
Arena pertandingan begitu kacau. Terlihat di sekitar arena banyak kawah kecil yang tercipta, dan ditengah kekacauan itu, sosok Bing Jiao masih berdiri dengan tegap sedangkan lawannya sudah terkapar tidak sadarkan diri di seberang nya. “Perwakilan Kekaisaran Shu tidak sadarkan diri. Pemenangnya perwakilan Kekaisaran Han!” Teriak sang wasit yang langsung di sambut riuh sorak sorai para penonton.
>>>>>>_____
“Sangat hebat. Seperti yang di harapkan jenius pedang dari sekte naga langit.”
“Kau benar... Terlebih serangannya yang terakhir tadi. Jumlah pedang es yang dibuatnya benar benar sangat banyak. Bahkan jika itu ranah langit bintang sembilan, pasti akan merasa sangat kesulitan dan bisa saja kalah kalau lengah.”
Bing Jiao kembali menyarungkan pedangnya, lalu turun dengan langkah yang tenang kembali ke sisi perwakilan Kekaisaran Han. Tetua Han dan Han Ying, langsung menyambut nya seraya mengucapkan selamat kepadanya.
“Kamu sudah bekerja keras Jiao’er istirahatlah untuk memulihkan kondisimu terlebih dahulu.” Kata Tetua Han.
“Selamat saudari atas kemenangan kedua mu. Jika itu kamu, aku yakin kamu pasti bisa saudari.” Ucap Han Ying.
Bing Jiao tersenyum di balik cadarnya, meresponnya dengan singkat. “Terima kasih guru, terima kasih saudari. Kalau begitu aku permisi dulu.” Kata Bing Jiao langsung kembali ke tempat duduknya, untuk memulihkan Qi nya yang telah terkuras hampir setengahnya. Han Ying merasa suasana hati Bing Jiao sedang tidak baik-baik saja, berniat untuk menanyakannya dan menghiburnya, namun di tahan oleh Tetua Han.
>>>>>>______
Sementara Itu di atas Langit-langit tempat turnamen
“Feng’er kau yakin tidak turun ke sana. Suasana hati istri pertamamu seperti nya sedang jelek hari ini.” Kata To Mu.
“Aku tahu itu paman. Ia mungkin kesal kepadaku, karena aku tidak kembali semalam.” Kata Ling Feng tersenyum masam melihat aura Bing Jiao yang tidak biasanya. Ling Feng tidak kembali semalaman, karena setelah ia membantu menstabilkan pondasi tubuh Qing Xian, Ling Feng juga mengajarinya sebuah teknik pedang kepadanya. Qing Xian dengan cepat memahaminya, namun untuk menguasai sepenuhnya, tetap saja itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar.
Alhasil ia menemani wanita itu berlatih semalaman, dan baru selesai tepat mentari pagi muncul, Ling Feng langsung membawa Qing Xian kembali, karena turnamen hari kedua ini akan di mulai cukup awal.
“Bukankah seharusnya kau berada di bawah sana Feng’er? Tidak lama lagi pertandingan mu, kan?” Kata To Mu.
“Aku menyerah.” Jawab Ling Feng singkat jelas. “Menyerah? Kenapa kau menyerah?” Tanya To Mu. “Aku tidak ingin menarik perhatian. Jika para ras iblis di kota ini mengetahui kekuatan ku, pastinya mereka akan menjadi waspada, dan sulit untuk menemukan mereka di tanah rahasia nantinya.” Jawab Ling Feng.
To Mu yang mendengar hal itu, mengangkat sebelah alisnya, dirinya merasa yakin bukan hanya itu saja, alasan Ling Feng memilih menyerah. “Kau pasti memilih menyerah, karena lawannya terlalu lemah bukan.” Tebak To Mu. Ling Feng yang mendengar hal itu terkekeh pelan.
“Ya itu juga termasuk salah satu alasanku. Jika aku terus mengikuti turnamennya, yang ada dirikulah yang menjadi pemenangnya paman.” Ujar Ling Feng mengoreksi perkataan To Mu.
“Akan tetapi, Bing Jiao benar-benar hebat ya. Aku tidak menyangka kekuatannya akan meningkat sedrastis ini. Terlebih lagi pedangnya itu. Pedang itu mempunyai kesadaran nya sendiri, kan.” Kata To Mu kembali mengalihkan pandangan nya ke arena pertandingan, terlihat seorang pemuda yang bernama Yue Guan sudah berdiri di tengah-tengah arena menunggu lawannya. Terlihat jelas wajah dari Yue Guan sangat tegang, karena lawannya adalah Ling Feng, namun hal yang tidak terduga Tetua Han naik ke atas arena memberitahukan kepada wasit, tentu saja memberitahukan tentang Ling Feng yang memilih untuk menyerah.
Pada saat wasit mengumumkan Ling Feng yang menyerah, membuat para penonton yang berada di sana kecewa, bahkan terlihat jelas di tempat VIP para Tetua mengerutkan keningnya tidak menduganya sama sekali bahwa, yang paling menarik perhatian, memilih untuk menyerah.
