
Sekte Bayangan
"Haihhhhh, kakak masih saja tidak mau keluar.…" Kata Tetua Agung menghela nafas bingung mengambil langkah selanjutnya.
"Apa yang harus kulakukan ya…" Kata Tetua Agung sembari menatap langit. Ketika sedang melamun menatap langit, pintu kamarnya diketuk oleh seseorang.
Tok Tok Tok
"Siapa" Kata Tetua Agung tidak berbalik masih menatap langit-langit. Lalu orang yang mengetuk pintu tersebut menjawab.
"Salam guru, murid datang menghadap." Ucap suara yang masih terkesan muda. Tetua agung mendengar suara yang sangat familiar ditelinganya, langsung bangkit menghampiri pintu tersebut dengan raut wajah yang cerah. Tetua agung langsung membuka pintu ruangannya dan terlihatlah seorang pemuda berwajah cukup tampan.
"Dei'er kau sudah menyelesaikan pelatihan tertutup mu?" Tanya Tetua agung dengan raut wajah senangnya. Mendengar hal itu Pemuda yang bernama asli Dei An itu mengangguk kepalanya menjawab, "Izin menjawab guru. Murid Dei An sudah berhasil menembus kekuatan jiwa level empat." Ucap Dei An. Mendengar hal itu Tetua agung tertawa terbahak-bahak sangat senang.
"Hahahaha murid ku tentu saja jenius seperti diriku. Kau tidak mengecewakan diriku sama sekali Dei'er kerja bagus." Kata Tetua agung sembari tertawa senang. Dei An yang mendengar itu sedikit membungkukkan tubuhnya sembari berkata, "Tentu saja murid ini tidak akan mengecewakan harapan guru." Ucap Dei An. Tetua agung yang mendengar itu menganggukkan kepalanya merasa sangat senang sekarang.
"Lalu bagaimana apakah kau sudah bisa membuat pil sekarang?" Tanya Tetua agung. Dei An yang mendengar itu tersenyum lalu mengeluarkan sebuah botol pil lalu diberikan kepada Tetua agung.
Tetua agung yang melihat bahwa Dei An memberikan sebuah botol pil tentu saja semakin merasa senang karena, faktanya Dei An sudah bisa membuat pil. Setelah membuka tutup botol pil tersebut dan mengeluarkan isinya, Tetua agung tertawa kembali.
"Hahahaha kau tidak mengecewakan ku sama sekali Dei'er. Kau sudah berhasil membuat pil dan lagi…" Tetua agung tertawa kembali sembari mengeluarkan sebuah pil dari botol tersebut.
"Pil Spiritual tingkat menengah…Hahahaha kau memang sangat jenius Dei'er." Tetua agung tertawa kembali. Dei An yang mendengar itu hanya tersenyum lalu berkata, "Murid tidak ada apa-apanya dibandingkan guru, jika tanpa bimbingan guru murid ini tidak yakin akan bisa seperti ini." Ucap Dei An. Tetua agung yang mendengar hal itu tersenyum bangga menepuk-nepuk pundak Dei An.
"Bagus ternyata kau sadar diriku juga" Ucap Tetua agung, lalu tiba-tiba ia teringat sesuatu dan langsung mengatakan hal itu kepada Dei An.
"Dei'er kau sekarang sudah bisa membuat pil, aku ingin kau pergi menuju Kota Anyi. Aku dengar dari pembawa informasi sekte kita, disana akan diadakan sebuah pertandingan membuat pil." Ucap Tetua Agung. Dei An yang mendengar itu langsung berkata, "Murid ini akan mengikuti apa yang guru katakan." Kata Dei An. Tetua agung yang mendengar itu menganggukkan kepalanya senang bahwa Ia bersedia pergi.
"Kau tidak bertanya kenapa guru mu ini meminta mu untuk pergi ke sana?" Pancing Tetua agung. Dei An yang p itu hanya hanya berkata, "Tenang saja guru membuat orang merasa putus asa, itu adalah hal yang mudah bagiku." Ucap Dei An. Tetua agung yang mendengar itu hanya menyeringai lebar lalu berkata kembali, "Baguslah kalau kau mengerti. Kau akan pergi esok hari oleh karena itu, banyaklah istirahat. Kau boleh pergi mengajak beberapa murid sekte kita untuk menjaga mu." Ucap Tetua agung. Dei An yang mendengar itu menganggukan kepalanya.
Kembali ke Ling Feng
Setelah selesai makan Long Tian langsung menyantap arak-arak yang tadi baru ia pesan. Ling Feng yang melihat itu tidak habis pikir dengan naga tua itu yang selalu mabuk-mabukan entah dalam keadaan apapun.
