
Sringg!!!
Pedang pusaka yang pernah menggetarkan dunia persilatan itu sudah tercabut keluar. Belum apa-apa, hawa pedang yang sangat menekan sudah keluar dari seluruh bagiannya.
Bersamaan dengan hal tersebut Zhang Fei juga segera menyalurkan tenaga dalamnya. Hal itu menjadikan hawa pedang yang keluar dan terasa semakin hebat lagi.
Dewi Rambut Putih Giok Ling tersenyum lembut. Sebagai ahli pedang, dia sudah tahu bahwa sekarang Zhang Fei mulai bisa menyatukan diri dengan senjatanya tersebut.
"Anak Fei, kalau tidak bisa keluar sebagai pemenang, minimal kau harus mampu bertahan selama dua puluh lima jurus," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan memberitahu peraturan latih tanding tersebut.
"Baik, Tuan Kiang. Aku akan berusaha semaksimal mungkin,"
"Bagus. Sekarang mulai, keluarkan seluruh kemampuanmu!"
Belum selesai ucapan Dewa Arak Tanpa Bayangan, Zhang Fei malah sudah memulai serangan pertamanya. Tanpa basa-basi lagi ia segera mengeluarkan jurus keempat dari Kitab Pedang Dewa.
"Memadamkan Rembulan Melenyapkan Bayangan!"
Wutt!!!
Bayangan pedang seketika bertebaran di tengah udara hampa. Serangan yang dia berikan tidak main-main lagi. Tenaganya juga terbilang besar.
Zhang Fei tidak menganggap orang di depannya sebagai kawan. Melainkan sebagai lawan.
Karena itulah setiap gerakannya benar-benar berbahaya dan mampu mencabut nyawa.
Dewi Rambut Putih mengetahui akan hal tersebut. Tetapi dia pun tidak marah. Justru dirinya merasa senang. Sebab artinya, sekarang Zhang Fei sudah serius dalam melakukan latih tanding itu.
Wungg!!! Wung!!!
Dua ahli pedang telah bertemu di tengah jalan. Jurus-jurus yang mereka keluarkan mulai beradu. Benturan antar pedang terjadi dan menciptakan gelombang kejut.
Zhang Fei terus berusaha menyerang Dewi Rambut Putih. Tusukan pedang yang dia berikan sekarang mengarah tepat ke tenggorokan.
Dewi Rambut Putih menggerakkan kepalanya ke samping. Pedang Raja Dewa lewat di depan matanya. Bersamaan dengan itu, dia pun segera menangkis.
Pedang lemas yang ada di tangannya bergerak dengan pedang milik Zhang Fei.
Suara nyaring yang membuat telinga ngilu segera terdengar. Akan tetapi hal itu hanya berlangsung sekejap mata. Karena pada detik berikutnya, giliran Dewi Rambut Putih yang menyerang balik.
"Lihat pedang!" katanya nyaring.
Datuk Dunia Persilatan itu melompat ke depan. Tusukan pedang beruntun datang dalam waktu singkat. Yang membuat Zhang Fei bingung adalah kenyataan bahwa ujung pedang itu tidak bisa diam dan terus bergerak-gerak.
'Gawat. Serangannya benar-benar mematikan,' batinnya sedikit panik.
Zhang Fei sadar bahwa itu adalah salah satu jurus milik Dewi Rambut Putih. Jadi dirinya tidak heran mengapa tusukannya membuat bingung.
"Murka Pedang Dewa!"
Pada detik-detik penentuan, telat sebelum ujung pedang menembus tenggorokannya, mendadak Zhang Fei berteriak lantang. Secara tiba-tiba Pedang Raja Dewa bergetar hebat dan langsung menangkis setiap tusukan Dewi Rambut Putih.
Pertarungan di antara mereka berdua semakin sengit. Setiap serangan yang keluar juga mampu mendatangkan kematian.
Dua buah hawa pedang yang sama menekan bercampur menjadi satu. Dedaunan yang ada di sekitar tempat itu langsung rontok dalam kondisi tertebas menjadi dua atau tiga bagian.
"Kemajuan anak Fei benar-benar pesat. Dulu dia tidak seperti ini," ucap Pendekar Tombak Angin kepada dua tokoh di sisinya.
"Benar. Aku masih ingat, dulu kemampuannya tidak se-matang sekarang," sahut Orang Tua Aneh Tionggoan.
"Selain karena selalu dihadapkan dengan berbagai macam pertarungan, yang aku tahu anak Fei juga sering melakukan semedi untuk merenungkan pertarungan-pertarungannya ketika melawan musuh. Maka dari itu, tidak heran kalau dia mengalami kemajuan yang sangat pesat," kata Dewa Arak Tanpa Bayangan menyambung.
