Pendekar Yin - Yang

Pendekar Yin - Yang
V2 Masalah Yang Tidak Ada Habisnya


“Baiklah, baiklah, jika ingin pergi beli sesuatu pergilah. Lalu pergilah ke gerbang barat setelah waktu menunjukkan tengah hari.” Ucap Ling Feng seraya mengisyaratkan pintu keluar yang berada di barat Kota Awan Emas. “Dimengerti... Kalau begitu, terima kasih tuan muda.” Ucap Ren Hu dengan semangat empat lima lalu bergegas pergi menjauh dari Ling Feng.


Ling Feng menggeleng-gelengkan kepalanya dan sadar bahwa Pang Lang masih berada di sisinya. “Paman tidak ingin pergi ke sesuatu tempat begitu?” Tanya Ling Feng. “Tidak perlu tuan muda. Lagipula aku sedang tidak membutuhkan apapun dan tidak berniat untuk melakukan apapun." Jawab Pang Lang.


“Tidak perlu menahan diri Paman Lang. Aku sendirian baik-baik saja kok.” Ucap Ling Feng, namun tanggapan Pang Lang masih tetap sama. “Aku tidak apa-apa tuan muda. Tolong izinkan aku untuk menemani Anda.” Ucap Pang Lang lagi.


“Jika kau memang ingin seperti itu, maka aku tidak akan mencegahnya.” Ucap Ling Feng melangkah masuk ke dalam kerumunan warga dengan Pang Lang yang mengekor di belakangnya. Ling Feng pun memutuskan untuk pergi ke salah satu kedai makanan. Ia berniat untuk mencari rempah-rempah, karena persediaan rempah-rempahnya telah habis.


>>>>>_____


“Semuanya jadi satu keping koin perak.” Ucap seorang pelayan perempuan dengan ramah seraya memberikan keranjang kayu yang berisikan berbagai jenis rempah-rempah kepada Ling Feng.


“Terima kasih.” Ucap Ling Feng seraya mengeluarkan satu koin perak kepada pelayan wanita tersebut dan memasukan keranjang kayu itu ke dalam cincin ruang nya. Pelayan wanita itu tersenyum kepada Ling Feng.


Setelah selesai bertransaksi, Ling Feng bangkit dari tempat duduknya pergi meninggalkan kedai makanan tersebut. Awalnya Ling Feng ingin menunggu dengan cara menikmati hidangan di kedai makan tersebut sampai tengah hari, namun ia mencari suasana yang baru dengan mengelilingi kota.


“Paman Lang kau sungguh-sungguh tidak ingin membeli sesuatu begitu?” Ling Feng kembali mengajukan pertanyaan kepada sosok berjubah hitam yang mengekor di belakangnya. Ling Feng sudah memintanya untuk berjalan di sisinya saja, namun Pang Lang berkata bahwa ia merasa tidak sopan jika berjalan berdampingan dengan dirinya, Ling Feng hanya bisa menghela nafas panjang melihat sikap Pang Lang yang seperti itu dan membiarkan apa yang dirinya inginkan.


“Aku tidak memerlukan apa-apa tuan muda. Tuan muda tidak perlu khawatir akan hal tersebut.” Ucap Pang Lang. “Ya sudah jika kau berkata seperti itu.” Ucap Ling Feng lalu kembali fokus berjalan kedepan, namun ketika ia menghadap ke depan, terlihat ada sekelompok orang yang melingkar di sana. Ling Feng tertarik akan hal yang terjadi di depannya. Tidak, lebih tepatnya ia penasaran.


Dirinya pun mendekat ke arah sana dengan cara sedikit lebih memaksa masuk, untuk melihat apa yang membuat orang-orang menarik perhatiannya. Pada saat itulah Ling Feng melihat ada beberapa orang yang berpakaian mencolok, sedang berdiri angkuh di hadapan sosok berjubah hitam dan dua orang anak kecil.


“Tunggu. Sosok berjubah hitam?” Batin Ling Feng lebih memperhatikan lagi sosok berjubah hitam yang terlihat familiar dalam pandangannya. Yap tidak salah lagi, sosok berjubah hitam itu adalah Ren Hu yang mana wajah cantiknya saat ini tidak tertutupi tudung jubah saat ini. Terlihat ia sedang memeluk dua orang anak kecil yang terlihat bergetar ketakutan di hadapan beberapa orang yang berpakaian mencolok serta merta memasang wajah angkuh. Diantara sekelompok orang tersebut, ada satu sosok pemuda yang berdiri tepat di depan Ren Hu dengan wajah yang sombong luar biasa.


“Masalah sepertinya memang tidak bisa jauh-jauh dariku.” Gumam Ling Feng seraya menghela nafas pendek.


>>>>>_____


“Oi wanita jal*ng. Beraninya rakyat jelata seperti mu tidak mematuhi perintah tuan muda kami. Apakah kau sudah bosan hidup, hahh?! Cepat bersujud minta maaf kepada tuan muda jika kau masih sayang nyawa.” Ucap salah satu dari kelompok orang yang mengintimidasi Ren Hu dan dua anak kecil dalam pelukannya.


