Pendekar Yin - Yang

Pendekar Yin - Yang
Hal Yang Disembunyikan Sosok Dingin nan Acuh


Di Suatu Ruangan


Malam hari pun datang dengan cepat tidak terasa. Terlihat sebuah sosok di sebuah kamar sedang menatap keluar jendela melihat terangnya bulan kala itu. Sosok tersebut termenung sembari menatap bulan tersebut. Dirinya merasa sangat gelisah sekali saat ini.


"Aku refleks mendorongnya." Gumam sosok tersebut menghela nafas panjang merasa gelisah serta bersalah. Ia sesekali memegang bibirnya. Lalu ketika ia memegang bibirnya, seketika wajahnya berubah menjadi merah saat itu juga teringat dengan insiden pagi tadi.


Sosok tersebut adalah Qing Xian yang sedang merasakan gelisah. Ia merasa sangat campur aduk saat ini antara merasa bersalah dan juga malu disaat yang bersamaan. Ia ingin menemui Ling Feng membahas tentang kejadian tadi pagi, namun di satu sisi ia tidak tau akan berkata apa nantinya jika sudah bertemu.


Dirinya benar-benar dilanda rasa bingung saat itu juga. "Apakah dia akan marah kepada ku ya, karena sudah mendorongnya lalu pergi begitu saja." Gumam Qing Xian menghela nafas lelah memikirkan hal tersebut berulang kali. Pada saat ia sedang ragu-ragu nya, Qing Xian pun mulai mengatur nafasnya dengan bertujuan menenangkan dirinya.


Setelah dirasa cukup tenang ia pun berkata. "Baiklah aku akan menemuinya sekarang." Kata Qing Xian meneguhkan hatinya walaupun saat ini sudah gugup terlebih dahulu. Pada saat ia ingin pergi menyelinap keluar dari jendela, terdengar jelas suara masuk ke telinganya.


"Haihhh sayang sekali…Padahal aku sudah susah payah menghindari para penjaga untuk datang kemari, tapi sang pemilik kamar malah ingin pergi." Kata seseorang. Qing Xian yang mendengar itu terdiam ketika mendengarnya. Seketika Qing Xian menundukkan wajahnya. Ia yang awalnya hanya gugup, kini suhu di wajahnya membuat ia menjadi warna menjadi merah seperti kepiting rebus.


Qing Xian berdiri tegak lalu menoleh kebelakang dan terlihatlah sosok pria yang tidak lain adalah Ling Feng. "Yoo nona cantik ku, kita bertemu kembali. Sepertinya kita memang ditakdirkan untuk berjodoh ya karena sering sekali bertemu." Kata Ling Feng terkekeh lalu keluar dari gelapnya bayang memperlihatkan sosok wajah tampannya yang terkena sinar cahaya bulan.


Qing Xian masih terdiam kau dan juga membisu didekat jendela sana ia bahkan tidak berani menatap Ling Feng saat ini membuat Ling Feng merasa sedikit canggung saat ini. Ling Feng pun menghela nafas panjang lalu mendekati Qing Xian dan berkata. "Maaf soal kejadian tadi pagi." Kata Ling Feng meminta maaf. Membuat Qing Xian terkejut mendengarnya.


Qing Xian menundukkan sembari mengeratkan gigi belakangnya. "Kenapa kau malah meminta maaf? Apakah kau menyesal karena telah melakukan hal itu?" Tanya Qing Xian. Membuat Ling Feng terdiam. "Ah itu…sikap mu mengatakan bahwa kau tidak nyaman kepadaku. Oleh karena itulah meminta maaf." Jawab Ling Feng tersenyum. Membuat Qing Xian bergetar mendengarnya.


"Sikap mu yang kau tunjukkan ini adalah bukti bahwa kau tidak nyaman berada di dekat…"Perkataan Ling Feng terhenti karena sebuah tindakan Qing Xian membuat dirinya terkejut. Qing Xian tanpa basa-basi, tanpa berbicara sedikit pun. Ia langsung mencium bibir Ling Feng saat itu juga. Membuat sang empu terdiam dengan tindakan agresif Qing Xian.


