
Semua hal yang terjadi di arena pertarungan itu tidak pernah lepas dari perhatian Zhang Fei dan Lima Malaikat Putih.
Sejak awal pertempuran berlangsung, keenam orang itu terus mengawasi perkembangan yang terjadi di dalamnya.
Sebenarnya, Zhang Fei sudah ingin turun tangan sejak tadi. Hanya saja si Telapak Tangan Kematian Pek Ma selalu melarang dirinya.
Alasan kenapa orang tua itu melarang muridnya turun tangan di awal, tak lain adalah karena dirinya tahu bahwa orang-orang persilatan mempunyai gengsi yang sangat tinggi.
Bagaimanapun juga, hampir semua orang rimba hijau mempunyai gengsi tinggi. Mereka pantang menerima bantuan atau bahkan tidak mau dibantu, apabila kondisinya tidak benar-benar terdesak.
Sebagai orang yang sudah kenyang akan pengalaman, tentu saja dia tahu dan mengerti tentang hal tersebut.
Maka dari itu, Pek Ma tidak mengizinkan muridnya turun tangan sejak semula.
"Guru, kondisi para pendekar sudah semakin dibawah angin. Apakah kita akan terus menjadi penonton?"
Zhang Fei bicara untuk yang kesekian kalinya. Memang, di antara mereka, yang paling tegang dan khawatir akan keadaan pendekar hanyalah anak muda itu sendiri.
Dia tidak pernah berhenti bicara setelah melihat pihak penyerang sudah diujung tanduk.
Pek Ma sendiri biss melihat hal itu dengan jelas. Kali ini, dia pun mempunyai pendapat yang sama dengan muridnya.
Mereka harus turun tangan saat itu juga!
Meskipun tidak ada jaminan pihak pendekar akan menang apabila orang-orangnya turun tangan, namun setidaknya kehadiran mereka akan memberikan sedikit perlawanan bagi pihak musuh.
"Sepertinya, ini adalah waktu yang tepat untuk kita ikut terlibat di dalamnya," kata orang tua itu setelah dia terdiam cukup lama.
Yang lain segera mengangguk. Mereka pun mempunyai anggapan yang serupa.
Di antara mereka, yang paling semangat tentu saja adalah Zhang Fei. Selain karena ingin membantu pihak pendekar, alasan lain kenapa dia sangat semangat adalah karena dirinya ingin mengasah kemampuan sendiri.
Anak muda itu ingin tahu, sampai di mana batas kemampuan dirinya sekarang!
Wushh!!!
Sebelum lima orang gurunya bergerak, Zhang Fei malah sudah mendahului mereka. Hanya dengan satu kali lompatan saja, dia sudah melayang ke depan dan hampir tiba di arena pertempuran.
"Aku akan ikut meramaikan suasana!" katanya berteriak di tengah-tengah udara.
Sringg!!!
Pedang Raja Dewa langsung dicabut keluar. Zhang Fei segera menyerang Pemimpin Keempat yang saat itu sedang menggempur satu orang pendekar.
Trangg!!!
Bunga api memercik cukup banyak. Pedang pusaka itu bertemu dengan tirsula perak milik lawan.
Si Pemimpin Keempat terdorong mundur satu langkah. Dia cukup kaget ketika melihat bahwa yang telah membuatnya terdorong adalah seorang anak muda yang bahkan usianya masih dibawa dua puluh tahun.
"Siapa kau, anak muda?" tanyanya sambil memandang tajam.
"Orang yang akan mencabut nyawamu!" jawab anak muda itu sambil tersenyum sinis.
Tanpa membuang waktu lagi, Zhang Fei segera melancarkan serangan kembali. Pendekar yang dia bantu juga ikut kaget saat dirinya muncul tadi.
Dia mengira bahwa anak muda itu adalah musuh. Tapi setelah tahu bahwa itu adalah orang sendiri, pendekar tersebut langsung bersyukur.
Maka dari itu, tanpa banyak bicara lagi, dia pun ikut membantu Zhang Fei.
Dua orang pendekar sudah menyerang si Pemimpin Keempat. Dua macam senjata juga telah mengancam jiwanya.
Tapi sebagai tokoh kelas atas, tentu saja dia tidak merasa takut.
Awalnya, dia tidak menghiraukan Zhang Fei. Sebab dirinya menganggap bahwa anak muda itu bukanlah ancaman.
