
Sosok tersebut pun hanya mendegus kesal lalu tersenyum kemudian, ia lalu mengalihkan pandangannya ke arah Pang Lang dan berkata, “Oh adik Lang... Sudah sangat lama sejak kita bertemu ya. Bagaimana kabar mu? Seperinya kau bertambah kuat ya setelah beberapa tahun terakhir ini. Aku jadi yakin bisa sedikit serius ketika latihan bertarung dengan mu.”
“Lama tidak bertemu juga kakak besar. Aku baik-baik saja selama beberapa tahun terakhir ini kok. Terlebih lagi bagaimana dengan kabar mu di kota ini kakak besar? Kudengar kau sangat betah saking nyaman nya di sini.” Timpal Pang Lang yang mengabaikan kalimat yang terakhir dan balik bertanya kepada sosok tersebut.
“Ya seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja di sini. Kota ini mantap loh, aku bisa bertarung kapanpun aku mau.” Ucap sosok tersebut menggebu-gebu. Pang Lang hanya menanggapi nya dengan helaan nafas panjang saja ketika mendengar hal tersebut.
Sosok tersebut pun langsung beralih kepada Ren Hu. Ren Hu yang secara tiba-tiba di perhatikan pun terkejut dan refleks memperkenalkan dirinya. “S-salam kenal tuan Long Tian namaku adalah Ren Hu. Aku juga adalah pengik-“ Ucapannya lagi-lagi di potong.
“Aku sudah mengetahui dirimu dari Adik Lang kok beberapa waktu yang lalu. Seperti yang kau ketahui, aku adalah Long Tian aku juga pengikut dari Feng’er. Salam kenal Ren Hu.” Ucap sosok tersebut tersenyum lebar seraya mengulurkan tangannya, memperkenalkan dirinya yang tidak lain adalah Long Tian.
“Ahh i-iya salam kenal juga.” Ucap Ren Hu gugup menyambut uluran tangan Long Tian. Ya wajar saja ia merasa sangat gugup saat ini, karena walaupun Long Tian tidak memancarkan tekanan sedikit pun, ia dapat merasakan aura yang sangat kuat dari Long Tian hanya dalam sekali lihat saja.
“Ayo ikuti aku.” Ucap Long Tian berjalan terlebih mendahului. Ling Feng dan ketiganya pun mengekori di belakangnya. “Kita akan pergi kemana paman?” Tanya Ling Feng kepada Long Tian. “Kedai makanan pastinya. Makanan dan teh di kota ini sangat enak loh.” Jawab Long Tian tanpa menoleh ke belakang. Long Tian tidak mengatakan tentang arak, karena Ling Feng memang tidak terlalu menyukai minuman-minuman seperti itu. Sebaliknya ia sangat menyukai teh, apalagi jika itu terbuat dari daun teh yang mengandung energi spiritual. Baginya itu lebih baik daripada arak.
Ling Feng mengangkat sebelah alisnya dan bertanya kembali, kali ini dengan nada yang curiga. “Apakah benar hanya untuk sekedar makan dan minum teh saja?” Tanya Ling Feng membuat tubuh Long Tian sedikit tersentak kaget. “A-apa maksud mu Feng’er? Saat ini kan sudah tengah hari, kau pasti sangat lapar kan, karena telah melewati perjalanan yang panjang seharian.” Ucap Long Tian menoleh seraya memasang senyum kaku.
“Betulkah hanya itu saja?” Ling Feng kembali mengajukan pertanyaan seraya menyipitkan kedua matanya menatap curiga ke arah Long Tian. Menghadapi tatapan yang di layangkan oleh Ling Feng, Long Tian pun mengalah menghela nafas panjang. “Baiklah, baiklah, sebenarnya selain diriku, ada yang ingin bertemu dengan mu.” Ucap Long Tian yang jujur pada akhirnya
“Ingin bertemu dengan ku? Siapa memang?” Tanya Ling Feng menjadi penasaran. “Nanti juga kau mengetahui nya. Kita pernah bertemu dengan mereka pada saat beberapa tahun yang lalu.” Kata Long Tian seraya kembali berjalan membuat Ling Feng semakin penasaran dengan siapa yang mencari dirinya.
