
Wajah Lu Tan Cu seketika merah padam ketika mendengar jawaban Zhang Fei. Kedua matanya melotot besar. Seolah-olah bola mata itu akan melompat keluar dari tempatnya.
"Kau!"
Dia menunjuk Zhang Fei. Saking marahnya, jadi telunjuk itu bahkan sampai gemetar.
Selama ini, dia selalu mendapat pujian dari setiap orang. Apalagi di tempat asalnya, nama Perguruan Harimau Utara sudah benar-benar terkenal. Mustahil kalau di sana ada yang tidak mengetahuinya. Semua orang pasti tahu.
Lebih daripada itu, seumur hidupnya dia selalu dimanja. Apapun yang diinginkan, pasti akan dimilikinya dengan cepat. Bahkan kasarnya, walaupun ia ingin isteri orang pun, mungkin orang-orang di sekitarnya akan berusaha mewujudkan walau dengan cara apapun juga.
Karena itulah, ketika ada satu keinginannya yang tidak bisa didapatkan, ia menjadi kesal. Kemarahan dan kesombongannya muncul sampai ke titik tertinggi.
"Hajar pemuda ini!" ucapnya memberikan perintah kepada lima orang pengawal.
Lima pria tua itu tidak langsung menjalankan perintah. Mereka masih sempat diam di tempatnya berdiri. Sepertinya orang-orang tersebut merasa ragu.
"Apalagi yang kalian tunggu? Apakah kalian ingin aku melaporkan kejadian ini kepada Ayah?" bentaknya kepada mereka.
"Tidak Tuan Muda, tidak. Baiklah, kami akan melaksanakan perintah," jawab salah satu mewakili.
Lima orang pria itu kemudian melompat ke depan. Mereka mengurung Zhang Fei.
Hiatt!!!
Lima serangan langsung diturunkan. Dua orang menggunakan golok, tiga orang sisanya hanya menggunakan kepala tangan.
Menghadapi lima macam serangan itu, Zhang Fei tidak merasa takut sedikit pun. Dia masih berdiri dengan tenang di tempatnya berdiri.
Begitu kelima serangan hampir mengenai tubuhnya, pada saat itulah ia bergerak secepat kilat yang menyambar di tengah hujan deras tersebut.
Wutt!!!
Kejadian seperti sore tadi terulang. Dua batang golok tahu-tahu patah menjadi dua bagian. Tidak berhenti di situ saja, kali ini Zhang Fei juga membalas serangan mereka.
Kedua tangannya melancarkan pukulan yang mengarah ke dada mereka. Pukulan tersebut tidak begitu keras, karena pada dasarnya Zhang Fei memang tidak ingin membunuh.
Hanya saja, setiap pukulan tersebut sudah cukup untuk membuat orang-orang itu tidak berdaya.
Dalam waktu yang sangat singkat, kelima pria tua sudah berhasil dia lumpuhkan.
Lu Tan Cu yang menyaksikan hal itu kaget setengah mati. Rupanya apa yang dilaporkan oleh tiga pengawalnya tadi memang benar.
Namun karena gengsi dan marah sudah menguasai seluruh tubuhnya, dengan cepat pula dia menyerang Zhang Fei.
Wushh!!!
Ia mencabut golok di pinggangnya. Bacokan golok membawa kesiur angin tajam yang berdecit nyaring.
Serangannya cukup cepat. Sayangnya semua serangan itu masih jauh dari kata sempurna.
Dengan beberapa gerakan sederhana saja, Zhang Fei sudah bisa mematahkan serangan golok Lu Tan Cu. Saat ini, ujung senjata tersebut sudah berada di antara genggaman dua jarinya.
Clangg!!!
Golok milik Lu Tan Cu mengalami nasib sama seperti golok para pengawalnya.
"Pergilah. Kau bukan lawan yang pantas untukku," kata Zhang Fei sengaja memanasinya. "Lagi pula, saat ini aku sedang tidak berminat untuk membunuh orang,"
Tanpa banyak berkata lagi, Lu Tan Cu bersama lima pengawalnya langsung lari terbirit-birit. Mereka membawa rasa takutnya tersendiri.
Dalam waktu sebentar saja, bayangan tubuh mereka sudah lenyap ditelan hujan deras yang tidak kunjung reda itu.
