
Tatapan mata Tian Lu semakin tajam ketika mendengar jawaban Zhang Fei. Seolah-olah tatapan itu adalah tatapan mata serigala kelaparan yang siap untuk menerjang mangsanya.
Untunglah Zhang Fei sudah terbiasa menghadapi situasi semacam ini. Jadi secara tidak langsung, kemampuannya dalam berbohong pun mengalami kemajuan.
Walaupun tidak baik, akan tetapi ada kalanya berbohong itu diperlukan.
Sekarang setelah mengalaminya secara langsung, Zhang Fei jadi mengerti makna dari ucapan tersebut.
Beberapa saat kemudian, setelah puas memandangnya, terdengar Tian Lu berkata.
"Baiklah, Tuan Muda. Aku percaya," katanya diiringi dengan senyuman. "Lain kali jangan pulang terlalu malam. Kau telah membuat kami semua merasa khawatir,"
Tian Lu menepuk pundak Zhang Fei dan menyuruhnya untuk duduk di kursi yang masih kosong.
"Maafkan dia, Tuan Lu. Terkadang anak Fei memang susah diingatkan," kata Orang Tua Aneh Tionggoan sambil melirik tajam ke arah Zhang Fei. Tatapan matanya tersebut menggambarkan kemarahan dan kekhawatiran yang bertumpuk menjadi satu.
"Ah, hanya persoalan kecil, Tuan Kai. Kau tidak perlu memperbesarkannya," jawab Tian Lu sambil tertawa ringan.
Orang-orang itu sempat berbincang-bincang beberapa saat. Tidak lama kemudian, seperti biasanya, Tian Lu akan pamit undur diri lebih dulu.
Setelah di ruangan itu hanya ada Zhang Fei dan Empat Datuk Dunia Persilatan, dengan cepat Dewa Arak Tanpa Bayangan bertanya kepadanya.
"Anak Fei, bagaimana tugasmu?" tanyanya sangat serius dan penasaran.
"Aku berhasil, Tuan Kiang," sahut Zhang Fei sambil tersenyum ke arahnya.
"Bagus. Berapa orang yang telah kau bereskan?"
"Tujuh orang,"
"Bagaimana kemampuan mereka?"
"Aku rasa, ketujuh orang itu adalah pendekar kelas satu. Hanya saja karena sudah terburu oleh nafsu, mereka jadi tidak bisa mengontrol kemampuannya sendiri. Sehingga aku bisa cukup mudah mengalahkannya,"
Empat Datuk Dunia Persilatan menganggukkan kepala secara bersamaan. Mereka tidak perlu kenapa tujuh orang itu terburu nafsu, sebab masing-masing sudah tahu betul bagaimana sifat Zhang Fei.
Sebelum melakukan pertarungan, sudah pasti anak muda itu telah memancing emosi lawan, sehingga dia tidak bisa menguasai diri sendiri.
"Lalu, apakah kau mendapat informasi dari mereka?" tanya Orang Tua Aneh Tionggoan lebih jauh.
"Tidak, Tuan Kai," Zhang Fei menjawab sambil dengan nada menyesal. "Mereka tidak ada yang mau bicara. Korban terakhir, sebelum dia memberitahukan sebuah informasi kepadaku, ia malah mati dibunuh orang,"
"Siapa yang membunuhnya?" Orang Tua Aneh Tionggoan terlihat sangat kaget. Begitu juga dengan rekannya yang lain.
"Aku tidak tahu, hanya saja orang tersebut membunuh dari tempat yang gelap,"
Keadaan tiba-tiba hening. Mereka sedang memperkirakan situasi di dalam pikirannya masing-masing.
"Ah, aku ingat ..." tiba-tiba Zhang Fei berseru dan memecahkan keheningan di dalam ruangan tersebut.
"Apanya yang ingat?" tanya Dewi Rambut Putih dengan cepat.
"Sebelum aku menyerang, mereka sempat membicarakan sesuatu,"
"Apa itu?"
Zhang Fei kemudian menceritakan obrolan ketujuh orang yang dicurigainya di dalam bangunan tua. Dia bercerita secara detail, sehingga Empat Datuk Dunia Persilatan yang hadir mendengarkannya dengan seksama.
"Aihh ... rupanya kecurigaan kita terbukti. Ketua Beng Liong bukan sakit karena ulah penyakit, melainkan karena ulah manusia," ucap Pendekar Tombak Angin sambil mengeluhkan nafas berat.