Pada akhirnya Ling Feng hanya bisa menahan rasa penasarannya dengan mengikuti Long Tian yang mengantarnya ke orang tersebut, yang hendak bertemu dengan nya. Kedai makanan yang mereka tuju saat ini tidak terlalu jauh dan hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja mereka sampai. Terlihatlah dari luar saja cukup mewah, menandakan bahwa kedai makan tersebut termasuk ke dalam kedai makan yang terbaik. Long Tian langsung masuk ke dalam kedai makan tersebut diikuti oleh Ling Feng dan yang lainnnya.
Kringgg... Kringgg...
“Selamat Datang di rumah makan Xulong. Mari saya antar ke ruangannya.” Ucap pelayan tersebut yang sepertinya sudah mengetahui bahwa kelompok mereka akan datang. Long Tian yang berada di depan menganggukkan kepalanya lalu mengekori pelayan tersebut. Ling Feng dan yang lainnya pun juga mengekor di belakang Long Tian yang naik ke lantai dua.
“Silahkan masuk tuan-tuan, ini ruangannya.” Ucap pelayan tersebut seraya bergeser ke samping memberi jalan kepada Long Tian diikuti oleh Ling Feng dan yang lainnya masuk ke dalam ruangan yang merupakan bersifat pribadi. “Terima kasih.” Ucap Ling Feng kepada pelayan tersebut sebelum dirinya masuk ke dalam ruangan. Pelayan itu pun menundukkan kepalanya tersenyum profesional menaggapi ucapan terima kasih Ling Feng.
Awalnya Ling Feng mengira bahwa ruangan pribadi ini, akan terlihat sumpek, karena sifatnya yang tertutup, namun ketika masuk ke dalamnya, ekspektasi nya digantikannya dengan suasana yang nyaman serta jendela yang membuat udara masuk ke dalam ruangan pribadi tersebut. Ling Feng sendiri lebih tertarik kepada satu sosok yang sudah berada di ruangan tersebut dan kini sedang menatap keluar jendela.
Lalu pada saat sosok tersebut menoleh ke arahnya, ingatan samar-samar Ling Feng menarik kembali kejadian beberapa tahun yang lalu di kota Cheng Du sebelum dirinya pergi ke Kaisaran Wei. “Tetua Ling?” Ling Feng refleks mengucapkan nama dari sosok yang hendak bertemu dengannya itu.
Sosok yang tidak lain adalah Tetua Ling itu bangkit, dan melangkah cepat ke arah Ling Feng. Sekilas Ling Feng melihat wajah Tetua Ling yang kedua matanya berkaca-kaca, dan tanpa aba-aba serta tidak mengatakan apapun, ia langsung memeluk Ling Feng. “Ehhh.” Kata yang keluar dari mulut Ling Feng yang terkejut dengan tindakan Tetua Ling yang tiba-tiba.
Pang Lang dan Ren Hu menatap penasaran dua insan yang sedang berpelukan itu, sementara Long Tian sendiri hanya tersenyum penuh arti melihat itu. Pada saat Ling Feng hendak mengajukan pertanyaan, Tetua Ling tiba-tiba berkata, “Maafkan kakek Feng’er.” Ucap Tetua Ling yang membuat Ling Feng terkejut bukan main ketika mendengar hal itu.
Deggghhh... Deggghhh...
Tentunya Ling Feng tidak menyangka akan hal ini, Ling Feng sendiri sudah mengetahui bahwa Tetua Ling kemungkinan adalah kakeknya, namun hal itu ia tahan, karena pada saat itu ia lebih memprioritaskan dendam kedua orang tua dan warga desanya. Jadi ia berniat untuk mengatakan kebenaran yang terjadi jika sudah selesai dengan misi balas dendamnya, akan tetapi hal tidak ia duga sama sekali adalah Tetua Ling sudah terlebih dahulu mengetahui bahwa Ling Feng adalah cucunya.
