
Ling Feng berbaring di salah satu pohon yang mana, ia bisa melihat dengan jelas sinar bulan yang memancar terang dari sana. Ling Feng yang melihat bulan itu secara seksama, entah sejak kapan langsung tenggelam dalam pikirannya. “Kebangkitan iblis, kah...” Gumam Ling Feng pelan seraya menghela nafas pendek. Dirinya saat ini benar-benar sangat kekurangan informasi, yang mana itu benar-benar membuatnya cukup frustasi.
“Haihhh... Ini benar-benar sulit.” Gumam Ling Feng pelan memilih untuk memikirkan hal itu nanti ketika bertemu dengan Long Tian yang berada di Kota Kekaisaran saat ini. Ling Feng kembali menatap bulan yang begitu terang bersinar malam itu. Ling Feng yang melihat rembulan itu, sontak mencari tempat yang sedikit lebih jauh dari tempat Pang Lang dan Ren Hu beristirahat.
Dirinya pun sampai di sebuah tempat yang tidak terlalu luas, namun cahaya bulan yang menerangi tempat tersebut, cukup menarik perhatian Ling Feng. “Disini cukup bagus.” Ucap Ling Feng lalu berdiri tepat di bawah cahaya bulan di atas kepalanya. Setelah itu, Ling Feng pun mengeluarkan kedua pedang putih dan hitamnya dari cincin ruang.
Ling Feng menatap lekat-lekat kedua pedang nya itu yang terlihat samar-samar berdesir. “Sudah cukup lama aku tidak melakukan ini. Semenjak keluar dari pelatihan tertutup di jurang kematian.” Ucap Ling Feng lalu mulai menutup kedua matanya, dan mulai bergerak secara acak mengayunkan kedua pedangnya dengan sangat intens, di bawah cahaya rembulan malam itu.
Malam itu, Ling Feng habiskan waktunya dengan mengayunkan pedangnya di bawah cahaya rembulan sampai dimana waktu pun berlalu hingga esok hari.
Keesokan Harinya
Ling Feng dan yang lainnya kembali melanjutkan perjalanan nya, pada saat matahari mulai menampakan wujudnya.
Awwwuuu... Grrrr...
Shringggg... Shringggg...
“Fyuhhh selesai juga... Tuan muda aku telah selesai membunuh semua serigalanya.” Ucap Ren Hu yang langsung menoleh ke arah Ling Feng seraya melambai-lambaikan tangannya.
“Seperti biasanya, kerja bagus Ren Hu, Paman Lang.” Ucap Ling Feng memuji kepada dua orang yang telah menghabisi sekelompok beast yang beberapa saat yang lalu mengelilingi mereka. Pang Lang yang mendapatkan pujian menganggukkan kepalanya, sementara itu Ren Hu langsung salah tingkah seraya memasang senyuman lebar tercetak di wajahnya.
“Baiklah... Ayo kita lanjutkan lagi pembantaian nya.” Ucap Ren Hu yang secara tiba-tiba menjadi sangat bersemangat dan termotivasi.
“Heiii. Bukankah kau terlalu bersemangat untuk hal semacam ini.” Kata Pang Lang melirik ke arah Ren Hu.
“Cihhh... Mau aku bersemangat atau tidak, memangnya kau ada urusan apa hahhh?” Ren Hu menimpali perkataan Pang Lang dengan nada sewot.
“Aku hanya khawatir jika populasi beast yang ada di sini akan berkurang drastis, jika kau habisi semuanya.”
“Hahhh...?! Sejak kapan kau memedulikan hal seperti itu? Toh bukankah lebih bagus jika populasi beast yang ada di hutan ini berkurang, hal itu bisa mengurangi korban manusia yang berjatuhan.”
“Walaupun kau berkata seperti itu, tetap saja fakta bahwa keseimbangan akan hancur tidak akan mengubah kebenarannya.”
“Hahh.... Kenapa malah jadi membahas hal itu...?!”
Keduanya pun pada akhrinya tenggelam perdebatan yang cukup panas, membuat Ling Feng yang memperhatikan nya hanya bisa menghela nafas panjang lalu angkat suara melerai keduanya.
“M-maafkan kami atas sikap kekakanak-kanakannya tuan muda.” Ucap serempak keduanya meminta maaf kepada Ling Feng. “Haihhh... Ya terserah kalian berdua saja. Jika kalian mengerti hal tersebut, maka tidak menjadi masalah. Ayo kita pergi dari sini.” Ucap Ling Feng bergerak terlebih dahulu.
“Baik tuan muda.” Ucap kompak keduanya langsung mengekor di belakang Ling Feng pergi menuju ujung hutan yang mereka lewati saat ini.
