Dewa Pedang Dari Selatan

Dewa Pedang Dari Selatan
Hancurnya Perasaan Zhang Fei


Ia berjalan dengan langkah tenang dan mantap. Kedua tangannya semakin merah membara. Hawa panas yang keluar dari tubuh Pendekar Tangan Dewa juga semakin mengerikan.


Zhang Fei masih menundukkan kepala. Hati dan pikirannya masih kacau. Sehingga dia belum menyadari akan adanya ancaman maut yang sudah di depan mata.


Melihat anak muda itu tetap diam, semakin lebar senyuman dingin di mulut tokoh sesat tersebut. Begitu jarak yang tersisa tinggal dua langkah, tiba-tiba saja dia melancarkan pukulan bertenaga dahsyat menggunakan tangan kanannya.


Wutt!!!


Pukulan sudah dilontarkan. Kecepatannya tidak bisa dibayangkan. Dengan jarak yang sangat dekat itu, apalagi dengan kecepatan yang mengerikan, niscaya siapa pun tidak akan mampu menyelamatkan dirinya lagi. Sebab kesempatan untuk melakukan hal itu sudah tiada.


Hawa panas semakin terasa dengan jelas. Nyawa Zhang Fei berada di ujung tanduk.


Ketika jarak pukulan lawan sudah semakin dekat dan sebentar lagi hampir mengenai tubuhnya dengan telak, tiba-tiba saja Zhang Fei mengangkat kepala.


Ia langsung melakukan sebuah gerakan cepat. Tahu-tahu dirinya sudah berpindah dari tempat semula. Setelah itu, jurus Telapak Dewa Maut kembali dia layangkan.


Bukk!!!


Serangan barusan mengenai ulu hati Pendekar Tangan Dewa dengan telak. Orang tua itu mengeluh tertahan. Rasa sakit yang teramat sangat seketika menjalar ke seluruh tubuh.


Karena tidak kuat lagi menahan penderitaan, tiba-tiba saja orang tua itu memuntahkan darah segar cukup banyak.


Sungguh, Pendekar Tangan Dewa tidak pernah menyangka bahwa Zhang Fei ternyata masih mempunyai tenaga yang besar. Kesalahannya dalam hal ini adalah sempat lengah dan merendahkan keadaan lawannya.


Ia kemudian melompat mundur sejauh tujuh langkah. Perutnya terasa mual. Kepalanya pusing.


'Rupanya bocah keparat itu masih memiliki tenaga yang hebat. Sialan, karena jurusnya barusan, luka yang aku derita sebelumnya jadi kambuh lagi,' batin Pendekar Tangan Dewa sambil mencoba menyalurkan hawa murni ke seluruh tubuh.


Sementara itu, saat ini Zhang Fei sudah berdiri kembali. Dia menatap ke arah musuhnya dengan tajam.


'Walaupun dia sudah terluka oleh jurus Dewa Arak Tanpa Bayangan, tapi kemampuannya masih tetap mengerikan. Kalau begini caranya, aku rasa ... aku tidak akan sanggup membunuhnya,'


Zhang Fei terus mengawasi dengan teliti. Dia sendiri tahu kalau Pendekar Tangan Dewa sebenarnya sudah mengalami luka dalam. Hanya saja, walaupun begitu tapi dia tetap merasa tidak yakin bisa mengalahkannya.


'Ah, perduli setan. Apapun yang terjadi, aku harus membalaskan dendam Nona Mei,'


Saat dirinya teringat akan nasib gadis itu, tiba-tiba saja hawa amarah di dalam tubuhnya kembali bergejolak.


Sringg!!!


Pedang Raja Dewa kembali dicabut. Sinar putih keperakan menerangi malam untuk sesaat. Hawa pedang yang pekat mulai menyelimuti area sekitar.


"Murka Pedang Dewa!"


Zhang Fei berteriak dengan lantang. Belum lagi ucapannya selesai, tubuhnya sudah melesat ke depan sana. Dengan jurus pamungkas dari rangkaian Kitab Pedang Dewa, ia mencoba peruntungannya dalam menghadapi tokoh sesat tersebut.


Jurus andalan itu sudah mulai menunjukkan taringnya. Dalam waktu yang sangat singkat saja, Pendekar Tangan Dewa telah berada di posisi yang merugikan.


Dia tidak bisa berbuat banyak karena pedang lawan terus membayangi gerak-geriknya. Hawa pedang yang pekat itu seperti mata pedang yang mengoyak kulitnya.


