
Gulungan sinar putih segera membungkus pendekar aliran hitam yang menjadi target sasarannya. Kebanyakan dari mereka tidak ada yang mampu memberikan perlawanan pasti.
Kalau ditaksir, para pendekar itu setidaknya termasuk ke dalam jajaran kelas dua. Yang merupakan pendekar kelas satu, paling hanya beberapa orang.
Andai saja mereka maju satu-persatu, mungkin sejak tadi Zhang Fei sudah bisa membunuh banyak musuh. Sayang sekali, orang-orang itu justru memilih untuk maju bersama.
Hal inilah yang membuat Zhang Fei sedikit kesulitan. Sebab di antara mereka selalu saling bantu sama lain. Apabila ada seorang pendekar yang terdesak dan nyawanya terancam, maka sudah pasti, tidak lama kemudian akan ada rekannya yang datang membantu.
Karenanya, Murid dari Lima Malaikat Putih itu belum bisa membunuh satu pun dari mereka. Kecuali memberikan luka dengan pedang pusaka yang ia genggam itu.
Dentingan nyaring masih terdengar. Teriakan masih menggema di tengah udara.
Puluha macam senjata masih mencoba untuk menembus tubuh Zhang Fei. Untunglah pertahanan anak muda itu terbilang tangguh. Sehingga dia masih bisa selamat sampai sekarang.
Mencapai tiga puluh jurus, tiba-tiba Zhang Fei membentak nyaring. Empat orang pendekar yang ada di sisinya, terkena sabetan Pedang Raja Dewa.
Mereka langsung mengalami luka di beberapa bagian tubuhnya. Darah segar keluar cukup banyak. Karena tidak kuat merasakan sakit, maka orang-orang tersebut memilih untuk mundur.
Empat pendekar sudah keluar dari pertarungan!
Jumlah musuh yang ia hadapi akhirnya berkurang. Meskipun tidak banyak, tapi setidaknya hal itu sudah cukup membantunya menghemat tenaga.
Anak muda itu tidak berhenti sampai di situ saja. Pedang Raja Dewa kembali bergerak dengan cepat. Kali ini, ia telah mengeluarkan delapan bagian tenaga dalamnya.
Perlawanan yang ia berikan cukup mendesak lawannya. Pihak musuh mulai kewalahan menghadapi seorang pemuda yang masih hijau dalam dunia persilatan itu.
Sementara itu, si Golok Ampuh Ho Nan tampak beberapa kali mengerutkan kening. Tampaknya dia heran dan juga kecewa.
Heran karena ternyata pemuda itu mempunyai kemampuan tinggi. Kecewa karena anak buahnya tidak membunuh bocah kemarin sore seperti yang saat ini sedang mereka hadapi tersebut.
"Kalau dibiarkan terus, aku yakin anak muda itu akan mampu membunuh mereka secara perlahan," gumam Ho Nan seorang diri.
Dia berpikir sesaat, antara harus diam menjadi penonton, atau justru harus ikut terlibat di dalamnya.
Tetapi karena semakin dilihat, situasi pihaknya semakin tidak menguntungkan, maka pada akhirnya, anggota Partai Panji Hitam tersebut memutuskan untuk terjun ke arena pertempuran.
Namun sebelum benar-benar melakukan hal itu, ia mempunyai sedikit rencana.
Rencana yang sederhana, tapi mampu membuat si anak muda hilang kendali.
"Ya, sepertinya aku harus melakukan hal ini," si Golok Ampuh Ho Nan tersenyum dingin.
Sesaat kemudian, dia langsung menjejak tanah. Tubuhnya meluncur dengan sangat cepat ke depan sana. Persis ke halaman yang sekarang menjadi arena pertarungan.
Tapi ternyata, begitu jarak yang dinanti sudah dekat, si Golok Ampuh Ho Nan justru tidak berhenti. Ia masih terus meluncur.
Dirinya baru benar-benar berhenti ketika sudah berada tepat di sisi kuda jempolan yang belakangan ini menemani perjalanan Zhang Fei.
Kuda berwarna merah itu tiba-tiba meringkik dengan sangat keras. Beberapa kali dia menggerakkan tubuhnya. Seolah-olah hewan tersebut ingin pergi dari sana.
Seakan-akan dia sudah mempunyai firasat buruk tentang dirinya.