Dua Jam Kemudian
Dua jam berlalu begitu saja, dan mereka pun sampai di ujung hutan. Ling Feng melangkah santai, berjalan di jalan utama. Sesuai dengan apa yang Ling Feng katakan tadi, tidak jauh dari mereka saat ini terlihatlah sebuah tembok yang sangat besar dan tinggi. Bukan hanya tinggi saja, bahkan dari jarak Ling Feng saat ini yang terbilang cukup jauh, ornamen megah dari tembok tersebut terlihat sangat jelas.
Ling Feng dan kedua yang lainnya pun ikut bergabung dengan antrian para pedagang yang ingin masuk ke dalam kota tembok megah tersebut. Ren Hu yang berada di belakangnya pun sampai berkata dengan takjub ketika melihat tembok nan tinggi tersebut. “Wahh... Besar sekali temboknya.” Gumam Ren Hu yang merasa sangat takjub.
Selain dari penampilan tembok kota yang megah, Ling Feng juga merasakan aura yang sangat kuat terpancar dari balik tembok kota tersebut. Ia berasumsi bahwa aura yang kuat itu berasal dari sosok-sosok kuat yang berada di kota tembok megah itu.
Antrian masuk kedalam kota itu tidak terlalu panjang, alhasil sampai juga pada giliran Ling Feng dan kedua lainnya. Terlihat di sana ada sebuah pos dan dua sosok prajurit kota yang menjaga gerbang masuk ke dalam kota. “Kartu identitas nya.” Pinta prajurit kota tersebut kepada Ling Feng dan kedua orang di belakangnya.
Ling Feng menganggukan kepalanya mengeluarkan sebuah plakat tanda pengenal yang telah ia buat sejak beberapa tahun yang lalu. Bukan hanya Ling Feng saja, Ren Hu dan Pang Lang pun juga mempunyai kartu tanda pengenal. Keduanya tentu tidak mempunyai tanda pengenal awalnya, namun Ling Feng sebelumnya meminta kepada Wali Kota Bing untuk membuatkan dua kartu identitas, yang mana tentunya untuk Ren Hu dan Pang Lang.
Prajurit kota menerima kartu identitas Ling Feng dan kedua orang lainnya. Setelah selesai di periksa, ia pun memberikan kembali ketiga kartu identitas itu kepada Ling Feng seraya berkata, tiga puluh keping tembaga.” Ucapnya seraya memberikan kembali kartu identitas Ling Feng dan yang lainnya. Ling Feng tanpa berkata apa-apa langsung memberikan tiga keping koin perak sebagai gantinya dan masuk ke dalam kota tersebut.
Prajurit penjaga tadi juga sempat berbicara kepada Ling Feng tentang ada beberapa larangan yang berlaku di kota tersebut salah satunya adalah tidak diperbolehkan terbang di atas kota selama dalam area kota tentunya.
Berbeda dengan Kota Cheng Dua yang padat, kota yang bernama Kota Awan Emas ini tidak terlihat terlalu padat penduduknya. Walaupun begitu, ornamen-ornamen dari tiap-tiap bangunan yang berjejer di pinggir jalan, benar-benar menarik perhatian mata. Bahkan Ren Hu yang berada di sebelah Ling Feng tampak lebih berkilau-berkilau daripada sebelum memasuki Kota Awan Emas. Ren Hu sontak mengalihkan pandangannya menatap Ling Feng seraya memasang raut wajah yang melas membuat Ling Feng hanya bisa tersenyum kecut menanggapinya.
“Baiklah, baiklah, jika ingin pergi beli sesuatu pergilah. Lalu pergilah ke gerbang barat setelah waktu menunjukkan tengah hari.” Ucap Ling Feng seraya mengisyaratkan pintu keluar yang berada di barat Kota Awan Emas. “Dimengerti... Kalau begitu, terima kasih tuan muda.” Ucap Ren Hu dengan semangat empat lima lalu bergegas pergi menjauh dari Ling Feng.
Ling Feng menggeleng-gelengkan kepalanya dan sadar bahwa Pang Lang masih berada di sisinya. “Paman tidak ingin pergi ke sesuatu tempat begitu?” Tanya Ling Feng. “Tidak perlu tuan muda. Lagipula aku sedang tidak membutuhkan apapun dan tidak berniat untuk melakukan apapun." Jawab Pang Lang.
“Tidak perlu menahan diri Paman Lang. Aku sendirian baik-baik saja kok.” Ucap Ling Feng, namun tanggapan Pang Lang masih tetap sama. “Aku tidak apa-apa tuan muda. Tolong izinkan aku untuk menemani Anda.” Ucap Pang Lang lagi.
“Jika kau memang ingin seperti itu, maka aku tidak akan mencegahnya.” Ucap Ling Feng melangkah masuk ke dalam kerumunan warga dengan Pang Lang yang mengekor di belakangnya. Ling Feng pun memutuskan untuk pergi ke salah satu kedai makanan. Ia berniat untuk mencari rempah-rempah, karena persediaan rempah-rempahnya telah habis.
>>>>>> Bersambung
~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.