Namun setelah pertarungan berjalan beberapa jurus, alangkah kagetnya Pemimpin Keempat ketika ia menyadari bahwa justru anak muda itu jauh lebih berbahaya.
Wushh!!!
Dia bergerak. Trisula perak di tangan kanan segera menyambar ke pendekar yang sudah bertarung dengan dia sebelumnya. Dengan gerakan cepat dan jurus yang mematikan, hanya beberapa kejap saja dia sudah berhasil mendominasi pertarungan.
Si pendekar mulai kewalahan. Dia berharap Zhang Fei dapet memberikan bantuan untuknya. Sayang sekali, si Pemimpin Keempat tidak pernah membiarkan hal itu.
Karenanya, tidak lama kemudian, trisula perak tersebut telah berhasil menembus dadanya dengan telak!
Dia tewas pada saat itu juga!
"Sekarang tinggal kita berdua saja, bocah. Aku ingin melihat sampai di mana kemampuanmu!" kata Pemimpin Keempat setelah dia berhasil membunuh lawan.
"Boleh. Kita coba sekarang juga!" Zhang Fei menjawab dengan penuh percaya diri.
Setelah selesai bicara, dia langsung mengambil persiapan.
"Langit Biaskan Cahaya Surya!"
Anak muda itu tahu dia sedang berhadapan dengan tokoh sakti. Maka dari itu, begitu pertarungan dilanjutkan kembali, dia segera mengeluarkan jurus kedua dari Kitab Dewa Pedang.
Cahaya putih keperakan yang terang bagaikan surya langsung memenuhi arena pertarungannya. Seluruh tubuh Pemimpin Keempat mulai diselimuti oleh cahaya terang tersebut.
Gulungan sinar itu terus bertambah seiring berjalannya waktu. Ia merasakan tekanan yang cukup berat sedang menerpa tubuhnya.
Sungguh, Pemimpin Keempat tidak menyangka bahwa dia akan berhadapan dengan anak muda yang mempunyai kemampuan tinggi.
Dia sendiri sebenarnya penasaran terkait siapa pemuda itu dan dari mana asalnya. Tapi untuk menanyakan hal tersebut, tentu saja sekarang bukanlah saat yang tepat.
Lebih daripada itu, dia tidak punya waktu untuk menanyakannya!
"Trisula Membelah Pelangi!"
Wutt!!!
Di tengah gempuran serangan Zhang Fei, Pemimpin Keempat juga segera mengeluarkan jurus trisula miliknya.
Cahaya keperakan kembali terlihat. Tapi kali ini bukan berasal dari pedang anak muda itu. Melainkan berasal dari tirsula Pemimpin Keempat!
Begitu jurus itu digelar, tidak lama kemudian, ia sudah mulai bisa lepas dari jeratan Zhang Fei.
Setelah posisinya kembali, maka pertarungan di antara mereka pun semakin berjalan seru.
Sementara itu, bersamaan dengan semua yang terjadi barusan, di satu sisi lain Lima Malaikat Putih juga sudah ikut turun tangan.
Begitu menggabungkan diri, Pek Ma langsung membantu Gan Li yang saat itu sedang berada di posisi terdesak hebat oleh serbuan serangan Pemimpin Pertama.
Sedangkan empat anak buahnya, mereka segera membantu para pendekar yang juga berada di posisi sulit.
Pertempuran yang tadinya sudah hampir selesai itu, terpaksa harus diperpanjang durasinya karena kehadiran Zhang Fei dan Lima Malaikat Putih.
"Tuan Gan, kau masih kuat untuk melanjutkan pertarungan?" tanya Pek Ma kepadanya.
"Aku masih kuat," jawabnya dengan cepat.
Wakil Ketua Partai Gunung Pedang itu memandang ke arah Pek Ma sambil mengerutkan kening. Ia merasa kenal dengan orang tua yang telah membantunya itu.
Tapi setelah berusaha diingat beberapa saat, dia tetap tidak bisa mengenalnya dengan pasti.
Hanya saja, bagi Gan Li, wajah itu sudah tidak asing lagi.
"Maaf, siapakah Tua Penolong ini?" tanyanya lebih lanjut karena tidak bisa menahan rasa penasaran.
"Untuk sekarang, mohon maaf aku tidak bisa menjawab pertanyaan ini," ucap Pek Ma sambil tersenyum.
Sekarang bukan waktu yang tepat untuk tanya jawab. Apalagi saat itu, Pemimpin Pertama sudah melancarkan serangannya kembali.