
“Bangs*t! Habisi orang itu jangan beri ampun!” Teriak salah satu orang dari kelompok tersebut memberikan aba-aba pada yang lainnya, dan mereka pun serempak maju ke arah Hao Xiang.
“Baguslah hibur aku yang sedang bosan ini.” Gumam Hao Xiang lalu ikut maju menyerang ke arah sekelompok orang tersebut.
>>>>>>______
“Jadi Muridku. Apakah kamu punya sesuatu untuk di katakan kepada guru sekarang?” Ucap seorang pria bertopeng di hadapan seorang pemuda yang sedang bertekuk lutut di hadapannya saat ini, dimana tindakannya itu menarik perhatian beberapa orang di sana, walaupun sedang sepi pengunjung.
“A-aku minta maaf, karena telah merepotkan guru. Aku berjanji tidak akan melakukan hal berlebihan lagi seperti tadi.” Ucap seorang pemuda. Wajah dari pemuda itu terlihat babak belur, dan terlihat sangat kesusahan untuk bertekuk lutut dengan benar, karena tepat di bagian bokongnya ia merasa sangat panas, membuat pemuda tersebut tidak bisa melakukan posisinya dengan benar. Pemuda tersebut adalah Hao Xiang dan pria bertopeng itu adalah Ling Feng yang datang setelah Hao Xiang membuat kekacauan di kedai minuman.
Flashback On
Booommmm... Booommmm...
“Hahahaha.... Terus! Teruskan! Aku yakin kalian semua masih bisa lebih dari ini. Jadi jangan ragu-ragu! Hahahaha...!” Teriak Hao Xiang, yang telah menumbangkan dua orang sekaligus dari teman-teman pria yang di hajar olehnya di awal.
Melihat Hao Xiang yang begitu mudah menumbangkan dua orang dari kelompok mereka, orang-orang tersebut mulai semakin ragu untuk menyerang ke arah Hao Xiang. Melihat tidak ada yang maju, Hao Xiang pun sedikit memiringkan kepalanya lalu berkata, “Eh apa ini? Kalian tidak ingin maju?” Ucap Hao Xiang dengan polosnya, membuat sekelompok orang tersebut seluruhnya refleks mundur selangkah.
Ada beberapa dari mereka yang sudah ketakutan, ketika melihat Hao Xiang, namun ada juga beberapa yang masih berani melayangkan tatapan tidak senang kepada Hao Xiang.
“Ya kalau tidak ada yang mau maju, maka aku saja yang maju.” Ucap Hao Xiang lalu melesat cepat ke arah salah satu dari kelompok tersebut dalam sekali gerak tanpa bisa di lihat oleh siapapun. Hao Xiang melancarkan serangan telak membuat orang tersebut langsung terpental ke belakang beberapa meter dan baru berhenti setelah menghancurkan sebuah meja di kedai tersebut.
Tidak berhenti di sana saja, Hao Xiang melancarkan serangan lanjutan membuat dua orang lagi terpental ke belakang. Untuk suasana kedai tersebut sudah kacau parah, mengingat tindakan Hao Xiang dan adanya sebuah pertarungan, membuat para pelanggan yang di dekat mereka langsung menyingkir seluruhnya tidak ingin terkena imbasnya.
Semua pasang mata yang awalnya meremehkan Hao Xiang, kini menatap ngeri ke arahnya. Semua orang yang ada di sana, benar-benar tidak menyangka dengan fakta Hao Xiang adalah seorang ahli yang menyamar. Bahkan kelompok dari pria yang telah menyinggung Hao Xiang pun kini mulai merasa sangat takut, karena melihat kekuatan Hao Xiang yang di luar kemampuan mereka.
“A-aku tidak ikut-ikutan. Aku tidak ikut-ikutan. Tolong lepaskan aku tuan.” Ujar salah satu orang dari kelompok tersebut yang sudah menyerah, tidak berani mengangkat pedangnya lagi. “Persetan dengan kau yang ikut-ikutan atau tidak. Memangnya jika aku lebih lemah dari mu kau akan melepaskanku begitu saja? Terlebih lagi, kelompok kalian selalu menargetkan orang baru, dan menakuti-nakutinya dengan jumlah kalian yang banyak bukan?” Ucap Hao Xiang yang langsung membuat mulut orang tersebut terdiam seribu bahasa.
“Kenapa diam? Tidak bisa menjawabnya ya?” Ucap Hao Xiang lagi.
“Tap-“ Perkataan orang tersebut yang langsung terhenti, karena Hao Xiang langsung memberikannya sebuah pukulan telak di wajahnya, sampai-sampai ia terhempas ke belakang dan langsung tidak sadarkan diri, setelah menghancurkan sebuah meja. Orang-orang yang melihat itu, refleks menyentuh wajahnya masing-masing merasa linu, ketika merasakan suara renyah yang terdengar dari wajah orang tersebut.
Hao Xiang pun lantas berbalik melirik kelompok orang dari pria yang mencari masalah dengannya, dan kembali menghajar mereka semua. Orang-orang yang tersisa pun hanya berusaha mengeluarkan kekuatan mereka masing-masing, karena menyerah pun percuma. Mengingat Hao Xiang yang menghajar wajah teman mereka sampai tidak sadarkan diri.
Setengah jam pun berlalu begitu saja, kekacauan di kedai tersebut pun telah selesai dengan hasil akhir Hao Xiang menghajar seluruh kelompok tersebut sampai babak belur. Orang-orang yang menonton sampai pemilik kedai sendiri pun tidak berani menghentikan aksi Hao Xiang yang begitu brutal saat ini.
