Pendekar Yin - Yang

Pendekar Yin - Yang
V2 Babak Final di Mulai!


“Aku mengerti, terima kasih telah memberitahukan nya paman.” Ucap Ling Feng yang diangguki oleh To Mu.


>>>>>>______


Keesokan Harinya


“Baiklah semuanya. Kita telah sampai di puncak turnamen empat benua yaitu, babak final antara perwakilan Kekaisaran Han, Bing Jiao. Akan melawan perwakilan dari kekaisaran Wei, Qing Xian.” Teriak sang wasit sebagai pembuka dari turnamen empat benua babak final. Para penonton langsung bersorak sorai menanggapi perkataan dari sang wasit tersebut.


Terlihat arena pertandingan babak final ini di renovasi kembali menjadi lebih lebar dan luas, selain itu juga di pasang sebuah penghalang di sekitar arena tersebut guna mencegah kemungkinan akan terluka nya para penonton nantinya.


Terlihat banyak nya penonton yang menyaksikan dengan tatapan penasaran, tentang siapa yang pantas menyandang, untuk gelar yang terkuat di benua biru ini. Bahkan para peserta yang sudah gugur pun juga ikut menyaksikan jalan nya pertandingan.


“Baiklah, tanpa perlu berbasa-basi lagi, kepada dua peserta untuk naik ke atas arena pertandingan.” Kata sang wasit yang langsung di sambut berbagai macam teriakan para penonton. Qing Xian dan Bing Jiao pun naik ke arena dengan langkahnya yang anggun, membuat semua pasang mata terpesona dengan aura kecantikan yang terpancar dari dua bunga muda tersebut.


Kedua wanita itu saling pandang dalam diam, tidak ada yang mengatakan sepatah kata pun. Baik itu Bing Jiao dan Qing Xian, benar-benar mengabaikan sekitarnya dan benar-benar tenggelam beerfokus kepada lawannya. “Waktunya menyelesaikan urusan diantara kita berdua.” Kata Bing Jiao seraya menarik pedang dari sarung nya.


“Mohon bantuannya nona Bing... Tidak, saudari Bing Jiao.” Timpal Qing Xian yang juga menarik pedangnya bersiap-siap. Sang wasit yang masih berada di atas arena melirik bergantian antara Bing Jiao dan Qing Xian.


“Turnamen empat benua babak final di mulai!” Teriak sang wasit seraya melompat turun dari arena pertandingan diiringi dengan gema lonceng raksasa yang berbunyi. Qing Xian yang pertama kali mengambil momentum untuk menyerang, ia langsung melesat cepat ke arah Bing Jiao dengan pedang terhunus.


Shringggg


Ctaangggg


“Hohhh... Serangan cepat yang begitu mengagumkan, tidak buruk saudari.” Kata Bing Jiao yang dapat beraksi mengikuti kecepatan Qing Xian dengan mengeluarkan teknik pertahanan. Serangan cepat Qing Xian dapat di tahan oleh akar es yang mengelili Bing Jiao, menangkis serangan Qing Xian.


Qing Xian mundur dua langkah ke belakang, Bing Jiao tidak diam saja dan langsung memanfaatkan hal itu untuk menerjang maju ke arahnya. Ia mengalirkan Qi ke dalam pedangnya melancarkan serangan tebasan horizontal.


“Sangat lambat saudari.” Kata Qing Xian menahan tebasan Bing Jiao dengan punggung pedangnya. Qing Xian juga mengalirkan Qi nya ke dalam pedangnya. Keduanya pun saling mendorong selama beberapa detik, sampai detik kemudian saling menghempaskan dan bertukar tebasan demi tebasan dengan kecepatan yang sangat tinggi.


Para penonton tidak bisa untuk tidak menahan nafasnya masing-masing, mereka bahkan terdiam terkagum dengan pertarungan kedua peserta wanita tersebut. Hanya dalam beberapa menit, keduanya telah bertukar serangan hampir puluhan kali banyaknya.


Terlihat Qing Xian sedikit lebih unggul, mengingat dirinya yang bergerak sangat cepat dan bisa melancarkan serangan dari mana saja. Walaupun begitu, dirinya masih belum bisa menekan Bing Jiao, karena refleksnya dalam menahan serangan juga tidak dapat di remehkan. Baik itu Bing Jiao dan Qing Xian mempunyai keunggulan nya masing-masing untuk menutupi kelemahan nya masing-masing.


