Pendekar Yin - Yang

Pendekar Yin - Yang
Ambil Kayunya Di Sana


Ling Feng kesal setengah mati, bahkan setelah ia berteriak sekali pun Tua Tao tidak lagi keluar dari gubuknya. Sampai si Tua Tao berkata dari dalam gubuk. "Daripada kau berteriak seperti itu, lebih baik kau memilihkan kondisi mu terlebih dahulu atau membangun sebuah gubuk.


Para beast memang tidak akan kemari, tapi bukan berarti tidak akan tertarik dengan suara mu." Kata Tua Tao yang membuat Ling Feng seketika terdiam. "Datang ya datang saja, lagipula kau tidak mungkin diam saja, kan…Mana mungkin seorang guru akan diam saja melihat muridnya dalam keadaan seperti itu." Kata Ling Feng dengan nada meremehkan.


Akan tetapi Ling Feng malah mendapatkan sebuah jawaban yang bahkan tak terlintas dipikiran nya. "Berarti guru mu ini termasuk kedalam kategori guru yang tidak peduli akan hal sepele seperti itu." Timpal Tua Tao tanpa beban yang membuat Ling Feng sekali lagi terdiam dengan jawaban tidak terduganya.


Ingin sekali Ling Feng berkata kasar, namun ia tidak melakukan hal itu mau bagaimana pun juga Tua Tao adalah orang yang telah menyelamatkannya. Ling Feng menghembuskan nafas kasar memilih untuk memikirkan kondisi tubuhnya dulu saat ini.


Ia pun memutuskan untuk menelan pil yang ia buat untuk memulihkan kondisi tubuhnya. Dari pemurnian tadi Ling Feng berhasil membuat empat buah pil, Ling Feng lantas menggunakan dua dari empat pil tersebut untuk pemulihan tubuhnya. Ling Feng langsung menelan dua pil sekaligus lalu memejamkan matanya.


Ling Feng mulai mengatur nafasnya kembali, beberapa saat kemudian pil tersebut pun mulai menunjukkan efeknya. Ling Feng merasa seluruh tubuhnya menjadi hangat, perlahan tapi pasti. Bahkan terlihat samar-samar keluar asap dari pori-pori seluruh kulit Ling Feng. Ia juga merasakan luka-luka dalamnya mulai diobati oleh rasa hangat tersebut walaupun prosesnya sangat lambat.


Satu jam


Dua jam


Empat jam


Delapan jam


Enam belas jam


Satu hari kemudian


Setelah satu hari berlalu tubuhnya mulai dipenuhi oleh cairan hitam, cairan hitam tersebut adalah luka dalam Ling Feng yang telah diubah menjadi kotoran saat ini. Setelah memakan satu hari penuh pemulihan, luka dalam Ling Feng telah sembuh seluruhnya.


Ling Feng lantas membuka kedua matanya tersenyum senang. "Akhirnya pulih dengan sempurna." Gumam Ling Feng sembari melirik tubuhnya atau lebih tepatnya pakaian yang ia gunakan sudah penuh dengan cairan hitam yang tidak sedap di cium.


Ling Feng lantas menjentikkan jari seketika elemen air keluar seperti air terjun mulai menyiram tubuh Ling Feng. Setelah selesai Ling Feng lantas membuang pakaian yang ia gunakan lalu mengeluarkan kembali pakaian baru dari Cincin ruangnya.


Setelah selesai berpakaian Ling Feng refleks menoleh ke arah gubuk Tua Tao dan ia terkejut, karena orang tua itu sedang berdiri tepat di dekat pintu sana memperhatikan dirinya. "Sejak kapan kau disana orang tua?" Tanya Ling Feng.


Dengan tanpa beban Tua Tao menjawab. "Sejak kau mulai membersihkan tubuh mu dari cairan hitam itu." Katanya tanpa beban. Ling Feng yang mendengar itu merinding menatap Tua Tao aneh.


Tua Tao yang ditatap seperti itu hanya memutar bola matanya malas, "Aku masih normal bocah dan lagi ubah nada bicara tidak sopan seperti itu pada gurumu." Katanya sembari melemparkan batu kecil ke arah Ling Feng. Ling Feng dengan sigap menghindari batu kecil tersebut. "Buatlah gubuk terlebih dahulu dan untuk kayunya kau berjalan saja ke arah sana, nantinya kau akan melihat beberapa pohon yang bisa kau gunakan." Kata Tua Tao sembari mengedikan kepalanya ke arah yang di maksud.