"Aku hanya membiarkannya saja, Tuan Kiang,"
"Aih ... bodoh sekali," ucap Dewa Arak Tanpa Bayangan sambil melotot ke arah Zhang Fei. "Kenapa kau tidak menyembunyikannya? Bagaimana kalau pihak musuh tahu akan kejadian ini? Bukankah nantinya akan merepotkan langkah kita?"
Zhang Fei menepuk kening sendiri. Ia merasa dirinya benar-benar bodoh.
"Maafkan aku," ucapnya sangat menyesal.
"Tenanglah. Masalah ini biar aku yang mengurusnya,"
Pendekar Tombak Angin langsung bangkit berdiri. Tanpa menunggu jawaban atau persetujuan dari yang lainnya, dia langsung melesat keluar dengan ilmu meringankan tubuhnya.
"Bagaimana dengan yang lain? Apakah kalian juga berhasil menemukan sesuatu?" tanya Dewa Arak Tanpa Bayangan setelah Pendekar Tombak Angin pergi.
Dua orang Datuk Dunia Persilatan segera menceritakan pengalaman mereka di hari itu. Setelah beberapa waktu, kecurigaan mereka semakin terbukti nyata.
"Kalau begitu tidak salah lagi. Si tua bangka Lu itu pasti merupakan pengkhianat. Hanya saja, dia berasal dari mana? Apalagi seperti yang anak Fei ceritakan tadi, tujuh orang di bangunan tua itu menyebut dirinya sebagai pemimpin,"
Dewa Arak Tanpa Bayangan langsung berpikir keras dan berharap bisa menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut.
Akan tetapi sayangnya, semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut tidak ada yang bisa menjawab. Mereka berada dalam kebingungan yang sama.
"Sudahlah. Masalah ini biar kita pikirkan nanti saja. Yang terpenting rencana kita berjalan lancar sesuai dengan harapan," kata Orang Tua Aneh Tionggoan yang segera dibalas dengan anggukan kepala.
Suara arak yang dituang ke dalam cawan mulai terdengar. Mereka bersulang arak beberapa saat untuk menenangkan pikiran dan perasaannya masing-masing.
"Aku juga sudah mengirimkan surat kepada Tabib Dewa Dong Ying. Sepuluh hari lagi, mungkin dia sudah tiba di kota ini," ucap Dewa Arak Tanpa Bayangan memberitahukan apa yang sudah dia lakukan di hari itu.
"Selama menunggu kedatangannya, apakah kita akan terus berada di sini?"
"Sepertinya begitu. Apalagi keselamatan Ketua Beng Liong semakin terancam. Aku takut dia malah meninggal lebih cepat dari yang seharusnya," keluh orang tua itu.
"Kita berdoa saja supaya dia bisa bertahan sedikit lebih lama,"
Obrolan di malam itu pun pada akhirnya selesai ketika kentongan pertama terdengar dibunyikan. Pendekar Tombak Angin juga telah datang kembali beberapa saat yang lalu.
Dia melaporkan bahwa dirinya berhasil membereskan tujuh orang mayat tadi.
###
Tanpa terasa sepuluh hari sudah berlalu kembali. Selama itu, Zhang Fei dan Empat Datuk Dunia Persilatan tetap tinggal di dalam gedung.
Mereka benar-benar mengawasi Gedung Ketua Dunia Persilatan dengan sangat cepat. Tidak hanya itu saja, bahkan secara bergantian pula mereka terus berada di sisi Ketua Beng Liong untuk menjaga keselamatannya.
Hal itu tentunya membuat pihak musuh kerepotan. Setelah kehadiran kelima orang tersebut, mereka tidak bisa berbuat lebih jauh lagi.
Rencana dan langkah yang sudah disusun sebelumnya tidak bisa diwujudkan. Karena hal ini, mereka benar-benar benci kepada lima orang tokoh tersebut.
Saat ini waktu sudah siang, Zhang Fei dan Empat Datuk Dunia Persilatan sedang berjalan-jalan sambil menikmati suasana jalan raya yang sangat ramai.
Mereka sengaja berjalan berbarengan sambil menunggu kedatangan Tabib Dewa Dong Ying.
Terkait Ketua Beng Liong, Dewa Arak Tanpa Bayangan sudah menitipkannya kepada salah seorang pendekar yang telah dia percayai.
Pada saat sedang asyik bercanda, tiba-tiba dari arah depan sana ada seorang anggota Partai Pengemis yang berjalan dengan cepat.
"Selamat siang, Tuan-tuan dan Nyonya," kata orang itu sambil membungkuk hormat. "Kedatanganku kemari karena ingin melaksanakan tugas dari Ketua bahwa Tabib Dewa Dong Ying sudah tiba," lanjut orang tersebut.