Mengingat bahwa Tetua Ling mengetahui bahwa Ling Feng adalah cucunya, hal itu pasti bukan, karena kebetulan semata. Ling Feng langsung refleks melirik ke arah Long Tian yang sekejap langsung mengalihkan pandangannya, menghindari tatapan Ling Feng. Ling Feng berdecak dalam hatinya ketika melihat sikap Long Tian yang berusaha menghindarinya.
Ling Feng pun menghela nafas pendek lalu tersenyum simpul dan membalas pelukan dari Tetua Ling. Sontak tubuh dari tetua Ling pun tersentak, ketika menyadari bahwa Ling Feng membalas pelukannya. Ling Feng masih tersenyum dan berkata, “Tidak perlu meminta maaf kek. Seharusnya Feng’er yang meminta maaf, karena tidak menyembunyikan kebenarannya. Maafkan Feng’er ya kek.” Ucap Ling Feng.
Mendengar hal itu, sontak Tetua Ling langsung melepas pelukannya, dan memegang kedua bahu Ling Feng, pada saat itulah wajah Ling Feng yang tidak tertutup oleh tudung kepala, terlihat sangat jelas. Tetua Ling yang melihat wajah Ling Feng yang terlihat lebih tampan serta semakin mirip dengan wajah ayahnya waktu muda dulu. “Tidak nak, kau tidak salah, kakek mengerti bahwa Feng’er tidak memberitahu kakek, karena pasti Feng’er mempunyai hal yang lebih mendesak untuk dilakukan terlebih dahulu. Kakek mengerti akan hal itu, jadi Feng’er tidak salah.” Ucap Tetua Ling panjang lebar.
“Sebaliknya, kakek lah yang seharusnya kau salahkan nak. Jika saja kakek ada pada saat itu, jika saja kakek datang tepat waktu, kedua orang tua mu mungkin masih ada saat ini untuk melihat pertumbuhan mu. Maafkan kakek Feng’er. Maafkan kakek.” Ucap Tetua Ling terlihat sangat menyesal. Orang tua itu bahkan tidak kuat berdiri setelah berkata seperti itu saking menyesalnya ia, namun sebelum tubuh Tetua Ling ambruk ke tanah, Ling Feng langsung menahan tubuh Tetua Ling. Ling Feng juga memasang ekspresi senyum hangat, membuat beban berat yang Tetua LIng rasakan di pundaknya, tiba-tiba menjadi ringan.
“Itu bukan salah kakek, kok... Asal kakek tau. Ayah pernah berbicara kepadaku, ‘Feng’er, kakek mu itu ia mungkin memang terlihat sangat dingin acuh tak acuh, akan tetapi sebenarnya kakek mu itu orang yang sangat pengertian juga penyayang, oleh karena itu, jika kau bertemu lagi dengan nya, jangan membencinya ya’. Baik ayah, ibu, ataupun aku, tidak ada yang membenci kakek. Jadi kakek tidak perlu menyalahkan diri kakek lagi.” Ujar Ling Feng mengatakan hal yang ia dengar dari sang ayah pada saat ia selesai membalaska dendamnya.
Sekali lagi tubuh Tetua Ling tersentak, karena terkejut. Air mata yang berusaha ia tahan pun akhirnya lolos juga dan buru-buru ia menyeka air matanya itu. “Terima kasih Feng’er. Terima kasih.” Ucap Tetua Ling yang merasakan beban di pundaknya menjadi ringan. Ling Feng menanggapinya dengan senyum hangat seraya menganggukkan kepalanya.
“Oh ya kakek. Aku ingin bertanya sebelumnya, kakek mengetahui kebenaran ini dari siapa ya?” Tanya Ling Feng, seketika membuat Long Tian yang awalnya tersenyum, mendadak mengubah raut wajahnya menjadi jelek.
>>>>>> Bersambung
~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se rasku.