Sinar putih yang keluar bersama deru angin tajam itu mulai menekan. Pendekar Tangan Dewa saat ini tidak mampu memberikan serangan balasan. Yang bisa dia lakukan sekarang hanya bertahan semampunya.


Dalam belasan jurus ke depan, Zhang Fei terus-menerus menyerang tanpa pernah berhenti. Luka akibat sayatan pedang mulai tercipta di seluruh tubuh lawan.


Hebatnya, meskipun di seluruh tubuh sudah terdapat luka, tapi Pendekar Tangan Dewa masih tetap bisa berdiri kokoh. Malah beberapa kali dia juga melancarkan serangan balasan.


Wushh!!! Blarr!!!


Untuk yang kesekian kali, dia kembali melancarkan serangan jarak jauh. Serangan itu membuat Zhang Fei terlempar ke belakang sampai terhuyung-huyung.


Kesempatan tersebut tidak disia-siakan begitu saja oleh Pendekar Tangan Dewa. Sebelum Zhang Fei bisa berdiri dengan benar, dengan gerakan yang cepat dia segera melarikan diri dari sana.


Hanya sesaat saja, bayangan tubuhnya sudah lenyap ditelan kegelapan malam.


Suasana sana langsung sepi hening. Tidak terdengar suara apapun lagi, kecuali hanya suara binatang penunggu hutan.


Setelah kepergian Pendekar Tangan Dewa, amarah dalam tubuh Zhang Fei justru semakin membara. Tiba-tiba saja ia bertingkah aneh. Seakan-akan anak muda itu telah berubah menjadi orang gila.


Pedang Raja Dewa yang ia genggam digerakkan. Permainan pedangnya cepat dan dahsyat. Zhang Fei terus memainkan pedangnya cukup lama. Semua yang ada di dekatnya menjadi sasaran kemarahan.


Sekitar lima belas menit kemudian, Zhang Fei sudah berhenti kembali. Dia sedang berlutut tepat di pinggir jurang.


Beberapa dahan pohon sudah berserakan di atas tanah. Malah pohon-pohon yang ukurannya tidak terlalu besar, kini telah tumbang akibat sambaran pedang kemarahannya.


Di atas langit sana, rembulan tiba-tiba muncul dibalik awan yang hitam. Jurang yang tadinya sangat gelap, sekarang sedikit terang akibat pancaran sinar tersebut.


Sayangnya, cahaya rembulan tidak sampai benar-benar menyinari jurang sampai ke dasar. Sehingga keadaan di bawah sana masih tetap hitam pekat.


"Nona Mei ... Nona Mei," Zhang Fei berkata dengan suara lemah. Sepasang matanya tetap memandang ke bawah.


Hatinya benar-benar hancur. Ia merasa sebagian nyawanya ikut menghilang setelah kepergian Yao Mei.


Apa yang harus dia lakukan sekarang? Apakah harus terjun ke jurang dan mencari Yao Mei?


Tidak, hal itu sangat tidak mungkin.


Selain karena tidak tahu jalan mana yang harus di tempuh, Zhang Fei juga tidak mengetahui seberapa dalam jurang tersebut. Kalau dia melakukan hal itu, bukankah sama dengan bunuh diri?


Pikirannya benar-benar kacau. Beberapa kali dia memanggil-manggil Yao Mei. Sayangnya tetap tidak ada jawaban seperti yang dia harapkan.


Apakah dia harus memberitahukan hal ini kepada si Cakar Maut Yao Shi?


"Tidak. Itu pun sama dengan bunuh diri. Kalau sampai Tuan Yao Shi tahu akan hal ini, dia pasti akan langsung membunuhku," kata Zhang Fei kepada diri sendiri.


Dalam pada itu, tiba-tiba saja dia merasa kepalanya pusing tujuh keliling. Mungkin hal itu terjadi karena dirinya telah kehabisan tenaga.


Sehingga tanpa sadar, mendadak Zhang Fei jatuh pingsan tak sadarkan diri.


Pendekar muda itu baru bangun dari tidur pada saat dirinya terkena sorotan sinar mentari pagi. Matanya terasa silau. Karenanya dia langsung bangun.


Namun sedetik kemudian, Zhang Fei dibuat terkejut. Sebab ia menemukan sebuah tulisan yang ditulis tepat di baju yang dikenakannya.


Tulisan itu berisi begini:


"Jangan khawatir, anakku. Sekarang fokus saja terhadap tugas yang kau emban. Dunia sedang membutuhkanmu."


Tulisan tersebut hanya sampai di situ. Zhang Fei tidak tahu siapa yang menulisnya. Ia sendiri terheran-heran cukup lama.