“Minta maaf...? Jangan bercanda dengan ku. Jelas-jelas kau yang salah, karena telah dengan sengaja menyenggol tubuh anak ini. Kenapa kami yang harus minta maaf?” Sanggah Ren Hu seraya menggertakkan giginya.


“Apa kau bilang?! Berani-berani nya kau meminta tuan muda kami untuk meminta maaf, jal*ng tidak tahu diri!” Ucap kembali orang tersebut dengan nada tinggi, hendak menarik pedangnya, namun di tahan oleh sosok yang di panggil tuan muda oleh orang yang sebelumnya.


“Penjaga... Jangan bertindak tidak sopan seperti itu kepada perempuan.” Ucap sosok yang dipanggil tuan muda itu menegur prajuritnya.


“Ba-baik tuan muda.” Timpal penjaganya dan kembali diam dengan raut wajah kembali biasa acuh tak acuh. Sosok tuan muda itu lantas memasang senyuman di wajahnya, namun Ren Hu yang melihat senyuman itu, mengetahui arti di balik senyuman penuh niat busuk tersebut.


Akan tetapi, dibalik senyuman tersebut, Chu Xin memang mempunyai niat jahat yaitu, hendak menikmati tubuh Ren Hu tentunya.


“Cihhh... Orang munafik seperti dirimu, tidak layak untuk mengetahui namaku.” Ucap Ren Hu dengan nada tidak senang dan wajah jengkel meludahi wajah Chu Xin. Melihat tindakan Ren Hu yang berani, para warga dan prajurit Chu Xin terkejut dengan tindakannya yang terbilang sangat berani.


Chu Xin yang dipermalukan seperti itu pun seketika amarahnya langsung naik, dan menunjukkan sifat aslinya. “JAL*NGGGG!!! BERANI-BERANINYA KAU MENGHINA TUAN MUDA SEPERTI KU!” Teriak Chu Xin dengan sangat lantang, raut wajahnya pun berubah drastis seratus delapan puluh derajat, menunjukkan sifat asli yang sebenarnya.


Ia sontak melirik ke anak buahnya dan berkata, “Kalian semua! Bunuh dua orang anak kecil itu dan tangkap wanitanya! Berani-beraninya jal*ng sepertinya berkata seperti itu kepada diriku yang tuan muda ini.” Chu Xin yang memerintahkan penjaganya.


Para penjaga Chu Xin pun langsung bergegas melingkari Ren Hu dan kedua anak kecil yang berada di pelukan nya pun semakin gemetar, karena ketakutan yang luar biasa. Ren Hu yang melihat itu tentunya tidak panik, mengurus sekelompok sampah yang ada di hadapan nya ini bukanlah menjadi masalah baginya, namun dua anak kecil yang berada dalam perlindungan nya lah yang menjadi masalah. Melindungi sembari bertarung adalah dua tugas yang cukup sulit.


“Tunggu apa lagi. Cepat lakukan perintah ku!” Teriak Chu Xin kepada penjaganya dan satu lusin penjaganya pun mengangguk dan bergerak secara bersamaan menerjang ke arah Ren Hu. Chu Xin yang melihat itu menyeringai jahat dan membatin,


“Kekeke... Rasakan itu jal*ng... Itulah akibatnya jika kau berani menghina ku di depan umum.” Batin Chu Xin.


Namun, sesuatu yang tidak terduga oleh Chu Xin pun terjadi. Seperkian detik sebelum para penjaga menyerbu ke arah Ren Hu. Tiba-tiba, di tengah-tengah siang hari buta, muncul kilatan petir yang mengelilingi Ren Hu diikuti sosok berjubah hitam lainnya.


“Teknik Halilintar Langit Gerakan Kedua: Tebasan Kilat Petir.” Gumam sosok tersebut diikuti dengan munculnya petir yang berbentuk lingkaran besar mengelilingi Ren Hu dan sosok berjubah hitam itu, menghempaskan seluruh penjaga Chu Xin.


Ctarrrrr


Boooommm


Chu Xin yang melihat kejadian yang terlalu cepat itu membelalakkan kedua matanya terkejut bukan main, melihat para penjaganya di hempaskan dalam sekali serang. Bukan hanya Chu Xin saja, para warga yang menonton itu pun juga sama terkejut nya, karena kejadian tersebut berlalu sangat cepat.


Chu Xin melirik kesal ke arah sosok yang berada di balik kepulan asap tersebut lalu berkata dengan nada tidak senang. “Siapa kau?! Berani-beraninya kau menghalangi kehendak ku Kepa*at.” Ucap Chu Xin dengan nada tidak senang.


Sosok di balik kepulan asap itu awalnya tidak bergeming, membuat Chu Xin amarahnya kembali naik, karena di acuhkan. “Sia*an! Jawab pertanyaan ku sampah!” Teriak Chu Xin yang termakan oleh amarahnya.


Sosok di balik kepulan asap itu pun berkata, “Kenapa aku harus diam saja. Di saat orangku hendak di lecehkan oleh sampah seperti mu?” Ucap sosok tersebut angkat bicara sekaligus megejek Chu Xin.


>>>>>> Bersambung


~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.