Tua Tao juga melemparkan pedang putih dan hitam milik Ling Feng. "Kau akan membutuhkan benda itu jika sudah sampai di tujuan yang ku maksud." Kata Tua Tao lalu masuk kedalam gubuk lagi. Ling Feng yang ingin berbicara sekali lagi hanya bisa menghirup dalam-dalam nafasnya lalu mengeluarkannya kembali.


Ling Feng ingin sekali menendang pantat orang tua itu tapi apalah daya, Tua Tao lebih kuat dari dirinya saat ini. Ling Feng lantas memungut kedua pedang putih dan hitamnya lalu pergi menuju arah yang di tunjukkan oleh Tua Tao.


Tidak lama untuk menuju tempat yang Orang tua itu maksud, akan tetapi yang menjadi masalahnya apa yang menempati tempat tersebut. "Pantas saja si tua Bangka itu bilang membutuhkan pedang…Jadi ini maksudnya." Gumam Ling Feng sembari menatap seekor beast laba-laba raksasa yang saat ini sedang tidur.


"Auranya lebih kuat dari kadal raksasa yang ku lawan beberapa waktu yang lalu." Gumam Ling Feng lalu mengeluarkan kedua pedangnya dan menggenggamnya erat. Belajar dari pengalaman, Ling Feng tidak berniat untuk menyerang lagi secara tanggung.


Tepat saat Ling Feng sedang mengumpulkan kekuatan. Beast laba-laba raksasa itu seketika langsung membuka matanya sadar akan bahaya. Ia lantas menoleh ke arah Ling Feng yang masih mengumpulkan Qi nya.


Shaaaa…!


Laba-laba raksasa itu berteriak sembari menggerakkan kaki depannya menyerang ke arah Ling Feng. Ling Feng yang melihat itu berdecak kesal, karena ia masih belum cukup mengumpulkan Qi nya. Walaupun belum cukup, Ling Feng tidak mundur, ia tetap menerjang maju melancarkan teknik pedangnya.


Laba-laba raksasa tersebut menggerakkan dua kaki depannya menyerang Ling Feng. Ling Feng yang melihat itu melesat dengan cepat menghindari serangan laba-laba raksasa itu.


Booooommmm


Booooommmm


Serangan laba-laba itu meleset dan menembus tanah menciptakan kawah kecil. Ling Feng yang sudah berhasil menghindar serangan tersebut lantas menghunuskan pedangnya yang mengandung Qi menebas ke arah wajah dari Laba-laba raksasa itu.


"Haahhhhhhhh." Teriak Ling Feng.


Shringgggggg


Shringgggggg


Booooommmm


Shaaaa…!


Laba-laba tersebut berteriak. Ling Feng tersenyum simpul merasa bahwa serangannya cukup efektif, tepat ketika ia tersenyum terdengar suara teriakan. "Jika kau melamun kau akan mati loh!" Teriak orang yang tidak lain adalah Tua Tao.


Telinganya yang mendengar teriakkan tersebut sontak ingin menoleh ke sumber suara, akan tetapi tepat setelah ia baru beberapa derajat menoleh, sebuah kaki Laba-laba tersebut melesat sangat cepat ke arah Ling Feng. Ling Feng yang melihat serangan itu langsung meletakkan kedua pedangnya tepat didepan wajahnya.


Claaannnnggg


Swusssshhhh


Booooommmm


Walaupun sudah berusaha untuk menahan kaki dari laba-laba raksasa itu, Ling Feng tidak bisa menahan sepenuhnya dan akibatnya ia terpental ke belakang melesat kencang menabrak beberapa pohon disana.


Kepulan Debu yang menyelimuti wajah laba-laba tersebut pun sudah hilang. Terlihat ada sebuah luka goresan akibat dari tebasan pedang yang Ling Feng lancarkan, laba-laba tersebut menatap tajam tempat Ling Feng terpental.


Ling Feng berjalan keluar dari tumpukan pohon yang hancur karenanya. Ia menyeka darah yang keluar dari bibirnya. Lalu sebuah senyuman tercetak diwajahnya. "Awalnya kukira akan selesai dengan cepat, tapi lebih lama juga tidak buruk." Kata Ling Feng tersenyum simpul lalu kembali melesat menyerang Laba-laba raksasa itu.


>>>>>> Bersambung