Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Li Bing


Malam telah menyelimuti muka bumi. Udara malam ini sangat dingin. Apalagi saat sedang berada di Lembah Selaksa Bunga itu.


Hembusan angin pegunungan tidak pernah berhenti. Setiap saat selalu menerpa tubuh dengan mesra.


Keadaan di sana sudah sepi hening. Semua orang telah tertidur lelap. Seperti juga Zhang Fei.


Walaupun belum larut tengah malam, tapi ia lebih memilih untuk tidur. Biasanya dia selalu tidur tengah malam, atau bahkan tidak tidur sama sekali. Tapi sekarang ... sekarang beda lagi.


Dia harus tidur. Ia harus istirahat total. Mengingat besok sore dirinya akan melangsungkan sebuah duel. Walaupun duel itu tidak akan mencabut nyawanya, tapi duel tersebut sangat berarti.


Sebab hal itu menyangkut dengan harga diri kakeknya. Penentuan antara menang atau kalah.


Meskipun Zhang Fei sendiri tahu bahwa kesempatan untuk menang dalam duel nanti sangatlah kecil, tapi ia akan tetap berusaha sekuat tenaganya.


Walau tidak menang, setidaknya dia pun tidak boleh sampai kalah.


Ya, dia harus bisa bertahan sebanyak lima puluh jurus dari semua serangan si Rajawali Lembah Selaksa Bunga Kiam Hong.


###


Pagi telah tiba. Zhang Fei dan Kiam Hong sedang duduk di tempat kemarin. Kalau sebelumnya mereka duduk berhadapan sambil ditemani arak, maka sekarang mereka ditemani oleh sepoci air teh hangat.


Gadis berpakaian kuning cerah itu juga ada di sana. Ia berdiri di tempat kemarin. Posisinya tubuhnya, ekspresi wajahnya, sama seperti hari lalu.


Seolah-olah dia memang sudah terbiasa dengan hal tersebut.


Ia baru saja selesai menuangkan air teh ke dalam cawan. Begitu selesai, dirinya segera kembali ke awal.


Sebenarnya Zhang Fei ingin sekali bertanya tentang siapakah gadis tersebut. Tetapi ia tidak mengajukan pertanyaan itu. Ia takut dibilang tidak sopan. Terlebih karena si gadis selalu berada di antara mereka.


Karenanya walaupun heran, ia tetap menutup mulutnya.


"Li Bing, pergilah berlatih," ucap Rajawali Lembah Selaksa Bunga tiba-tiba bicara.


"Baik, guru," gadis itu mengangguk. Ia segera pergi dari sana menuju ke halaman depan goa.


'Ternyata dia bernama Li Bing,' batin Zhang Fei berkata.


Akhirnya dia tahu siapa nama gadis itu. Walaupun belum tahu semua tentangnya, tapi setidaknya rasa penasaran di benak Zhang Fei sudah berkurang satu.


"Bagaimana menurutmu? Apakah dia cantik?" tanya Kiam Hong sambil tersenyum menggoda.


"Dia siapa, Tuan Hong?" tanya balik Zhang Fei seolah-olah tidak mengerti.


"Tentu saja gadis yang barusan melayani kita. Apakah kau pikir di tempat ini masih ada gadis lain lagi?"


Kiam Hong tertawa. Suara tawanya terdengar cukup keras.


"Hemm, kalau boleh tahu, siapa gadis itu sebenarnya?" tanya Zhang Fei tidak kuat menahan rasa penasaran.


"Dia adalah anak dusun. Belasan tahun lalu, desanya dibakar habis oleh kawanan perampok. Untung aku mengetahui kejadian itu, sehingga bisa sedikit mengulurkan tangan. Kebetulan, pada saat itu ada sepasang suami isteri yang mempunyai seorang anak kecil. Mereka menitipkan anaknya tersebut kepadaku," ujar Rajawali Lembah Selaksa Bunga Kiam Hong menceritakan masa lalu Li Bing dengan singkat.


"Tapi, kenapa kedua orang tuanya menyerahkan Li Bing kepadamu?" tanya Zhang Fei mulai tertarik.


"Karena pada saat itu mereka sudah sekarat,"


"Jadi semenjak saat itulah, ia bersamamu?"


"Benar. Semenjak peristiwa itu, ia aku bawa kemari dan aku jadikan murid,"


Zhang Fei menganggukkan kepala. Sekarang dia mengerti siapa dan kenapa gadis itu bisa ada di Lembah Selaksa Bunga bersama Kiam Hong.


