Pendekar Yin - Yang

Pendekar Yin - Yang
Kemarahan dan Kematian Sang Kakak


Aura kuat tersebut keluar dari Sang kakak. Ling Feng sendiri hanya membiarkan saja itu terjadi.


"Mati, mati, mati!!!" Teriak sang kakak sembari meledakkan auranya kuat. Ling Feng sedikit mundur menjaga jarak dari sang kakak. Sabit miliknya langsung berubah warna yang awalnya berwarna perak kini mengeluarkan aura kemerahan yang sangat kuat.


Ling Feng yang merasakan aura kematian itu sungguh sedikit terperangah. "Hehhhhh seberapa banyak orang yang telah kau bunuh dengan sabit itu sampai-sampai mempunyai aura sepekat itu." Kata Ling Feng terperangah.


Guan Long yang ikut juga merasakan itu bergetar seluruh tubuhnya merasakan aura kematian yang sangat mengerikan. "Lari. Aku harus lari dari sini jika tidak ingin mati." Batin Guan Long yang sudah ketakutan dan mengambil ancang-ancang untuk pergi dari sana.


Baru saja ia ingin melesat pergi, tanpa ia sadari sesuatu yang sangat cepat menembus bahunya.


Shirngggg


Swusssshhhh


"Akhhhhhhhhhhhhhhh sakit!" Teriak Guan Long kejar sembari berusaha ingin melepaskan pedang yang meluncur mulus tepat di bagian bahunya. "Aku tidak bisa mencambut pedang ini dari bahu ku?!" Batin Guan Long panik. Ia lantas melihat pedang tersebut dan terkejut ketika melihat yang menancap mulus di bahunya itu. Guan Long lalu mengalihkan pandangannya ke Ling Feng yang telah melemparkan pedangnya itu ke arahnya.


"Jangan pernah berharap untuk pergi dari sini. Urusan mu dengan ku masih belum selesai. Jadi tunggulah dengan tenang seperti anak baik." Kata Ling Feng acuh tak acuh menatap dingin Guan Long. Mendengar itu Guan Long menggertakkan giginya antara merasakan sakit di bahunya dan marah serta kesal akibat tingkah Ling Feng.


Ling Feng melemparkan pedang hitam miliknya menahan Guan Long untuk tidak kabur dari sana. "Cihhhhh setelah membuat seperti ini kau ingin pergi begitu saja?! Enak sekali hidupmu datang lalu main pergi saja?!" Kata Ling Feng berdecak kesal.


Ling Feng lantas mengalihkan pandangannya ke sang kakak yang masih memeluk jasad adiknya yang tanpa kepala itu. Tidak lama kemudian ia meletakkan nya di tanah lalu dirinya sendiri bangkit.


Sang kakak menatap tajam sembari melancarkan niat Membunuhnya yang sangat besar kepada Ling Feng. Ling Feng yang merasakan penindasan tersebut, meresponnya dengan terkekeh saja. "Sudah selesai maka kita akan lanjut kembali." Kata Ling Feng melesat kembali dengan cepat menggunakan pedang putihnya.


"Teknik Sembilan Matahari: Tebasan Gelombang Matahari." Kata Ling Feng sembari mengayunkan pedangnya vertikal. Sang kakak hanya diam saja melihat serangan Ling Feng. Lalu pada saat teknik berpedang Ling Feng mengenainya, ia langsung menghilang dari tempat ia berpijak. Ling Feng yang melihat itu langsung menengok ke kiri dan merubah arah ayunannya.


Thinggg


Wushhhh


Pedang putih Ling Feng beradu dengan pegangan sabit dari sang kakak. Ling Feng yang melihat itu diam menatap serius. Sedangkan sang kakak sudah menatap tajam dan niat membunuh yang masih belum berkurang sama sekali.


Sang kakak langsung menghempaskan Ling Feng dan menyerang balik dengan sangat cepat. Ling Feng yang sudah menghafal pola serangan dari sang kakak, dengan mudah menghindarinya.


Sang kakak tidak berhenti disitu saja, ia bahkan lebih gencar melancarkan serangannya saat itu. Ling Feng benar-benar tidak diberi kesempatan selain hanya bisa menghindar saja. "Teknik sabit kematian: Malam Darah." Kata Sang kakak menyebutkan nama teknik sabitnya.


Ia mengayunkan sabitnya dengan mudah layaknya sabit tersebut seperti bagian dari tubuhnya sendiri. Bahkan kecepatannya saja bukan main-main. Ling Feng memperkuat genggaman pedang serta kuda-kuda berpedangnya dan menahan ayunan demi ayunan sabit tersebut.


