
Kedua bersaudara itu kembali menyerang Ling Feng. Ling Feng pun bangkit kembali ikut maju menerjang. Jual beli serangan pun terjadi kembali. "Dengan sabit sebesar itu dia bisa mengendalikan dengan lihai dan cakap. Ditambah dengan adiknya yang mengetahui kapan dirinya harus menyerang untuk menutupi celah dari sang kakak benar-benar tidak ada celah sama sekali." Batin Ling Feng
Walaupun lawannya kali ini sulit, Ling Feng masih belum menunjukkan raut wajah yang gelisah. Ia masih tenang menyerang dan bertahan sembari mencari celah dari dua bersaudara itu. Lalu kedua Bersaudara itu masih terus gencar menyerang Ling Feng. Mereka tidak memberikan jeda sama sekali bagi Ling Feng untuk bernafas.
Tempat Qing Xian berada
"Lin'er sayang sudah tenang ya…Kakak Xian disini tidak perlu takut lagi." Kata Qing Xian berusaha menenangkan. Akan tetapi, hal itu masih tidak bisa Karena Lin kecil seperti mengabaikan seluruh perkataan yang dilontarkan Qing Xian.
Qing Xian pun memutuskan untuk berhenti sementara di sebuah tempat yang menurutnya cukup aman saat ini. Ia juga berhenti karena ingin melihat kembali kondisi Lin kecil saat ini. Pada saat berhenti, Lin kecil tidak melepas pelukannya dari Qing Xian sama sekali. Bahkan itu semakin erat disertai tubuhnya yang bergetar saat ini.
Qing Xian yang merasakan itu membalas kembali pelukan Lin kecil kepadanya sembari mengelus-elus puncak kepala dan punggung Lin kecil supaya membuatnya tenang kembali. "Sudah cup, cup, cup, sekarang sudah tidak apa-apa." Kata Qing Xian lembut sembari mengusap puncak kepala Lin kecil.
Sampai terdengar rancauan keluar dari mulut Lin kecil yang membuat Qing Xian terkejut mendengarnya. "Ibu jangan pergi tinggalkan Lin'er." Rancau Lin kecil mengeratkan pelukannya disertai tubuhnya yang bergetar.
Qing Xian yang mendengar itu merasakan kesedihan yang dalam dari perkataan Lin kecil. Kedua matanya sedikit berair ketika mendengar rancauan Lin kecil. "Tidak nak…Ibu tidak pergi kemana-mana. Ibu selalu ada disini dengan Lin'er." Kata Qing Xian dengan lembut. Setelah berkata seperti itu, Lin kecil pun mulai tidak gemetaran lagi tubuhnya. Qing Xian yang merasakan itu menghembuskan nafas lega karena telah berhasil menenangkan Lin kecil.
Tidak lama kemudian Lin kecil pun tertidur dalam pelukan Qing Xian. Awalnya Qing Xian ingin merubah posisi Lin kecil, namun pelukan Lin kecil kepadanya tidak mengendur sama sekali alhasil ia membiarkan saja dalam posisi tersebut.
"Diumurnya yang seharusnya menikmati kesenangan dengan orang tuanya. Lin'er sudah mempunyai trauma yang mendalam menyangkut orang tuanya." Gumam Qing Xian menatap sedu Lin kecil lalu mengelus-elus puncak kepala membuatnya lebih nyaman.
Kembali ke Ling Feng
Jual beli serangan masih terus berlalu selama satu batang dupa kedepan, bahkan tidak ada yang berbeda sama sekali selama satu batang dupa terakhir ini. Namun selama satu batang dupa itu Ling Feng sudah menghapal pola serangan kedua bersaudara itu.
Guan Long yang melihat itu sudah menyeringai lebar dan sudah tidak sabar lagi melihat Ling Feng dikalahkan. "Cepat kalahkan pemuda itu! Jangan dibunuh dulu biarkan sekarat saja, biar aku yang mengurusnya nanti." Kata Guan Long.
Sang adik yang mendengar itu berdecak sembari berkata, "Cihhhhh sampah sia*an itu hanya bisa berkata besar saja. Jika bukan karena perintah atasan mana mau aku menemaninya kemari." Kata sang adik.