###
Zhang Fei baru saja bangun. Karena semalam hujan tidak berhenti, pada akhirnya terpaksa ia harus tidur di rumah kosong tersebut.
"Pagi ini sangat cerah sekali," gumamnya sambil bangkit berdiri.
"Putih," kata Zhang Fei sambil mengelus-elus kepala kuda. "Mari kita mencari makan,"
Kuda yang diberi nama si Putih meringkik perlahan. Mereka kemudian berlalu pergi dari rumah kosong tersebut.
Zhang Fei berjalan perlahan. Air hujan tampak menggenang di mana-mana. Tanah di setiap penjuru juga becek. Sepatunya yang selalu bersih, kini malah sudah kotor oleh lumpur.
Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya ia menemukan juga rumah makan sederhana. Dengan cepat dirinya masuk ke sana dan memesan makanan.
Kebetulan suasana di dalam rumah makan masih sepi. Sehingga ia bisa makan dengan cepat dan lahap.
Setelah selesai melakukan sarapan, Zhang Fei segera keluar. Dia ingin mendaki Gunung Lima Jari, mengingat karena waktu perebutan benda pusaka itu tinggal sebentar lagi.
Siapa sangka, belum jauh dia menaiki gunung, tiba-tiba di depan sana sudah ada sekelompok orang yang menghadang langkahnya.
"Dia lagi," gumamnya setelah mengetahui siapa orang-orang yang menghadang itu.
Zhang Fei terus berjalan ke depan. Jaraknya semakin dekat, ketika tersisa sepuluh langkah, tiba-tiba dia menghentikan kudanya.
"Mau apa lagi kau menemuiku, Lu Tan Cu?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Jadi kau yang telah berani menghinaku?" tanya seorang pria tua berusia enam puluhan tahun.
"Apa maksud Paman?" tanya Zhang Fei sambil meliriknya.
"Tidak perlu banyak bicara. Anak Cu sudah menceritakan semuanya kepadaku,"
"Aku benar-benar tidak mengerti,"
"Bohong! Bukankah semalam kau menghinaku dan Perguruan Harimau Utara? Bukankah kau juga mengatakan ingin berduel dengan Ketuanya?"
Zhang Fei kebingungan. Sebab dia tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh orang tua itu.
"Jadi, kau ini adalah Tuan Lu Bai? Ketua Perguruan Harimau Utara?"
"Benar. Sekarang aku sudah berada di hadapanmu. Hari ini juga, aku ingin berduel denganmu di depan banyak orang," kata Lu Bai dengan tegas.
"Ayah kau jangan terlalu ..."
"Diam, anak Cu. Aku paling tidak terima apabila ada orang yang telah menghina perguruanku," katanya memotong ucapan Lu Tan Cu.
Sementara di sisi lain, beberapa kali Zhang Fei mencoba mengingat setiap patah kata orang tua itu. Dan sekarang, dia mulai mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Sepertinya Lu Tan Cu mengatakan hal yang tidak-tidak kepada ayahnya. Lebih daripada itu, dia pasti ingin membalaskan dendam semalam, pikir Zhang Fei.
"Kenapa kau diam saja? Apakah kau tidak berani menerima tantangan ini?" tanya Lu Bai dengan lantang. "Kalau benar tidak berani, baiklah, aku akan mengampunimu. Asalkan kau mau berjalan merangkak kemari,"
Orang-orang yang ada di belakangnya langsung tertawa lantang secara bersamaan.
Sedangkan Zhang Fei, seketika langsung marah. Dia paling tidak suka terhadap orang seperti itu.
"Ternyata kalian Ayah dan anak sama saja," katanya setelah sekian waktu terdiam. "Baiklah. Kalau itu maumu, aku akan menerima tantangan ini. Di mana kau ingin melangsungkan duelnya?"
"Bagus. Rupanya kau punya nyali juga," serunya memuji. "Di sana. Aku ingin melangsungkan duel itu di sana," jawab Lu Bai sambil menunjuk ke sebuah halaman hutan besar yang berada tepat di pinggir jalan setapak.
Zhang Fei melirik ke tempat yang dimaksud. Sebenarnya dia sedikit keberatan, apalagi tempat itu terlalu terbuka. Namun karena ia tidak mau disebut pengecut, maka dengan cepat ia menjawab.
"Baik. Setuju,"