadi kuat saja? atau karena ingin melindungi keluarga ku saja? Aku sendiri tidak paham akan hal itu. Bahkan sampai kala itu aku tidak paham kenapa aku harus menapaki jalan kultivasi. Tapi…" Kata Qing Xian.


"Tapi…" Ling Feng mengikuti perkataan Qing Xian yang terakhir. Qing Xian melanjutkan perkataannya. "Tapi, Sekarang aku mengerti kenapa aku harus menapaki jalan kultivasi ini. Dan itu semua berkat perkataan dirimu yang membuat ku termotivasi untuk menapakinya lebih jauh lagi." Kata Qing Xian lalu tersenyum manis kepada Ling Feng. Ling Feng yang melihat senyuman itu sedikit terperangah, namun senyuman Qing Xian seperti sihir yang membuatnya ikut tersenyum juga ketika melihatnya.


"Aku akan menapakinya, aku tidak akan lari lagi, aku ingin menjadi kuat, aku tidak ingin menjadi beban baginya karena aku ingin terus berada disampingnya karena itu aku akan menjadi kuat untuk bisa berjalan berdampingan dengannya." Batin Qing Xian bertekad.


"Begitukah…Senang mendengarnya jika kau termotivasi akan kata-kata ku. Maka berjuanglah dan jika kau membutuhkan sesuatu bilang saja kepada ku. Jika itu masih dalam jangkauan ku maka sebisa mungkin akan kulakukan." Kata Ling Feng.


"Benarkah…Apapun itu yang dalam jangkauan mu." Kata Qing Xian tersenyum. Ling Feng yang melihat senyuman itu merasakan hawa dingin menusuk ke tengkuk nya. "I-iya selama itu masih mampu ku lakukan." Kata Ling Feng dengan gugup.


"Kalau begitu aku memintanya sekarang boleh?" Qing Xian berkata seperti itu dengan suara pelan sembari menundukkan kepalanya. Ia tidak berani menatap langsung Ling Feng ketika berkata seperti itu, karena sangat malu "Eh…Sekarang juga?" Ling Feng tidak menyangka bahwa Qing Xian akan memintanya sekarang. Ingin menarik perkataannya, tapi harga dirinya menolak hal itu.


"Baiklah apa yang kau inginkan." Kata Ling Feng menghela nafas pasrah. "P-pe-peluk aku." Kata Qing semakin dalam menundukkan kepalanya ia menyembunyikan wajahnya di tubuh Lin kecil yang sedang tidur dalam pelukannya. Ling Feng yang mendengar itu terdiam berhenti melangkah. Qing Xian pun ikut berhenti melangkah, namun ia berhenti tepat di depan Ling Feng memunggungi nya.


Ling Feng berharap telinganya salah dengar. Ia lantas meminta Qing Xian untuk mengatakan kembali. "X-xian'er kau bilang apa tadi." Kata Ling Feng yang berharap bahwa ia salah dengar.


Namun melihat dari reaksi Qing Xian yang tidak terdiam tidak mau berkata apa-apa. Sepertinya ia memang tidak salah dengar tadi. Ling Feng bahkan dapat melihat kepulan asap keluar dari puncak kepala Qing Xian.


Di satu sisi Qing Xian mengutuk dalam-dalam dirinya karena mengatakan hal itu. "Bodoh, bodoh, Qing Xian bodoh. Kenapa kau malah meminta hal memalukan seperti itu." Batin Qing Xian menyumpahi dirinya sendiri. "Akhhhhh malu sekali…Aku ingin mati rasanya…Ling Feng pasti menganggap diriku ini, wanita yang sangat agresif padahal tidak ada apa-apa diantara kita berdua." Batin Qing Xian berpikir berlebihan.


Sampai sebuah sesuatu yang tidak terduga terjadi. "Ehh…A-apa ini." Batin Qing Xian disertai jantungnya berdetak lebih kencang.


>>>>>> Bersambung