“Cihhhh... Sekelompok orang lemah yang kerjanya cuman menindas saja. Untung saja aku sedang dalam suasana hati yang baik saat ini.” Ucapan Hao Xiang membuat semua orang yang medengar itu bergidik ngeri.
“Suasananya sedang baik saja ia membuat semua orang tersebut koma seluruhnya, apalagi jika sedang dalam suasana yang buruk. Mungkin orang-orang ini tidak akan mati dengan mudah.” Batin yang menonton insiden tersebut seraya menatap ngeri sekelompok orang yang terkapar sangat mengenaskan. Akan tetapi, masih ada hal lainnya lagi yang membuat semua orang terkejut dan tidak habis pikir.
“Oioi... Kau bercanda, kan?!” Batin semua orang dengan ekspresi yang sangat sulit di artikan, membuat Hao Xiang pun tidak mengeri. Namun pertanyaan dari Hao Xiang langsung di jawab oleh suara yang tiba-tiba muncul.
“Lebih tepatnya, kaulah pelaku dari semua kekacauan di tempat ini bocah nakal.” Ucap suara dan wujud seorang pria bertopeng tiba-tiba muncul di belakang Hao Xiang membuat semua orang di sana refleks menoleh ke arah sumber suara, namun tidak dengan Hao Xiang, karena dirinya tersentak kaget ketika mendengar suara yang begitu familiar di telinganya itu.
“Sejak kapan ia di sana?!” Batin seluruh orang di sana terkejut dengan kehadiran pria bertopeng itu yang muncul secara tiba-tiba di belakang Hao Xiang, namun mereka semua merasa aneh dengan Hao Xiang yang kini terlihat wajahnya pucat pasi.
Pria bertopeng itu pun meletakkan telapak tangannya di atas kepala Hao Xiang dengan tenang, “Xiang’er... Apa yang sedang kamu lakukan di sini?” Tanya pria bertopeng itu yang membuat wajah Hao Xiang pucat pasi.
“A-ah... Anu guru. A-aku itu... Ah...” Hao Xiang yang mendadak gelagapan, membuat semua orang di sana kagum dengan sosok pria bertopeng itu, yang bisa menaklukan Hao Xiang dengan mudah. Pria bertopeng itu hanya diam saja seraya menunggu Hao Xiang yang terlihat gelagapan itu, ia pun lantas menoleh ke arah sekelompok orang-orang yang sedang menonton mereka.
“Ah maafkan aku. Kalau boleh tahu, diantara kalian, yang mana pemilik kedainya?” Tanya pria bertopeng itu dengan ramah ke arah sekelompok orang tersebut sembari tersenyum lembut. Seorang pria yang sudah lumayan sepuh pun maju ke depan, tidak lain adalah pemilik kedai tersebut.
Pria bertopeng itu pun langsung meminta maaf kepada pemilik kedai itu mewakili Hao Xiang. Tentunya tidak hanya sekedar meminta maaf saja, dirinya juga memberikan sekantung koin emas kepada pemilik kedai sebagai kompensasi atas tingkah laku buruk Hao Xiang. Awalnya sang pemilik kedai ingin menolaknya, namun pria bertopeng itu memaksanya untuk menerima sekantung penuh koin emas itu.
“Saya dan murid saya pamit tuan. Sekali lagi, saya minta maaf atas tingkah buruk murid saya.” Ucap pria bertopeng itu sangat ramah, tersenyum lembut lalu pergi dengan Hao Xiang yang terlihat sudah sangat pasrah. Semua orang yang ada di sana bahkan kagum dengan sikap Ling Feng yang begitu lembut dan ramah itu, mereka semua bertanya-tanya dengan identitas sebenarnya dari kedua orang tersebut.
“Sungguh guru dan murid yang sangat luar biasa.” Batin semua orang di sana takjub, dan awal mula penderitaan Hao Xiang.
Flashback Off
“Baiklah, guru akan memaafkan mu.” Ucap Ling Feng yang membuat kedua pupil mata Hao Xiang langsung bersinar.
“Tapi, jika sampai kau melakukan hal seperti tadi dan sejenisnya. Maka bersiaplan dengan konsekuensi yang akan kamu terima dari guru.” Ucap Ling Feng melanjutkan perkataannya seraya tersenyum dingin, membuat Hao Xiang yang awalnya merasa senang, kini langsung bergidik ngeri lagi.
“A-aku mengerti guru.” Ucap Hao Xiang, dalam hatinya bernafas lega.
“Ckkk, seharusnya di tambah lagi hukuman nya tuan muda. Biar bocah maniak ini kapok.” Ucap sengit Ling Laohu yang berada di atas meja. Mereka saat ini sudah beralih tempat ke sebuah kedai makan yang tidak terlalu ramai, yang berada dekat dengan daerah pinggiran.
“Apa kau bilang kucing jadi-jadi?! Apakah kau masih tidak puas setelah menedang keras bokong ku hahhhh...?!” Timpal Hao Xiang yang tidak terima, keduanya hendak berdebat lagi, namun Ling Feng langsung memisahkannya.
“Sudahlah kalian berdua, kita akan kembali ke topik pembicaraan nya sekarang. Jadi fokuslah.” Ucap Ling Feng yang membuat keduanya memalingkan wajahnya masing-masing. “Baiklah Xiang’er. Aku ingin mendengar informasi yang telah kamu dapatkan mengenai kota ini.” Kata Ling Feng menatapnya dengan serius.
>>>>>> Bersambung
~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya dengan saran dan ulasannya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.