"Apakah kau mau mencobanya? Arak ini lumayan enak untuk seukuran arak dunia biru." Ucap Long Tian sembari menuangkan segelas lalu disodorkan kepada Ling Feng. Ling Feng yang ikut penasaran pun, akhirnya memutuskan untuk mencoba, karena ia sangat penasaran dengan rasa arak tersebut sampai membuat Long Tian berkata seperti itu, berarti memang arak yang nikmat.
Setelah mencoba arak tersebut, Ling Feng langsung terdiam setelah merasakannya langsung. Long Tian yang melihat itu terkekeh sembari meneguk kembali arak dari kendi nya langsung.
"Bagaimana Feng'er enak, kan." Ucap Long Tian terkekeh melihat reaksi dari Ling Feng. Ling Feng yang mendengar itu langsung berkata, "Arak ini setelah aku meminumnya, seperti merasakan dinginnya gelap malam dibarengi oleh rasa kehangatan yang setara dengan rasa dingin tersebut. Arak ini sama seperti dengan nama tempat makan ini, arak bulan matahari." Jelas Ling Feng sembari meneguk kembali gelas kedua arak bulan matahari tersebut.
Long Tian yang mendengar itu hanya terkekeh saja, ia tidak menyangka Ling Feng akan merasakan rasa dari arak tersebut. Kedua pemuda tersebut kembali melanjutkan minum mereka, namun baru saja beberapa kendi arak telah habis, masalah akan terus datang menyertainya.
Kring…Kring…Kring
"Selamat datang di rumah makan Bulan Matahari tuan muda He Gongsun. Ada yang bisa dibantu?" Sambut ramah pelayan yang menyambut Ling Feng. Mendengar hal itu He Gongsun langsung berkata, "Dimana manajer mu? aku ingin bertemu dengannya." Ucap He Gongsun acuh tak acuh, Pelayan tersebut langsung menjawab, "Manajer saat ini sedang tidak bisa diganggu, beliau berpesan jika ada yang datang menemuinya bisa datang lain hari." Jelas pelayan tersebut.
Mendengar hal itu He Gongsun berdecak kesal sudah tidak peduli lagi langsung menerobos masuk dan naik dengan tujuan lantai tiga sembari teriak memanggil orang yang ia cari. Pelayan tersebut yang kaget dengan tindakan tiba-tiba He Gongsun tidak sempat bereaksi menahan He Gongsun yang sedang menuju ke ruangan manajernya.
"Qing Xian turun sekarang atau aku yang akan datang menemui diatas!" Teriak He Gongsun sembari naik tangga menuju lantai dua. Baru saja ia ingin mencapai lantai dua, dua orang pengawal lantai atas langsung turun menghadangnya.
"Mohon maaf tuan muda He. Manajer saat ini sedang tidak bisa diganggu. Harap tuan muda He bisa kembali terlebih dahulu dan datang esok hari." Jelas salah satu pengawal tersebut. He Gongsun yang mendengar itu mengangkat sebelah alisnya lalu tersenyum sinis.
"Hehhhhh memangnya kalian layak berbicara denganku." Ucap He Gongsun sembari Mengeluarkan aura kultivasinya yang sudah mencapai ranah Mahaguru Bintang 5. Para pengawal tersebut yang menghadang He Gongsun langsung jatuh tidak bisa berdiri. Kultivasi kedua pengawal tersebut hanyalah ranah Mahaguru Bintang 1 tidak sebanding dengan He Gongsun yang sudah mencapai Bintang 5.
"Ingin menahan ku…? Jangan mimpi kalian." Bisik He Gongsun melewati kedua pengawal tersebut dan sampai dilantai dua. Ketika dilantai dua He Gongsun mengabaikan fakta Ling Feng dan Long Tian yang sedang minum arak disana, ia hanya memandang sekilas dan langsung naik kembali menuju lantai tiga.
"Cihhhhh, tukang mabuk." Cibir He Gongsun sebelum naik ke lantai tiga. Long Tian yang mendengar itu mengangkat sebelah alisnya ingin bergerak, namun Ling Feng mencegahnya.
"Orang itu akan turun lagi tunggu saja Paman." Ucap Ling Feng sembari meneguk arak kembali. Long Tian yang mendengar itu hanya mengiyakan dan meminum arak kembali.
>>>>> Bersambung
( Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya dengan like, favorit, vote, dan komennya. Author do'akan semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku )
( Blizzardauthor)