Dua rekan di sisinya mengangguk. Mereka pun beranggapan hal yang sama dengannya.
Sementara itu di tengah arena pertarungan, saat ini keduanya sedang saling tebas dan menusuk. Masing-masing dari mereka memberikan serangan secara bergiliran.
Beberapa kali Zhang Fei hampir termakan jurus maut Dewi Rambut Putih. Untunglah dia selalu waspada, sehingga tubuhnya tidak mengalami luka-luka.
Akan tetapi meskipun begitu, tetap saja pakaiannya mengalami robekan. Hal itu terjadi karena saking tajamnya hawa pedang yang dihasilkan.
Sekarang, pertarungan mereka sudah mencapai dua puluh dua jurus. Tiga jurus lagi latih tanding itu akan segera selesai.
Semakin berjalannya waktu dan bertambahnya hitungan jurus, semakin hebat pula serangan Dewi Rambut Putih.
"Pedang Inti Es!"
Wushh!!!
Hawa dingin menusuk tulang segera menyebar luas. Hawa dingin itu tanpa sadar telah membuat gerakan Zhang Fei menjadi melambat. Selain hal tersebut, hawa dingin yang dikeluarkan oleh jurus Dewi Rambut Putih Giok Ling juga telah membuat konsentrasinya buyar.
Hal ini sangat berbahaya. Akibatnya gerakan Zhang Fei menjadi sedikit kacau. Jurus Murka Pedang Dewa juga berkurang kehebatannya.
Dewi Rambut Putih tidak berhenti sampai di situ saja. Dia terus mencecar Zhang Fei tanpa mengenal kata lelah.
Trangg!!!
Benturan terakhir terjadi. Pedang Raja Dewa hampir terlepas dari genggaman tangan Zhang Fei. Detik berikutnya, tahu-tahu ujung pedang lawan sudah berada satu buku jari dari tenggorokannya.
Zhang Fei sangat panik. Wajahnya langsung pucat pasi seperti mayat.
"Hahh ..." dia menghembuskan nafas lega. "Terimakasih, Nyonya Ling," kata Zhang Fei sambil tersenyum getir.
Wanita tua itu tersenyum. Setelah menyarungkan batang pedang, mereka berdua segera menghampiri yang lainnya.
"Sejauh ini kemampuanmu sudah mengalami peningkatan pesat, anak Fei. Kekurangannya adalah di segi kekuatan batin. Pondasi kekuatan batinmu belum sempurna. Sehingga kalau menghadapi ilmu sihir, aku rasa musuh masih ada celah untuk mempengaruhi dirimu," ucap Dewa Arak Tanpa Bayangan setelah Zhang Fei berada di depan mata.
"Ya, benar, Tuan Kiang. Aku juga menyadari akan hal tersebut," Zhang Fei menjawab dengan jujur. Dia tidak menampiknya sama sekali.
"Asal kau tahu saja, jurus Pedang Inti Es milik Dewi Rambut Putih, sedikit banyaknya juga mengandung sihir. Jurus itu akan mempengaruhi alam bawah sadar pihak lawan, seolah-olah pedangnya benar-benar mampu mengeluarkan hawa yang sangat dingin. Padahal sebenarnya tidak seperti itu. Pedang pusaka Dewi Rambut Putih tidak bisa mengeluarkan hawa yang sangat dingin seperti dalam pikiranmu, kecuali hanya beberapa bagian saja. Semua itu tercipta karena kau sudah terkena pengaruh sihirnya,"
Zhang Fei kemudian menoleh kepada Dewi Rambut Putih. Seolah-olah dia ingin mendengar ucapan dari mulutnya langsung.
"Benar, anak Fei. Tuan Kiang tidak salah. Jurus milikku itu mengandung ilmu sihir. Jika lawan sudah tekena pengaruh sihirku secara sempurna, maka akibat yang ditimbulkannya akan jauh lebih buruk lagi. Seluruh gerakannya mati total, pikirannya akan membayangkan bahwa dia sedang berada di dalam gunung es yang mengerikan," kata Dewi Rambut Putih menjelaskan secara gamblang tentang salah satu jurus andalannya.
"Ternyata begitu," kata Zhang Fei seolah-olah baru mengetahui akan hal tersebut.
"Latihan hari ini aku rasa sudah cukup. Besok, kau harus bisa lebih baik lagi," ucap Dewa Arak Tanpa Bayangan.