Para tetua pun tidak bisa menilai dengan benar siapa yang akan keluar sebagai juaranya, karena di lihat dari sudut padang semua orang yang ada di sana, kemampuan Bing Jiao dan Qing Xian itu terlihat setara.


“Aku tidak mengetahui pertandingan antara ranah langit bisa seintens ini. Saat ini aku sedang tidak bermim... Aduh, aduh, aduh! Hei apa yang kau lakukan itu?! Sakit tahu!”


“Aku hanya menyadarkan mu, bahwa saat ini kau sedang tidak bermimpi. Terlebih lagi, memangnya kau bisa melihat apa yang terjadi di arena pertandingan sekarang?”


“Cihhh persetan dengan akal-akalan mu itu. Aku memang tidak bisa melihat apa yang terjadi di arena saat ini, namun setidaknya aku mengetahui, jika tidak ada penghalang di sekitar arena, kemungkinan besar serangan meleset mereka bisa kapan saja menghantam bangku penonton.”


“Ya kau benar. Kemungkinan besar, keduanya menahan diri selama ini, selain tidak ingin kelepasan, keduanya juga tidak ingin terlalu menonjol, ya walaupun kecantikan nya sendiri sudah menjadi daya tarik yang membuat kedua nya menonjol.”


>>>>>>______


Kembali ke Arena pertandingan


Lima belas menit berlalu begitu saja, Qing Xian dan Bing Jiao telah bertukar serangan setidaknya hampir ratusan kali banyaknya dengan gerakan tingkat tinggi tentunya. Walaupun begitu, keduanya terlihat tidak kelelahan sama sekali, sebaliknya mereka terlihat sangat bersemangat, melihat dari sorot mata bergairah yang mereka tunjukan. Keduanya masih seimbang untuk saat ini.


Shringggg


Shringggg


Ctaangggg


“Sepertinya kamu terlihat lelah saudari. Jika kamu menyerah sekarang, aku tidak akan mempermasalahkannya kok.” Kata Qing Xian tepat keduanya saling terpental kebelakang.


“Ara~... Kurasa itu juga berlaku sebaliknya untukmu saudari. Walaupun kau sangat cepat, serangan mu tidak ada yang berhasil sampai kepadaku. Bukankah lelah bergerak dalam kecepatan tinggi seperti itu.” Kata Bing Jiao terkekeh pelan. Tepat setelah Bing Jiao dan Qing Xian mengambil jarak, arena pertandingan telah kacau balau.


“Kakak pasti sedang memperhatikan pertandingan ini entah dari mana. Oleh karena itu, aku tidak akan kalah dan memenangkan pertandingan ini untuk kakak. Lalu mendapatkan hadiah darinya.” Batin Bing Jiao menguatkan tekadnya tersenyum tipis di balik cadarnya, menggenggam erat gagang Pedang Es Abadi.


“Lihat saja Ling Feng, aku pasti akan mendapatkan tempat pertama dan memenangkan taruhannya.” Batin Qing Xian terkekeh kecil, ia saat ini sedang dalam suasana hati yang baik.


>>>>>>______


Di sisi Ling Feng


“Hacchuu...! Siapa yang sedang membicarakan ku di saat-saat seperti ini sih? Kurang kerjaan saja.” Gumam Ling Feng seraya mengusap-usap hidungnya yang tiba-tiba gatal, melirik ke kanan dan ke kirinya.


“Hahaha... Keduanya benar-benar sangat bersemangat sekali. Untung saja aku bisa melihat pertandingan dari dua gadis kecil mu Feng’er. Mereka benar-benar membuat pertandingan yang menarik.” Kata To Mu seraya tertawa puas, menepuk-nepuk pundak pemuda di sampingnya yang juga memandang tersenyum ke arah arena pertandingan.


“Ya kau benar paman. Aku cukup terkejut dengan perkembangan Xian’er dan Jiao’er yang sedikit di luar dugaan ku.” Kata Ling Feng. Ada perasaan puas melihat kedua wanita yang sedang saling bertarung di arena pertandingan saat ini.


“Aku rasa bukan hanya itu saja faktornya, baik itu Qing Xian dan Bing Jiao, sepertinya termotivasi akan suatu hal. Hal itu terlihat sangat jelas dari sorot mata yang di tunjukkan oleh keduanya. Keduanya sangat bersikeras untuk memenangkan pertandingan ini.” Kata To Mu manggut-manggut memperhatikan keduanya.