Namun sesaat kemudian, raut wajah anak muda itu tiba-tiba berubah. Bicara tentang Li Bing, ia jadi teringat pula kepada Yao Mei.


Sayang sekali, gadis secantik Yao Mei justru harus menjadi pemimpin Kampung Hitam. Menjadi pemimpin dari puluhan penjahat.


Lalu, apakah nantinya Li Bing juga akan seperti Yao Mei? Ia akan menjadi pemimpin, atau setidaknya menjadi pendekar wanita aliran sesat?


Mengingat gurunya, Kiam Hong, juga mengaku berasal dari aliran sesat.


Kalau sampai hal itu benar-benar terjadi nanti, tentu dia akan sangat menyayangkannya.


Rajawali Lembah Selaksa Bunga Kiam Hong seperti mengerti jalan pikiran Zhang Fei. Maka dari itulah dia pun segera berkata.


"Asal kau tahu saja, walaupun aku berasal dari aliran hitam, tapi aku tidak pernah mendidik Yao Mei untuk menjadi pendekar wanita sesat. Aku justru menanamkan didikan layaknya pendekar aliran putih," kata orang tua itu berkata.


Dia berhenti sebentar, mengawasi Zhang Fei beberapa lama. Lalu segera berkata lagi. "Karenanya, aku juga berharap dia akan berguna bagi banyak orang. Semoga saja di hari nanti, ia bisa berjuang bersama-sama denganmu mengatasi persoalan di negeri kita ini,"


"Ya, semoga saja demikian, Tuan," jawab Zhang Fei dengan cepat.


"Kau masih ingat terkait puluhan jarum perak yang menyerangmu?"


"Ya, aku ingat,"


Tentu saja Zhang Fei masih mengingatnya. Ia tidak akan mungkin melupakan peristiwa itu. Apalagi terjadi baru kemarin.


"Nah, itulah salah satu kepandaian Li Bing. Ia pandai dalam melemparkan senjata rahasia," ucap Kiam Hong sambil tersenyum bangga.


"Apa?"


Zhang Fei sangat terkejut. Hampir saja dia melompat dari tempat duduknya. Ia sungguh kaget, ternyata yang telah menyerang menggunakan jarum perak kepada dirinya, bukan lain adalah gadis itu.


Benar-benar suatu kejadian diluar dugaan.


"Kau tidak menyangkanya bukan?"


"Aku bahkan tidak pernah berpikir bahwa dialah pelakunya," kata Zhang Fei dengan jujur.


"Hahaha ... walaupun kemampuannya lumayan hebat, tapi dia masih berada cukup jauh di bawahmu,"


Meskipun Kiam Hong belum mengetahui sampai di mana kemampuan Zhang Fei yang sebenarnya, tapi ia sangat yakin akan ucapannya barusan.


"Tapi tenang saja, suatu saat nanti, ketika ia aku perintahkan Li Bing untuk turun gunung, kemampuannya pasti sudah meningkat pesat,"


"Aku akan menunggu saat itu, Tuan Hong," tukasnya sambil tersenyum.


Setelah matahari cukup tinggi, pada saat teh dalam poci sudah habis, kedua orang itu memutuskan untuk pergi dari sana. Sekarang mereka sedang mengawasi Li Bing yang masih berlatih di halaman depan goa.


Gadis cantik itu saat ini sedang melatih ilmu tangan kosongnya. Ia bergerak dengan lincah seperti seorang penari ulung. Gerakannya tidak terlampau cepat.


Tetapi dari setiap gerakan tersebut, terkandung pukulan atau hantaman telapak tangan yang mengandung tenaga dalam besar.


Selain itu, ia juga melatih ilmu melemparkan senjata rahasia.


Tubuhnya tiba-tiba melompat tinggi. Ia berjumpalikan di tengah udara, sebelum kakinya menginjak tanah, Li Bing segera melepaskan puluhan jarum perak ke arah dua batang pohon besar.


Wutt!!! Blarr!!!


Dua batang pohon itu hancur berkeping-keping. Kejadiannya sama seperti kemarin.


Sekarang, setelah melihat dengan mata kepala sendiri, Zhang Fei jadi yakin bahwa yang menyerangnya kemarin memang Li Bing adanya.


"Bagaimana, sekarang kau percaya dengan ucapanku?" tanya Kiam Hong tanpa menoleh.


"Ya, sekarang aku percaya," jawab Zhang Fei singkat.