Namun jawaban tidak terduga Ling Feng membuat To Mu mendengkus kasar, “Tidak kok. Tentang ia memilih untuk menyegel kultivasi nya itu bukan perintah ku. Melain keinginan Jiao’er sendiri, yang ingin menantang dirinya. Ya, walaupun pada akhrinya ia kelepasan.” Sanggah Ling Feng yang membuat To Mu mendengkus kasar, kesal ketika mendengar nya.
Ling Feng sendiri hanya terkekeh seraya mengedikan kedua bahunya kembali mengalihkan pandangannya ke arena pertandingan. Pertandingan keempat pun dimulai, dimana pihak kekaisaran Wei, Qing Xian melawan pihak dari Kekaisaran Wu yang memenangkan ronde ketiga pada saat turnamen hari pertama.
Pertandingan ke empat berlangsung dengan sangat sengit. Qing Xian tidak tanggung-tanggung mengeluarkan kekuatan penuhnya, dan langsung melesat cepat ke arah lawannya. Dirinya tidak sedikit pun memberikan celah kepada lawannya. Bahkan lawannya terlihat sangat kesulitan untuk menyeimbangi gerakan Qing Xian yang terlihat sangat cepat untuk dilihat mata telanjang saja.
Setelah puluhan kali beradu serangan, sepuluh menit kemudian Qing Xian langsung mengeluarkan teknik pedangnya dengan sangat cepat sesaaat sebelum lawannya mengeluarkan teknik pedangnya terlebih dahulu. Qing Xian menang telak, dalam waktu yang terbilang sangat singkat ketimbang pertandingan-pertandingan sebelumnya. Para penonton yang awalnya kecewa, karena tidak bisa melihat pertarungan Ling Feng, langsung bersemangat lagi, ketika pertandingan Qing Xian berlangsung.
Bahkan tidak sedikit yang memujinya secara terang-terangan, karena gerakannya yang begitu cepat dan dengan mudah mengalahkan lawannya.
“Hohhhh... Gerakan nya semakin halus terlebih lagi tidak ada gerakan yang tersia-siakan sama sekali. Sebenarnya apa yang telah kau lakukan kepadanya gadis itu Feng’er sampai-sampai kekuatannya meningkat drastis seperti ini?” Tanya To Mu penasaran.
“Aku hanya membersihkan organ dalam tubuhnya saja. Juga menggunakan metode akupunktur, untuk memperbesar meridian nya. Setelah seluruh organ dalamnya sudah bersih, gerakan nya pun menjadi lebih intens dan konsentrasi akan meningkat sangat pesat.” Jawab Ling Feng.
Waktu terbilang masihlah sangat lama, oleh karena itu, pihak penyelenggara turnamen empat benua, Raja dari Kekaisaran Shu memutuskan untuk langsung melanjutkan ke babak berikutnya yaitu, semi final, dan menyisakan sebuah pertandingan besar yaitu, final.
Para peserta yang lolos di berikan waktu setidaknya setengah jam untuk memulihkan kondisi tubuhnya. Pada saat setengah jam itu, arena pertandingan pun akan mendapatkan pemeliharaan terlebih dahulu, karena memang terlihat sangat berantakan, walaupun sudah pernah di benarkan.
“Hehhh... Jadwal pertandingan nya di majukan. Ronde Semi final seperti nya akan diselenggarakan hari ini juga.” Kata To Mu yang memang bisa mendengar apa yang dikatakan oleh wasit itu, walaupun saat ini dirinya sedang berada jauh di atasnya. “Ya, malam hari masih panjang. Kurasa tidak buruk untuk mengeluarkan hidangan pembukanya sekarang, supaya dapat menyiapkan dengan maksimal hidangan utamanya.” Kata Ling Feng.
>>>>>>______
Setengah jam pun berlalu begitu saja, Arena pertandingan pun telah kembali seperti semula dengan beberapa tiang besar menghiasi di setiap sudut arena pertandingan. Tentunya hal ini guna mencegah hal yang sama terulang kembali.
Pertandingan pertama ronde semi final ini, Qing Xian yang akan maju melawan jenius dari kekaisaran Wu, Fang Yin. Senjata yang digunakan oleh Fang Yin berupa pedang kembar sama seperti Ling Feng, yaitu pengguna pedang ganda, namun bedanya. Fang Yin menggunakan pedang pendek, bukan pedang pada umumnya.
“Fang Yin dari Kekaisaran Wu. Mohon bimbingannya saudari Qing Xian.” Kata Fang Yin memberikan salam.
“Qing Xian dari Kekaisaran Wei. Mohon bimbingannya juga saudari.” Kata Qing Xian yang juga memberikan salam.
“Pertandingan semi final turnamen empat benua dimulai!” Teriak wasit yang dibarengi dengan suara lonceng raksasa yang bergema.
>>>>>> Bersambung
~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.