“Ya siapa yang tahu tentang hal itu, selama itu bisa membuat kedua nya menjadi lebih kuat, kurasa akan baik-baik saja jika itu motivasi nya.” Kata Ling Feng tanpa beban, mengedikan kedua bahunya tidak sadar, bahwa dirinya lah penyebab dari motivasi Qing Xian dan Bing Jiao saat ini.


“Ya kau benar juga sih... Oh ya, ngomong-ngomong kemana perginya gadis rubah itu? Aku baru sadar ia tidak datang bersama mu.” Kata To Mu. “Ren Hu berada di bangku penonton.” Jawab Ling Feng apa adanya.


“Bangku penonton? Kenapa ia ada di sana?” Tanya lagi To Mu merasa heran tidak mengerti.


“Ia sepertinya ingin melakukan pertaruhan.” Jawab Ling Feng.


“Taruhan? Gadis kecil itu sepertinya sudah tergila-gila dengan taruhan ya sekarang.” Kata To Mu menggeleng-geleng kan kepala nya.


“Ya kurasa begitu, awalnya ingin ku protes, namun entah karena alasan apa, dirinya tidak pernah kalah taruhan. Seakan-akan keberuntungan itu senantiasa mengiringi nya.” Kata Ling Feng terkekeh masam.


“Ya kau benar Feng’er. Keberuntungan nya itu, benar-benar di luar nalar, bahkan kemarin ia merasa sedih dan mengeluh kepadaku, berkata bahwa ia tidak diperbolehkan untuk ikut dalam pertaruhan. Para bandar mungkin tidak berani menyergapnya, mengingat kekuatan yang di milikinya, jadi satu-satunya pilihan adalah melarang untuk ikut dalam pertaruhan.” Kata To Mu dengan memasang wajah sedikit gelap.


“Jujur saja, terkadang aku merasa sedikit kasihan pada bandarnya, karena kekayaan nya telah di kuras habis oleh gadis rubah itu.” Lanjutnya berkata lagi. “Ya kau benar paman, namun tekad berjudinya benar-benar sangat gigih, ia bahkan sampai menggunakan teknik perubahan nya saat ini.” Kata Ling Feng, yang hanya bisa di balas tawa masam oleh To Mu mendengar apa yang dikatakannya.


>>>>>>______


Kembali ke Arena Pertandingan


Bing Jiao dan Qing Xian kembali bertukar serangan, kecepatan serangan mereka bahkan meningkat dua kali lipat. Kecuali para tetua, semua orang yang berada di sana hanya bisa melihat sekilas bayang-bayang yang bergerak cepat mengitari penghalang di sekitar arena pertandingan.


“Saudari akan kuakhiri di sini.” Ucap Bing Jiao seraya mengalirkan seluruh Qi yang tersisa ke dalam pedangnya. “Teknik Pedang Seribu: Seribu Pedang Es!” Ucap Bing Jiao dan pedang es pun muncul sangat banyak berkerumun di belakang Bing Jiao.


Qing Xian yang berada di sisi berlawan mengerti dengan maksud Bing Jiao. “Coba saja jika bisa, aku yang akan memenangkannya.” Kata Qing Xian melakukan hal yang sama, mengerahkan seluruh Qi nya. Aura Qi yang terpancar dari Qing Xian membuat arena pertandingan bergetar, bahkan penghalang yang menyelimuti arena tidak bisa menahannya, terlihat sebuah retakan yang tidak terlalu besar muncul di sana.


Bing Jiao dapat merasakan tekanan Aura Qi Qing Xian. Ia lalu memegang Pedang Es Abadi dengan kedua tangannya seraya memejamkan matanya. Pedang Es Abadi pun bersinar terang, Bing Jiao sontak membuka kedua matanya seraya mengendalikan seluruh pedang esnya mengarah kepada Qing Xian.


Qing Xian juga langsung bergerak juga. “Teknik Pedang Halilintar: Guntur Menyambar Bumi!” Ucap Qing Xian melesat dengan ledakan Aura Qi yang sangat kuat menerjang maju ke lautan pedang es. Benturan pun tidak terelakkan.


Shringggg


Shringggg


Jdaarrrr


Boooommm


>>>>>> Bersambung


~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.