
Qing Xian langsung kembali ke kamarnya terlebih dahulu sebelum menemui sang ayah yang sedang dalam pertemuan darurat saat ini. Ketika ia kembali ke kamarnya, Qing Xian terkejut karena tidak mendapati Lin kecil di tempat tidurnya. "Lin'er…Dimana kamu nak?" Panggil Qing Xian sembari mengelilingi kamarnya mencari-cari keberadaan Lin kecil, namun sayang tidak ketemu.
Dirinya mulai cemas, karena tidak mendapati Lin kecil dimana pun di ruangannya. Ia lantas keluar kamar berjalan cepat dan berteriak memanggil Lin kecil. "Lin'er…! Lin'er sayang! Lin'er jawab panggilan kakak sayang." Teriak Qing Xian.
Tidak lama kemudian ia melihat seorang pelayan yang tadi memanggil dirinya untuk pergi ke pertemuan keluarga. "Pelayan tunggu." Panggil Qing Xian sedikit berteriak. Sontak pelayan tersebut langsung menoleh dan mendekati Qing Xian sembari memberi salam. "Ada yang bisa saya bantu nona muda." Kata Pelayan tersebut.
"Apakah kau melihat anak kecil keluar dari kamarku?" Tanya Qing Xian kepada pelayan tersebut. Pelayan tersebut menganggukan kepalanya. "Iya nona. Tidak lama setelah nona pergi hamba mendengar suara tangis seorang anak ketika hamba ingin masuk kedalam, Tuan muda Lao datang. Dirinya pun lantas langsung masuk kedalam kamar nona dan membawa seorang anak kecil dipangkuan nya." Kata Pelayan tersebut menjelaskannya.
"Lalu dimana kakak Lao?" Tanya Qing Xian sembari memegang kedua bahu pelayan tersebut membuat pelayan tersebut menjadi gugup. "T-tuan muda Lao sedang berada di taman kediaman nona." Kata Pelayan tersebut. Qing Xian pun langsung bergegas menuju taman kediaman.
Ketika ia sampai terlihatlah seorang anak kecil sedang bermain disana dengan seorang pria yang menemaninya. "Lin'er." Panggil Qing Xian. Lin kecil dan Qing Lao yang sedang bermain itu lantas serentak menoleh kepada sumber suara. Qing Xian langsung menghampiri keduanya. "Kakak Xian selamat datang kembali." Sapa Lin kecil tersenyum renyah. Qing Xian yang melihat senyuman itu ikut tersenyum juga.
"Maaf ya kakak malah meninggalkan mu sendirian dikamar. Tadi kakak pergi menemui ayah kakak terlebih dahulu sebentar." Kata Qing Xian mendekat ke arah Lin kecil lalu mensejajarkan tingginya dan mengelus-elus puncak kepalanya.
Qing Xian awalnya menduga akan mendapatkan respons buruk, karena ditinggal sendirian. Akan tetapi respon yang diberikan oleh Lin kecil sungguh tidak ia duga. "Tidak apa-apa kak. Tadi paman sudah bilang ke Lin'er tentang kakak yang ingin menemui ayah kakak terlebih dahulu." Jawab Lin kecil.
Mendengar hal itu Qing Xian tersenyum lega lalu mengalihkan pandangannya ke Qing Lao. "Terima kasih kak sudah mau repot-repot menemani Lin'er." Kata Qing Xian. "Tidak apa-apa lagipula tidak lama lagi ia akan menjadi bagian dari keluarga Qing kita. Jadi tidak masalah." Kata Qing Lao tanpa beban.
"Ya walaupun begit…" Perkataan Qing Xian terhenti ia terdiam. Melihat Qing Xian yang terdiam, Qing Lao mengangkat sebelah alisnya. "Eh kenapa kau malah diam? aku mengatakan hal yang salah kah." Kata Qing Lao bingung.
"A-ap-apa maksud dari perkataan kakak itu!" Kata Qing Xian berteriak sembari wajahnya menjadi bersemu merah. "Ehhhhh…Aku salah mengatakan hal itu, kah? Kukira padahal kau dan tuan muda Feng benar-benar mempunyai hubungan yang lebih dalam. Yah sayang sekali." Keluh Qing Lao menghela nafas panjang.
"Ya setidaknya aku setuju dengan pilihan mu. Selain kuat, tuan muda Feng juga orang yang baik lebih baik dari orang-orang keluarga Guan." Kata Qing Lao serius. Mendengar hal itu Qing Xian pun jadi ingat akan perkataan To Mu. "Kakak aku ingin berbicara dengan mu." Kata Qing Xian dengan nada serius.
"Apa yang memangnya kau ingin bicara kan dengan ku." Kata Qing Lao. Qing Xian melirik kanan dan kirinya lalu berkata. "Kita pindah tempat. Aku tidak ingin ada orang yang mendengar tentang pembicaraan ini." Kata Qing Xian serius.
Qing Lao menganggukan kepalanya lalu berjalan mendahului. "Kita ke kamar ku. Di sana setidaknya tidak akan ada yang mendengar tentang pembicaraan kita nantinya." Kata Qing Lao lalu melangkah pergi dari taman kediaman. "Lin'er ikut kakak sebentar yuk. Kita ke kamar Paman Lao terlebih dahulu, baru setelahnya kita bermain lagi." Kata Qing Xian tersenyum manis.
Lin kecil tidak rewel, bahkan ia mengerti bahwa ada pembicaraan penting diantara keduanya yang membutuhkan ruangan khusus. "Baiklah Kakak." Kata Lin kecil. Qing Xian menganggukkan kepalanya lalu menggendong Lin kecil kedalam pangkuannya mengekori Qing Lao.
Pada saat mereka pergi, ada sesosok yang memperhatikan mereka dari kejauhan. Namun, tidak lama kemudian sosok tersebut menghilang entah kemana seperti lenyap akan hembusan angin disana.
Kamar Qing Lao
"Jadi apa yang ingin kau bicarakan dengan ku adik." Kata Qing Lao serius. Qing Xian menganggukkan kepalanya lalu mulai berkata serius. "Keluarga Qing kita ada seorang pengkhianat." Kata Qing Xian dengan nada serius membuat Qing Lao yang mendengar itu terkejut bukan main.
"Apa maksud dari perkataan mu itu Xian'er. Kau tidak sedang bercanda bukan dengan kakak." Kata Qing Lao serius.
>>>>>>> Bersambung