"Aku mencintaimu Feng." Kata Qing Xian tegas tidak gugup lagi. Bahkan ia mengatakan hal itu sembari menatap kedua mata Ling Feng membuat sang empu sedikit tidak menyangka, Qing Xian akan menyatakan kebenarannya saat ini. "Entah sejak kapan rasa ini muncul…Aku benar-benar tidak mengetahui hal tersebut dan sedikit bingung menanggapinya seperti apa." Kata Qing Xian.


Ling Feng yang mendengar itu sedikit terkejut lalu berkata, namun langsung di potong. "Jika memang seperti itu, kenapa-" Perkataannya dipotong oleh Qing Xian.


Ling Feng yang mendengar penuturan kata tersebut, ia dapat merasakan nada kesedihan dari penuturan kata nya. Oleh karena itu saat ini Ling Feng memilih diam membiarkan Qing Xian mengeluarkan emosi yang selama ini ia tahan-tahan.


"Aku sudah bertekad untuk mengubur ego ku dalam-dalam demi keluarga ku. Aku sudah bertekad untuk tidak menunjukkan kelemahan ku agar keluarga ku tidak ada yang terluka lagi. Aku tetapkan hal itu sampai saat ini, akan tetapi saat ini juga aku melanggar perkataan apa yang pernah kukatakan sebelumnya." Kata Qing Xian dengan mulut sudah mulai bergetar mengatakannya.


"Aku…Aku…" Kata Qing Xian yang mulai sesenggukan sampai sebuah lengan membawanya. "Jangan katakan lagi jika hal itu sakit untuk dikatakan. Cukup kau tidak perlu mengatakannya lagi jika merasa sakit." Bisik Ling Feng memeluk Qing Xian sembari mengelus-elus bagian belakang kepalanya menenangkannya.


Perlakuan Ling Feng membuat ia kembali merasakan hal nostalgia saat ini. Perlakuan hangat ketika ia sedang berkeluh kesah, perlakuan hangat dari orang yang paling mengerti dengannya yang tidak lain adalah Ibunya. Perlakuan menenangkan dan pelukan yang Ling Feng berikan benar-benar membuat ia merasa sangat tenang.


Pada saat itu Juga Qing Xian menangis didalam dekapan Ling Feng sekencang-kencangnya.


Di Padang Rumput


Karena tidak ingin menimbulkan keributan, Ling Feng langsung menggunakan elemen anginnya lalu menghilang dari kamar Qing Xian dan pindah ke Padang rumput yang ia datangi.


Qing Xian masih sesenggukan didalam pelukannya. Ia meluapkan semua yang ia tahan selama ini. Ia keluarkan semuanya dan bahkan tidak tanggung-tanggung ia menangis sampai berjam-jam lamanya dan tidak lama kemudian ia tertidur didalam pelukannya Ling Feng.


Pada saat tengah malam kemudian Qing Xian bangun kemudian dan ia terkejut ketika ia bangun ada ditempat yang asing. "Eh ini bukan kamarku. Jadi dimana aku sekarang? Bukankah aku sedang di kamarku kenapa sekarang jadi di sini." Gumam Qing Xian keheranan sembari mengusap-usap kedua matanya. Ia masih belum sadar saat ini sampai kedua matanya melihat sebuah jubah yang menyelimuti tubuhnya sembari menyapu pandangannya ke sekitar.


Sampai kemudian, potongan-potongan ingatan mulai bermunculan dikepalanya. Seketika wajahnya langsung berubah merah dan menolehkan pandangannya mendapati seorang pemuda yang tidak lain adalah Ling Feng tersenyum kepadanya. "Kau sudah bangun putri tidur ku yang cantik." Kata Ling Feng terkekeh. Membuat Qing Xian yang mendengar itu mengeluarkan asap di atas puncak kepalanya, saking merasa sangat malu mengingat kejadian-kejadian beberapa jam yang lalu.


>>>>>> Bersambung