"Bunuh! Bunuh! Bunuh! Akan kubunuh…!" Kata yang keluar dari mulut sang kakak. Sang kakak meningkatkan kecepatan ayunan menjadi lebih cepat lagi. Ling Feng juga tidak mau kalah, ia juga melalukan hal yang sama mempercepat tebasan pedangnya. Dentuman demi dentuman saling bersautan antara sabit sang kakak dengan pedang putih Ling Feng.


Saking cepatnya, sepasang mata saja tidak mungkin bisa mengikuti alur pertarungan tersebut. Keduanya benar-benar sangat cepat kali ini. Ling Feng memilih menjauh berniat mencari celah sang kakak. Sang kakak yang melihat itu tidak membiarkan Ling Feng pergi.


"Teknik Sembilan Matahari: Api Abadi." Kata Ling Feng melesat dari udara menuju ke arah sang kakak dengan kecepatan tingginya. Sang kakak juga tidak tinggal diam ia juga maju menghadapi Ling Feng juga saat itu. "Teknik sabit kematian: Bulan Merah." Kata sang kakak ikut maju juga dan…


Booooommmm


Ledakan yang sangat kuat akibat benturan antara kedua teknik tersebut. Hal itu benar-benar membuat tanah bergetar sangat kencang sekali.


Di Kota Anyi


Booooommmm


"Itu Feng'er." Kata Long Tian. To Mu yang mendengar itu langsung melesat menuju sumber suara tersebut diikuti oleh Long Tian dibelakang. Kepala keluarga Qing dan Zi Liu yang dapat mendengar ledakan keras tersebut juga ikut mengekori dibelakang Long Tian menuju sumber suara.


Keempat orang itu dengan kecepatan penuh mereka segera melesat menuju sumber ledakan tersebut untuk mencari Ling Feng dan Qing Xian.


Kembali ke Ling Feng


Guan Long yang melihat pertarungan dahsyat itu sudah bergetar ketakutan ketika melihat dampaknya. Ia bahkan tidak sadar bahwa sudah buang air kecil di celana saking takutnya ketika melihat dampak serangan balik dari pertarungan tadi.


Tempat disana benar-benar sangat hancur lebur kawan sedalam lima puluhan an sudah tercetak luas disana. Area jangka radius hampir seratus meter sudah banyak yang hancur akibat dari dampak pertarungan tersebut.


Terlihat didasar kawah ada dua orang yang satunya masih tegak berdiri dan satunya lagi sudah bertekuk lutut. Orang yang bertekuk lutut benar-benar kritis seluruh anggota tubuhnya. Satu tangan sudah hilang, bahkan anggota tubuh bagian atasnya sudah berlubang sembari meneteskan banyak darah dari sana.


"Pertarungan yang sangat menarik aku tidak akan melupakan ini. Kau benar-benar sangat kuat paman." Kata sosok yang berdiri tegak yang tidak lain adalah Ling Feng. Sang kakak sudah benar-benar kalah telak pada saat adu teknik tadi.


Daripada Ling Feng, ia menerima serangan balik yang cukup parah bahkan tubuhnya kini sudah berlubang semua akibat dari serangan balik teknik pedang Ling Feng. Sedangkan Ling Feng hanya rusak pakaian lengan kanannya saja, ia benar-benar babak belur namun tidak sampai terluka.


"Bunuh aku, aku sudah kalah aku sudah tidak pantas lagi untuk hidup lagi saat ini. Daripada menunggu kematian ku lebih baik kau bunuh saja aku." Kata sang kakak yang masih bertekuk lutut.


"Permintaan terakhir mu hanya itu saja?" Tanya Ling Feng. Sang kakak yang mendengar itu awalnya terkejut bahwa Ling Feng masih menawarinya permintaan yang lain. Namun, ia tidak memikirkan hal itu dan berkata kembali. "Tolong bawa jasad adik ku kemari. Aku ingin selalu berada disampingnya dikala kematian menjemput kami." Kata sang kakak.


Ling Feng yang mendengar itu menganggukkan kepalanya lalu menggerakkan tangannya mengambil jasad yang berada di permukaan tanah diatas sana. Lalu ia membaringkannya tepat disamping sang kakak yang masih bertekuk lutut.


"Apakah ini sudah cukup?" Kata Ling Feng lagi. "Ya ini saja sudah cukup terima kasih sudah mau melakukan permintaan terakhir ku." Kata sang kakak menandakan kepalanya tersenyum kepada Ling Feng. Ling Feng tersenyum lalu langsung menebas kepala sang kakak sama seperti adiknya.


Shringgggggg


"Ya anggap saja aku berterima kasih atas pertarungannya tadi." Kata Ling Feng tersenyum lalu menguburkan kedua jasad tersebut kedalam tanah. "Baiklah disini selesai. Sekarang hanya tinggal satu lagi." Kata Ling Feng menghilang dari sana.


>>>>>> Bersambung