"Abaikan saja adik. Sebaiknya kau fokus terhadap musuh didepan kita ini. Aku merasakan bahwa ia sengaja membuat dirinya tertekan saat ini." Kata sang kakak. Sang adik yang mendengar itu menganggukan kepalanya tidak berkata apa-apa lagi.
Ia benar-benar tidak menunjukkan pergerakan yang menarik sama sekali dan hal itu sangat menggangunya. Ling Feng yang menyadari wajah gelisah sang kakak itu, dalam sekali hentakan maju melakukan serangan kejutan tepat mengarah ke lehernya.
Sang adik yang melihat serangan kejutan itu langsung berteriak. "Kakak! awas…!" Teriak sang adik. Sang kakak yang mendengar teriakkan sang adik itu sontak kembali sadar dari lamunannya dan bergerak mundur kebelakang.
"Cihhhhh refleks mu ternyata baik juga padahal awalnya aku mengira aku bisa membunuh mu dalam sekali tebas." Kata Ling Feng menghela nafas kasar. Detak jantung sang kakak benar-benar sangat cepat. Sesaat dirinya benar-benar seperti melihat malaikat kematian dengan cepat mengarahkan sabitnya ke leher dirinya.
"Kakak!! Apakah kau tidak apa-apa?" Tanya sang adik yang langsung menghampirinya. Sang kakak menganggukkan kepalanya dengan nafas memburu. Ia lantas mengalihkan pandangannya kembali ke depan dan melihat Ling Feng sudah berada tepat di belakang adiknya.
"Adik! Dibelakang mu!' Teriak sang kakak memberitahukan posisi Ling Feng. Namun, sayang sang adik telat merespon perkataan sang kakak. Pada saat dirinya sudah ingin bergerak sebuah tebasan cepat nan mulus melewati lehernya.
Shringgggggg
Sang kakak dan Guan Long membelalakkan matanya. Terutama sang kakak, ia memegang bahu sang adik dan sedetik kemudian kepalanya jatuh kebawah diikuti darah yang mengalir deras keluar dari sana. "Adikkkkk…!" Teriak sang kakak.
"Kombinasi kalian memang sangat hebat. Namun ada satu kekurangan dari trik kalian." Kata Ling Feng lalu ia berkata kembali. "Kalian berdua mempunyai kekuatan batin yang sangat kuat lebih dari siapapun hal itu sudah terlihat jelas. Dengan kekuatan batin itu kalian bisa berkoordinasi dengan baik walaupun tanpa bicara." Kata Ling Feng.
"Hanya saja ada satu kelemahan. Ketika dari salah satu merasakan sebuah ancaman, dengan sangat cepat yang satu lagi akan segera menyusul tanpa memperdulikan sekitar kalian. Sehingga dalam momen-momen kepanikan itu aku memanfaatkan kesempatan untuk menyerang kalian." Kata Ling Feng.
"Aku memanfaatkan mu agar terus menerus menjadi waspada kepada ku. Oleh karena itu, aku tidak melakukan gerakan mencolok dan membiarkan kalian berdua menekan ku. Kau pasti sudah mengetahui bahwa aku lebih kuat dari kau dan adik mu, dan itulah sebabnya kau merasa aneh melihat ku yang tenang hanya menyerang dan bertahan biasa saja." Jelas Ling Feng. Sang kakak yang mendengar itu membelalakkan matanya menatap tubuh sang adik yang sudah tergeletak tanpa kepala.
"Lalu kau pun mulai gelisah dan mulai memikirkan hal-hal yang tidak perlu. Dan pada saat itu aku memanfaatkan mu untuk melakukan serangan kejutan dan memancing adik mu untuk mendekat kemari dan sisanya…Ya kurasa kau sudah mengetahuinya lah tanpa ku beritahu." Kata Ling Feng mengakhiri penjelasannya.
"Tidak akan ku maafkan." Gumam pelan yang masih terdengar oleh Ling Feng. Ling Feng yang mendengar itu menyeringai lebar dan berkata, "Majulah jika kau memang ingin membalaskan dendam adik mu itu." Kata Ling Feng menantang balik dan tepat setelah berkata seperti itu aura kuat mulai meledak saat itu juga.
Booooommmm
>>>>>> Bersambung