"Anak muda, coba lihat apa yang akan aku lakukan," tiba-tiba si Golok Ampuh Ho Nan bicara dengan nada keras.
Mendengar ucapannya, pertarungan yang sedang berjalan tersebut mendadak berhenti.
Semua orang memandang ke arah sumber suara. Tidak terkecuali dengan Zhang Fei sendiri.
"Tua bangka, apa yang akan kau lakukan terhadap kuda miliku?" tanya Zhang Fei dengan nada tidak senang.
"Aku bisa melakukan apapun yang aku inginkan," jawabnya dengan ringan.
"Jangan sekali-sekali kau menyentuh kuda itu. Kalau tidak ..."
"Kalau tidak, aku bersumpah akan memenggal kepalamu,"
Perkataan anak muda itu sangat keras. Apalagi didasari dengan amarah dan tenaga sakti.
Tentu saja, para pendekar aliran sesat yang ada di sisinya, segera merasakan gendang telinganya sakit. Seolah-olah ditusuk oleh jarum dengan jumlah banyak.
Sedangkan di sisi lain, setelah mendengar ancaman tersebut, si Golok Ampuh Ho Nan justru malah tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha ... baru kali ini, ada seorang bocah ingusan yang memberikan ancaman kepadaku," ia kembali tertawa. Setelah merasa puas, orang itu segera melanjutkan kembali ucapannya.
"Menghadapi anak buahku saja, kau tidak mampu. Apalagi kalau ingin memenggal batok kepalaku. Bangunlah, anak muda. Jangan tidur terus,"
Lagi-lagi dia tertawa. Tawa yang mengejek. Tawa yang membuat siapapun ingin muak apabila melihatnya.
Tidak lama setelah itu, dia langsung mencabut golok setengah depa miliknya yang disimpan di pinggang. Golok itu memiliki ukuran sedikit lebih besar dari golok pada umumnya.
Gagang goloknya warna hitam. Sama seperti sarungnya.
Wutt!!!
Segulung angin besar tiba-tiba berhembus mengepulkan debu dan dedaunan kering. Tapi, angin itu langsung lenyap kembali. Lenyap begitu saja.
Keadaan langsung kembali normal seperti sedia kala.
Di tempat itu, tidak ada yang berubah. Ho Nan masih berdiri di sisi kuda miliknya. Sedangkan kuda itu sendiri, masih berdiri seperti semula.
Zhang Fei mengerutkan kening. Dia tidak tahu apa yang baru saja terjadi.
Namun, rasa penasarannya tersebut segera terjawab.
Beberapa helaan nafas kemudian, tiba-tiba kuda jempolan yang berdiri itu, mendadak terpotong. Terpotong menjadi tiga bagian!
Semua orang membelalakkan matanya. Seakan-akan mereka tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.
Di antara semua orang, tentu saja yang paling tidak percaya adalah Zhang Fei.
Dia tidak mengerti, bagaiamana mungkin kuda miliknya bisa terpotong begitu saja?
Darah segar langsung membasahi tanah. Sekarang, kuda itu benar-benar tewas. Tewas mengenaskan!
Yang lebih hebatnya lagi, dari setiap potongan itu terlihat sangat rapi. Bahkan kalau tidak menyaksikan secara langsung, niscaya siapa pun tidak akan percaya bahwa yang membuat kuda itu terbelah adalah sebatang golok.
Sampai beberapa saat lamanya, Zhang Fei tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa berdiri seperti patung.
Antara percaya dan tidak percaya, semuanya bertumpuk menjadi satu!
Di satu sisi, dia kagum kepada ilmu golok Ho Nan. Ternyata ilmunya sudah sangat tinggi. Buktinya saja, ia memotong kuda seperti membelah tahu.
Tapi di sisi lain, dia pun benar-benar merasa geram. Memang benar, kuda yang ia bunuh itu adalah kuda jempolan. Kuda yang harus dibeli dengan harga mahal.
Tapi yang jadi masalahnya bukan itu!
Bagi Zhang Fei, kuda itu sudah seperti sahabat sendiri. Belakangan ini, hanya kuda itu saja yang menemani perjalanannya!
Bisa dibayangkan, betapa kesal dan marahnya anak muda itu saat ini.
"Biadab! Berikan kepalamu, tua bangka!"
Zhang Fei berteriak dengan sangat keras. Dia langsung memburu ke depan. Ke tempat di mana si Golok Ampuh Ho Nan berdiri!